
Jantung kami terasa mau lepas tatkala kursi yang kami naiki tiba-tiba berayun-ayun.
"Waaaaaaaaa!!!!" teriak kami berlima secara keras dan tanpa direncanakan.
Bulu tengkuk benar-benar merinding saat kursi itu bergerak ke atas hingga posisi tubuh paling tinggi dibanding teman yang lain. Saking tingginya, rumah mewah itu terlihat sangat kecil dibanding posisi sebelumnya. Yang lebih membuat kami menjerit adalah ketika kursi yang kami duduki terhempas ke bawah. Pada saat itu tubuh ini terasa benar-benar akan dihantamkan ke tombak besi yang menganaga dengan tajam di bawah, siap untuk menjadikan tubuh kami menjadi sate hidup-hidup dan disantap oleh buaya-buaya berukuran besar yang sedang kelaparan.
Teriakan kami benar-benar keras saat itu hingga kerongkongan menjadi kering karenanya. Yang lebih menyeramkan lagi, kali ini gerakan jungkat-jungkit ini tidak hanya menaikturunkan tubuh kami, tapi juga mulai bergerak memutar meskipun dengan kecepatan yang masih dibilang pelan.
"Aaaaaaaaargh!!!" Faisal berteriak dengan keras saat jungkat-jungkit ini mulai berputar.
Aku berusaha melihat keadaan Faisal saat itu. Ternyata tangannya terluka akibat bergesekan dengan logam yang sedang berputar di depannya.
"Hati-Hati, Faisal!!" teriakku pada ketua kelompokku itu.
"Iya, Im. Tanganku tidak sengaja menyentuh ulirnya. Kamu juga harus berhati-hati," jawab Faisal dengan napas terengah akibat menahan sakit dan rasa ketakutan.
Ketiga temanku yang lain memperhatikan dan mendengarkan isi percakapan kami. Tiba-Tiba Faisal berteriak lagi.
"Andre, lampumu menyala! Kamu harus segera melompat!" teriak Faisal dengan keras.
Andre yang sedang berusaha menjaga keseimbangan posisinya pun kaget begitu mengetahui lampu kursinya yang menyala terlebih dahulu.
"Bagaimana aku akan melompat ke tiang itu? Sedangkan menjaga keseimbangan saja aku kesulitan?" teriak Andre kebingungan.
"Ayo, Ndre! Kamu bisa! Fokuslah pada dirimu!" teriakku dengan keras.
"Tapi, Im!!!!" balas Andre.
"Ingatlah orang-orang yang sedang menunggumu di rumah, Ndre! Jangan kecewakan mereka!" teriak Roni berusaha mendongkrak mental Andre yang mulai menurun.
SRIIIIIT!!!!
__ADS_1
Satu putaran telah dilalui oleh Andre tanpa melakukan gerakan apapun. Dua putaran lagi lampu di kursi Andre akan mati dan ia akan ikut mati tertusuk tombak misterius. Tubuh Andre banjir keringat akibat berkonsentrasi untuk melompat sambil menjaga keseimbangan tubuhnya.
"Aku bisa ... aku bisa ... aku bisa ...," teriak Andre pada dirinya sendiri.
Kami semua memandangi Andre yang sedang berkonsentrasi untuk bisa melompat ke tiang itu. Kecuali Faisal, selain melihat Andre, ia juga bersiap-siap berlari menuju kursi Andre untuk menggantikan posisinya.
Tak terasa dua putaran telah berlalu. Tibalah saatnya putaran terakhir yang akan menentukan nasib Andre.
Andre sedang memasang ancang-ancang. Ia sudah melakukan seperempat putaran ... setengah putaran ... tiga perempat putaran ... dan ...
HAP!
Andre melompat sekuat tenaga dari tempat duduknya menuju tiang yang berada terpisah dari jungkat-jungkit ini. Tentunya Andre tidak melompat ke arah tiang itu berada, melainkan ke titik yang berada di sebelah tiang itu. Dan benar saja, tubuh Andre pun menabrak tiang itu dengan keras dibarengi dengan teriakan kami semuanya.
BRAK!
"Andre!!!" teriakku sambil mengamati temanku itu yang meringis kesakitan karena dadanya terbentur tiang hingga hampir membuatnya kehilangan keseimbangan dan hampir terjatuh. Untunglah, ia dengan sigap mempertahankan posisinya sehingga berhasil melalui tantangan ini dengan baik.
"Terima kasih, Sal," teriakku.
"Sama-Sama, Im," jawabnya.
Kami semua agak bernapas lega setelahnya sambil menikmati ayunan jungkat-jungkit yang kami naiki dan juga putarannya yang semakin bertambah cepat.
"Ikbal! lampu kursimu menyala," teriak Roni terhadap Ikbal.
Kami pun menoleh ke arah Ikbal. Benar saja, lampu kursinya sudah menyala. Pertanda, ia harus segera melompat dan Roni yang berada di seberang Ikbal harus bersiap-siap menuju bagian tengah sistem jungkat-jungkit ini.
Ikbal segera mengatur posisi menghadap ke bagian luar jungkat-jungkit, Roni mengatur kuda-kuda untuk bisa berlari ke tengah, aku dan Faisal memperhatikan mereka berdua sambil berdoa di dalam hati.
"Ikbal! Kamu harus melompat ke titik di sebelah tiang itu sama seperti Andre tadi," teriak Roni.
__ADS_1
"Iya, Ron. Tapi, kecepatan putarannya sekarang berbeda dengan yang tadi," teriak Andre.
"Terus berdoa, Bal. Kamu pasti bisa melakukannya," teriakku.
"Oke, Im," jawab Ikbal.
Komunikasi yang kami lakukan barusan ternyata memakan waktu satu putaran sistem jungkat-jungkit. Sehingga tersisa dua putaran lagi. Ikbal memasang ancang-ancangnya dan ia pun akan melompat.
"Arrrgh!!" teriak Ikbal tiba-tiba. Ternyata Ikbal kehilangan keseimbangan akibat kursi yang ia duduki bergerak ke bawah saat ia akan melompat.
"Baaaal!!" teriak kami bertiga dengan histeris.
Kami semua melihat ke arah Ikbal dengan perasaan cemas. Syukurlah, ia tidak kenapa-kenapa. Tapi, sekarang ia hanya punya kesempatan satu putaran untuk bisa melompat ke arah tiang. Ikbal yang semula terlihat tenang, sekarang ia menjadi gugup karena nyawanya berada di ujung tanduk.
Waktu pun bergulir. Ikbal semakin gugup. Kesempatannya sudah tinggal sedikit lagi.
"Ikbal.... ayo lompaaaat!!!" teriak Roni dengan keras karena melihat Ikbal kebingungan.
Ikbal terkejut dengan teriakan Roni dan ia pun segera melompat karena panik. Untunglah, teriakan Roni menyelamatkannya. Lompatan Ikbal tepat mengenai tiang itu, sehingga ia pun selamat. Kami pun tersenyum bahagia melihat keberhasilan Ikbal. Terutama Roni yang telah berhasil menyelamatkan salah satu teman kami itu dari kematian.
Mungkin karena terlalu fokus dengan keberhasilan Ikbal, akhirnya kami melupakan satu hal yang sangat penting. Iya, Roni ternyata masih berada di posisinya. Karena terlalu fokus pada Ikbal, Roni lupa bahwa ia harus pindah ke pusat sistem jungkat-jungkit bersamaan dengan melompatnya Ikbal ke tiang itu.
"Rooooooooon!!!!!!" teriak aku dan Faisal secara bersamaan dengan perasaan takut.
"Faisaaaaaal .... Imraaaaaan ....," teriak Roni membalas teriakan kami.
Ternyata, Roni juga baru menyadari kelengahannya. Namun semua sudah terlambat. Ia sudah tidak mungkin lagi untuk bergerak ke pusat sistem karena kursi yang ia duduki sudah bergerak ke bawah dan bersiap untuk menghantamkan tubuh temanku itu ke tombak tajam yang ada di bawah.
"Tidaaaaaaaaak!!!!" Kami semua berteriak dengan kuat tak kuasa menahan kejadian tragis yang akan menimpa salah satu teman kami itu.
BERSAMBUNG
__ADS_1