SEKOLAH HANTU

SEKOLAH HANTU
BAB 64 : RENCANA


__ADS_3

Pak Prapto pulang setelah menunaikan salat Magrib secara berjamaah di mesjid dekat rumahku. Sore itu dimanfaatkan oleh Pak Prapto untuk melakukan reuni bersama orang-orang yang ia kenal di dusun Jatisari.


"Main-Main ke rumah, Im ... To ... tadi kan sudah saya kasih alamat lengkap saya di kota. Kalian sekarang kan sudah besar jadi sudah boleh main ke mana-mana," pesan Pak Prapto sebelum pamit.


"Terima kasih, Pak. Insyaallah kalau ada kesempatan, saya akan main ke sana," jawabku dan Parto.


Malam itu aku masih kepikiran dengan kasus yang menimpa bapaknya Pak Jamal. Pikiranku dipenuhi beberapa perayaan di antaranya bagaimana perasaan Pak Marzuki setelah mengetahui bahwa orang yang telah mencelakai kedua orang tuanya adalah bapaknya Pak Jamal, yang tentunya sedikit banyak ia pasti mengenal orang yang sering dibantu oleh kedua orang tuanya itu? Apakah Pak Jamal akan ditahan juga oleh polisi? Apa yang akan dilakukan oleh Pak Jamal seandainya ia tahu bahwa kamilah yang telah membantu polisi menangkap bapaknya yang sedang sakit keras?


Keesokan harinya badanku sakit semua karen semalam mataku sulit untuk dipejamkan. Aku berangkat ke sekolah pukul enam kurang lima belas menit seperti biasa dengan berjalan kaki dari rumah. Pukul enam lewat lima belas aku sudah sampai di pinggir jalan raya untuk menunggu angkutan umum. Angin semilir tiba-tiba berhembus ke tengkukku sehingga membuat bulu kudukku merinding.


"Imraaaaan ... Warung tua di terminal ..." Aku tiba-tiba mendengar suara seorang perempuan dari arah belakangku.


"Yaaaaa?" Aku menjawab sambil menoleh ke belakang.


Aku tidak menemukan siapa-siapa saat itu di belakangku. Tapi, bulu kudukku masih tetap merinding. Aku memegangi bagian belakang leherku untuk mengurangi efek merinding yang sangat tidak nyaman itu. Mataku menoleh ke kiri dan ke kanan untuk memastikan bahwa kondisi benar-benar aman. Aku benar-benar bersyukur saat aku melihat sebuah Angkot sedang melaju dari arah barat. Aku melambaikan tangan untuk memberi kode sopirnya agar mau berhenti.


"Ke SMAN 14, Pak?" tanyaku sebelum naik.


"Oke. Naik!" jawab sang sopir.


Angkot pun melaju dengan kecepatan sedang menuju ke sekolahku. Aku masih terngiang-ngiang dengan suara yang kudengar barusan.


"Warung tua di terminal? Apa maksudnya?" Indah mengulang kalimat yang aku ucapkan.


"Aku juga tidak paham, Ndah. Yang jelas tadi ada yang berbisik di telingaku saat aku akan naik ke Angkot," jawabku.


"Pasti itu ulah Mbah Jati yang kamu ceritakan kemarin lusa, Im," jawabnya.


"Bisa jadi. Tapi, apa maksudnya ia membisikkan kata itu ke telingaku?" tanyaku.


"Eh, Rin. Kamu kok diam saja, sih, mulai tadi?" tanya Bondan kepada Arini.


"Aku jadi teringat almarhum ayah, Im. Besok sudah memasuki tujuh hari kematiannya," jawab Arini dengan gelagapan.


"Iya. Kami turut berduka cita, Rin. Mohon maaf kami belum sempat ikut berdoa bersama di sana," jawabku.


"Bukan itu yang aku pikirkan, Im. Aku jadi teringat dengan kasus kecelakaan kedua orang tua Pak Kumis. Ternyata itu bukan kecelakaan biasa, melainkan ada orang yang sengaja merusak remnya sehingga blong dan menewaskan mereka berdua. Aku takut ...," ujar Arini.

__ADS_1


"Jangan bilang kamu menyangka bahwa ayahmu juga sengaja dicelakakan oleh seseorang?" potong Bondan.


"Mungkin hal itu terkesan bodoh ya, Ndan? Tapi, kepergian ayah terlalu cepat bagiku. Terlebih sehari sebelum ayah meninggal, beliau bilang akan mempertemukanku dengan seseorang setelah ia menyelesaikan urusannya. Tapi, esok harinya tiba-tiba-," Arini tak sanggup menyelesaikan ucapannya karena ia keburu meneteskan air mata.


"Sabar ya, Rin ... Ayahmu sudah tenang di sana. Kamu harus tegar menghadapi semua ini," ujar Indah sambil membelai rambut Arini yang hitam.


"Makasih, Mbak," jawab Arini sambil menyeka air matanya.


Aku tidak merespons ucapan Arini. Aku jadi teringat dengan kertas undangan yang aku temukan di saku jenazah ayah angkatnya. Aku juga teringat dengan view yang ditampakkan oleh Mbah Jati yang memperlihatkan ayah angkat Arini yang sedang dikerubuti oleh beberapa laki-laki asing. Aku juga teringat dengan saat pertama kali arwah ayah Arini mengantarkanku dari jatian ke sekolah.


"Mungkinkah semua itu hanya kebetulan semata? Jika tidak ada sesuatu yang istimewa, mengapa semua itu muncul dengan nyata di hadapanku? Aku yakin ada suatu misteri yang belum terungkap. Tapi, aku tidak mungkin mengatakan semua ini kepada Arini. Aku tidak mau anak ini justru bertambah tidak tenang hidupnya." Aku berkata di dalam hati.


"Tas kalian kok kayaknya penuh, sih?" tanya Arini tiba-tiba.


Kami pun saling menoleh.


"Iya, Rin. Hari ini kami harus menginap di sini. Penutupan MOS akan dilaksanakan besok," jawabku.


"Iya, Rin. Hari ini dan besok kami akan mengikuti kegiatan Persami," imbuh Bondan.


"He he he ... Iya. Mau ikut tah?" tanyaku.


"Emang boleh?" tanya Arini.


"Hm ... kayaknya nggak boleh ikut kalau masih Bocil," jawabku.


"Apaan tuh Bocil?" tanya Arini.


"Bocah Cilik ... he he he," ledekku sambil berlalu pergi bersama teman-temanku masuk ke gerbang sekolah.


"Awas kamu, Im!" teriak kemarahan Arini.


Akhirnya aku bisa melihat senyum Arini lagi. Meskipun bukan senyuman yang sebenarnya, setidaknya itu dapat mengurangi sedikit beban pikirannya.


"Kunci duplikatnya ada di kamu kan, Im?" tanya Indah.


"Iya. Kita nanti akan beraksi jam dua belas malam," jawabku.

__ADS_1


"Loh, bukankah jam segitu kita ada kegiatan penjelajahan di belakang gedung sekolah?" tanya Bondan.


"Justru itu, Ndan. Kita diam-diam akan meninggalkan rombongan menuju ke gedung sekolah untuk melaksanakan misi kita," jawabku.


"Kita mau lewat mana, Im? Bukankah jalan di depan sekolah dijaga oleh Pak Satpam?" tanya Indah.


"Tenang, Ndah. jam dua belas malam biasanya Pak Satpam itu meninggalkan Pos untuk berkeliling di dalam sekolah. Nah, saat itu kita akan memanjat pagar untuk masuk ke dalam dan bersembunyi di kelas 3 IPA 7," jawabku.


"Loh, bukankah setiap kelas dikunci, Im?" tanya Indah.


"Tidak, Ndah. Khusus kelas IPA 7 itu selot kuncinya baru saja rusak dan belum sempat diganti," jawabku.


"Dari mana kamu tahu hal itu, Im?" tanya Indah penasaran.


"Tadi sewaktu aku kembali ke kelas, aku berpapasan dengan kakak-kakak OSIS yang membicarakan hal itu," jawabku enteng.


"Cerdas kamu, Im!" puji Indah.


"Baru tahu, nih ye?" godaku.


"Ehem ...,"


Langkah kami tiba-tiba dihentikan oleh seseorang bertubuh tegap dan berkulit cerah dengan usia yang sudah tidak muda lagi. Kami sontak saja langsung terdiam.


"Se-selamat pagi, Pak!" sapa kami dengan kaku.


"Pagi. Kamu yang namanya Imran, kan?" tanya Pak Rudi dengan suara berat sambil menatap tajam ke arahku.


Aku terkejut mendapat pertanyaan yang mengejutkan itu.


BERSAMBUNG


Alhamdulillah, bisa post 4 episode hari ini.


Sudah puas apa belum?


Jawab di kolom komentar, ya?

__ADS_1


__ADS_2