
Sekarang, aku sudah berada di bilah ke sepuluh, sedangkan total bilah kayu ada delapan puluh empat, berarti masih ada tujuh puluh empat lagi bilah kayu yang harus aku pijak untuk sampai di seberang. Sedangkan tali pengikat sudah putus dua buah.
Setelahnya kami tidak banyak bicara, kami fokus untuk terus berjalan dengan kecepatan yang sedikit lebih cepat dari sebelumnya. Pada bilah kedua puluh, barulah tali pengikat ketiga diputus oleh anak buah Nyi Sukma.
"Ah ...," kami menahan napas saat tali ketiga itu putus.
"Ayo terus, Sal. Kita sudah bisa melangkah sepuluh bilah kayu setiap tiga puluh detik!" ujar Ikbal.
Faisal tidak menyahut. Ia terus fokus melangkah dan diikuti oleh kami. Pada bilah kayu ketiga puluh, kembali tali pengait diputus oleh pesuruh Nyi Sukma. Total sudah empat tali pengait yang putus, sisa enam tali pengait lagi.
"Tetap jaga konsentrasi, teman-teman!" pekik Roni.
Kami terus melangkah, berpindah dari satu bilah kayu ke bilah kayu yang lain. Dan kami pun berhasil mencapai bilah kayu keempat puluh bersamaan dengan putusnya tali pengait kelima.
"Ya Tuhan. Tali pengaitnya sudah sisa lima lagi, Sal. Ayo, buruan!" pekik Dinda.
Kami kembali bergerak secara kompak. Keringat dingin membanjiri tubuh kami. Sekarang kami sudah berada di tengah-tengah jembatan. Pemandangan ke arah bawah semakin seram saja seolah-olah maut sudah mendekati kami.
BREEEK
Tali pengait keenam akhirnya putus bersamaan dengan pijakan kakiku di bilah kayu kelima puluh.
"Teman-Teman, sepertinya putusnya tali pengait jembatan ini semakin lama semakin menambah tekanan kaki kita di bilah kayu," ujar Ikbal.
"Terus, gimana, Bal?" tanya Dinda.
"Kita harus lebih berhati-hati dalam melangkah," ujar Ikbal.
Kali ini kami melangkah tidak secepat barusan. Kakiku berpijak di bilah kayu kelima puluh sembilan ketika tali pengait ketujuh diputuskan oleh petugas itu.
"Teman-Teman, sekarang kita harus lebih menguatkan mental karena semakin banyak tali pengait yang putus, maka keseimbangan jembatan ini juga semakin berkurang," ujar Roni.
Kami terus melangkah dan benar saja ucapan kedua temanku, kami tidak bisa bergerak secepat tadi. Kali ini aku baru mencapai bilah kayu ke enam puluh tujuh saat tali pengait kedelapan kembali diputuskan oleh anak buah Nyi Sukma.
"Ya Tuhan, tali pengaitnya sisa dua saja," teriak Dinda panik.
"Jangan panik, Din. Yakinlah, kita akan bisa melewati jembatan ini dengan selamat!" teriak Faisal.
Kami kembali melangkah dengan kaki yang semakin gemetar. Ketidakseimbangan jembatan ini semakin terasa saja. Dengan penuh perjuangan akhirnya kakiku berhasil mencapai bilah kayu ketujuh puluh lima saat tali pengait kesembilan diputus oleh petugas jahat itu.
"Aaaaaaaaaaaarrrrrrrghhh," teriak kami semua saat jembatan seperti oleng karena salah satu ujungnya hanya ditopang oleh satu tali.
__ADS_1
"Aku tidak mau mati. Aku harus menjaga adikku!" teriak Dinda.
"Aku tidak mau mati. Aku belum melamar calon istriku," teriak Faisal.
"Selamatkan kami, Nyi Sukma! aku tidak mau kedua orang tuaku bersedih," teriak Ikbal.
"Tidaaaaak!!! Aku harua selamat untuk bisa melunasi hutang-hutang ayahku," teriak Andre yang cukup mengagetkan kami.
"Tidaaaaak!!! Aku tidak mau mati. Siapa yang akan menjaga ibuku nanti kalau aku mati? Ibuku sudah tua," pekik Roni.
"Teman-Teman. Cepatlah bergerak, Ujung jembatan sudah ada di depan mata. Ayo, Faisal. Kamu bisa! Lakukan demi calon istrimu!" teriakku.
"Ayo semangat, Ron. Ujung jembatan sudah ada di depanmu. Kamu harus semangat demi ibumu yang sudah tua!" teriakku lagi.
"Ayo, Andre. Semangat. Kamu bisa berhasil menyeberang. Kamu yang akan melunasi hutang-hutang ayahmu," teriakku kepada Andre.
"Dinda. Tidak ada yang bisa menjaga adikmu selain kamu sendiri. Ayo, jangan menyerah!" teriakku pada Dinda.
"Ayo, Bal. Kamu bisa. Kita semua pasti selamat. Kamu tidak akan membuat kedua orang tuamu kehilangan," teriakku pada Ikbal.
Mendengar teriakanku, mereka kembali bersemangat. Kami bersama-sama melangkah. Setelah melangkah sebanyak lima kali, akhirnya Faisal berhasil mencapai ujung jembatan. Ia tampak lemas di ujung jembatan. Setelah Faisal, Roni menyusul lolos dari jembatan setelah melangkah sebanyak enam kali. Sesampai di ujung jembatan, Roni pun langsung terbaring lemas dan menangis. Selanjutnya Andre yang nampak histeris akhirnya berhasil mencapai ujung jembatan setelah melangkah sebanyak tujuh kali.
Tak mau ketinggalan, Dinda yang tepat berada di belakang Andre pun bersemangat melangkah. Akhirnya ia sudah berada di bilah terakhir. Sebagai wanita yang langkahnya tidak lebar, Aku melihat Dinda merasa ragu untuk melompat dari bilah kayu terakhir itu ke bantaran sungai.
"Kamu bisa, Din. Jaraknya tidak begitu jauh, kok! Yakinlah! Ingat, adikmu sangat menunggu kedatanganmu," teriakku.
Dinda pun mengambil napas dalam-dalam dan melakukan ancang-ancang untuk melompat.
"Hiaaaaaaaaat!!!!" teriak Dinda cukup keras saat ia melompat dari bilah kayu terakhir ke atas tanah yang terpisah satu bilah kayu karena terjatuh di awal tadi.
BRAAAAK....
Dinda mendarat di atas tanah. Aku pikir ia sudah selamat, ternyata dugaanku salah. Lompatan Dinda yang lemah membuat tubuh Dinda agak ke pinggir jurang.
"Tolooooooong!!!" teriak Dinda.
"Bantuin Dinda!!!" teriakku pada teman-temanku.
"Aaaaaaaargggh!!!" teriak Dinda.
Syukurlah, Faisal dengan cepat menangkap tangannya sehingga Dinda urung jatuh ke jurang.
__ADS_1
WUUUUUUSSSSS...
Aku melihat ada bilah kayu yang terlepas saat Dinda melakukan lompatan. Rupanya Dinda terlalu menekan kuat kakinya pada bilah kayu sehingga menimbulkan bunyi yang membuat salah satu bilah itupun lepas sesuai aturan dalam permainan gila ini.
"Alhamdulillah kamu selamat, Dinda," teriakku.
"Tapi, Im. Bilah kayunya lepas satu. Maafkan aku, Im, Bal ... Aku memang tidak berguna," ujar Dinda.
"Jangan bilang begitu, Din. Aku dan Ikbal oasti bisa melompati ini meskipun bilah kayu yang terlepas ada dua buah. Kami berdua memiliki lompatan yang hebat," ucapku menenangkan mereka semua.
"Ayo, Bal. Melompatlah! Teman-Teman. Tolong tangkap Ikbal!" teriakku.
Faisal, Andre, dan Roni pun membuat barikade di atas bantaran untuk menangkap tangan Ikbal yang akan melompat agar tidak terjatuh ke jurang.
"Hiaaaaaaaaaat!!!!!" teriak Ikbal dengan kuat sambil melompat ke atas bantaran.
Heeep!!!
Lompatan Ikbal sungguh luar biasa. Ia bisa mencapai pinggiran sungai dengan selamat.
"Ayo, Im. Tinggal kamu sekarang! Segeralah melompat!" teriak Faisal.
"Oke, Sal. Kalau Ikbal bisa, aku juga pasti bisa melompat sekuat Ikbal," ujarku.
"Ayo, buruan, Im!" teriak Faisal.
Aku pun membuat ancang-ancang untuk melompat ke pinggir sungai.
"Im, buruan. Algojonya sudah memutuskan tali terakhirnya!" teriak Dinda.
Aku menoleh ke belakang. Benar saja. Aku melihat algojo Nyi Sukma sedang mengkapak tali oengait terakhir. Aku melihat tali terakhir itu putus.
"Tidaaaaaaaaaaaak!!!!"
BERSAMBUNG
crazy up beneran, kan, hari ini?
Ini semua demi Sobat Junan.
Sekarang giliran sobat Junan yang memberikan like dan komentarnya biar aku semakin semangat untuk crazy up.
__ADS_1
Mau lagi, nggak????