SEKOLAH HANTU

SEKOLAH HANTU
BAB 67 : LUPA


__ADS_3

Aku merasa kesal karena lilin yang kujaga mati kembali padahal tidak ada embusan angin karena aku sudah membawa lilin itu ke dalam tenda.


"Tau gitu aku memilih ikut lomba PBB saja dsri pada harus jagain tenda dengan penerangan hanya menggunakan lilin khusus pemberian panitia," gerutuku di dalam hati.


"Apa boleh menggunakan penerangan obor, Kak?" tanyaku kemarin kepada Kak Sandy


"Boleh. Asal kamu siap mengulang kegiatan ini tahun depan," jawab Kak Sandy tegas kemarin dan disambut 'huuuuu' oleh teman-teman sekelasku.


Aku kembali merogoh korek yang kusimpan di saku celanaku. Dalam kegelapan aku melihat siluet tubuh Bondan semakin merapat ke arahku. Bahkan kali ini aku dan anak itu hanya terpisah piring tempat meletakkan lilin itu.


"Kamu takut, Ndan? Kok sampai merapat ke sini?" ledekku pada teman sekelasku itu.


Bondan tidak menyahut. Ia hanya mendengus. Mulutnya mengeluarkan bau tidak sedap.


"Cuih ... mulutmu bau banget, Ndan? Kamu tidak sikat gigi, ya?" tegurku pada Bondan.


Lagi-Lagi temanku itu tidak menyahut. Akhirnya aku berhasil merogoh korek yang kusimpan di saku celanaku.


"Alhamdulillah ... akhirnya dapat koreknya. Sudah! Munduran sana, Ndan! Aku mau nyalain lilinnya lagi," ucapku pada temanku itu, tapi lagi-lagi ia tidak menggubrisnya.


"Dasar anak ini. Mentang-Mentang sudah berteman dekat denganku, dia malah tidak malu eekat-dekat denganku dalam keadaan mulut bau busuk seperti itu," gerutuku di dalam hati


CREEEEES ...


Aku menyalakan korek itu sehingga menimbulkan kilatan cahaya yang menerangi ruangan di dalam tenda. Aku buru-buru membawa apinya untuk mendekat ke arah sumbu lilin yang ada di depanku. Setelah api itu bersentuhan dengan sumbu lilin, maka menyalalah lilin itu dan membuat ruangam di dalam tenda yang semula gelap menjadi terang.

__ADS_1


Muka si Bondan masih sangat dekat denganku. Namun, kali ini aku tidak memperdulikannya karena konsentrasiku terfokus pada korek api dan lilin yang kupegang. Beberapa detik kemudian barulah mataku memperhatikan Bondan yang sedang duduk di depanku.


"Ndan ...," panggilku pada temanku yang sebenarnya mukanya berada tepat di hadapanku. Bondan masih tidak menyahut. Matanya malah melotot ke arahku.


"Kamu ini kok berlaga aneh, sih, Ndan?" tegurku pada temanku.


"Ndaaaaaaaan .....," Aku memanggil nama temanku dengan gemetar.


Aku mulai menyadari bahwa ada ketidakberesan. Posisi Bondan yang terlalu dekat denganku membuat aku tidak begitu awas dengan pandanganku. Aku pun sedikit memundurkan wajahku dari wajah Bondan. Dan benar saja, kali ini aku baru menyadari bahwa muka yang bertatapan denganku ini agak berbeda dengan muka yang aku lihat sebelum lilin yang kubawa padam. Dengan memundurkan wajahku, jarak antara mataku dan wajah orang tersebut semakin jauh dan mataku semakin jelas melihat bentuk wajah orang tersebut. Dan ternyata pemilik wajah berbau busuk itu adalah arwah Pak Misnanto.


"ASTAGFIRULLAH!!" pekikku sambil mundur ke belakang dengan cepat.


Tubuhku jatuh pada tumpukan tas ransel teman-temanku. Napasku ngos-ngosan seketika. Terlebih sosok yang menyamar menjadi Bondan itu sudah lenyap dari hadapanku.


Aku mengatur napasku kembali dan kembali mengingat-ingat momen menyeramkan yang batu aku alami.


Aku mengedarkan pandangan ke sekeliling untuk mencari keberadaan hantu itu lagi. Tentunya aku berharap ia pergi. Mulutku spontan mengucap doa-doa untuk menenangkan diri. Aku juga berharap hantu Satpam itu pergi kalau mendengar doa-doa yang aku bacakan.


Baru saja aku membaca doa-doa, tiba-tiba aku merasa ransel yang sedang aku sandari mendadak menjadi keras. Bau anyir pun semakin kentara tercium di hidungku. Beberapa detik kemudian aku merasa ada sesuatu bergerak dari arah belakangku berusaha menutupi mulutku. Dan, mataku berhasil melihat seonggok tangan yang berlumuran darah sedang berusaha membekap mulutku.


"ALLAAAAAAH ...," pekikku sambil maju ke sisi yang lain untuk menghindari serangan makhluk itu.


Aku masih sempat melihat sosok menyeramkan hantu Pak Misnanto dari sisi yang lain sebelum akhirnya sosok menyeramkan itu kembali lenyap.


Aku kembali mengedarkan pandangan ke sekeliling untuk mencari ke mana perginya hantu sialan itu. Jantungku berdegup dengan kencang dan keringat dinginku mengucur dengan deras saat itu.

__ADS_1


Entah kenapa saat itu lidahku menjadi kaku. Bibirku juga bergetar hebat. Aku mengalami kesulitan untuk membaca doa yang pernah diajarkan oleh Mbah Nur. Saat itu aku justru merasa ketakutanku memuncak. Bahkan, ketika aku berusaha untuk memompa keberanianku sia-sia saja.


AAAAAAARGGGH ...


Terdengar suara desauan dari arah sampingku. Aku pun menoleh. TERLAMBAT ... tangan hantu Satpam itu sudah berhasil mencekik leherku. Kepalaku pun terdorong sehingga membuat badanku pun terjengkang. Tangan hantu Pak Misnanto yang berlumuran darah berhasil mencekik leherku dengan sangat kuat.


"A-ampuuuuuun ...," suara yang keluar dari mulutku.


AAARRRRGH ...


Hantu Satpam tidak memperdulikan teriakan lemahku. Cekikan di leherku semakin kuat saja. Kali ini hantu Satpam itu sudah berada di atasku. Tubuhnya membebani dadaku. Aku kesulitan untuk bernapas. Mata Pak Satpam yang merah melotot tajam ke arahku.


"Ja-jangan bunuh saya, Pak. Saya berjanji akan mengungkap pembunuhanmu!" pekikku dengam suara yang lemah karena menahan sakit di leherku.


Ucapanku sepertinya tidak ada diperdulikan oleh makhluk bengis tersebut. Aku berpikir, mungkin bagi arwah yang sudah penasaran seperti itu, mereka sudah tidak berpikir tentang pengungkapan pembunuhannya. Yang ada di insting mereka adalah bagaimana caranya mencelakai orang-orang yang mengusik mereka.


"Iya ... makhluk ini bukanlah Pak Misnanto. Makhluk ini adalah jin yang menyerupai fisik Pak Misnanto. Aku tidak boleh menyerah kepadanya. Aku harus melawannya dengan segenap kemampuanku," ucapku di dalam hati.


Rasa sakit di leherku semakin memuncak. Pun juga dengan rasa ketakutan melihat sosok menyeramkan di depanku. Tenagaku hampir habis karena melawan tenaga hantu ini. Fisikku sudah tidak mampu untuk melawan kebrutalannya. Pada kondisi seperti itu, aku sudah tidak punya pilihan lain. Aku harus meminta pertolongan Allah SWT yang menciptakan aku, menciptakan makhluk jahat ini, dan juga menciptakan alam semesta.


"Bismillahirrohmanirrohiiim ...." Dalam keadaan lemah bibirku membacakan ayat-ayat suci yang pernah diajarkan oleh Mbah Nur. Aku berusaha mengingat-ingat bacaan-bacaan itu kembali meskipun dalam kondisi seperti itu sangat sulit untuk mengingatnya. Tapi, aku tidak mau menyerah. Aku tidak mau mati di tangan hantu ini. Dalam kepasrahan, sedikit demi sedikit ayat-ayat itu berhasil aku ingat kembali. Napasku sudah di ujung tanduk saat dengan lancarnya bibirku membacakan ayat-ayat suci itu dengan lancarnya.


AAAAAARRRRRGHHHH ...


Cekikan tangan Pak Misnanto di leherku pun perlahan melemah. Nyawaku urung melayang di tangan makhluk halus itu. Sosok menyeramkan itu lenyap dari hadapanku. Tapi, sosok lain tiba-tiba muncul menggantikan hantu Pak Misnanto.

__ADS_1


BERSAMBUNG



__ADS_2