SEKOLAH HANTU

SEKOLAH HANTU
BAB 49 ANAK PUNGUT


__ADS_3

Kakek tua itu terbatuk-batuk saat belum sempat menyelesaikan ucapannya.


"Minum dulu, Kek ...," ujar Indah sambil bangkit dan menuangkan air ke dalam gelas belimbing kemudian menyodorkannya kepada pria tua sepantaran Mbah Nur ini.


"Terima kasih, Nak. Begini ini kalau sudah tua. Pernapasan kakek agak terganggu, jadinya kadang agak sesak begini," ucap kakek setelah menenggak air yang diberikan Indah.


"Iya, Kek," jawab Indah dengan sopan.


Setelah tiga gelas es teh selesai dibuat oleh kakek tua, ia pun meletakkan ketiga gelas bamboo milik kami ke atas nampan. Si kakek bwrmaksud mengangkat nampan itu ke meja di dekat kami, tapi Indah buru-buru merebut nampan dari kakek tua dan membawanya ke meja di depan kami.


"Waduh, jadi ngerepotin kalian. Masa kalian yang beli, kalian bawa sendiri minumannya?" ujar si kakek.


"Tidak apa-apa, Kek. Saya senang melakukannya, kok!" tukas Indah.


"Monggo-Monggo diminum es tehnya supaya haus kalian hilang. Dijamin teh buatan kakek rasanya mantap," ujar kakek tua itu.


"Terima kasih, Kek," jawab kami bertiga.


Kami pun menyeruput es teh di gelas kami masing-masing. Tidak sampai semenit, isi teh di gelas kami sudah tinggal separuh.


"Wah, ternyata es teh buatan kakek memang benar-benar nikmat," ucapku setelah menenggak es teh milikku.


"Iya, Im. Tehnya wangi banget. Pokoknya spesial banget, deh," tambah Bondan.


"Iya, kalian benar. Manisnya juga pas di lidahku. Kakek pasti punya resep rahasia, ya, untuk membuat teh seenak ini," tambah Indah.


"He he he ... Kakek jualan es teh ini sudah belasan tahun. Jujur, memang ada resep rahasia kenapa es teh buatan kakek ini rasanya enak," jawab kakek tua itu sambil tertawa lebar.


"Wah, hebat kakek, nih. Kalau boleh tahu, apa rahasianya, Kek?" tanya Bondan spontan.


"Hus! Ndan, nggak sopan loh, tanya-tanya resep rahasia pada pedagang," protesku.


"Kenapa, Im? Kan aku penasaran, kenapa ea teh ino rasanya benar-benar beda?" sanggah Bondan.


"Ndan ... Ndan ... kamu tahu, nggak? Menemukan resep minuman yang seenak ini prosesnya tidak mudah. Pasti kakek sudah mencoba berkali-kali hingga akhirnya menemukan takaran dan cara yang tepat untuk membuat teh dengan rasa spesial ini. Selama masa uji coba, tentunya sudah banyak biaya dan pikiran yang kakek korbankan untuk menemukan rasa teh yang benar-benar pas di lidah. Masa, kamu seenaknya mau minta resepnya?" jelasku pada Bondan.


"Ooo gitu, toh, Im?" ujar Bondan.

__ADS_1


"Paham, kan?" tanyaku.


"Iya, aku baru paham sekarang. saya Mohon maaf ya, Kek?" ucap Bondan sambil membungkukkan badan menghadap kakek tua.


Kakek tersenyum ke arah Bondan.


"Benar apa yang dikatakan oleh temanmu yang bernama-" ujar kakek.


"Nama saya Imran, Kek. Ini Indah. Dan yang ini namanya Bondan," ucapku memberitahu kakek tua.


"Ooooo ... nama saya Sugianto. Panggil saja saya dengan panggilan 'Kakek Sugik', gitu. Orang-Orang sini biasanya memanggil saya dengan nama itu," ujar kakek tua.


"Iya, Kek. Terima kasih," jawabku.


"Oh ya. Saya lanjutkan omongan saya barusan. Benar kata Nak Bondan ini bahwa kakek membuat resep es teh ini membutuhkan waktu yang lama," ujar Kakek Sugik.


"Loh, saya namanya Imran, Kek. Yang namanya Bondan, yang ini." Aku menyela.


"He he he ... Maafin kakek, ya, Nak? Maklum, umur sudah tua jadi agak pelupa," ujar Kakek Sugik.


"Alasan sebenarnya kakek merahasiakan resep es teh ini bukan karena kakek takut disaingi," ujar kakek.


"Terus, apa alasan kakek merahasiakannya kalau bukan karena takut disaingi?" Aku bertanya.


"Begini, Nak Imran ... Kali ini kakek tidak salah nama lagi, kan?" Kakek tua bertanya.


"Iya, benar, Kek," jawabku.


Kakek pun melanjutkan omongannya lagi.


"Begini ... Kalau seandainya kakek membagikan resep es teh ini kepada orang yang salah. Akan sia-sia juga hasilnya. Kakek lebih suka membagikannya kepada orang yang benar-benar tepat," jawab Kakek Sugik.


"Maksudnya gimana, Kek?" tanya Indah.


"Begini, Nak Indah. Misalnya kakek memberikan resep ini kepada orang yang tidak bisa memanfaatkan ilmunya. Jadinya, percuma saja, kan? Lagipula, ada yang lebih berharga dari sekedar resep rahasia kakek ini, yaitu kerja keras dan pantang menyerah. Ibaratnya, kalau seseorang nerima enaknya saja, biasanya cenderung menjadi seorang pemalas. Saya yakin dengan kerja keras dan semangat, jangankan resep rahasia es teh kakek, resep rahasia yang lain pasti akan ditemukan," tutur kakek tua tersebut berusaha menginspirasi kami bertiga.


"Benar juga apa yang kakek katakan. Kehebatan yang kakek miliki bukanlah resep es teh ini, melainkan kerja keras kakek sendiri," ucapku.

__ADS_1


"Nah, itu benar sekali, Nak," sambut kakek.


"Oh, ya, Kek. Tadi Kakek sempat bilang tentang Pak Misnanto, apa kakek bisa melanjutkan hal itu?" tanyaku mengalihkan pembicaraan ke topik utama yang menjadi tujuanku datang ke warung Kakek Sugik ini.


"Oh ya, sampek kelupaan. Kenapa kalian menanyakan tentang Misnanto? Apa kalian mengenal tetangga saya itu?" Kakek Sugik balik bertanya.


Aku terkejut dengan pertanyaan Kakek Sugik yang tiba-tiba. Aku tidak punya banyak waktu untuk berpikir dan berimprovisasi menjawab pertanyaan pemilik warung ini.


"Anu, Kek. Pak Misnanto itu kenal baik dengan ibuku," jawabku spontan.


"Bagaimana ibumu bisa mengenal pria pendiam seperti Misnanto itu?" tanya Kakek Sugik lagi membuat otakku semakin panas karena harus berpikir keras kembali.


"Hm, begini, Kek. Ibuku pernah bercerita bahwa selama ia bekerja di gudang tembakau di sebelah SMA 14, ia mengenal baik Satpam di sekolah tersebut," jawabku kembali ngawur.


"Ooo ... pantas saja. Si Misnanto memang bekerja sebagai Satpam di SMA 14. Dia orangnya kalem, nggak banyak tingkah, dan ramah. Di sini dia tinggal hanya berdua dengan Marzuki. Ceritanya Marzuki ini dulu diadopsi oleh orang tuanya Misnanto. Yah, namanya juga bukan saudara kandung. Sifat keduanya sangatlah berbeda. Marzuki orangnya egois dan tidak mau mengalah. Dulu, orang tua mereka itu berprofesi sebagai penjual mie ayam di depan masjid jami'. Dagangannya laris banget. Tapi, karena sebuah insiden kecelakaan, ayah dan ibu mereka tewas. Tinggallah mereka berdua saja. Sejak saat itu mereka berdua sering cekcok. Kabarnya, mereka berdua sempat rebutan warung mie ayam di depan masjid jami' itu. Lagi-Lagi, Misnanto mengalah kepada Marzuki. Hingga akhirnya Misnanto dikabarkan memilih pergi ke luar pulau Jawa sampai saat ini belum kembali," tutur kakek tua dengan napas kembang kempis saat menceritakannya.


"Kalau saya tidak salah ngomong, bukankah di depan mesjid jami' itu yang jualan mie ayam namanya Pak Kumis?" Aku bertanya.


"Nah, itu dia. Pak Kumis itu sebenarnya nama panggilan bapaknya Misnanto karena kumisnya yang sangat lebat. Kalau Marzuki kan hanya meneruskan nama itu sampai sekarang," lanjut Kakek Sugik.


"Marzuki?" Aku bergumam.


"Orang yang jualan mie ayam sekarang di depan masjid jami' itu yang namanya Marzuki, Nak Imran!" Kakek berkata dengan mengeja.


"Ya Tuhan!!!" pekik kami bertiga saking kagetnya.


BERSAMBUNG


Apa sebenarnya yang terjadi dengan hubungan kakak beradik antara Pak Marzuki dan almarhum Pak Misnanto?


Mengapa Pak Misnanto dikabarkan kabur ke luar jawa?


Rajin-Rajinlah memberi like, komen, dan vote agar penulis semangat melanjutkan ceritanya.


Thankyou, Sobat Junan atas atensinya!


SEMANGAT!!!!!

__ADS_1


__ADS_2