
Kemunculan pria di belakangku ini cukup membuat aku terkesiap. Apalagi dengan atribut pakaian bertuliskan SATPAM yang ia kenakan, tak ayal membuatku teringat dengan penampakan hantu di sekolah ini. Apalagi saat ini di ruang perpustakaan ini hanya ada aku di antara ribuan buku-buku. Sedangkan penjaganya, Bu Iis sedang pergi ke kantor kepala sekolah. Untunglah, pria berseragam di depanku ini bukanlah arwah penasaran itu.
"Eh, Pak Satpam ...," sapaku pada pria tersebut dengan nada bercanda.
"Ke mana Bu Iis, Dik?" Beliau balik bertanya.
"Hm ... Beliau pamit ke ruang kepala sekolah," jawabku berusaha ramah.
"Sudah bel, kamu kok masih ada di sini?" tanya Satpam itu lagi.
"Kebetulan, Bu Iis tadi meminta saya untuk berjaga di sini sampai beliau balik dari ruangan kepala sekolah," jawabku enteng.
"Biar saya yang jaga di sini sekarang, Dik. Silakan, kamu masuk ke kelas saja!" perintah Pak Satpam membuatku merasa kebingungan.
Tentunya aku tidak kesempatan kali ini berlalu begitu saja. Tidak ada kesempatan kedua. Aku harus bersikukuh untuk tetap di sini agar bisa menemani Bu Iis masuk ke ruangan di lantai dua.
"Tapi, Pak-" jawabku.
Belum selesai aku melanjutkan perkataanku, tiba-tiba ada suara langkah kaki sedang menuju ke tempat ini. Pemilik suara langkah itu kali ini tepat berada di belakang pria berseragam Satpam di depanku.
"Ada apa, Pak?" tanya Bu Iis sedikit ketus kepada pria tersebut.
Aku melihat perubahan wajah drastis dari pria di depanku ini yang semula terlihat lucu dan ramah mendadak menjadi pias dan seperti ketakutan.
"Hm ... Begini Bu Iis. Saya mau pinjam uang 200 ribu. Di sini saya melihat adik ini belum masuk ke kelas padahal sudah bel masuk," jawab Pak Satpam sambil menoleh kepada perempuan teman SMP bapak dan ibuku itu.
"Loh, yang kemarin pinjam lima ratus apa sudah habis, Pak?" tanya Bu Iis semakin ketus saja.
"Hm ... Anu, Bu. Kebetulan istri saya sedang sakit, jadi yang kemarin saya gunakan untuk memeriksakan istri saya ke dokter," jawab pria tersebut kalem.
"Ck ck ck ... Nggak habis pikir saya ini sama sampean? Bisa-Bisanya masih memperdulikan wanita yang sudah berkali-kali menghianati rumah tangga," jawab Bu Iis sambil menyerahkan dua lembar uang ratusan ribu ke tangan Pak Satpam.
"Saya bertahan demi anak-anak, Bu Iis," jawab Pak Satpam lirih.
"Baguslah kalau begitu. Semoga istri tercintamu itu bisa bertobat setelah berkali-kali menyakitimu," jawab Bu Iis lagi.
"Terima kasih atas semuanya, Bu Iis. Saya pamit dulu," ujar Pak Satpam sambil berlalu pergi meninggalkan kami berdua.
__ADS_1
Bu Iis tampak menyeka air matanya sepeninggal pria tersebut.
"Bu Iis kenapa?" Aku memberanikan diri untuk bertanya pada beliau.
"Nggak apa-apa, Im. Ayo, buru-buru kita ke lantai atas!" ujar Bu Iis agak terisak.
"Bu, saya permisi ke kamar mandi sebentar, ya?" ujarku.
"Oke, buruan, ya!" jawab Bu Iis.
Aku ke kamar mandi hanya sekitar tiga menitan saja. Aku pun segera kembali ke ruangan perpustakaan.
"Bu Iis kok baik sekali mau meminjamkan banyak uang ke Pak Satpam tadi?" Aku masih berusaha bertanya lagi.
"Bu Iis kasihan saja sama Pak Satpam tadi, Im. Dulu pas istrinya kabur dari rumah, anaknya sempat tidak terawat, Bu Iis sering mengirimi makanan untuk anak-anak Pak Satpam itu. Yah, namanya juga teman, sudah selayaknya saling membantu saat kesusahan," jawab Bu Iis.
"Iya, benar, Bu. Monggo, Bu Iis saya bantu bawain berkas yang mau dibawa ke lantai atas," ujarku kemudian.
"Terima kasih, Im," jawab Bu Iis.
Sudah separuh jalan kami melangkah menuju lantai kedua. Kami sudah sampai di posisi tangga yang berbalik arah. Tulisan larangan berjalan menuju lantai kedua pun sudah kami lewati. Kali ini aku dapat melihat pemandangan berbeda di sini. Di posisiku sekarang tidak lagi terdengar suara hiruk pikuk siswa yang sedang belajar di dalam kelas. Yang ada adalah keheningan suara yang semakin mencekam. Aku yang berjalan di depan Bu Iis menoleh sejenak ke arah Bu Iis. Wajah Bu Iis terlihat sangat pucat. Aku bisa merasakan, sebenarnya beliau terpaksa melakukan pekerjaan ini karena menghargai perintah atasannya. Tentunya sebagai bawahan memang sudah sewajarnya untuk mematuhi perintah atasan. Yang aku tak habis pikir, apakah bapak kepala sekolah tidak merasa takut karena selama ini beliau sendirilah yang naik ke atas lantai dua ini untuk menata berkas sepeninggal Mang Dirin?
"Ayo, Bu!" ucapku pada Bu Iis sambil melanjutkan langkah kami yang sempat terhenti.
"Terima kasih ya, Im. Kamu sudah mau menemani Bu Iis. Kalau nggak ada kamu, mungkin Bu Iis sudah mati ketakutan," jawab Bu Iis sambil mengikuti langkahku.
"Sama-Sama, Bu Iis," balasku.
Akhirnya berbekal keberanian yang tersisa, kami berdua pun telah menapaki lantai dua gedung ini. Di tempat ini suasana sangat hening mencekam dan agak gelap meskipun siang hari.
"Bu Iis, apakah tidak ada penerangan lampu di sini?" Aku bertanya.
"Entahlah, Im. Aku juga kurang paham dengan tempat ini. Ayo, kita cari sama-sama saklarnya!" jawabnya.
"Iya, Bu! Bukankah itu pintu ruangannya, Bu?" Aku menunjuk ke sebuah pintu yang berjarak sekitar lima meter dari tempat kami berdiri.
"Iya, Im. Ayo, kita segera masuk agar tugas kita cepat selesai!" ujar Bu Iis.
__ADS_1
"Iya, Bu. Di samping pintu itu sepertinya ada saklar, Bu?" ujarku.
"Iya, Im. Sepertinya itu saklarnya," jawab Bu Iis.
Kami pun melangkah bersama-sama menuju pintu yang berada dalam kondisi tertutup itu. Aku yang berjalan di depan dan sampai terlebih dahulu pun segera memencet saklar itu.
"Alhamdulillah, akhirnya lampunya menyala ya, Bu, jadi tidak terlalu gelap?" ujarku.
"Iya, Im. Meskipun lampunya agak buram. Mungkin cuma lima watt dayanya," jawab Bu Iis.
"Mana kuncinya, Bu. Biar saya yang membuka pintunya!" Aku berkata.
"Ini, Im!" jawab Bu Iis.
Bu Iis pun menyerahkan kuncinya kepadaku. Aku segera memilih kunci yang ada tulisan 'X' nya seperti yang dikatakan oleh Pak Kepala Sekolah tadi.
"Bisa, Im?" tanya Bu Iis saat aku memutar anak kunci.
"Ssssssst!!!!" Aku memberi kode kepada Bu Iis untuk diam.
"Ada apa, Im?" tanya Bu Iis dengan ketakutan.
"Aku seperti mendengar suara langkah, Bu," jawabku
Bu Iis dan aku pun memusatkan fokus pendengaran untuk mencari sumber suara langkah itu.
SREEEEEET ...
BERSAMBUNG
Hai, kamu, yang rajin like dan komentar?
Makasih banyak, ya. Aku nggak bosen loh membaca komentar-komentarmu yang sangat beragam isinya.
Dan untuk kamu yang belum memberikan like dan komentar. Aku juga tidak akan pernah bisa untuk menunggu like dan komentarmu.
Jangan ragu untuk menulis komentar, ya? Siapa tahu komentarmu bisa bikin kita ketawa berjamaah atau terharu bareng.
__ADS_1