
Kami bertiga terkejut dengan pengakuan Pak Satpam asli tersebut. Akhirnya kami sekarang mengetahui bahwa beberapa hari ini kami sedang berinteraksi dengan makhluk tak kasat mata. Setelah dibukakan pintu oleh Satpam tersebut, kami bertiga pun buru-buru keluar dan mencari angkot ke rumah kami masing-masing. Saat kami sedang menunggu datangnya angkot, tiba-tiba Arini mendatangi kami bertiga.
"Eh, kamu, Rin? Pulang sore juga, ya?" sapaku pada anak perempuan yang baru saja ditinggal pergi oleh ayah angkatnya itu.
"Iya, Im. Aku habis ngisi out bond ke anak-anak baru," jawabnya pelan dengan muka masih tidak seperti biasanya.
"Kamu jadi pengurus OSIS, ya?" tanyaku lagi.
"Iya," jawabnya singkat.
"Panteeeees ...," gumamku.
Arini mengambil tempat berdiri tepat di sebelahku. Bondan memberikan kode dengan matanya sambil senyum-senyum menggodaku. Kubalas senyuman Bondan dengan pelototan mataku.
"Kok nggak nyebrang, Rin?" tanyaku pada anak SMP itu.
"Aku mau ke rumah ayah," jawabnya kalem.
"Naik Angkot bareng aku, ya?" Aku menawarkan diri.
Gadis tomboy itu hanya mengangguk pelan. Lagi-Lagi Bondan mengepalkan tangan kanannya dan menarik sedikit ke perutnya sambil mengucap 'yes' secara perlahan dan melirik ke arahku. Hal itu membuatku semakin marah saja.
"Saya balik ke kostan dulu, ya, Ndah?" ucap Bondan tiba-tiba. Sepertinya dia sadar kalau masih berada di dekatku, aku bisa saja membalas godaannya itu.
"Eh, iya, Ndan. Makasih banyak, ya, sudah mau menemani kami menunggu Angkot," jawab Indah.
"Oke, Ndah. Im, saya titip Arini, ya?" ujarnya masih dengan nada menggodaku.
"Yaaaaa!!!" jawabku keras sambil melotot.
__ADS_1
Bondan pun berlalu pergi meninggalkan kami.
"Im, aku nyebrang dulu, ya?" ujar Indah beberapa saat kemudian tatkala jalan raya cukup sepi untuk ia menyebrang.
"Iya, Ndah. Sampai jumpa besok pagi, ya?" ujarku pada teman baruku itu.
"Oke," jawabnya.
Beruntungnya temanku itu, tak sampai lika menit, ia sudah mendapatkan Angkot kosong yang akan mengantarnya pulang ke rumahnya. Sedangkan aku dan Arini masih harus menunggu agak lama karena Angkot yang lewat masih penuh sesak dengan penumpang. Setelah menunggu sekitar lima belas menit, akhirnya Angkot pun datang. Aku mempersilakan Arini untuk masuk terlebih dahulu disusul olehku di belakangnya. Setelah itu mobil Carry tua yang sengaja dicat kuning itu pun melaju dengan kecepatan rendah menuju ke arah barat.
"Im, teman SMP-mu tidak ada yang sekolah di SMA 14, ya?" tanya Arini.
"Iya. Aku sendirian di sini," jawabku.
"Pacarmu tadi pagi itu sekolah di SMA Pejuang, ya?" tanya Arini lagi mengagetkanku.
"Iya. Bukankah anak cewek tadi yang naik Angkot bareng kamu itu tadi pacarmu?" tanya Arini memberondongku.
Aku tertawa kecil. Arini menatap lekat mataku.
"Aku nggak punya pacar, Rin. Tadi itu Cindy teman satu groupku, sama kayak Bondan dan Indah tadi," jawabku sambil tertawa.
"Tapi, kalian berdua kelihatan mesra sekali?" tanya Arini lagi mendesakku.
Aku makin terpingkal-pingkal dengan pertanyaan anak SMP di depanku ini.
"Mesra apaan, Rin? Emang kami berdua gandengan tangan begitu? Enggak kan?" ujarku meyakinkan Arini.
"Oooo ...," gumam Arini.
__ADS_1
"Kami ada berlima waktu itu. Mungkin sudah takdirnya, kami dipertemukan dan memiliki kesenangan yang sama, yaitu mengungkap misteri yang ada di sekitar kami. Dari kami masuk SMP sampai kami keluar SMP, kami sudah mengungkap beberapa misteri yang ada di sekolah. Kami sudah menjalani semuanya secara bersama-sama. Sayangnya, kami harus berpisah karena harus mengejar impiannya masing-masing," tuturku dengan nada serius.
"Pasti kamu senang sekali memiliki teman-teman yang kompak dan seru seperti itu?" tanya Arini. Kali ini wajahnya sudah mulai berseri-seri lagi.
"Iya dong. Berat rasanya harus berpisah dari mereka," jawabku.
Tak terasa Angkot yang kami naiki sudah hampir sampai di gang rumah ayahnya Arini. Arini pun membunyikan atap mobil untuk memberi kode kepada Pak Sopir agar menghentikan mobil yang dibawanya. Pak Sopir pun mengurangi kecepatan mobil yang ia bawa, Arini perlahan bangkit dari duduknya untuk bersiap turun dari mobil.
"Aku duluan, Im?" ujarnya.
"Iya, Rin. Hati-Hati!" jawabku.
Baru selesai ngomong, tiba-tiba salah satu ban belakang mobil terantuk batu sehingga mobil miring ke kanan. Arini yang dalam posisi setengah berdiri kehilangan keseimbangan dan ia rubuh ke arahku. Untunglah aku sigap menangkap badannya, kalau tidak, kepala Arini bisa membentur badan mobil.
"Makasih ya, Im" ujar Arini sambil bangkit berdiri.
"Iya," jawabku sambil melepas pegangan tanganku ke tangannya. Kami berdua jadi salah tingkah waktu itu.
Arini pun turun dari mobil dan membayar ongkos ke Pak Sopir. Setelahnya, ia buru-buru menyebrang jalan karena sepi. Ia tak menoleh sedikit pun ke arahku. Mobil yang kunaiki pun melaju ke arah barat. Aku turun di gang perumahan seperti biasanya dan pulang dengan berjalan kaki menuju rumahku.
Entah mengapa, semenjak turun dari mobil, perasaanku menjadi tidak enak. Seolah-olah ada seseorang yang mengikutiku. Aku tidak berani menoleh ke belakang. Aku mempercepat jalanku saja. Ketika langit mulai surup, sampailah aku di rumah tercinta.
Malam harinya, ketika aku akan tidur, perasaan tidak enak itu muncul kembali. Seolah-Olah ada yang sedang mengawasiku. Aku pun mengunci pintu kamar dan berdoa sebelum tidur, barulah perasaan was-was itu secara perlahan pergi.
Aku berada di dalam sebuah rumah tua. Aku berusaha keluar dari rumah tua tersebut, tapi pintunya terkunci rapat. Jendelanya pun dipaku secara permanen. Beberapa waktu kemudian terdengar suara gedoran dari balik tembok yang ada di belakangku. Semakin lama, suara gedoran itu semakin keras. Aku pun berusaha memeriksa tembok di belakangku itu. Tembok itu tiba-tiba berdenyut seiring dengan suara orang minta tolong dari dalam tembok itu. Aku berusaha mencari jalan untuk mengetahui siapa yang sedang meminta tolong di balik tembok itu. Tapi, semua jalan buntu. Orang yang sedang berteriak meminta tolong itu seperti terisolasi di dalam tembok itu. Aku kembali ke tempat semula di tempat tembok yang terlihat berdenyut itu. Kali ini denyutan di tembok berhenti. Dan tiba-tiba bagian tembok yang berdenyut tadi rontok ke bawah membentuk sebuah lubang. Aku terkejut dan secara spontan mundur ke belakang. Lubang-Lubang itu membentuk kata 'MAWAR' sama seperti yang pernah kulihat di tembok perpustakaan. Napasku tersenggal, apalagi ketika aku menyadari tubuhku sedang bersandar pada suatu benda hidup. Iya, seseorang sedang berdiri di belakangku. Aku pun menoleh ke belakang karena refleks. Dan ternyata seseorang yang sedang berdiri di belakangku itu adalah arwah Satpam yang sudah kutemui beberapa kali di sekolah. Aku menjerit histeris karena melihat wajah Satpam tersebut dipenuhi dengan darah segar. Dan aku pun terbangun dari tidurku tepat saat azan Subuh berkumandang dari Toa mesjid.
BERSAMBUNG
Terima kasih masih setia mengikuti cerita ini. Jangan lupa untuk membaca novel saya yang berjudul KAMPUNG HANTU dan MARANTI.
__ADS_1