
"Syukurlah, kamu masih diberi keselamatan, Im. Padahal, setahu bapak, seseorang kalau sudah diganggu Mbah Jati, biasanya mengalami kecelakaan. Ada yang terluka parah, tapi kebanyakan sampai meninggal," ujar bapak.
"Apa benar begitu, Pak?" tanyaku tidak percaya.
"Iya, Im. Itu berdasarkan pengalaman yang sudah-sudah. Ada beberapa korban pada saat koma setelah kecelakaan sempat mengigau tentang sosok perempuan cantik itu," jawab bapak.
"Terus, mengenai korban yang selamat itu, gimana ceritanya?" tanyaku penasaran.
"Salah satu korban yang selamat setelah diganggu Mbah Jati itu adalah Kyai Nur, Im," ujar bapak.
"Oh, ya?" pekikku tidak percaya.
"Iya, Im. Kejadiannya sudah lama. Waktu itu Kyai Nur mengantar istrinya berobat ke Pak Ateng. Setelah menjalani pemeriksaan dan menerima suntikan obat, Kyai Nur meninggalkan istrinya di rumah Pak Ateng sebentar, sedangkan ia mengayuh sepeda ontelnya menuju jalan raya karena ingin membelikan istrinya bubur kacang ijo di jatian. Dulu, di jatian itu ada warung yang terkenal dengan bubur kacang ijonya yang sangat enak. Kebetulan istri Pak Kyai ingin makan bubur kacang ijo itu. Singkat cerita, Kyai Nur sudah sampai di area jatian. Ternyata warung kacang ijonya tutup. Kyai Nur pun berencana untuk pulang kembali. Namun, ketika ia akan menyeberang jalan raya, ia melihat seorang perempuan cantik berpayung sedang berdiri di tengah-tengah jalan raya. Kyai Nur melihat ada sebuah truk berukuran besar sedang melaju dari arah barat. Awalnya Kyai Nur berpikir, perempuan berpayung itu akan menyeberang jalan juga sama seperti dirinya. Ternyata sampai Kyai Nur menyeberang, perempuan itu masih berdiri di tengah jalan. Sedangkan, truk dari arah barat semakin dekat saja dengan posis berdiri perempuan itu. Kyai Nur pun berteriak memanggil-manggil perempuan itu agar segera berjalan ke pinggir. Tapi, teriakannya tidak dihiraukan oleh perempuan itu. Dalam keadaan panik Kyai Nur berlari menuju perempuan itu dan menariknya ke pinggir.
"Terus, apa yang terjadi dengan mereka berdua?" tanyaku tak sabar.
"Pak Kyai merasakan betapa tangan perempuan itu sangat dingin sekali tidak seperti manusia normal. Selain itu, perempuan itu juga tidak mau ditarik ke pinggir oleh Kyai Nur. Sekuat apapun Kyai Nur menarik lengan perempuan itu, tenaga Kyai Nur tak mampu melawannya. Akhirnya, Kyai Nur menyadari ketidakberesan itu karena perempuan itu tiba-tiba tersenyum menyeringai kepada beliau. Kyai Nur pun berlari ke arah pinggir jalan. Truk yang melaju kencang itu membunyikan klakson berkali-kali dan mengerem mendadak. Tubuh perempuan berpayung itu tertembus oleh truk, sedangkan Kyai Nur terguling ke pinggir jalan. Untunglah beliau selamat dari kecelakaan itu," tutur bapak.
"Ya Allah ... untung Mbah Nur selamat, ya, Pak?" cetusku.
"Iya, kalau tidak, kamu tidak akan diajari ngaji oleh beliau," jawab bapak.
"Apakah sosok perempuan itu masih sering mengganggu Mbah Nur lagi setelah kejadian itu?" tanyaku menimpali.
"Sepertinya tidak lagi, Im. Akibat insiden tersebut, Kyai Nur mengalami lecet-lecet saja di beberapa bagian tubuhnya. Ada orang perumahan yang menolongnya kemudian membawa beliau ke rumah Pak Ateng. Mbah Nur lebih berhati-hati apabila lewat di sana lagi," jawab bapak kalem.
"Oh begitu, Pak. Oh ya, aku baru ingat kalau di tasku ada mie ayam," seruku sambil berjalan menuju tasku dan mengambil mie ayam kemudian kubawa ke hadapan bapak.
__ADS_1
"Oh ya? Ini makanan kesukaan bapakmu loh! Kamu beli di mana, Im?" tanya ibuku sambil membuka bungkus mie ayam dan mengambilkan piring dan sendok untuk ayah dan untuk ibu sendiri.
"Tadi aku dibelikan temanku di alun-alun," jawabku spontan.
"Siapa temanmu yang dengan baiknya membelikanmu mie ayam? Ngapain kamu kok sampai ke alun-alun segala?" tanya ibuku lagi.
"Hm ... Namanya Arini. Kasihan dia, Bu. Beberapa hari yang lalu ayahnya meninggal karena kecelakaan di depan sekolah. Aku dan salah satu temanku, Bondan, ikut mengurusi kepulangan jenazah ayahnya dari rumah sakit. Tadi, kami bertiga pergi ke alun-alun untuk mencari alamat seseorang," jawabku jujur.
"Kamu ini gimana sih, Im. Sudah tahu dia baru kehilangan ayahnya malah kamu terima waktu dia nraktir kamu makanan? Emangnya kamu lagi nyari siapa sampai ke alun-alun segala?" tanya ibuku lagi.
"Dianya yang maksa, Bu. Masa mau aku tolak? Ntar dia malah tersinggung bagaimana? Biar deh, lain kali aku akan membalas untuk mentraktirnya atau ... gimana kalau lain kali ibu membawakanku makanan untuk dimakan bareng teman-teman di sekolah? Hm ... Itu loh, Bu. Aku sedang menyelidiki kejadian aneh di sekolah bersama teman-teman. Kepergian kami ke alun-alun ada hubungannya dengan kejadian aneh yang kami alami di sekolah," jawabku.
"Beres deh kalau soal makanan, nanti kalau ada waktu akan ibu siapkan. Tapi, teman-temanmu emangnya mau dengan masakan orang desa? Kejadian aneh apa sih, Im? Kamu ini nggak ada selesai-selesainya ngurusi begituan," ujar ibuku.
"Teman-Temanku insyaallah senang dengan masakan ibu. Itu, Bu. Di sekolahku sering muncul penampakan hantu Satpam," jawabku.
"Iya, Bu. Kenapa?" Aku balik bertanya.
Ibu terdiam sejenak seperti memikirkan sesuatu.
"Apa ibu mengingat sesuatu?" tanyaku.
"Iya, Im. Ibu ingat sesuatu," ujar ibuku.
"Apa yang ibu ingat?" tanyaku penasaran.
Aku dan bapak memperhatikan raut wajah ibu yang tiba-tiba pias.
__ADS_1
"Kejadiannya kurang lebih belasan tahun yang lalu. Saat itu kamu masih Balita. Waktu itu gudang lagi panen raya, jadi ibu tiap hari bekerja di gudang. Siang itu jam istirahat, aku dan Bu Menik memilih untuk menghabiskan waktu istirahat siang dengan bercengkrama di ruangan pemilahan tembakau," cerita ibuku.
"Bu Menik yang pandai memijat itu?" Aku menyela.
"Iya, benar. Dia itu sahabatku di tempat kerjaku, Im. Pas lagi enak-enaknya ngobrol ngalor ngidul, kami berdua seperti mendengar sesuatu dari sekolahmu yang kebetulan hanya terpisah tembok dengan gudang tembakau tempat ibu bekerja," lanjut ibuku.
"Apa yang ibu dengar?" tanyaku penasaran.
"Seperti suara orang berkelahi di dalam ruangan," jawab ibuku.
"Terus, apa yang ibu lakukan saat itu?" tanyaku.
"Aku dan Bu Menik saling melihat. Kami berdua yakin sedang ada perkelahian di ruangan sebelah. Karena penasaran, kami berdua pun memanjat ke atas tumpukan kayu yang digunakan untuk menata daun tembakau. Awalnya Bu Menik yang sampai di atas, aku melihat Bu Menik melotot dan menutupi mulutnya seperti ketakutan sambil mengintip melalui lubang angin ke arah gedung sekolahmu. Karena penasaran juga, aku pun memanjat ke atas dan duduk di samping Bu Menik. Kemudian aku pun mendekatkan mataku ke lubang angin yang cukup besar itu. Dari lubang angin tersebut, aku dapat melihat ruangan lantai dua di gedung sekolahmu melalui jendela kaca yang ada di lantai dua gedung tersebut," ujar ibuku dengan bibir bergetar.
"Apa yang ibu lihat saat itu?" tanyaku penasaran.
Ibu diam sejenak sambil menoleh ke arah bapak yang sedang menyantap mie ayam kesukaannya, setelah itu ibu menatap mataku.
"I-ibu m-melihat s-seseorang baru dianiaya di sana. Wajahnya hancur dengan mata melotot dan tubuh tidak bergerak lagi," jawab ibuku dengan ketakutan seolah-olah kejadian nahas itu terjadi di depannya saat ini.
BERSAMBUNG
Sekedar berbagi tips untuk teman-teman, apabila ada keluarga tidak enak badan seperti flu, batuk, atau pusing. Jangan menunggu parah, buruan minum obat, perbanyak konsumsi makanan bergizi, minum vitamin, dan perbanyak istirahat untuk memulihkan kondisi tubuh. Penanganan awal itu lebih baik daripada terlambat.
Tetap Prokes, ya, Gaes!!!!
Salam sehat selalu ...
__ADS_1
Keep positif thinking!