
Kami memilih untuk segera meninggalkan kantin sekolah karena merasa tidak nyaman dengan kehadiran hantu Satpam tersebut. Bu To, sebagai salah satu pemilik kantin sempat menanyakan alasan kenapa kami buru-buru meninggalkan kantin. Kami menjawab karena mau menghadap guru, tapi dari caranya menatap kami, Bu To sepertinya tidak percaya dengan alasan yang kami buat. Setelah memberikan uang kembalian yang kubayar, perempuan yang sudah berumur itu pun sempat menitipkan pesan aneh kepada kami, "Hati-Hati, Le!" Setelahnya, kami pun buru-buru menuju ke perpustakaan. Aku sempatkan menoleh ke arah jendela tadi, hantu Satpam itu sudah tidak ada di sana lagi.
Setelah berjalan cepat menuju perpustakaan, kami pun segera mengambil tempat duduk di salah satu meja di ruang baca.
"Teman-Teman, ada satu hal lagi yang baru kuingat tentang kejadian janggal di sekolah ini," ujarku dengan nada serius.
"Oh, ya?" pekik Indah.
"Iya, Ndah. Kejadiannya belasan tahun lalu. Waktu itu aku masih Balita. Kebetulan waktu itu ibuku bekerja di gudang tembakau di sebelah sekolah kita ini. Pada waktu istirahat siang, ibuku dan sahabatnya sedang berada di ruangan tepat di sebelah perpustakaan ini. Tiba-Tiba ibu mendengar suara orang berkelahi. Ibuku dan temannya naik ke atas tumpukan belandar tembakau supaya dapat melihat kejadian di sekolah inj dari lubang angin. Pada saat itu ibuku dan temannya melihat mayat seseorang sedang bergelantung di jendela lantai dua ruangan Perpustakaan ini. Ibuku dan temannya pun berteriak karena ketakutan sehingga mengundang teman-temannya. Anehnya, ketika temannya datang, mayat itu sudah tidak ada. Malah yang terlihat adalah seorang gadis yang sedang asyik bekerja seolah-olah tidak terjadi apa-apa di lantai dua," aku bercerita panjang lebar.
"Terus, ibumu dan temannya apa tidak melapor ke sekolah ini untuk memastikannya?" tanya Bondan spontan.
"Sudah, Ndan. Tapi, justeru ibu dianggap mengada-ada dan dilaporkan ke atasan ibu. Akibatnya ibu diliburkan dari tempat kerjanya," jawabku.
"Ya Allah ... Berarti memang benar. Ada yang tidak beres dengan gedung di lantai dua ini, Im!" ujar Indah.
"Kita tidak boleh tinggal diam, Im. Kita harus mengungkap misteri ini," ujar Bondan dengan geramnya.
"Benar, Im. Mungkin inilah saatnya semua misteri itu terungkap. Dan kitalah yang dipilih oleh Tuhan untuk mengungkap semua misteri ini," jawab Indah.
"Iya. Tapi, kita harus tetap berhati-hati dan tidak gegabah. Karena kita tidak tahu siapa kawan dan siapa lawan di sekitar kita saat ini," jawabku.
"Oke, mari kita jalankan rencanamu tadi, Im!" ujar Indah tak sabar.
"Oke," jawab Bondan.
"Teman-Teman, sekarang saatnya kita berpencar di perpustakaan ini untuk mencari album sekolah, buku-buku lama, dan sebagainya yang ada hubungannya dengan Satpam di sekolah ini. Aku akan fokus untuk mengorek keterangan dari Bu Iis," ujarku.
"Siap, Im!" jawab Bondan.
"Aku punya usul, bagaimana kalau kita fokus kepada dokumen-dokumen sebelas sampai lima belas tahun lalu, sesuai dengan kejadian yang dialami oleh ibunya Imran barusan?" usul Indah.
"Benar, Ndah," jawabku.
"Oke. Ayo, berpencar!" ujar Bondan.
Kami pun berpencar sesuai dengan tugas masing-masing. Kedua temanku itu langsung mencari dokumen-dokumen lama sekolah sedangkan aku berjalan menuju meja Bu Iis yang sedang sibuk di meja kerjanya.
__ADS_1
"Assalamualaikum ...," sapaku sopan.
"Waalaikumsalam .... Eh, kamu, Im?" jawab Bu Iis.
"Iya, Bu. Bu Iis repot, ya?" tanyaku berbasa-basi.
"Hm ... enggak kok, Im. Biasa, mendata buku-buku yang rusak atau hilang," jawabnya.
"Kalau begitu, apakah saya bisa berbincang-bincang dengan ibu?" Aku bertanya dengan sopan.
"Monggo silakan! Bu Iis senang sekali kalau ada siswa yang mau mengajak Bu Iis berbincang-bincang," jawab Bu Iis.
"Terima kasih banyak ya, Bu," jawabku.
"Sama-Sama. Ngomong-Ngomong bapak dan ibumu sehat, kan?" tanya Bu Iis.
"Alhamdulillah sehat, Bu. Oh ya, Bu. Kalau boleh tahu, selain buku pelajaran dan karya sastra, apakah di perpustakaan ini juga menyimpan dokumen-dokumen lama sekolah ini?" tanyaku memulai.
"Ada, tapi tidak banyak," jawab Bu Iis.
"Iya, Im. Ih, ngapain kamu ngurusin berkas-berkas sekolah? Mau jadi waryawan, kamu?" ujar Bu Iis.
"Bukan begitu, Bu. Setelah saya mendengar cerita Bu Iis yang dulu pernah jadi pegawai TU terus sekarang menjadi petugas perpustakaan, saya jadi tertarik ingin belajar banyak dari Bu Iis tentang pengelolaan dokumen dan penyusunan arsip. Siapa tahu nanti saya juga bisa jadi pekerja kantoran seperti Bu Iis, ya kan?" jawabku berusaha mengambil hati guruku itu. Meskipun, sebenarnya memang saya kagum dengan orang-orang yang mampu mengelola berkas dengan rapi dan sistematis.
"Wah, beneran, nih, kamu mau jadi kaya Bu Iis?" Bu Iis tidak percaya dengan perkataanku.
"Iya, Bu. Emangnya kenapa? Nggak boleh tah?" Aku balik bertanya.
"Justeru Bu Iis seneng mendengarnya. Dari sekian lama Bu Iis bekerja di sekolah ini, baru kali ini ada siswa yang berterus terang kepada Bu Iis bahwa ingin menjadi seperti Bu Iis. Bu Iis merasa terharu, seperti merasa akan ada penerus Bu Iis nantinya," jawab Bu Iis dengan berapi-api.
Aku merasa berdosa karena sedikit membohongi Bu Iis, tapi aku harus melakukan ini demi meloloskan keinginanku untuk mengungkap rahasia di sekolah ini.
"Alhamdulillah, kalau begitu. Berarti Bu Iis mau kan mengajari aku?" Aku bertanya lagi.
"Tentu Bu Iis mau lah mengajarimu. Tapi, ingatlah satu hal. Pekerjaan Bu Iis ini membutuhkan kesabaran yang sangat tinggi," jawab Bu Iis lagi.
"Kapan saya bisa mulai belajar, Bu?" tanyaku.
__ADS_1
"Kapan saja, Im. Sekarang pun boleh," jawab Bu Iis.
"Oke, saya mau belajar sekarang juga, Bu. Tapi,saya ingin memulai dari cara mengelola dokumen lama dulu," jawabku.
"Kenapa harus dokumen lama, Im?" tanya Bu Iis.
"Menurutku sih, kalau dokumen baru banyak dibutuhkan sehingga biasanya semua orang memiliki atensi untuk menyimpannya. Berbeda dengan dokumen lama, biasanya semua orang enggan untuk menyimpannya lagi. Maka di sanalah dibutuhkan strategi yang baik untuk mengelolanya," jawabku agak ngasal saja.
"Benar sekali, Im. Itulah yang Bu Iis alami selagi menjadi karyawan TU. Semua guru hanya membantu mengelola dokumen yang masih baru. Giliran dokumen lama, mereka enggan mengelolanya. Padahal, dokumen lama itu sangat penting dan dibutuhkan pada waktu tertentu. Misalnya kita butuh data tentang sejarah sekolah atau bahan referensi," jawab Bu Iis.
"Oh, ya, Bu. Data-Data lama sekolah ini, kan, disimpan di lantai atas. Apa tidak pernah dibuka-buka lagi?" tanyaku.
"Pernah kok, Im," jawab Bu Iis.
"Terus, siapa yang biasanya naik ke atas untuk mengambilnya?" tanyaku.
"Kalau dulu sih Mang Dirin, tapi semenjak Mang Dirin resign, biasanya kepala sekolah sendiri yang mengambilnya," jawab Bu Iis.
GUBRAAKK!!!
"Siapa itu?" teriak Bu Iis sambil menoleh ke arah pintu yang tiba-tiba terbanting dengan keras.
BERSAMBUNG
Mana nih crazy commentnya?
Jangan lupa membaca karyaku yang lain :
KAMPUNG HANTU (novel horor)
MARANTI (novel horor)
CIRCLE OF LOVE (chat story mistery)
__ADS_1