SEKOLAH HANTU

SEKOLAH HANTU
BAB 65 EMOSI


__ADS_3

Aku berusaha untuk menenangkan diri agar tidak dicurigai oleh Pak Rudi.


"Saya, Pak. Ada apa ya, Pak?" Aku berbalik bertanya.


Kedua temanku nampak gelisah sekali. Tak hanya mereka, aku pun juga merasakan kegelisahan itu, tapi aku sembunyikan itu semua dengan senyuman termanisku.


"Oh kamu ternyata," jawab Pak Rudi sambil manggut-manggut.


"Ada apa ya, Pak?" Aku mengulangi lagi pertanyaanku.


"Kamu bisa ikut ke ruangan saya sebentar?" tukas kepala sekolah tersebut.


Ada kalanya sebuah permintaan itu tidak untuk ditolak meskipun disampaikan dengan nada sehalus mungkin. Alhasil, aku harus ikut Pak Rudi ke ruangannya meninggalkan kedua temanku yang harap-harap cemas.


Ruangan Pak Rudi nampak rapi seperti orangnya Benar kata Bu Iis bahwa Pak Rudi ini cinta akan kebersihan dan kerapihan. Sudah dapat kutebak bahwa orang-orang seperti Pak Rudi ini adalah seorang pekerja keras dan tidak mengenal kata menyerah.


"Bagaimana ruangannya, Im? Bagus kan?" Tak kusangka orang seserius Pak Rudi masih sempat juga berbasa-basi.


"I-iya, Pak," jawabku terbata-bata.


"Saya memang sangat memprioritaskan kebersihan dalam hal apapun. Saya paling tidak suka kalau ada sampah di sekitar tempat saya bekerja," ujarnya kemudian.


"Iya, Pak. Ruangan Bapak sangat bersih," timpalku.


"Ini belum begitu bersih, Im. Sebenarnya masih ada sampah yang tidak terlihat. Tapi, nanti sampah itu akan saya bersihkan kalau sudah tiba waktunya," ujar Pak Rudi dengan tegasnya.


"Hm ... Mohon maaf, Pak. Kenapa Bapak memanggil saya?" Aku mengulangi lagi pertanyaanku.


"Oh iya sampai lupa. Begini, Im. Saya naru saja mendapat info bahwa kamu baru saja menjadi informan polisi terkait pengungkapan sebuah kasus kejahatan?" Pertanyaan Pak Rudi membuat aku tercengang.


"Eh ... Eh ... Maksudnya bagaimana, Pak?" Aku berpura-pura tidak mengerti maksud perkataan untuk mengulur waktu. Sebenarnya saat itu otakku langsung syok, kenapa Pak Rudi bisa tahu hal itu?


"Begini, Im. Saya ini punya banyak teman, termasuk di kepolisian. Nah, salah satu teman saya mengabarkan kepada saya bahwa ada siswa sekolah ini yang baru saja menjadi informan rahasia polisi dan baru saja sukses mengungkap kejahatan." Pak Rudi mempertegas ucapannya.


"I-iya, Pak," jawabku jujur karena aku sudah tidak mungkin lagi bisa membohongi pria ambisius di depanku ini.


"Nah, gitu dong jawab yang jujur. Hebat kamu, Im. Masih remaja sudah berbakat menjadi detektif. Saya bangga memiliki murid seperti kamu. Tidak salah sekolah ini memberikan beasiswa kepada kamu," puji Pak Rudi sambil menepuk-nepuk punggungku.


Entah kenapa aku merasa pukulan di punggungku terasa sakit. Tidak seperti pukulan orang hang sedang memuji seseorang.

__ADS_1


"Saya juga mendengar bahwa sebelumnya kamu juga pernah mengungkap kasus pembunuhan di sekolah lamamu?" ujar Pak Rudi spontan.


Aku menatap mata Pak Rudi yang terlihat tegas berwibawa.


"I-iya, Bapak," jawabku kalem.


"Oh ya, Im. Kamu harus semangat bersekolah, ya?Agar cita-citamu bisa tercapai. Yah, minimal kamu nanti menjadi polisi atau wartawan," ujar Pak Rudi lagi.


"Aamiiin ... terima kasih, Bapak," jawabku.


Pak Rudi menghela napas panjang sebelum melanjutkan perkataannya.


"Setiap sekolah itu memiliki visi dan misi yang berbeda. Tolong sekolah ini jangan disamakan dengan SD atau pun SMP-mu!" ucap Pak Rudi dengan nada tegas.


"Iya, Pak. Saya tidak akan menyamakan sekolah yang sekarang dengan sekolah yang dulu. Saya akan belajar lebih baik di sini," ucapku.


"Hentikan aktifitasmu dalam melakukan investigasi seperti itu!" ucap Pak Rudi secara tiba-tiba namun sangat tegas.


"Kenapa Bapak tidak mengijinkan hal itu untuk saya lakukan?" Aku refleks bertanya.


"Sekolah ini aman, Im. Tidak ada kejahatan apapun di sini. Saya tidak ingin nama sekolah ini menjadi buruk karena hal sepele seperti itu," tukasnya.


"Bagus. Saya pastikan kamu akan mendapat beasiswa sampai kuliah kalau kamu tidak berbuat aneh-aneh di sini," terang kepala sekolah berjenis kelamin laki-laki itu.


"Terima kasih banyak, Pak. Tapi-," Aku berkata.


"Tidak usah tapi-tapian. Menurut saja sama saya. Insyaallah kamu akan nyaman dan aman untuk bersekolah di sini hingga lulus," ujar Pak Rudi.


"Terima kasih, Pak!" jawabku.


"Ya sudah. Kalau begitu silakan kamu kembali ke kelas. Biar tidak terlambat!" perintah Pak Rudi agak mengagetkanku.


"Terima kasih, Pak! Saya mohon pamit," ucapku di ujung pembicaraan.


"Oke!" jawab Pak Rudi.


Baru saja aku akan menutup pintu ruangan itu dari luar, tiba-tiba Pak Rudi memanggilku.


"Jadilah anak yang baik, Im! Jangan jadi sampah yang setiap saat pasti akan tersingkir," ujar Pak Rudi mengagetkanku.

__ADS_1


"Iya, Pak. Terima kasih atas peringatannya," jawabku ragu.


Aku pun berlalu meninggalkan ruangan Pak Rudi dengan perasaan kecewa. Ternyata Pak Rudi tidak berkenan siapa pun melakukan investigasi di sekolah ini. Aku jadi teringat dengan kedua sahabatku, Bondan dan Indah. Mereka berdua sama sepertiku, tidak bisa diam apabila melihat suatu keganjilan di suatu tempat. Terlebih kami bertiga sudah melangkah sejauh ini untuk mengurai misteri munculnya arwah Pak Misnanto di sekolah ini.


"Im, apa yang dikatakan Pak Rudi barusan?" ucap Indah yang tiba-tiba muncul dari balik pilar penyangga.


Ternyata Indah dan Bondan menungguku dengan gelisah di balik pilar penyangga itu sejak tadi. Aku tidak buru-buru menjawab.


"Apa Pak Rudi mengetahui bahwa kamu menemani Bu Iis naik ke lantai dua? Jangan bilang kalau Pak Rudi mengetahui kamu mencuri berkas itu?" cerocos Bondan.


Aku berhenti melangkah dan diikuti oleh kedua sahabatku itu. Mereka menatap lekat ke arah mataku. Aku pun menarik napas panjang dan memilih perbendaharaan kata yang tepat agar tidak begitu mengecewakan kedua sahabatku itu.


"Pak Rudi mengetahui latar belakangku yang pernah mengungkap pembunuhan di SMP-ku dan juga mengetahui bahwa aku yang menjadi informan atas pengungkapan kasus kecelakaan bapaknya Pak Marzuki. Sehingga beliau melarangku untuk melakukan investigasi apapun di sekolah ini," jawabku sambil menatap teduh ke arah wajah mereka berdua.


"Apa alasan Pak Rudi melarang kamu melakukan investigasi di sini?" tanya Indah dengan wajah marah.


"Ia tidak mau nama sekolah ini menjadi rusak karena ulahku," jawabku enteng.


"Tidak mungkin Pak Rudi melarangmu hanya karena ingin menjaga nama baik sekolah ini. Aku tidak percaya hal itu," ucap Indah.


"Tapi, Ndah. Ucapan Pak Rudi itu ada benarnya juga. Sejak terungkapnya kejadian pembunuhan di SMP-ku, dua tahun berturut-turut jumlah pendaftar di sekolah lamaku itu mengalami kemerosotan karena banyak calon murid maupun orang tua murid takut untuk menempuh pendidikan di sana. Kamu bisa bayangkan kalau sampai hal itu terjadi di sekolah ini?" jawabku.


"Tapi, Im. Apa kamu tidak kasihan dengan arwah Pak Misnanto kalau sampai kamu menghentikan investigasi ini?" tanya Indah kembali menyudukanku.


Aku menata kembali wajah Indah yang masih emosi. Aku juga melihat wajah Bondan tidak jauh berbeda dengan Indah. Kemudian aku menarik napas dalam-dalam.


"Entahlah ...." Itulah kata-kata yang keluar dari mulutku sebelum aku melangkah pergi meninggalkan kedua sahabat baruku itu.


BERSAMBUNG


Sobat Junan


Yang nge-like tak doain lancar jodoh


Yang komen tak doain lancar rejeki


Yang vote tak doain lancar urusan


Yang share tak doain lancar segalanya

__ADS_1


Yang cuma baca saja tak doain mimpiin Bang Junan


__ADS_2