SEKOLAH HANTU

SEKOLAH HANTU
BAB 70 : RASA TAKUT YANG BERBEDA


__ADS_3

Semua teman-teman bersorak sorai ketika mendengar kalimat yang diutarakan sosok hitam itu.


"URIP KUDU GUNO!!! (hidup harus berguna)" jawab kami semua dengan kompak.


Kata "Tumbal Pati (tumbal kematian)" adalah sandi yang akan diucapkan oleh penjaga pos pertama apabila bertemu dengan peserta penjelajahan. Kak Sandy sudah menyampaikan info tersebut selama di lapangan tadi. Teman-Teman sangat gembira karena akhirnya bisa menemukan letak pos pertama yang bisa dibilang sangat sulit untuk ditemukan. Aku heran kenapa kelompok-kelompok sebelumku tidak ada yang kembali karena gagal menemukan pos ini.


"Kak, ada kelompok yang nyasar atau gagal nggak sebelum kelompok kami?" tanyaku penasaran.


"Tidak ada, Dik. Semuanya berhasil menemukan pos pertama dengan lancar. Kelompok kalian yang agak lama menemukannya," jawab kakak OSIS itu


"Wah! Hebat-Hebat juga mereka, ya?" ujarku spontan.


"Ini belum apa-apa, Dik! Pos-Pos selanjutnya akan lebih sulit kalian temukan kalau kalian kurang fokus. Mengenai teman-teman kalian di kelompok lain yang menurutmu hebat, nggak usah kaget. Ingat loh, ya, Pramuka sekolah kita ini selalu yang terbaik di tingkat kabupaten! Wajar saja kalau siswa barunya juga cekatan-cekatan, kan?" ujar kakak OSIS.


"Iya juga, sih, Kak! Wah, berarti kita harus lebih semangat lagi, nih!" ujar Bondan.


"Harus dong, Dik. Kalian nggak boleh berputus asa meskipun kelompok-kelompok lain sangat hebat," pesan kakak OSIS.


"Kak, kita langsung jalan apa gimana ini?" tanya ketua kelompokku.


"Tunggu dulu di sini. Lima belas menit lagi kalian boleh berangkat! Agar kalian tidak tumpuk dengan anggota kelompok lain," jawab kakak OSIS.


"Baiklah, Kak!" jawab teman-temanku.


Ketua kelompok kemudian menyuruh teman-teman beristirahat di tempat itu. Teman-Teman memilih untuk duduk di lahan kosong tepat di sebelah pagar. Mereka rata-rata beristirahat dengan cara rebahan dengan menggunakan kaki temannya sebagai bantal.


"Ingat, jangan tidur! Ini kuburan bukan hotel!" ujar ketua kelompokku.


"Biarin saja. Ntar kalau ada yang tidur, kita tinggal saja!" ujar Bondan.


"Waduh, jangan gitu, Dik. Kasian temannya nanti kalau ditinggal di sini," ujar kakak OSIS.


"Kita hanya bercanda kok, Kak!" jawabku.


"Ada-Ada saja kalian ini," jawab kakak OSIS.


Sementara yang lain rebahan sambil memandang langit yang cerah dengan bulan sabit dan bintang-bintang sebagai penghiasnya, aku, Bondan, dan ketua kelompokku tetap duduk sambil mengajak ngobrol kakak OSIS.


"Kak, aku boleh tanya sesuatu?" tanyaku memecah keheningan.


"Boleh. Kamu mau tanya apa, Dik?" Ia balik bertanya.


"Emangnya kakak nggak takut berjaga sendirian di pos pertama?" tanyaku.

__ADS_1


"Takut sama kuburan?" ia balik bertanya dengan nanda menggodaku.


"Salah satunya," jawabku.


"Enggak lah, Dik. Aku sudah dua kali ini berjaga di pos ini. Pertama kali tahun lalu waktu aku masih kelas dua. Kebetulan rumahku tidak jauh dari sini. Tetangga-Tetanggaku kalau meninggal, ya, dimakamkan di sini. Setahun lalu, aku berjaga di sini sendirian juga. Ada tetanggaku yang baru saja meninggal kecelakaan dan dimakamkan di dekat sini. Itu makamnya!" ujarnya enteng.


Aku dan teman-teman yang mendengar cerita kakak OSIS itu mendadak kaget juga. Aku merasa salut dengan keberanian kakak OSIS yang satu ini.


"Emangnya kakak beneran nggak takut waktu itu? Kami saja yang membayangkannya ngerasa ngeri. Bayangkan kakak berjaga di sini dan tetangga kakak yang kakak tahu wajahnya ... habis kecelakaan dan meninggal dikubur di situ ... ditambah lagi nggak ada orang yang menemani kakak waktu itu," celetuk salah satu temanku yang tiba-tiba bangun setelah mendengar cerita kakak OSIS.


"Sudah kebiasaan mulai kecil mungkin. Justru yang aku takutin bukan itu, Dik!" ujar kakak OSIS serius.


"Apa yang Kakak takutkan kalau bukan begituan?" tanyaku penasaran.


"Aku takutnya ada dua hal. Yang pertama takut ada maling yang kebetulan lewat sini. Itulah kenapa aku pake jaket berwarna hitam begini. Kalau ada orang yang aku anggap mencurigakan, aku tinggal sembunyi saja di semak-semak biar nggak kelihatan," ujarnya.


"Terus, selain ketemu maling, apa yang Kakak takutin lagi?" tanyaku.


"Aku takut ngeliat orang t*lanjang," ujarnya polos.


"Grrrrrrrrr!!!!" semua teman-temanku tertawa cekikikan mendengar jawaban aneh kakak OSIS itu.


"Wah, kalian ini benar-benar deh otaknya m*sum semuanya. Maksudnya aku itu takut ada orang yang melakukan ritual mengambil kartu lintrik yang ditaruh di makam pada tengah malam dengan keadaan t*lanjang. Aku kan nggak mau melihat aurat orang lain. Takutnya juga para peserta penjelajahan yang notabene masih siswa baru juga ikutan melihat adegan tidak pantas itu," jawab kakak OSIS.


"Kartu lintrik itu adalah alat permainan orang jaman dulu. Tapi, disalahgunakan oleh para dukun untuk menundukkan hati orang sehingga bisa kepincut setengah mati kepada orang yang memesan lintrik kepada dukun itu," tuturnya.


"Emangnya harus pake ritual t*lanjang seperti itu untuk mendapatkannya?" tanya Bondan lagi.


"Iya, Dik. Hal itu sudah menjadi rahasia umum kalau ingin lintriknya manjur, ya, caranya seperti itu," tutur kakak OSIS lagi.


"Ritual yang aneh," gumam Bondan.


"Oh ya, Kak. Kalau sekarang nggak ada makam yang baru, kan?" tanyaku penasaran.


Kakak OSIS sejenak menatap wajahku. Sepertinya ia memikirkan sesuatu.


"Kamu kok tanya gitu? Apa masih takut?" tanya kakak OSIS.


"Hm ... ada apa tidak, Kak?" tanyaku lagi.


"Tapi, janji nggak boleh takut, ya?" tanyanya.


"Iya, Kak," jawabku penasaran.

__ADS_1


"Tadi siang ada tetanggaku yang gantung diri dan sore tadi jenazahnya dimakamkan di sana," jawab kakak OSIS dengan entengnya sambil menunjuk ke sebuah makam yang tanahnya masih basah.


Mendengar jawaban kakak OSIS, semua temanku yang sedang rebahan langsung bangun. Mereka tanpa dikomando, secara sekilas menengok ke arah makam yang ditunjuk oleh kakak OSIS. Setelah itu mereka langsung bangkit berdiri.


"Kak, kita boleh berangkat sekarang?" tanya teman-temanku yang mendadak gelisah.


"Oke. Waktunya sudah cukup. Kalian boleh berangkat sekarang!" jawabnya.


"Kakak tidak mau ikut kami? Atau minimal mencari tempat yang lebih enak gitu untuk berjaga?" tanyaku.


"Enggak, Dik. Tugasku memang di sini. Kalau aku pindah ke tempat lain, nanti kelompok-kelompok yang lain bisa kebingungan mencari pos pertama," jawabnya diiplomatis.


"Kakak yakin tidak mau ikut kami?" tanyaku memastikan.


"Yakin!" jawabnya enteng.


"Terima kasih banyak ya, Kak. Kami mau berangkat dulu," ujar ketua kelompok


"Oke. Hati-Hati di jalan!" pesannya.


"Assalamu'alaikum ...,"


"Wa'alaikum salam ...,"


Kami pun berjalan melompati pagar daun yang membatasi area pemakaman dengan sekitarnya. Setelah melewati pagar, kami pun sampai di area persawahan. Kami semua menyusuri pematang sawah dengan berhati-hati. Aku yang masih kepikiran dengan kakak OSIS tadi menyempatkan diri untuk menoleh ke arah posisi kakak OSIS tadi berada. Dalam hati aku bertanya, ke mana perginya kakak tadi, kok dia bisa menghilang secepat itu?


BERSAMBUNG


Hai, sobat Junan ...


Kira-Kira ke mana perginya kakak OSIS itu, ya?


Apa yang akan terjadi dengan Imran dan teman-temannya selanjutnya?


Bacalah di episode selanjutnya!


Terima kasih kepada SOBAT JUNAN yang sudah memesan novel cetak SEKOLAH HANTU.


Semoga kisah yang cukup berbeda di novel versi cetaknya bisa menghibur Kakak-Kakak semuanya. Aamiiin ...


Bagi kakak yang mau ikutan membeli, silakan kunjungi SHOPEE dengan mengetik "atpress" di kolom pencarian. Atau kalau nggak mau ribet, bisa wa ke nomor 085236533388. Nanti aku kirimi link produknya.


__ADS_1


__ADS_2