
Kelompok kami sudah meninggalkan pos pertama di kuburan tadi. Perasaan kami agak lega sekarang karena sudah tidak berdampingan dengan deretan batu nisan yang cukup membuat panas dingin. Entahlah, bagaimana nasib kakak OSIS yang bertugas menjaga pos pertama itu sekarang. Toh, dari ceritanya sepertinya ia sudah terbiasa menghadapi hal seperti itu. Semoga saja tidak ada penjahat atau dukun lintrik yang lewat di sana.
Berbicara tentang dukun lintrik, aku jadi teringat dengan Mbah Kardi yang juga memiliki keahlian menaklukkan yang sama. Dengan kekuatan magicnya, ia sudah berhasil menaklukkan hati wanita, salah satunya adalah Bu Mila. Sungguh ilmu sihir itu benar-benar jahat.
Di dusunku, kami diajarkan untuk menjaga adab kesopanan dan tata krama dalam hidup bermasyarakat. Para orang tua biasanya mengingatkan anak-anaknya untuk menjaga perasaan orang lain. Kami dilarang untuk menyinggung perasaan siapapun karena hal itu bisa berakibat fatal. Contohnya, bagi anak perempuan yang sudah beranjak remaja, apabila ada orang yang datang melamar untuk pertama kalinya, lamaran itu pantang untuk ditolak, seperti apapun calon suaminya. Karena dalam keyakinan warga di dusunku, menolak lamaran pertama bagi seorang perempuan artinya 'sangkal' alias mendaftarkan diri menjadi perawan tua. Meskipun anak perempuannya cantiknya luar biasa, tidak luput dari mitos 'sangkal' ini. Karena itulah, jika warga di dusunku memiliki anak perempuan dan sudah lulus SD, orang tua buru-buru memondokkan anaknya di pondok pesantren untuk menghindari anaknya dilamar oleh laki-laki.
"Im, kamu ingat Juwari dan adiknya?" tanya ibuku beberapa hari yang lalu
"Iya, Bu. Kenapa?" Aku balik bertanya.
"Dia akan menikah bulan haji ini. Kemarin dia nitip undangan buat kamu," jawab ibuku
"Wah, dapat orang mana dia, Bu?" tanyaku lagi.
"Dapat orang dusun sebelah," jawab ibuku.
"Iya, Bu. Aku pernah bertemu dengannya beberapa bulan yang lalu sewaktu ia memanen buah langsap di tegalannya. Waktu itu dia bilang mau mencari istri. Ia kasihan dengan ibunya yang sudah sakit-sakitan. Sedangkan ia sendiri harus mengelola sawah dan ladang peninggalan almarhum ayahmya, Pak Satar," tuturku.
"Ooo ... jadi itu alasannya kenapa anak itu buru-buru menikah," ujar ibuku.
"Iya, Bu. Insyaallah aku akan datang ke acaranya. Bagaimanapun Juwari itu sahabat masa kecilku, Bu. Pas nikahan Satuni, adiknya, aku kan nggak bisa datang, Bu karena berbarengan dengan Persami yang diadakan di sekolah," ujarku.
"Loh, adiknya Juwari sudah menikah, to?" Ibu bertanya.
"Lah, iya, Bu. Waktu itu sebelum Pak Satar meninggal, Pak Satar menjodohkan Satuni dengan anak temannya," jawabku.
"Kenapa tidak Satuni yang merawat Bu Satar, Im?" tanya ibuku.
"Satuni kan harus ikut suaminya menetap di Bali, Bu," jawabku.
"Ooo gitu, to?" gumam Ibu.
"Iya, Bu,"
__ADS_1
Kenangan percakapan dengan ibu, tiba-tiba terngiang di pikiranku.
Kami sudah berada di tengah persawahan. Pagar belakang sekolah kami cukup terlihat dari posisi kami sekarang.
"Kita ke mana sekarang?" tanya salah satu teman.
"Sesuai instruksi Kak Sandy, sekarang kita harus mencari kebun jagung," jawab teman yang lain.
"Berarti kita ke arah sana," ujar teman yang satunya sambil menunjuk ke arah bagian sawah yang terlihat agak rimbun dibanding bagian yang lain
"Oke. Came on!" cetus ketua kelompok.
Kami pun berjalan di atas pematang sawah dengan membujur ke belakang. Lagi-Lagi aku berjalan di barisan paling depan, diikuti oleh ketua kelompok, dan Bondan di barisan paling belakang.
Setelah berjalan selama sekitar dua puluh menit, sampailah kami di depan kebun jagung yang pohonnya tinggi-tinggi dan bagian bawahnya banyak rumputnya.
"Kita sudah sampai, teman-teman. Sekarang kita ke mana?" tanyaku pada teman-teman.
"Berarti kita akan menyusuri kebun jagung ini sampai ketemu dengan pos keduanya, kan?" usul salah satu teman.
"Hm ... apa nggak kelamaan, ya? Ingat, di pos pertama kita sudah tertinggal poinnya dibanding kelompok lain. Masa di pos kedua kita akan mendapat poin yang kurang lagi?" ujar salah satu teman.
"Iya juga sih. Hm ... gini saja wes. Kalau dilihat pohon jagung ini kan ditanamnya lurus membentuk garis. Berarti kalau kita bagi kelompok kita menjadi empat kelompok kayaknya kita bisa secara langsung memeriksa empat baris pohon jagung dalam waktu bersamaan. Jadi, kita akan lebih cepat menemukan posisi pos kedua yang kita cari. Begitu salah satu dari kita sudah menemukan pos kedua, maka kita tinggal teriak saja. Bukankah suara kita akan didengar oleh teman yang ada di baris sebelahnya? Teman yang berada di sebelahnya tinggal berteriak juga sampai didengar oleh teman di sebelahnya lagi. Kemudian kalau semuanya sudah dengar tinggal berkumpul di posisi yang sesuai. Enak kan kalau begitu?" jawab ketua kelompok.
"Oke. Enak kalau begitu," timpal satu teman yang lain.
"Gimana, Im ... Ndan ...?" tanya ketua kelompok.
"Usul yang bagus," jawabku.
"Kalau begitu, sekarang kita bagi kelompok ini menjadi empat group. Kamu ... kamu ... dan Imran masuk group A, kamu ... kamu ... dan kamu masuk group B bareng Bondan, kamu ... kamu ... dan kamu masuk group C, dan kamu dan kamu ikut aku di group D. Group A akan memeriksa baris ke satu, lima, sembilan dan seterusnya. Group B akan memeriksa baris ke dua, enam, sepuluh, dan seterusnya. Group C akan memeriksa baris ke tiga, tujuh, sebelas, dan seterusnya. Group D akan memeriksa baris ke empat, delapan, dua belas, dan seterusnya. Paham?" tegas ketua kelompok.
"Kok, angka-angkanya mirip barisan aritmetika dengan nilai beda sama dengan empat, ya?" ujar salah satu teman yang paling jago matematika.
__ADS_1
"Iya juga, sih. Ah, kamu ini matematika mulu yang diingat-ingat. Bikin kepala pusing saja?" ujar teman yang lain.
"Tapi, benar juga loh. Itu memudahkan kita untuk berpindah baris. Tinggal menambah empat baris lagi dari baris yang sudah diperiksa," timpal teman yang lain.
"Oke. Tidak usah berdebat. Kita langsung berangkat sekarang!" ujar ketua kelompok.
"Siaaaaaaap!!!!" jawab kami semua.
Kami pun langsung berjalan dan mencari baris masing-masing untuk diperiksa.
"Gimana Imran, group A siap?" tanya ketua kelompok.
"Group A siap!" jawabku.
"Group B bagaimana? apa sudah siap?" teriak ketua kelompok.
"Group B siap!" jawab Bondan.
"Group C bagaimana? Siap?" teriak ketua kelompok.
"Siaaaaap!!" jawab salah satu anggotanya.
"Baiklah. Ayo kita masuk sekarang!" teriak ketua kelompok.
Baru saja kami akan masuk ke barisan masing-masing. Tiba-Tiba ada seorang kakek tua datang dengan tergesa-gesa berjalan ke arah kami. Sontak, teman-teman yang merasa aneh dengan kehadiran kakek tua itu pun kembali merapat karena takut.
BERSAMBUNG
Siapakah kakek tua itu sebenarnya?
Like, komentar, dan vote-mu aku tungguin banget, loh!
__ADS_1