
Marah dan takut menjadi satu saat itu. Aku marah karena diganggu oleh Mbah Jati. Tapi, aku takut Mbah Jati akan berusaha mencelakaiku lagi. Cukup lama aku mengedarkan pandangan ke sekeliling untuk mencari posisi perempuan jadi-jadian itu, tapi sayangnya ia tidak muncul lagi. Karena merasa suasana sudah aman, aku pun kembali berjalan menuju jalan raya.
Aku yang sudah beberapa kali ini lewat di jalan tersebut merasa seperti ada kejanggalan yang terjadi saat itu. Suasana saat itu serasa jauh lebih hening dari biasanya dan pencahayaan alam agak lebih redup dari biasanya, bahkan lebih redup dari sebelum aku menyebrang rel. Padahal secara akal sehat, semakin siang makan cahaya matahari pasti semakin terang.
"Tidaaaaak!!! Jalan raya di depanku pun terasa aneh. Tidak ada kendaraan sama sekali yang lewat. Ya Tuhan, ini jam enam kok seperti jam setengah lima pagi? Ada apa ini?" Aku bertanya-tanya di dalam hati.
Aku pun berjalan mendekati gapura. Pikirku, aku tidak ingin terlambat datang ke sekolah. Kuabaikan dulu perasaan janggal yang terhidang di deoanku saat itu. Sesampai di gapura, aku pun menghadap ke barat untuk menunggu Angkot lewat. Tapi, sejauh mataku memandang, tidak ada kendaraan sama sekali di depanku.
"Kok, nggak ada kendaraan sama sekali, ya? Ini benar-benar sulit dipercaya. Ini sudah hampir setengah tujuh, tapi persis seperti jam setengah lima pagi. Arrrrgh!!!" Aku menggerutu sendiri.
[Ciiiiiiiiiiiiiit]
Terdengar suara mobil sedang mengerem dari arah kiri. Aku pun menoleh ke arah kiri. Dari arah kiri di seberang jalan sedang ada Angkot yang mengerem dan berhenti secara mendadak. Untunglah tidak ada kendaraan lain di belakang Angkot tersebut. Ternyata Angkot itu berhenti karena ada beberapa pria yang mencegat mobil tersebut. Entah dari mana munculnya pria-pria itu. Padahal beberapa detik sebelumnya aku tidak melihat ada orang berdiri di sana.
"Tolong jangan sakiti anak itu. Dia tidak tahu apa-apa!" teriak sopir Angkot itu.
"Tenang saja. Selagi kamu masih menyimpan rahasia itu, kami tidak akan mencelakaimu atau anak itu," jawab salah satu pria.
"Tapi, saya dengar-dengar kamu dekat sama polisi itu, ya?" tanya pria yang satunya.
"Tidak! Saya hanya sebatas kenal saja," jawab sopir Angkot itu.
"Apa omonganmu bisa kami percaya?" ancam salah satu pria.
"I-i-iya ...," jawab sang sopir ketakutan.
"Baiklah, kalau begitu. Ayo, kita minum-minum dulu di Mbak Tri!" ucap pria itu lagi.
"Saya antar kalian ke sana saja. Mohon maaf saya sudah berjanji kepada anakku untuk tidak minum lagi," jawab sopir Angkot itu.
"Ayolah, minum sedikit saja! Atau jangan-jangan benar dugaan kami kalau kamu itu sedang merencanakan sesuatu?" desak salah satu pria.
"Baiklah, aku ikut kalian minum sedikit saja," jawab sopir Angkot itu.
"Nah, itu baru teman kami. Ya kan, Teman-Teman?" teriak salah satu pria.
__ADS_1
Mobil Angkot pun melaju meninggalkan tempat tersebut menuju ke arah barat. Dadaku langsung berdetak dengan kencang manakala aku dapat melihat sosok yang menjadi sopir Angkot itu. Ternyata, ia adalah bapaknya Arini yang meninggal kecelakaan beberapa waktu yang lalu.
"Tidaaaaaaaaaaak!!!!" Aku berteriak karena ketakutan setelah melihat pemandangan tak lazim di depanku.
Beberapa detik kemudian ada yang memanggilku.
"Angkot, Dik?" tanya orang itu.
"Ti-dak, Pak. Eh, iya, Pak!" jawabku kebingungan manakala aku menyadari bahwa yang memanggilku adalah seorang sooir Angkot yang sengaja menghentikan Angkotnya di depanku.
Aku pun naik ke atas Angkot tersebut. Di sebelah kiri dan kananku ada beberapa orang yang kebanyakan akan berangkat kerja. Pada saat itu, aku melihat pemandangan di sekitarku sudah kembali normal kembali. Tidak gelap seperti sebelumnya, tapi sinar matahari sudah ada di sana dan sini, pertanda hari sudah mulai siang.
"Ya Tuhan! Kenapa tadi aku bisa melihat pemandangan aneh itu, ya? pikirku di dalam hati.
Aku menoleh ke kiri dan ke kanan memandangi satu persatu penumpang di sebelahku, takut mereka tiba-tiba berubah menjadi hantu semuanya. Syukurlah, mereka ternyata adalah manusia asli bukan jadi-jadian.
"Kenapa, kok tolah-toleh kayak kebingungan gitu, Dik?" sapa seorang penumpang di sebelahku.
"Eh, enggak, Pak. Nggak apa-apa?" jawabku sekenanya.
Tak lama kemudian, sampailah aku di sekolah. Di delan gapura sudah menunggu kedua temanku Indah dan Bondan. Aku tak sabar untuk menghambur ke arah mereka. Aku tak sabar untuk menceritakan pengalamanku mulai kemarin hingga pagi tadi kepada mereka berdua.
"Kenapa kamu, Im? Kok kayak orang kebingungan begini?" tanya Bondan.
"Duh, ayo kita masuk ke dalam! Akan kuceritakan semua pengalaman seramku mulai kemarin sampai barusan. Kalian sudah siap, kan, mendengarkan ceritaku?" tanyaku.
"Selalu siap, Im. Emangnya kamu menghadapi kejadian seram seperti apa?" tanya Indah.
Aku pun menceritakan pengalaman seramku kepada mereka berdua.
"Arini tidak syok tapi, kan?" tanya Indah.
"Alhamdulillah, Ndah. Dia tidak kenapa-kenapa. Kalian punya solusi atau pendapat nggak terkait ceritaku barusan?" Aku bertanya.
"Kalau boleh aku ngasih pendapat. Sebaiknya kamu berhati-hati dalam menghadapi Mbah Jati, Im. Sepertinya ia takan mengganggumu lagi," ujar Bondan.
__ADS_1
"Iya, Im. Aku setuju dengan Bondan. Tidak mungkin Mbah Jati akan melepasmu begitu saja," jawab Indah.
"Terima kasih, Ndah ..., Ndan .... Insyaallah aku akan lebih berhati-hati. Tapi, aku masih penasaran kenapa Mbah Jati menunjukkan view tentang bapaknya Arini kepadaku?" ujarku terbata-bata.
"Itu, dia, Im. Aku juga tak habis pikir. Atau jangan-jangan ...," ujar Indah.
"Jangan-Jangan kenapa, Ndah?" tanyaku penasaran.
"Jangan-Jangan kematian bapaknya Arini ada hubungannya dengan Mbah Jati?" pekik Indah.
"Maksud kamu?" tanyaku penasaran.
"Aku juga tidak tahu, Im. Aku hanya mengira-ngira saja," jawab Indah sambil menggelengkan kepala.
Aku tertegun sejenak sambil berpikir.
"Benar juga katamu, Ndah. Ngapain juga Mbah Jati menampakkan percakapan bapaknya Arini dengan orang-orang itu, kalau tidak ada hubungan dengannya. Oke-Oke, kalian siap, kan melakukan investigasi denganku?" tanyaku pada mereka berdua.
"Siap, Bos!" jawab Bondan.
"Tapi, ada syaratnya," ujarku.
"Apa syaratnya, Im?" tanya Indah serius.
"Jangan cerita hal ini dulu kepada Arini. Aku takut dia marah atau syok jika mengetahui arwah bapaknya muncul di hadapanku," jawabku.
Kedua temanku itu mengangguk.
"Oke, Im. Kami siap menjaga rahasia itu," jawab Indah.
Beberapa detik kemudian kami mendengar suara langkah sepatu mendekati kami.
BERSAMBUNG
Gabut nungguin up-nya SEKOLAH HANTU? Untuk menghilangkan kegabutan kamu, kamu bisa baca CHAT STORY horor karanganku. Judulnya TOKO YU RIPEN. Isinya lengkap banget, ada horornya, ada romantisnya, ada komedinya. Lengkap pokoknya, buruan dibaca, ya? Aku tungguin.
__ADS_1
Jangan lupa untuk selalu meninggalkan like dan komentarmu di setiap episode. Bye bye ... Makasih ...