SEKOLAH HANTU

SEKOLAH HANTU
BAB 55 DISKUSI


__ADS_3

Di musala kecil itu, kami menunaikan salat Asar secara berjamaah. Ternyata meskipun musala ini kecil, sanitasinya bagus dan tersedia mukena dan sarung yang cukup untuk kami. Semua perlengkapan itu pun tertata dengan rapi dan wangi. Di dalam musala juga hawanya terasa sejuk karena sirkulasi udara dan cahayanya bagus sekali.


Setelah menunaikan salat Asar kami pun membentuk lingkaran di depan musala untuk memulai diskusi. Arini nampak paling bersemangat untuk mengikuti diskusi tersebut. Entahlah, mungkin dia sudah penasaran dengan hasil investigasi kami bertiga atau ia keburu menyampaikan hasil wawancaranya dengan Pak Kumis.


"Rin ... Nama asli Pak Kumis itu Pak Marzuki, Rin." Aku memulai pembicaraan.


"Benarkah itu, Im? Dari mana kamu mengetahui itu, Im?" tanya Arini.


"Kami mendapatkan informasi tersebut dari salah satu pemilik warung di dekat jalan Mawar. Kebetulan pemilik warung itu memiliki hubungan emosional yang baik dengan almarhum kedua orang tua Pak Marzuki. Sebenarnya Pak Kumis itu adalah julukan masyarakat untuk ayahnya Pak Marzuki, yaitu namanya Pak Misnatun," jawabku.


"Oh, ya? Wah, berarti ini kita salah memanggil beliau selama ini?" timpal Arini.


"Tidak hanya itu, Rin. Kamu pasti tidak tahu kalau Pak Marzuki ini adalah kakak angkat dari hantu Satpam yang selama ini bergentanyangan di sekolah," ujarku lagi.


"Oh, ya?" Arini terkejut.


"Iya, Rin. Pak Misnatun ini memiliki anak kandung bernama Misnanto. Misnanto ini berprofesi sebagai Satpam di sekolah kami pada saat kejadian di mana ibuku melihat ada seorang Satpam meninggal karena dianiaya di jendela lantai dua gedung perpustakaan di sekolah kami," jawabku.


"Pemilik warung itu yang menceritakan hal itu, Im?" tanya Arini.


"Bukan, Rin. Kami menggabungkan informasi dari pemilik warung itu, cerita masa lalu ibuku, dan buku biodata sekolah yang aku ambil dari ruangan di lantai dua. Kebetulan hari ini aku habis naik ke sana karena dimintai tolong oleh salah seorang guru yang mendapatkan tugas dari kepala sekolah untuk meletakkan sebuah file di sana," jawabku.


"Ya Tuhan!!! Kenapa bisa serumit ini, ya?" tanya Arini.


"Tidak hanya itu, Rin. Ada satu hal yang membuat kami bertiga bingung dan tidak enak hati untuk mengatakannya pada kamu," tukasku.


"Ada apa lagi, Im? Ayolah, jangan buat aku makin bingung dan kepikiran! Sampaikan saja, sepahit apapun itu! Biar aku bisa tenang," jawab Arini.


"Tapi, kamu janji untuk menenangkan dirimu, ya?" celetuk Indah.

__ADS_1


"Iya, Mbak. Saya akan baik-baik saja," jawab Arini sambil menghela napas.


Aku dan Indah saling bersitatap. Ada keraguan di hati kami untuk menunjukkannya kepada Arini. Kami takut Arini akan syok dengan kenyataan yang ada.


"Ayo, buruan! Kalian mau ngasih tau apa, sih?" protes Arini.


"Sabar, Rin!" ujar Bondan.


Setelah saling menatap kembali dengan Indah, aku pun meyakinkan diriku untuk menyampaikan hal itu kepada Arini. Aku mengambil foto yang aku simpan di tas ranselku dengan menggunakan tanganku. Kemudian secara perlahan aku menunjukkan hal itu kepada Arini. Arini menerima foto dariku. Kemudian matanya yang bulat melotot ke arah foto yang agak kotor karena terkena darah Indah tadi itu.


"Ayaaaaaaaaah ...," pekik Arini begitu melihat foto ayah angkatnya yang masih muda berada di sebelah foto Pak Marzuki dan Pak Rudi.


Indah buru-buru merangkul tubuh Arini yang hampir limbung.


"Rin ... sabar ya! Bukankah kamu tadi sudah berjanji untuk tetap tenang kepada kami untuk tetap tenang dalam menerima info apapun dari kami?" rayu Indah sambil mengelus rambut Arini.


"Tenangkan dirimu dulu, Rin! Kamu jangan gegabah menilai sesuatu," ujar Bondan.


"Benar kata Bondan, Rin. Kami belum berani menyimpulkan apa-apa, kok. Ini terkait dengan nama baik orang! Kita nggak boleh serampangan menuduhkan sesuatu kepada siapapun," ucapku.


"Tapi, Im. Kenapa ayah juga tidak pernah cerita kepadaku kalau ia berteman baik dengan kepala sekolahmu dan Pak Kumis? Dan seperti yang kamu bilang tadi, hantu Satpam itu mati karena dibunuh seseorang. Dan kamu mencurigai ketiga orang itu ada hubungannya dengan kematian hantu Satpam itu, kan? Dan ....dan ... ayahku ada di antara mereka? Jangan-Jangan ... tidaaaaaaaaaaak!!!" pekik Arini dengan emosi.


"Riiiiin .... Sadar! Eh, kamu nggak boleh terbawa emosi seperti ini! Kami tidak menuduh mereka sebagai pelaku pembunuhan itu. Kami tidak punya bukti yang kuat untuk melakukan itu, Rin. Kamu tahu, kan? Kami pantang menuduh seseorang sebagai pelakunya sebelum kami memiliki bukti yang kuat," ujar Indah berusaha menenangkan Arini yang semakin histeris.


Napas Arini tersenggal, keringatnya bercucuran, dan tatapan matanya terlihat kebingungan. Ia terlihat benar-benar khawatir kalau almarhum ayahnya adalah salah satu pelaku pembunuhan hantu Satpam yang ada di sekolah.


"Rin, plis! Kamu tenangkan diri dulu, ya! Kami yakin ayah angkatmu bukanlah pelaku pembunuhan itu. Ayahmu orang baik, Rin," ujarku dengan tatapan mata meyakinkan kepada Arini.


"Dari mana kamu tahu beliau bukan ayah kandungku, Im?" tanya Arini kebingungan.

__ADS_1


"Sudahlah, kamu tidak perlu tahu hal itu. Satu hal yang harus kamu ingat, Rin. Aku terpaksa menceritakan hal ini ke kamu supaya kamu bisa lebih tenang. Sebelum ayahmu meninggal, arwahnya sempat datang padaku, Rin," ujarku.


"Maksudmu bagaimana, Im?" Arini bangkit dari dekapan Indah. Sepertinya ia sangat tertarik untuk mengetahui ceritaku tentang arwah ayahnya.


"Begini, Rin. Waktu itu hari pertama aku datang ke sekolah. Ada sebuah Angkot yang berhenti di tempat aku menunggu transportasi. Aku naik ke dalam Angkot itu. Sopirnya adalah ayahmu, tapi wajahnya pucat. Sesampai di depan sekolahku, aku memberi kode kepada ayahmu untuk menghentikan Angkotnya, tapi ayahmu menolak dengan mengatakan bahwa ia tidak mau menghentikan Angkot di kuburan. Aku bingung dong jadinya. Kemudian ayahmu menurunkan aku agak di sebelah timur. Pada saat aku akan membayar, Angkot dan sopirnya menghilang. Kamu tahu tidak, pada saat aku berjalan kaki menuju sekolah dari tempat ayahmu menurunkanku, tiba-tiba ada Angkot menabrak tiang tepat di depan sekolah. Dan ternyata itu adalah ayahmu, Rin," tuturku.


"Ya Tuhan!!! Kenapa kamu baru menceritakan hal ini padaku, Im?" pekik Arini.


"Aku tidak mau kamu kepikiran saja, Rin. Tenanglah, Rin. Aku yakin ayahmu tidak terlibat dengan hal ini. Arwah ayahmu sengaja datang padaku karena ia ingin aku mengungkap kematian hantu Satpam itu," jawabku lagi.


"Semoga saja begitu, ya, Im!" jawab Arini sudah lebih tenang dari sebelumnya.


BERSAMBUNG


Apa yang akan disampaikan Arini tentang hasil wawancaranya dengan Pak Marzuki?


Baca di episode berikutnya!


Sekarang saatnya untuk memainkan jarimu.


Like


Komen


Vote


Share


Terimakasih, Sobat Junan.

__ADS_1


__ADS_2