
Indah pun membeber kertas tebal itu dengan kedua tangannya. Benar saja, itu adalah sebuah foto lama. Aku merapat ke samping Indah agar dapat melihat dengan jelas foto yang sedang dipegang teman perempuanku itu.
"Iya, Im. Ini foto lama," ujar Indah kemudian.
"Ndah, kalau aku tidak salah menduga, ini foto masa muda Pak Marzuki bersama teman-temannya. Coba perhatikan dengan teliti, pemuda yang ini mirip sekali dengan Pak Marzuki, kan?" ucapku sambil memperhatikan salah satu wajah di foto tersebut.
"Iya, benar, Im. Aku yakin ini Pak Marzuki. Bentuk bibirnya tidak banyak berubah. Im, coba kamu perhatikan wajah laki-laki di sebelah Pak Marzuki, Im! Kalau diperhatikan wajahnya sangat mirip dengan ...," cetus Indah kemudian.
"Mana, Ndah? Yang ini, ya? Iya, Ndah ... pria ini sangat mirip sekali dengan Pak Rudi, kepala sekolah kita. Iya, bentuk mata dan hidungnya sangat menyerupai Pak Rudi," pekikku kaget.
"Ber-ar-ti teman Pak Marzuki yang menyampaikan berita kepergian Pak Misnanto ke luar jawa adalah Pak Rudi????" Indah berkata spontan sambil menutup mulutnya dengan tangannya di akhir pembicaraan.
"Ya Allah ... Apakah Pak Rudi yang telah membunuh Pak Misnanto? Aku tidak bisa mempercayai hal itu," pekikku.
"Pantas saja selama ini Pak Rudi mensabotase lantai dua itu, berarti di lantai dua itu Pak Rudi sedang menyembunyikan bukti kejahatannya terhadap Pak Misnanto? Atau jangan-jangan mayat Pak Misnanto dikubur di sana?" pekik Indah untuk yang kesekian kalinya.
Tangan Indah tiba-tiba gemetaran. Aku pegangi tangan Indah yang terasa dingin itu.
"Tenangkan dirimu, Ndah! Kita harus tetap tenang menghadapi semua ini, Ndah! Apapun fakta yang ada di depan kita nanti, kita harus kuat, Ndah!" ucapku tenang.
"Tapi, Im. Aku tidak menyangka, sosok yang paling kita hormati di sekolah ternyata seorang kriminal?" ujar Indah dengan kekeuh.
"Kepala sekolah atau apapun jabatan seseorang itu hanya label duniawi semata, Ndah. Tidak semua orang yang memiliki jabatan itu patut dicontoh tingkah lakunya pun begitu tidak semua orang yang tidak memiliki jabatan berarti buruk," ucapku lagi.
"Tapi, Im ...," Indam memendam kekesalan.
"Kita tidak usah memandang orang dari jabatan atau tampilan fisiknya semata, Ndah. Ibaratnya, telur itu keluar dari *****, tapi baik untuk dikonsumsi, kan? Hadapi semua ini dengan tenang. Tugas kita ke depan masih panjang, Ndah. Jangan sampai kekecewaan kita membuat semua rencana kita amburadul. Kasihan Pak Misnanto, ia butuh keadilan, Ndah," tuturku tetap tenang.
"I-i-iya, Im. Benar katamu. Aku harus mengabaikan dulu rasa kekecewaanku ini," jawab Indah mulai tenang.
"Tunggu, Ndah. Aku sepertinya mengenal orang di sebelah Pak Rudi ini," cetusku tiba-tiba.
__ADS_1
"Oh, ya? Siapa dia, Im?" tanya Indah tidak sabar.
"Hm ... Wajahnya sangat mirip dengan ayahnya Arini yang meninggal beberapa hari yang lalu akibat kecelakaan di depan sekolah," jawabku terbata-bata.
"Kamu yakin, Im?" tanya Indah tidak percaya.
"Iya, Ndah. Aku yakin. Meskipun ini adalah foto lama beliau, tapi bentuk mukanya sangatlah mirip dengan ayahnya Arini. Aku yakin memang ini adalah ayahnya Arini," jawabku masih tidak percaya.
"Ya Tuhan ... ada apa ini? Mengapa mereka bisa berada dalam satu frame foto? Aku semakin bingung dengan semua ini?" Indah mengeluh dan memegang kepalanya.
"Entahlah, Ndah. Aku juga kaget dan bingung dengan adanya foto ini. Berarti, Pak Marzuki, Pak Rudi, dan ayahnya Arini saling mengenal baik. Dunia memang tak selebar daun kelor, ya? Duh, mumet kepalaku, Ndah!" Aku menggerutu pada diriku sendiri.
"Coba kamu lihat foto-foto yang lain itu, Im! Sepertinya ada foto ceweknya," ujar Indah.
"Entahlah, Ndah. Aku tidak mengenal wajah-wajah yang lainnya. Termasuk wajah satu-satunya perempuan di foto ini. Mungkin mereka semua memang teman satu kelompok," jawabku.
Indah kembali memeriksa wajah-wajah di foto itu satu persatu. Beberapa kali ia memicingkan matanya untuk memfokuskan pandangan, tapi kemudian ia menggeleng, pertanda ia tidak mengenal orang lain di foto itu.
"Berikan fotonya padaku, Ndah!" Aku berujar.
"Ini, Im. Kamu simpan baik-baik foto itu siapa tahu itu akan berguna suatu saat nanti," ujar Indah lagi.
"Iya, Ndah. Terima kasih," jawabku.
"Tunggu, Ndah. Sepertinya ada tulisan di belakang foto ini!" cetusku.
Aku pun membalik foto itu dan benar saja di belakangnya ada sebuah tulisan. Aku membaca tulisan itu.
"The Genks ... Teman adalah segalanya ... Tidak ada yang lebih penting dari pertemanan. Bahkan keluarga sekalipun," Aku membaca tulisan tangan itu dengan agak merinding karena kata-katanya yang menurutku terlalu berlebihan.
"Benar, Im. Ternyata mereka sudah berteman baik sejak lama. Pantas saja Pak Marzuki sangat mempercayai informasi yang disampaikan oleh Pak Rudi," ujar Indah.
__ADS_1
"Iya, Ndah. Kita harus terus bersemangat mengungkap kasus ini. Kasihan Pak Misnanto kalau terus gentayangan seperti ini. Semoga saja kasus ini berakhir dengan baik, Ndah," ucapku.
Setelah berdiskusi selama beberapa menit di tempat tersebut dan kami merasa investigasi kami di tempat tersebut sudah selesai, kami pun memutuskan untuk mengakhiri investigasi di gubuk Pak Marzuki. Kami berdua kembali pada Bondan yang dengan setia menunggu kami di pinggir jalan.
"Loh! tanganmu kenapa, Ndah?" tanya Bondan kaget begitu melihat tangan Indah diperban dengan sapu tangan.
"Nggak apa-apa, Ndan. Tadi hanya tergores pisau sedikit," jawab Indah kalem.
"Kita cari obat merah, yuk, supaya lukamu tidak mengalami infeksi," ujar Bondan.
"Lukaku nggak apa-apa, kok, Ndan," jawab Indah.
"Jangan disepelekan meskipun lukanya kecil. Ayo, kita cari toko yang menjual obat merah di sekitar sini. Baru kita lanjutkan tugas kita!" ujar Bondan.
"Oke, Ndan," jawabku.
Kami bertiga pun berjalan menyusuri jalan mawar menuju gapura pintu masuk jalan tersebut. Di sepanjang jalan, Bondan menanyakan tentang perkembangan investigasi kami. Bondan terkejut setelah mendapat informasi dari kami bahwa Pak Marzuki adalah teman lama Pak Rudi dan almarhum ayahnya Arini.
Dua langkah lagi, kami akan sampai di gapura pintu masuk jalan Mawar. Sepanjang jalan tadi tak ada satu pun orang yang berpapasan dengan kami. Tapi, sekarang kami mendengar suara langkah dari arah luar gapura. Langkahnya seperti tergesa-gesa. Kami tetap melangkah keluar dari gapura untuk mencari toko yang menjual obat merah. Saat kami sampai di gapura, kami baru tahu siapa pemilik langkah yang terdengar tergesa-gesa itu. Kami pun saling bertatapan.
BERSAMBUNG
Hai, Sobat Junan. Kira-Kira siapa orang yang berpapasan dengan mereka itu?
Bagaimana perkembangan kasus kematian Pak Misnanto selanjutnya? Siapakah orang yang telah membunuh Pak Misnanto? Apakah benar Pak Rudi pelakunya?
Baca kisah selanjutnya samoai tamat, ya!
Jangan lupa untuk selalu memberikan like, komentar, dan vote pada novel SEKOLAH HANTU ini.
Bagi teman-teman yang ingin memiliki novel cetak KAMPUNG HANTU, silakan japri ke nomor 085236533388.
__ADS_1