SEKOLAH HANTU

SEKOLAH HANTU
BAB 58 : BAU BUSUK


__ADS_3

Setelah berkendara selama beberapa menit, akhirnya mobil box yang kami tumpangi pun berhenti. Ternyata kami sudah sampai di dekat jembatan sesuai ancer-ancer yang diketahui oleh teman kami, Arini. Arini memang cukup banyak menguasai daerah di kota ini. Namun, seandainya Arini tidak tahu pun, Paklik pasti hapal dengan daerah sini. Bertahun-tahun ia memilih bertugas sebagai pengantar barang di perusahaan tempat ia bekerja.


"Terima kasih banyak ya, Pak, atas jasa antarnya?" ujar Arini pada Paklik.


"Loh, kok cuma terima kasih, Nduk? Aku maunya dibayar loh!" ujar Paklik bercanda.


"Ogah ah, kami nggak mau bayar. Masa naik kendaraan cuma lima menit disuruh bayar?" protes Arini.


"Waduh, serius amat kamu, Nduk? Bapak kan cuma bercanda. Masa sama calon mantu saya masih mau narik?" jawab Paklik dengan nada bercanda.


"Calon mantu?" tanya Arini spontan.


"Lah, kamu pacarnya Imran, kan? Imran itu keponakan saya berarti kamu calon itu calon mantu, kan?" ujar Paklik yang kontan disambut tawa oleh kedua temanku, Bondan dan Indah.


"Ah, Paklik ini berguraunya nggak asyik," gerutuku.


"Wah, ternyata hubungan kalian sudah direstui keluarga," celetuk Bondan.


"Apaan kamu, Ndan," jawabku.


Sementara Arini mukanya bersemu merah akibat candaan Paklik yang di luar dugaan itu.


"Sudah ... sudah ... saya cuma bercanda, kok. Kamu, kok sampai segitunya bereaksi, Im. Jangan-Jangan kamu beneran suka sama Arini, ya?" cerocos Paklik.


"Paklik cepet jalan saja sana! Ntar barang-barangnya keburu rusak kalau tidak segera dikirim," protesku.


"Oke. Saya pamit dulu ya, Adik-Adik. Kalau pas main ke rumah Imran, jangan lupa main ke rumah saya," ujar Paklik sambil menyalami kami semuanya.


"Terima kasih, Pak ...," jawab ketiga temanku.


"Assalamualaikum ...," salam Paklik.


"Waalaikumsalam ...," jawab kami berempat.


Paklik pun pergi membawa mobil box menuju ke arah barat meninggalkan kami berempat di tempat itu.


"Di mana letak ahli kuncinya, Rin?" tanya Bondan.


"Di seberang jalan itu, Ndan," jawab Arini


"Kalau begitu, ayo kita menyeberang! Mumpung sepi kendaraan," ajakku.

__ADS_1


Kami pun menyeberangi jalan secara bersama-sama. Saat kami sudah sampai di seberang jalan, aku agak tertegun melihat pemandangan di sekitar tempat tersebut. Aku tiba-tiba teringat dengan sesuatu.


"Rin ... Ndan ... Kalian berdua ingat dengan tempat ini, nggak?" tanyaku pada kedua temanku itu.


Bondan dan Arini memperhatikan ekspresi wajahku yang berusaha mengingat sesuatu. Kemudian mereka berdua memperhatikan pemandangan di sekitar jembatan itu.


"Gimana? Apakah kalian sudah ingat sekarang?" tanyaku lagi.


"Iya, Im. Aku ingat. Bukankah waktu itu kita naik Angkot, kemudian ada bapak-bapak berkumis tebal turun dari Angkot dan masuk ke gang itu. Kemudian sepeninggal bapak-bapak berkumis itu, tiba-tiba kita mencium bau busuk?" Bondan bercerita.


Arini dan Indah menyimak cerita Bondan dengan antusias. Sebenarnya Arini waktu itu juga ikut bersama kami berdua, tapi sepertinya ia tidak mencium bau busuk itu.


"Yang bikin aneh, waktu itu hanya kita berdua kan yang mencium bau busuk, sementara penumpang yang lain termasuk Arini, tidak mencium bau busuk sama sekali," lanjut cerita Bondan.


"Tidak hanya itu, Ndan. Kamu ingat kan? Sewaktu kita pergi ke alun-alun, kita satu Angkot dengan bapak-bapak. Dan lagi-lagi bapak-bapak itu meninggalkan bau busuk ketika turun di tempat itu? Malahan, sewaktu kita mengamati bapak-bapak itu, bapak-bapak itu malahan menoleh ke arah kita seolah-olah ia tahu kalau sedang kita perbincangkan?" tambahku.


"I-i-ya, benar, Im. Tatapannya waktu itu benar-benar bikin ngeri loh," jawab Bondan terbata-bata.


"Kalian bercanda apa serius, sih" tanya Arini sambil memicingkan matanya.


"Iya, Rin Kami serius bertemu lagi dengan bapak-bapak aneh itu," jawabku.


"Tunggu, Im. Coba kamu ingat-ingat! Bapak-Bapak yang kita temui itu orang yang sama apa berbeda?" tanya Bondan masih dengan terbata-bata.


"Kayaknya beda, Ndan. Yang pertama orangnya berkumis tebal, bahkan lebih tebal dari Pak Marzuki. Sedangkan yang kedua tidak berkumis sama sekali dan kelihatan lebih muda," jawabku.


"Kamu yakin keduanya orang yang berbeda, Im?" tanya Bondan meragukan jawabanku.


"Hm ... Ya Tuhan ... Kayaknya keduanya orang yang sama, Ndan. Bentuk mata dan mukanya sama, terus .... Oh iya, aku baru ingat keduanya sama-sama memakai jam tangan yang sama. Sewaktu di Angkot aku sempat mengamati jam tangan keduanya untuk mengetahui jam berapa waktu itu. Ada bekas oli di tangan bapak-bapak itu. Aku sekarang yakin bahwa keduanya adalah orang yang sama, Ndan," jawabku sambil berpikir keras.


"Tidak hanya itu, Im? Aku baru ingat kedua bapak-bapak itu sama-sama memiliki gunjik di bagian belakang rambutnya," imbuh Bondan.


"Duh, kalian ini kok cerita serem-serem di tempat begini. Jadi bikin merinding saja," protes Arini.


"Tenang, Rin. Kita sekarang kan berempat. Kita nggak perlu takut. Paling itu bapak-bapak kuli panggul yang baru pulang kerja saja jadi bau badannya nggak enak," ujar Indah.


"Ya, sudah. Ayo, buruan kita jalan saja ke tempat tukang kunci itu!" ujar Arini.


"Ayo!" jawab kami bertiga.


Kami pun berjalan kaki melewati trotoar menuju sebuah tempat berbentuk bengkel yang berada di sebelah timur jembatan itu. Kurang lebih sekitar lima puluh meter dari tempat tersebut. Bondan kelihatan tidak tenang saat itu. Ia celingak-celinguk memperhatikan kondisi sekitar.

__ADS_1


"Im, aku agak ngeri," ujarnya.


"Tenang, Ndan. Lupakan bapak-bapak itu!" jawabku.


Setelah berjalan sekitar beberapa menit akhirnya kami berempat pun sampai di tempat yang akan kami tuju. Di sana tempatnya sepi, ada tulisan penanda di bagian tempat tersebut.


"AHLI KUNCI DAN TAMBAL BAN"


"Ini tempatnya, Rin?" tanyaku.


"Iya, Im," jawab Arini


"Kok sepi, ya?" tanyaku.


"Ya begitulah, Im. Tempat ini memang agak jauh terpisah dari rumah penduduk," jawab Arini lagi.


"Kok, kayak nggak ada orangnya?" tanyaku.


"Ada. Buktinya pintunya dibuka," jawab Arini.


"Assalamualaikum ...," Indah mengucap salam.


Tidak ada sahutan dari arah dalam ruangan itu. Bondan yang memang sedikit selengean berusaha mengintip ke dalam.


"Assalamualaikum ...." Giliran Bondan yang mengucapkan salam.


Lagi-Lagi hening tidak ada jawaban.


"Kulonuwooooon ...," Aku mengucap salam dengan bahasa daerah.


"IYA ...," jawab seseorang dari arah belakang kami dengan suara yang berat.


Kami yang saat itu sedang spaneng menunggu jawaban dari dalam tempat itu kontan saja terkejut mendengar jawaban dari arah belakang kami yang tidak kami duga sebelumnya. Kami pun menoleh dan di belakang kami sudah berdiri seorang bapak-bapak dengan jam tangan yang sudah tidak asing lagi bagiku melingkar di pergelangan tangannya yang terlihat agak kehitaman seperti terkena oli.


BERSAMBUNG


Siapakah bapak-bapak itu?


Berikan like, komen, dan vote kalian untuk kelancaran update novel ini.


Terima kasih atas sambutan baik Sobat Junan semuanya. Semoga kalian selalu sehat dan rejekinya lancar. Aamiiin ...

__ADS_1


__ADS_2