
Arini menatap mataku nanar. Aku melihat adanya kesedihan dan juga kebahagiaan yang terpancar dari sorot matanya.
"Rin, sepertinya kita harus ke Pak Kumismu sekarang," ucapku pada anak perempuan yang baru kehilangan ayahnya itu.
"Iya, Im," jawabnya kalem sambil menyeka air matanya.
"Teman-Teman, sebaiknya kita segera tinggalkan tempat ini sebelum kehadiran kita diketahui oleh Pak Jamal," bisikku pada kedua temanku yang lain.
"Kita akan ke mana sekarang, Im?" tanya Indah.
"Kita akan menemani Arini untuk memberitahukan hal ini kepada Pak Marzuki," jawabku dengan suara pelan.
"Oke. Ayo, kita berangkat sekarang!" tukas Bondan.
Kami pun pelan-pelan beringsut dari tempat tersebut. Kami kembali ke jalan raya untuk mencari Angkot yang akan mengantar kami menuju tempat Pak Marzuki. Kami sengaja tidak menunggu Angkot di dekat bengkel Pak Jamal karena kami takut tiba-tiba pria itu muncul di depan kami. Kami berjalan menuju ke arah timur dan beruntungnya kami, tidak perlu menunggu lama, Angkot yang ditunggu-tunggu pun akhirnya datang. Di dalam Angkot hanya ada satu dua orang penumpang yang duduk agak ke belakang. Kami memilih menjaga jarak dengan orang tersebut. Arini duduk di samping sopir sedangkan aku dan kedua temanku duduk tepat di belakang sopir.
Selama di perjalanan kami tak banyak berbicara. Kami kepingin buru-buru sampai ke tempat Pak Marzuki untuk menyampaikan kabar baik ini. Kami tidak bisa membayangkan reaksi Pak Marzuki setelah mengetahui bahwa kecelakaan yang menimpa kedua orang tuanya ternyata bukan kecelakaan murni seperti yang sudah disimpulkan oleh kepolisian. Ternyata ada orang yang secara sengaja mencelakai mereka berdua. Dan orang itu ternyata adalah bapaknya Jamal.
Angkot yang kami naiki sudah sampai di alun-alun. Kami pun membayar ongkosnya kepada sopir yang sudah mengantar kami. Sekilas aku menoleh ke arah bagian kaca belakang mobil Carry yang barusan mengantar kami itu. Aku baru menyadari bahwa jumlah penumpang yang ada di dalam Angkot itu selain kami berempat bukanlah dua orang, melainkan hanya satu orang. Dan penumpang itu adalah ibu-ibu berkonde yang beberapa waktu lalu sempat satu Angkot juga denganku. Namun, kali ini bagian rambutnya tidak terlihat dari jok tempat dudukku tadi karena ia menggunakan kerudung pada kepalanya yang dipasang miring. Sementara itu, kalau dilihat dari bagian belakang mobil seperti yang aku lakukan barusan, rambutnya yang berkonde terlihat sangat jelas.
"Siapa arwah yang selalu duduk di sebelah ibu berkonde itu?" gumamku.
"Ada apa, Im?" tanya Indah menegurku yang terlihat sedang melamun.
"Nggak apa-apa, Ndah," jawabku.
"Sepertinya Pak Kumis masih berjualan, Im. Itu warungnya masih buka," ujar Arini.
"Iya, Rin. Ayo, buruan kita ke sana!" ucap Bondan.
"Aku tidak ikut, ya? Aku menunggu kalian di sebelah selatan alun-alun?" potong Indah.
__ADS_1
"Loh, kenapa, Ndah?" tanya Arini.
"Aku tidak mau Pak Marzuki melihat perbam di tangankum Ntar, dia curiga kepada kita?" jawab Indah.
"Okelah kalau begitu," jawabku.
Kami bertiga pun berjalan dengan agak cepat menuju ke warung mie ayam itu. Sesampai di sana kami tidak melihat batang hidung Pak Marzuki.
"Ke mana perginya Pak Kumis, ya?" tanya Arini pada kami.
"Entahlah, Rin. Mungkin dia pergi sebentar. Entah menunaikan salat atau mencari sesuatu," jawabku.
"Kita akan menunggunya di sini sampai kembali apa kita akan mencoba mencarinya?" tanya Arini.
"Kita tunggu di sini saja, Rin. Takut salipan, kalau kita berkeliling mencari keberadaannya," jawab Bondan.
"Oke, aku setuju dengan pendapatmu," jawabku.
"Loh, ke mana sih perginya Pak Marzuki ini? Masa warungnya ditinggal begitu saja?" gerutu Bondan.
"Sabar, Ndan. Mungkin Pak Marzuki masih pulang dulu ke gubuknya?" jawab Arini spontan.
Kami ternganga ketika mendengar jawaban Arini. Sepele sih, tapi hal itu membuat kami membayangkan yang tidak-tidak. Bagaimana kalau Pak Marzuki sampai tahu bahwa ada orang yang telah mengobok-obok gubuknya dan mengambil foto itu dari dalam kotak rahasianya? Dan bagaimana kalau ternyata Pak Marzuki tahu bahwa kamilah pelaku pencurian itu?
"Nah, itu dia, teman-teman! Pak Kumis sudah datang," teriak Arini.
Kami pun menoleh ke arah yang ditunjuk oleh Arini. Dari kejauhan terlihat seseorang sedang berjalan ke tempat ini. Kalau melihat dari perawakannya, sepertinya dia memang adalah Pak Marzuki.
"Tapi, apa yang ada di tangan pria itu? Sepertinya ia sedang memegang sesuatu?" pikirku di dalam hati.
Kami memandang pria yang ditunjuk oleh Arini mulai dari kejauhan sampai benar-benar dekat posisinya dengan kami. Ternyata pria tersebut memang Pak Marzuki. Dan benda yang ia pegang di tangannya adalah sebuah sebuah pisau kecil.
__ADS_1
"Oh, tidak! Bukankah pisau itu yang tadi sempat melukai tangan Indah? Untunglah Indah memilih untuk tidak ikut ke sini. Ia menunggu kami di sebelah selatan alun-alun," pikirku di dalam hati.
"Loh! Nak Arini kok masih pakai seragam? Bukankah tadi Nak Arini sudah ke sini?" sapa Pak Marzuki dengan suara datarnya.
"Iya, Pak. Saya tadi memang tidak langsung pulang, Pak. Saya masih main-main dulu sama teman-teman saya ini," jawab Arini.
"Nak Arini, tidak baik loh! Pulang sekolah nggak langsung pulang? Nanti orang tuanya bingung nyariin kamu, gimana?" tegur Pak Marzuki.
"Iya, Pak. Saya sebenarnya sudah mau pulang tadi, tapi karena kami tanpa sengaja menjumpai sesuatu sewaktu bermain sama teman-teman saya ini, makanya saya balik lagi ke sini," jawab Arini.
"Kalian habis main apa, sih? Kenapa tidak pulang dulu dan berpamitan kepada orang tua? Loh! bukannya ini memang teman-temanmu yang kemarin?" tegur Pak Marzuki.
"Iya, Pak. Mereka ini memang teman bermain saya. Saya bali ke sini karena saya ada informasi terkait dengan kecelakaan yang menimpa kedua orang tua Pak Kumis," tutur Arini dengan nada serius.
"Apa?" cetus Pak Marzuki tidak percaya.
"Kecelakaan yang menimpa bapak dan ibu Pak Kumis bukanlah kecelakaan biasa. Ada orang yang sengaja merusak remnya sehingga blong," jawab Arini dengan terbata-bata.
Pak Kumis menoleh ke arah Arini dan menatap mata Arini dengan tatapan mata yang sangat tajam. Saat itulah aku dapat melihat dengan jelas seperti apa wajah Pak Marzuki di balik topi yang sering ia pakai saat berjualan. Wajahnya ternyata cukup tampan dengan bentuk wajah yang terlihat tegas. Di keningnya mulai ada kerutan-kerutan kecil sebagai penanda usianya yang sudah paruh baya. Sejenak kulihat pandangan mata Pak Marzuki kosong, setelahnya kulihat bulir-bulir air mata mulai menetes ke pipinya yang agak kurus.
BERSAMBUNG
Jangan bosan-bosan untuk memberikan like, komentar, dan vote-nya, ya?
Main Tiktok ketemu Bang Candil
Bang Candil tinggalnya di Jerman
Wahai sobat Junan yang paling gokil
Mari banjiri bab ini dengan komenan
__ADS_1
Bye ... Bye ...