
Seseorang dengan mata melotot sedang berdiri di belakangku.
"Im, ngapain kamu pegang-pegang lukisan itu! Nanti kalau sampai lukisan itu jatuh, kepala sekolah bisa marah," ujar Bu Iis sambil berkacak pinggang.
"Bu Iis ini bikin kaget saya saja. Kirain apaan sampek melotot begitu. Enggak kok, Bu. Saya hanya penasaran saja dengan lukisan yang indah ini. Kok ditaruh di sini. Kenapa lukisan seindah ini tidak ditaruh di ruang kantor saja?" jawabku kalem.
"Sudah-Sudah. Bu Iis cuma takut kena masalah kalau sampai ada benda di ruangan ini yang rusak. Soalnya kepala sekolah sangat menjaga ruangan ini. Maaf, kalau barusan Bu Iis sampai marah ke kamu. Kamu nggak apa-apa kan, Im?" tutur beliau.
"Saya nggak apa-apa kok, Bu. Perempuan kalau cantik, hobinya emang sedikit-sedikit marah, kan?" pujiku.
"Duh, kamu ini mirip banget sama bapakmu. Tukang muji orang. Semua cewek sampai klepek-klepek kalau dipuji sama bapakmu," jawab Bu Iis dengan wajah bersemu merah.
"Benar bapakku seperti itu, Bu?" Aku bertanya sambil menggaruk-garuk kepalaku yang tidak gatal.
"Iya, benar," jawab Bu Iis sambil mengangguk.
"Ah, dasar bapak!" gumamku perlahan.
"Apa, Im?" Bu Iis bertanya.
"Eh, nggak ada, Bu," jawabku berusaha mengelak.
"Oooo ... Keluar yuk, Im!" Ajak Bu Iis.
"Loh, emangnya berkasnya sudah ditaruh?" Aku bertanya.
"Sudah. Barusan sudah Bu Iis taruh berkasnya di rak nomor 3 pas kamu lagi melototin lukisan itu," jawab Bu Iis.
"Hm ... Ya sudah, berarti tugas Bu Iis sudah beres. Ayo, kalau mau keluar! Atauu Bu Iis masih mau berlama-lama di sini?" Aku berkata dengan maksud meledek guruku yang menurutku terlalu serius ini.
"Jangan bercanda kamu, Im. Kamu tahu, kan? Sejak tadi saya sudah gemeteran seluruh badan. Masa kamu tega-teganya nyuruh saya berlama-lama di sini? Kalau saya jantungan, apa kamu mau tanggung jawab?" omel Bu Iis dengan mata kembali melotot.
"Sabar ... sabar, Bu. Kalau Bu Iis nggak mau, ya sudah biar saya yang di sini saja sendirian. Bu Iis silakan keluar dan turun sendirian. Gimana?" Aku kembali menggoda guruku itu.
__ADS_1
"Tidak! Pokoknya, Bu Iis mau diantar keluar dan turun dari sini!" jawab Bu Iis dengan agak keras.
Aku cekikikan demi melihat reaksi Bu Iis yang terlihat lucu tersebut.
"Monggo, Bu. Kita keluar dari ruangan ini!" Aku mengajak guruku.
"Ayo, Im. Jangan jauh-jauh dari Bu Iis, ya?" rengek guruku itu.
"Siap, Bu Guru!" jawabku tegas.
Aku pun berjalan melintasi deretan rak-rak buku di perpustakaan bersama Bu Iis yang memegang erat tangan kiriku layaknya seorang anak perempuan yang mencari perlindungan di bahu bapaknya.
"Bu, kita matikan dulu lampunya, ya?" bisikku perlahan pada beliau.
"Iya, Im," jawab Bu Iis.
Kami pun tidak langsung berjalan lurus ke arah pintu, tetapi berbelok ke arah dinding terlebih dahulu karena saklar lampu ruangan tersebut berada di antara rak nomor satu dan rak nomor dua. Kami pun berjalan secara perlahan menuju dinding tersebut.
"Iya, Im. Bismillah pokoknya," jawab beliau ragu.
Dengan jawaban Bu Iis tersebut, aku pun memencet tombol saklar yang berada di dinding.
BLEP
Ruangan yang semula terang benderang, tiba-tiba menjadi gelap kembali. Entah mengapa, tiba-tiba bulu kudukku merinding.
"Im, kok jadi ngeri begini, ya, kalau lampunya dimatikan?" Bu Iis tiba-tiba berbisik.
"Iya, Bu. Saya juga merasa begitu. Entahlah, aku nggak tahu kenapa bisa begitu," jawabku.
"Ayo, buruan kita keluar saja!" Bu Iis berbisik lagi.
"Iya, Bu," Aku menjawab dan bersiap untuk melanjutkan langkah kembali.
__ADS_1
Saat aku akan melangkah ke depan, tiba-tiba aku mendengar suara ******* laki-laki yang berasal dari bagian ruangan yang ada meja dan kursi tadi. Mendengar hal itu, kontan aku dan Bu Iis menghentikan langkah.
Aku menoleh ke arah Bu Iis dengan tatapan mata kebingungan. Bu Iis juga bereaksi sama denganku. Sorot matanya kembali menunjukkan rasa ketakutan yang amat sangat.
Tidak berhenti sampai di situ. Setelah suara ******* menyeramkan yang kami dengar barusan, kami mendengar suara langkah diseret bersumber dari ruangan tempat rak nomer 3 berada. Secara perlahan suara kaki diseret itu bergerak meninggalkan ruangan tersebut menuju ke arah kami.
Deg
Aku merasakan, Bu Iis semakin erat memegang pundakku. Ia juga kembali menenggelamkan mukanya di lengan kiriku. Sedangkan aku sendiri tentunya bingung dan takut dengan apa yang aku dengar tersebut.
SREEEET ... SREEEEEEEEET
Detik demi detik berlalu. Suara langkah kaki diseret itu semakin dekat denganku. Jantungku berdegup dengan kencang demi.menyadari posisi kami saat ini berada dalam bahaya. Aku merapatkan tubuhku ke rak buku nomor 2. Bu Iis yang berada di belakangku semakin merapat ke tubuhku. Aku kemudian mencari celah di antara dokumen-dokumen yang ditata rapi itu. Dokumen-Dokumen itu ditata dengan sangat rapi sehingga sulit untuk mencari celah di antara dokumen-dokumen itu. Aku tidak punya pilihan lagi. Suara langkah kaki diseret semakin dekat saja dan juga suara ******* pria semakin keras terdengar pertanda posisinya sudah semakin dekat dengan kami berdua. Aku pun mengambil salah satu dokumen yang cukup tebal dari tumpukan dokumen untuk aku gunakan sebagai lubang agar aku dapat melihat kondisi di ruangan tempat kami berada tadi.
"Dokumen pegawai SMAN 14 tahun ...," Aku membaca judul dokumen tersebut secara tidak sengaja.
Aku memegang dokumen yang cukup tebal tersebut dan kini aku sudah bisa mengintip ke arah ruangan sebelah melalui ruang kosong dari dokumen yang sudah kuambil barusan.
"Astagfirullah!!!" Aku memekik tertahan.
"Apa yang kamu lihat, Im?" tanya Bu Iis dengan berbisik sangat pelan.
"I-i-itu, Bu ...," Aku menjawab dengan suara sangat pelan sambil menunjuk ke arah ruangan tadi melalyi lubang di depan kami berdua.
Bu Iis yang sebenarnya sedang ketakutan pun memberanikan diri untuk melihat pemandangan yang aku lihat melalui lubang yang aku buat tadi.
"Ya Allah!!!!" pekik Bu Iis dengan spontan dan kemudian Bu Iis semakin rapat merangkul lengan kiriku dan wajahnya kembali dibenamkan di punggungku.
Saat itu aku benar-benar bingung dan takut. Bagaimana tidak. Di dalam sana, aku melihat sosok hantu Satpam sedang berjalan dengan langkah diseret meninggalkan ruangan tersebut menuju ke tempat kami berdiri. Wajahnya terlihat hancur dan menyeramkan. Di ruangan yang agak gelap itu, entah mengapa wajah mengerikan hantu Satpam itu justeru terlihat sangat jelas sekali.
BERSAMBUNG
Silakan tulis komentarnya, Kak. Sebelum arwah Satpam itu berdiri di belakang kakak.
__ADS_1