SEKOLAH HANTU

SEKOLAH HANTU
BAB 47 BUKU PEGAWAI


__ADS_3

Hari itu para siswa baru dipulangkan lebih pagi karena kegiatan hari itu hanya ada dua sesi. Jadi, setelah sat Zuhur berjamaah, anak-anak sudah berhamburan menuju rumahnya masing-masing. Aku, Bondan, dan Indah pun berkumpul di depan gerbang sekolah.


"Im, gimana?" tanya Indah.


"Tadi, aku dan Bu Iis hampir mati, Ndah," jawabku.


"Apa maksud kamu berkata begitu?" tanyw Indah lagi.


"Hantu Satpam itu muncul di lantai dua ruang perpustakaan. Tadi, aku dimintai tolong oleh Bu Iis untuk menemaninya masuk ke ruangan itu demi meletakkan berkas milih Pak Rudi," jawabku.


"Oh, ya? Terus, gimana ceritanya kalian berdua bisa lolos?" tanya Indah lagi.


"Serem pokoknya, Ndah. Hantu Satpam itu sepertinya demen sekali menggangguku. Untunglah kami berdua berhasil kabur dari ruangan tersebut, meskipun Bu Iis sampai ter-," ucapku keceplosan.


"Sampai ter-apa, Im?" tanya Bondan penasaran.


"Ter ... terkilir kakinya, Ndan," cetusku bwrbohong kepada kedua temanku. Aku tidak mungkin menceritakan hal konyol tersebut kepada mereka berdua karena menurutku itu akan menurunkan wibawa Bu Iis sebagai salah satu guru di sekolah.


"Oalah ..., tapi kaki beliau nggak apa-apa, kan?" tanya Bondan.


"Alhamdulillah, nggak apa-apa, Ndan," jawabku kalem.


Indah tampak berpikir keras, kemudian ia berbicara.


"Barusan, aku lihat Bu Iis menggunakan baju yang berbeda dengan yang ia pakai tadi pagi. Kenapa, ya?" tanya Indah kemudian.


"Kamu yakin, Ndah?" tanyaku sambil berpikir keras.


"Yakin, Im. Tadi pagi Bu Iis kan pake baju safari warna abu tua. Barusan aku lihat beliau pake baju busana muslim motif kembang-kembang," tutur Indah dengan nada meyakinkan.


"Oalah ... iya, Ndah. Aku baru ingat, Bu Iis tadiwaktu kepleset roknya agak robek sedikit. Mungkin, beliau karena itu beliau mengganti bajunya," jawabku kembali berbohong.


"Oooh ... kamu tidak bohong kan, Im?" cecar Indah.


"Enggaklah, aku nggak bohong," jawabku sok serius.


"Oke ...," jawab Indah sambil menghela napas dan menatap mataku tajam.


Tatapan mata Indah seolah-olah ia tidak seratus persen percaya dengan perkataanku. Yah, dia memang memiliki insting yang kuat dalam hal ini. Aku mengakuinya sendiri. Tapi, maaf, Fren. Untuk hal ini terpaksa aku harus membohongi kalian.


Kemudian Bondan menyela pembicaraan kami berdua.


"Im, tadi di kelas kamu sempat menunjukkan sesuatu kepadaku. Apakah itu?" tanya Bondan tiba-tiba.


"Hm ... Maksud kamu buku ini," jawabku sambil memasukkan tanganku ke dalam tas. Baru saja aku menyentuh tanganku dengan dokumen yang ada di dalam tasku itu, tiba-tiba ada mobil melintas lewat di sebelah kami yang sedang duduk-duduk kemudian masuk ke pintu gerbang.


"Permisi ...," sapa seseorang dari dalam mobil dengan sopan sambil membuka kaca mobil.


"Inggih ...," jawab kami kompak.

__ADS_1


Ternyata pria yang berada di dalam mobil tersebut adalah Pak Rudi, kepala sekolah kami. Aku yang hampir saja mengeluarkan dokumen dari dalam tas, terkejut dan mengurungkan niatku untuk mengeluarkannya karena bisa saja Pak Rudi melihatnya. Aku yakin Pak Rudi hapal dengan tampilan luar dokumen yang kucuri dari dalam gudang arsip sekolah tadi.


Setelah mobil tersebut masuk ke pintu gerbang, perhatian teman-temanku pun beralih kepadaku lagi.


"Mana, Im? Keluarkan barang itu!" ucap Bondan.


"Jangan di sini, Ndan!" jawabku.


"Kenapa, Im?" tanya Bondan.


"Bahaya kalau sampai ada orang lain yang melihatnya," jawabku.


"Aku punya tempat yang aman untuk melihatnya," ucap Indah menyela.


"Di mana, Ndah?" tanya kami berdua.


"Ayo, ikut aku!" ujar Indah sambil berdiri.


Kami pun mengikuti Indah berjalan ke arah timur meninggalkan sekolah kami. Sewaktu kami berjalan di depan sekolah Arini, tiba-tiba ada suara perempuan yang memanggil.


"Hei ... Mau ke mana?" teriak perempuan.


Kami bertiga menoleh.


"Eh, kamu Rin?" ucap kami.


"Kami mau melanjutkan investigasi terhadap Pak Kumis, Rin. Tapi, sekarang kami mau ikut Indah dulu," jawabku.


"Pak Kumis?" gumam Arini


"Iya, Rin. Pak Kumis penjual mie ayam itu. Kami mau mencari informasi tentang beliau dari para warga di sekitar jalan mawar," jawabku.


"Oke ... Tapi, sekarang kalian bertiga mau ke mana?" tanya Arini.


"Kami mau ke Masjid di dekat sini. Ada sesuatu yang harus kami rundingkan terlebih dahulu," jawab Indah menyela.


"Oke ... Aku susul kalian ke jalan mawar saja, ya. Soalnya, aku masih belum pulang," ujar Arini.


"Oke ... Kami pamit dulu, Rin," jawabku.


"Oke ...," jawab Arini.


Kami bertiga pun melanjutkan perjalanan. Aku dna Bondan baru ngeh dengan tempat aman yang dimaksud oleh Indah. Ternyata masjid di dekat sekolah kami. Memang sih, jam-jam siang begini, suasana di sana pasti sepi karena orang-orang sudah tidur siang di rumahnya masing-masing.


Karena masjid tersebut jaraknya tidak jauh dari sekolah, tak sampai sepuluh menit kami bertiga pun sudah sampai di sana. Sesampai di sana kami bertiga pun bwrwudlu dan menunaikan salat tahyatal masjid terlebih dahulu. Setelah itu kami pun duduk-duduk di serambi masjid.


"Sejuk sekali masjid ini, ya?" ucap Bondan.


"Iya, Ndan. Bikin betah saja berada di sini," jawabku.

__ADS_1


"Ayo, buruan keluarin barang yang kamu maksudkan tadi, Im. Nggak enak terlalu berlama-lama di sini. Aku cewek sendirian soalnya," ujar Indah.


"Oke, Ndah," jawabku sambil mengeluarkan dokumen dari dalam tas ranselku.


"Buku Dokumen Pegawai SMAN 14 ..." gumam Indah.


"Dari mana kamu mendapatkan ini, Im?" tanya Indah.


"Aku menemukannya secara tidak sengaja di gudang, sewaktu aku berusaha lari dari hantu Satpam. Kemudian aku sengaja mengambilnya," jawabku.


"Apa Bu Iis tidak tahu kamu mengambil buku ini?" tanya Bondan.


"Sepertinya tidak, karena beliau terlalu terfokus pada hantu Satpam itu," jawabku


"Wah, pinter kamu, Im," tegas Bondan.


"Ayo, segera kita buka saja isi buku ini!" ujar Indah dengan penuh semangat.


Aku pun membuka isi buku itu satu persatu. Ternyata isinya sangat tebal, berisi foto-foto, biodata, dan keterangan lain-lain tentang guru dna karyawan di sekolahku.


"Bukunya tebal sekali, Im. Tahunnya juga ada banyak sekali. Mungkin kalau diperiksa satu persatu, sampai sore tidak akan selesai," ucapku.


"Benar juga, Im. Lantas, apa yang harus kita lakukan untuk menyingkat waktunya?" tanya Bondan.


"Mari berpikir sejenak!" ucapku sambil merebahkan punggungku di lantai.


"Duh, enak sekali bisa rebahan di sini, teman-teman!" ucapku.


"Buruan, Im. Kok, malah rebahan. Ntar keburu sore loh!" tegur Indah.


"Tenang, Ndah. Ini aku rebahan sambil mikir," jawabku.


"Awas, kalau kamu sampai nggak dapat ide!" ancam Indah.


"Oke, beri aku waktu sepuluh menit untuk berpikir," ucapku.


"Oke ... silakan!" jawab Indah.


Aku pun rebahan sambil memejamkan mata. Rasanya capek-capek di tubuhku hilang seketika saat itu. Aku pun berdoa kepada Allah SWT supaya diberikan cara untuk mempersingkat waktuku mencari biodata karyawan yang bwrkaitan dengan hantu Satpam itu.


BERSAMBUNG


Hem ... Sobat Junan, gimana ceritanya? Menarik apa tidak? Semoga Sobat Junan masih setia mengikti perjalanan sampai tamat. Aamiin ...


Ngomong-Ngomong, Sobat Junan tahu nggak trik Imran untuk mempercepat pencarian biodata itu? Yang punya ide, silakan komen ...


Makasih banyak atas dukungan like, vote, dan komentar Sobat Junan semuanya.


Iya. Aku lebih pas manggil Sobat Junan saja. Kerasa lebih akrab. Makasih ya, yg sudah ngasih ide nama Sobat Junan.

__ADS_1


__ADS_2