SEKOLAH HANTU

SEKOLAH HANTU
BAB 50 SIRNA


__ADS_3

Kami bertiga tidak bisa berkata-kata tatkala Kakek Sugik berkata bahwa pedagang mie ayam itu adalah Pak Marzuki, saudara angkat almarhum Pak Misnanto, hantu Satpam yang sering meneror para warga sekolah selama bertahun-tahun.


"Dari mana Pak Marzuki tahu bahwa Pak Misnanto minggat ke luar jawa, Kek?" tanyaku penasaran.


"Misnanto sempat meninggalkan pesan melalui teman-teman kerjanya. Teman kerjanya itu yang mengabari Marzuki tentang kepergian saudara angkatnya itu," jawab Kakek Sugik.


"Hm ... Apa Pak Marzuki yakin dengan informasi itu? Sedangkan ia tidak mendapat pesan itu secara langsung dari Pak Misnanto," Aku bertanya lagi.


"Marzuki mendapat informasi itu dari orang yang sudah lama berhubungan dekat dengannya. Jadi begini ceritanya, Marzuki itu memiliki teman satu SMP di tempat kerja Misnanto. Saya lupa namanya siapa, yang jelas mereka sangat dekat. Mereka sering jalan-jalan bareng di waktu senggang. Dulu, sewaktu Pak Misnatun, bapak angkatnya Marzuki terkena lintrik salah satu janda langganan mie ayamnya, temannya Marzuki ini yang membantu mencarikan dukun untuk menyembuhkan Pak Misnatun. Waktu itu rumah tangga Pak Misnatun dengan Bu Misnatun sudah di ujung tanduk. Pak Misnatun sudah nggak ingat lagi dengan keluarganya, bahkan bisnisnya sempat merosot tajam waktu itu. Yang ada di pikiran Pak Misnatun cuma janda itu. Bu Misnatun sampai jatuh sakit waktu itu. Marzuki dan Misnanto sempat terlantar waktu itu. Istriku sering mengantarkan makanan untuk mereka berdua. Untunglah, ada teman Marzuki yang mengajak Marzuki ke rumah dukun sakti di kabupaten sebelah. Entah gimana ceritanya, Pak Misnatun bisa sembuh dari pengaruh lintrik janda itu. Tapi, hartanya sudah banyak yang diembat oleh perempuan perusak rumah tangga itu. Setelah sembuh dari pengaruh lintrik perempuan itu, rumah tangga Pak Misnatun pun kembali harmonis. Teman Marzuki itulah yang menyampaikan berita bahwa Misnanto pergi ke luar jawa kepada Marzuki," tutur Kakek Sugik panjang lebar.


"Ooo ... begitu, ya, Kek? Apa Kakek tahu, siapa nama teman Pak Marzuki itu?" tanyaku lagi.


"Duh, kakek lupa namanya, Nak Imran. Siapa, ya? Yang jelas orangnya berkulit putih bersih dan memiliki wajah yang tampan. Saya sudah lupa namanya," jawab Kakek Sugik.


"Semenjak dikabarkan kabur ke luar jawa, apakah ada kabar lagi tentang Pak Misnanto?" tanyaku.


"Hm ... Nggak ada, Nak. Misnanto itu seperti hilang ditelan bumi. Mungkin kemarahannya kepada Marzuki membuat ia enggan untuk pulang ke tanah kelahirannya," jawab Kakek Sugik lagi.


"Hm ... kasihan, ya, Kek ... Oh, ya, Pak Marzuki apakah tetap tinggal di rumah peninggalan kedua orang tua angkatnya?" tanya Indah tiba-tiba.


Aku menoleh ke arah Indah. Saat ini aku benar-benar mengagumi kemampuan investigasi teman perempuanku ini.


"Marzuki sudah lama kehilangan tempat tinggalnya semenjak rumah peninggalan Pak Misnatun mengalami kebakaran beberapa tahun yang lalu," jawab Kakek Sugik.


"Ke-ba-ka-ran?" Kami melongo mendengarnya.


"Iya. Beberapa tahun yang lalu, teman Marzuki itu menginap di rumah Marzuki bersama lima orang temannya. Baru dua hari mereka pulang dari sana, rumah itu mengalami kebakaran hebat. Saat itu Marzuki sedang berjualan mie ayam. Mungkin karena korsleting listrik, rumah peninggalan orang tua Marzuki itu pun habis dilalap si jago merah," jawab Kakek Sugik.


"Ya Tuhan ... tragis sekali, ya?" cetus Bondan.

__ADS_1


"Yah, begitulah, Nak. Semua harta warisan Pak Misnatun lenyap dalam hitungan menit. Sejak saat itu, Marzuki tidak tinggal di situ lagi. Untuk sementara waktu, ia tinggal di gubuk sederhana di belakang puing-puing bekas rumahnya itu," jawab si kakek.


"Oalah ... Jadi, lahan kosong yang ada pohonnya di jalan mawar itu ada bekas rumah Pak Marzuki?" cetusku spontan.


"Loh! Nak Imran sudah pernah ke sana?" Kakek Sugik balik bertanya.


"Iya, Kek. Saya pernah ke sana mau mencari rumah Pak Marzuki mau memesan mie ayamnya. Tapi, saya tidak menemukan rumah Pak Marzuki. Yang ada hanya lahan kosong dan sebuah pohon," jawabku berbohong.


"Iya memang di sanalah tempat tinggal Marzuki sekarang. Kalau siang hari Marzuki berjualan mie ayam di depan masjid, tapi kalau malam hari ia kembali ke lahan kosong itu dan ia menambatkan terpal pada rombong mienya diikat ke pohon itu. Di sanalah sekarang ia tidur," jawab si kakek tua.


"Ya Tuhan ...," ujar kami bertiga tidak tega dengan kehidupan Pak Marzuki sekarang.


"Wah, kakek kok jadi ngelantur begini, ya, ngomong sama kalian ini?" ujar Kakek Sugik kemudian.


"Nggak apa-apa, Kek. Itung-Itung Kakek sedang membimbing kami yang masih muda ini," jawab Indah spontan.


"Ngomong-Ngomong, kalian kok menanyakan banyak hal tentang keluarga Marzuki, ya?" tanya si kakek mulai curiga.


"Ah, tidak, Kek. Kakek itu kalau cerita terasa seru begitu, jadinya kami ini kayak terhanyut gitu dan muncul rasa penasaran jadinya dengan cerita Kakek. Tapi, ngomong-ngomong kue ini boleh dimakan, nggak?" Aku berkata dengan wajah sengaja kubuat konyol untuk mengecoh Kakek Sugik.


"Ya, bolehlah, Nak Imran. Asal ...," ujar Kakek tidak sampai selesai berkata.


"Asal apa, Kek?" tanyaku buru-buru.


"Asal dibayar sama kalian nantinya," jawab Kakek Sugik diakhiri dengan memasang ekspresi wajah lucu.


Kontan saja kami bertiga tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan Kakek Sugik yang di luar dugaan kami itu.


"Waduh, Kakek ini ada-ada saja. Ya iyalah kami bayar, tapi bayarnya bulan depan, ya?" ujarku tak mau kalah membuat kelakar untuk Kakek Sugik.

__ADS_1


"Bisa tekor saya, Nak, kalau dibayar bulan depan. Istri baru kakek bisa ngambek sama kakek," ujar Kakek Sugik spontan.


Lagi-Lagi kami melongo mendengar perkataan kakek yang terasa janggal di telinga kami bertiga.


"Jadi, Kakek ini punya bini muda?" tanya Bondan tidak percaya.


"Bukan bini muda, Nak Bondan. Tapi, bini baru ...," jawab Kakek Sugik.


"Loh! Emangnya bini muda dan bini baru beda?" tanya Bondan dengan muka penasaran.


"Beda dong. Bini baru kakek maksudnya bini baru keriput," jawab Kakek Sugik dengan suara keras.


"Ha ha ha ...." Kami pun tertawa terbahak-bahak. Namun, bukan karena candaan Kakek Sugik, melainkan karena kemunculan seorang nenek tua dari balik gorden ketika Kakek Sugik menjawab pertanyaan kami. Nenek tua itu tidak hanya muncul tiba-tiba, tapi ia juga membawa sandal jepit di tangannya dan digunakan untuk memukul punggung Kakek Sugik dengan keras. Kakek Sugik lari terbirit-birit karena nenek tua itu tidak hanya memukulnya sekali, melainkan berkali-kali dengan ekspresi wajah yang sangat marah dan kesal terhadapnya.


"Ampuuuuun, Nyiiiiii ... Ampuuuuun ...," teriak Kakek Sugik sambil dikejar-kejar nenek tua itu.


Kami melanjutkan makan kue dan minum es teh spesial buatan Kakek Sugik yang super nikmat itu. Wajah kami saat itu sumringah karena mendapatkan banyak informasi dari Kakek Sugik.


"Ke mana lagi kita habis ini, Im?" tanya Bondan.


"Kita ke gubuk Pak Marzuki, Ndan!" jawabku.


"Oke!" jawab kedua temanku.


BERSAMBUNG


Hai, Sobat Junan ... Sudah bisa menebak alur ceritanya, belum?


Oh, ya, Nih ... Bagi Sobat Junan yang masih belum memiliki novel versi cetak KAMPUNG HANTU, bisa japri ke nomor wa 085236533388, nanti aku kasoh link pembeliannya di aplikasi SHOPEE.

__ADS_1


Jangan lupa untuk selalu memberikan like, vote, dan komentar kalian di setiap bab novel ini.


Sampai jumpa next episode ... Bye Bye ...


__ADS_2