SEKOLAH HANTU

SEKOLAH HANTU
Bab 33 Perempuan Berpayung


__ADS_3

Setelah menunggu selama beberapa saat, aku pun menyeberang ke arah utara menuju gapura perumahan. Aku sudah berniat melempar senyuman ke arah perempuan cantik tersebut, tapi ia tidak menoleh ke arahku. Pandangannya lurus ke arah jalan raya yang ada di depannya. Dari sudutku ini aku dapat melihat dengan jelas hidungnya yang cukup mancung.


"Cantik ...," kata itulah yang terucap secara spontan dari bibirku. Tentunya aku tidak mengucapkannya dengan keras karena malu kalau sampai terdengar olehnya.


Aku tidak membuang-buang waktu lagi agar bisa segera sampai di rumah. Aku bergegas berjalan kaki menuju ke arah utara. Sejenak aku mencium wewangian bunga ketika meninggalkan perempuan tersebut.


"Wangi sekali parfum perempuan itu? Tapi, wanginya terlalu natural untuk perempuan secantik itu? Wangi ini seperti keluar dari sari bunga asli. Entahlah, aku tidak begitu hapal dengan aneka aroma bunga," pikirku di dalam hati.


Setelah beberapa langkah meninggalkan perempuan tadi, aku kembali menoleh ke belakang untuk memastikan bahwa perempuan itu masih berdiri di tempat yang sama atau ia sudah bertemu dengan seseorang yang mungkin ia tunggu. Sayangnya, di tempat perempuan itu berdiri sudah tidak ada siapa-siapa. Aku memutar badanku dan memperhatikannya sekali lagi. Perempuan tadi benar-benar sudah tidak ada di sana.


"Apa mungkin ia sudah memperoleh angkot hang sedang ia tunggu? Atau, ia sudah bertemu dengan temannya? Tapi, kenapa aku tidak mendengar suara kendaraan berhenti dan berjalan lagi?" Pikirku di dalam hati.


Baru saja aku berpikir, tiba-tiba


"Tuuuuuuuuuuuuuuuuuuuut!!!!!" terdengar suara keras dari arah kanan. Secara refleks aku menoleh. Ternyata dari arah kanan, ada kereta api yang akan melintas di rel yang tepat berada dua langkah di depanku. Suara bel kereta api tersebut betul-betul memekakkan telinga siapa pun yang mendengarnya.


"Astagfirullah!!!" teriakku spontan.


Aku menghentikan langkah dan mundur ke belakang beberapa langkah takut tersedot angin yang diakibatkan oleh kereta api yang lewat.


"Woooooi, ....," terdengar teriakan seseorang dari dalam kereta api yang sedang melintas. Sepertinya ia bermaksud mengumpatku karena tidak berhati-hati menyebrangi rel kereta api. Aku cukup sadar diri untuk tidak membalas umpatan orang itu karena aku memang bersalah. Gara-Gara mau melihat perempuan tadi, aku hampir tertabrak kereta api. Untunglah, Allah SWT masih memberikan kesempatan kepadaku untuk hidup.


Matahari sudah hampir tenggelam di ufuk barat. Aku masih berada di jalan utama perumahan itu. Aku mempercepat langkah supaya bisa sampai di rumah sebelum magrib karena kalau sudah magrib jalanan menuju rumahku masih gelap. Belum ada penerangan jalan khusus di kampungku. Hanya ada beberapa penerangan di jalan yang berasal dari sukarela warga yang rumahnya di pinggir jalan. Sayangnya, secepat apa pun aku melangkah, matahari keburu tenggelam di ufuk barat, sehingga azan pun berkumandang di saat aku masih sampai di tikungan perumahan. Setelah tikungan ini, rumahnya agak jarang-jarang karena masih banyak tanah yang berupa kaplingan. Aku mempercepat langkahku meninggalkan perumahan. Pandanganku tiba-tiba tertuju pada seseorang yang sedang duduk di dalam Pos Kamling yang terletak di sebelah barat jalan, kurang lebih dua ratus meter dari jalan.


"Loh, itu kan perempuan yang tadi? Kok bisa ada di sana?" pekikku di dalam hati.


Aku mengucek mataku untuk memastikannya.


"Loh ... Iya ... kok bisa perempuan itu ada di sana?" Ucapku gemetar.


Perempuan cantik itu berdiri dan menoleh ke arahku.

__ADS_1


Aku pun berlari meninggalkan tempat tersebut karena tidak nyaman dengan tatapan aneh perempuan itu.


Aku berlari dengan kencang meninggalkan perumahan, melintasi jalanan pinggir sawah, melalui perkampungan yang sepi. Sepertinya jam-jam begini, orang-orang melaksanakan salat Magrib di rumahnya masing-masing. Aku terus berlari dengan cepat sehingga tubuhku banjir dengan keringat. Tidak hanya itu, napasku pun juga menjadi ngos-ngosan karenanya. Setelah melintasi perkampungan yang hanya beda RT saja dengan rumahku, aku pun memasuki are persawahan dengan tanaman padi di kiri dan kanannya. Notabene, tidak siapa pun di tempat ini. Perasaan was-was terhadap kemunculan perempuan misterius itu kembali membuatku kembali berlari dengan kecepatan yang semakin kencang. Dadaku sampai panas karena hampir kehabisan napas.


"Sudah hampir, Im. Sudah hampir." Aku mensugesti diriku sendiri yang sudah kelelahan berlari. Akhirnya dengan perjuangan yang cukup luar biasa, aku pun sampai di depan rumahku. Bapak dan ibu yang baru pulang dari masjid, terheran-heran denganku yang ngos-ngosan.


"Kenapa kamu, Im?" tanya ibuku dengan nada cemas.


Aku tidak langsung menyahut karena masih mengatur napas.


"Ada apa, Im?" tanya bapak penasaran.


Perasaanku sudah agak tenang dengan keberadaan mereka berdua. Napasku sudah mulai terkontrol.


"Kamu habis ketemu apa, kok sampai gobyos begini?" tanya ibuku lagi dengan raut wajah cemas.


"Pak ... Bu ... Nanti, ya, ceritanya? Aku sekarang mau salat Magrib dulu," ucapku.


"Baiklah. Tapi, kamu nggak apa-apa, kan?" tanya bapak cemas.


Aku pun meletakkan tas yang kubawa di atas meja belajar usang milikku. Setelahnya, aku pun menuju kamar mandi untuk berwudlu.


"Biar ibu panaskan air dulu untuk kamu mandi nanti, ya?" tanya ibuku sambil berjalan menuju dapur.


"Iya, Bu. Terima kasih," jawabku enteng.


Setelah berwudlu, aku pun menunaikan salat Magrib. Selepas salat Magrib, aku pun mandi dengan air dari kamar mandi yang dicampur dengan air panas yang ibu buat. Rasanya segar sekali, mandi dengan menggunakan air hangat tersebut. Setelah mandi dan berganti pakaian, aku pun berjalan ke ruang tamu tempat bapak dan ibu duduk menunggu penjelasan dariku.


"Sekarang kamu jelaskan, Im, kenapa kamu kayak gitu tadi?" tanya bapak dengan nada interogatif.


"Begini, Pak. Tadi di gapura perumahan, saya melihat seorang perempuan cantik sedang menunggu seseorang tepat di pinggir gapur sebelah kiri. Tapi, tak lama kemudian aku kehilangan jejak perempuan itu. Dan aku hampir tertabrak kereta yang melintas gara-gara mencari kemana perginya perempuan itu," tuturku dengan perlahan.

__ADS_1


"Terus???" ujar bapak.


"Pada saat aku sampai di ujung perumahan. Tiba-Tiba perempuan itu muncul lagi di Pos Kamling dengan tatapan mata tajam ke arahku," jawabku lantang.


"Bagaimana ciri-ciri perempuan itu, Im?" tanya bapak lagi.


"Dia cantik, tapi kemunculannya itu misterius sekali," jawabku.


"Apakah ia membawa payung?" tanya bapak tiba-tiba.


Aku tertegun dengan perkataan bapak yang tiba-tiba meluncur itu.


"Dari mana bapak tahu kalau perempuan itu membawa payung?" Aku bertanya pada diriku sendiri.


"I-i-iya, Pak. Perempuan itu membawa payung," jawabku terbata-bata.


"Apa???" teriak bapak mengagetkan aku dan ibu.


"Kenapa, Pak? Apa bapak kenal dengan perempuan itu?" tanyaku kebingungan.


"Hati-Hati kamu, Im. Dia itu Mbah Jati, jin yang menghuni daerah jatian di pinggir jalan raya itu," jawab bapak tegang.


"Apakah benar begitu, Pak?" tanyaku tidak percaya.


"Iya, Im. Mbah Jati itu biasanya mengganggu konsentrasi warga sehingga kalau tidak waspada, warga tersebut bisa kecelakaan," jawab bapak.


"Apaaaa?" Giliran aku yang berteriak.


Bersambung


Mohon maaf baru update. Ada banyak hal yang harus aku selesaikan sehingga tidak bisa update tepat waktu. Terima kasih atas kesetiaan Para Pembaca.

__ADS_1


Salam sehat selalu


Jaga 5M


__ADS_2