SEKOLAH HANTU

SEKOLAH HANTU
BAB 45 TAKUT


__ADS_3

Aku benar-benar tidak menyangka Bu Iis bisa sampai terkencing-kencing seperti itu. Aku yang melihat guruku tersebut menjadi malu sendiri dan berusaha untuk pura-pura tidak melihat air kencing yang membanjiri lantai. Namun, Bu Iis sepertinya sudah tahu bahwa aku melihat air kencingnya yang merembes ke lantai. Bu Iis menyungging senyum menahan malu ke arahku. Entahlah, saat itu aku juga bingung karena di satu sisi aku merasa ngeri dengan kehadiran hantu Satpam yang posisinya sangat dekat denganku. Di sisi lain, aku juga merasa geli dengan tingkah Bu Iis yang karena takutnya sampai terkencing-kencing. Tapi, waktu pun terus bergulir. Aku tidak memperdulikan lagi tingkah konyol yang dilakukan oleh Bu Iis saat itu karena bagiku saat ini yang terpenting adalah bagaimana caranya kami berdua bisa selamat dari ancaman hantu Satpam tersebut.


Syukurlah, aku kembali mendengar suara desauan napas dari hantu Satpam itu lagi yang kembali melanjutkan patrolinya berjalan menuju ke arah dinding. Aku menarik tangan Bu Iis agar kembali mengikuti langkahku dan beliau pun mengikuti arahanku. Sayangnya, kali ini ada yang berbeda. Sayup-sayup aku mendengar suara yang bersumber dari sepatu yang dipakai Bu Iis.


"Pasti, kondisi sepatu Bu Iis yang basah yang menyebabkan munculnya suara itu," pikirku di dalam hati.


Aku tarik tangan Bu Iis agar terus mengikuti langkahku dengan kecepatan sama seperti sebelumnya. Sayangnya, suara yang bersumber dari sepatu yang dipakai Bu Iis itu sepertinya terdengar oleh hantu Satpam. Aku mendengar hantu Satpam itu berhenti mendesau tatkala mendengar bunyi sepatu Bu Iis. Aku pun buru-buru menghentikan langkah Bu Iis. Setelah menunggu sekian detik, saat suara desauan hantu Satpam kembali terdengar, aku kembali menarik tangan Bu Iis untuk berjalan mengikutiku, kali ini kami mengatur langkah agak lebih pelan agar tidak menimbulkan bunyi seperti tadi dan usaha kami berhasil. Kami pun melanjutkan aksi tersebut dengan kecepatan lambat menuju ke arah pintu keluar. Hantu Satpam pun terus mendesau membuat bulu kuduk merinding. Kali ini kami tidak punya pilihan lagi selain bergerak laksana siput. Kami pun harus melakukan hal itu semuanya dengan degup jantung yang makin tidak karuan karena gerak hantu Satpam itu empat kali lipat lebih cepat dari pergerakan kami. Bahkan, kali ini hantu Satpam itu sudah bertolak dari dinding dan sedang bergerak menuju ke tempat kami. Saat itu kami benar-benar berperang dengan waktu, berperang dengan rasa takut yang semakin menggerogoti jiwa. Kami masih bergerak lambat, sedangkan hantu Satpam itu sudah semakin dekat dengan ujung rak. Semakin dekat ... semakin dekat ... dan kali ini hantu Satpam itu sudah sampai di ujung rak. Sesaat lagi ia akan berbelok dan berjalan menuju ke tempat kami berada. Aku dan Bu Iis menarik napas panjang dan aku pun memberi kode kepada Bu Iis untuk bersiap diri melakukan gerakan ekstrim.


"Satu ... dua ... tigaaaaaaaaa ...,"


Arrrrrrrgh .....


Hantu Satpam itu sudah berbelok dan sudah dapat melihat keberadaan kami berdua di tempat ini. Aku dan Bu Iis berlari dengan cepat menuju pintu. Hantu Satpam itu marah dan menyeringai ke arahku. Ia bergerak lebih cepat mengejar kami berdua. Kami sudah tidak peduli lagi dengan aturan pergerakan kami semula. Toh, hantu Satpam itu sudah mengetahui keberadaan kami. Aku dan Bu Iis berlari ke arah pintu. Bu Iis berlari lebih cepat dariku. Hampir saja aku lupa mengunci pintu dan hal itu tentunya tidak akan berdampak baik untuk Bu Iis. Aku menyempatkan diri untuk berbalik dan menarik gagang pintu. Aku berhasil melakukannya dengan baik tepat saat hantu Satpam itu akan mencapai posisiku.


Braaak ...

__ADS_1


Dengan kemampuan kepepetku, aku pun berhasil mengunci ruangan itu dan menarik anak kunci kemudian berlari menyusul Bu Iis yang sudah ngacir duluan. Aku menuruni anak tangga untuk mengejar Bu Iis, tapi aku dibuat terkejut karena aku melihat Bu Iis sedang berlari menuju ke arahku dari tangga bawah.


"Kenapa kembali, Bu?" tanyaku pada beliau.


"Hantu Satpamnya ada di bawah, Im," jawabnya sambil berlari ke arahku.


Belum sampai Bu Iis lari ke arahku, tiba-tiba Bu Iis berteriak lagi.


"Di belakangmu, Im ...," teriaknya.


"Aduuuh ...," pekik Bu Iis.


Aku pun menolong Bu Iis yang sedang terjatuh. Untunglah kepalanya tidak sampai.membentur lantai.


"Ayo, Bu, bangun!" ucapku pada Bu Iis sambil berusaha menarik tangannya lagi agar bisa bangkit dan berlari menghindari hantu Satpam.

__ADS_1


Bu Iis sudah akan bangun saat itu. Namun, tiba-tiba di depan kami berdua muncul sepasang kaki. Aku dan Bu Iis mengamati sepasang kaki itu dari bawah ke atas dengan perasaan tegang dan takut. Kami melihat sepasang kaki tersebut mengenakan sepatu yang biasa dipakai oleh petugas keamanan dengan warna hitam dan sudah buluk. Jantung kami berdegup dengan kencang tatkala mengamati jaki tersebut dari bawah ke atas. Celananya berwarna gelap dan sudah lusuh. Tidak berhenti sampai di situ, mata kami berdua oun bergerak ke atas dan terlihatlah pakaian berwarna putih sedang dikenakan oleh pria bertubuh tegap. Perasaan kami berdua semakin tidak karuan tatkala kami melihat tulisan Satpam tercetak di atas saku pria tersebut. Dari posisi kami duduk, wajah pria tegap tersebut tidak dapat kami lihat dengan jelas. Aku dan Bu Iis pun saling menoleh dan kami berdua pun memberanikan diri untuk berdiri agar dapat melihat wajah pria di depan kami tersebut. Saat itu kami audah tidak punya pilihan lagi. Kalau pun harus diam tentunya hantu Satpam itu yang akan memperlihatkan wajahnya kepada kami. Kami berdua memilih untuk bangkit dan berdiri agar dapat melihat dengan jelas wajah pria yang berada di depan kami tersebut. Takut? Iya. Tau, kami harus menghadapi ini. Akhirnya secara perlahan kami berdua pun bangkit dan berdiri. Posisi pria tersebut tepat berada di depan kami. Aroma tubuh pria tersebut yang tidak enak juga terhirup oleh hidung kami berdua. Setelah kami berdiri dengan maksimal, akhirnya kami betul-betul dapat melihat dengan jelas wajah dari pria yang berada di depan kami. Saat itu kami berdua benar-benar terkejut bukan main saat mengetahui wajah pria yang mengenakan baju Satpam lusuh itu.


BERSAMBUNG


Hai, Junan Lovers!!!


Masih setia dengan kisah SEKOLAH HANTU, kan?


Bagaimana nasib Imran dan Bu Iis selanjutnya?


Terus pantengin cerita ini, ya.


Jangan lupa like dan komennya aku tungguin, loh.


Kalau like dan komennya banyak, aku jadi semangat untuk crazy up. Hm ...

__ADS_1


Kalau likenya sedikit aoalagi nggak ada yg komen, aku jadi sedih.Kalau sudah sedih, ntar biar hantu Satpamnya aku kirim ke rumah Kakak untuk ngasih tahu Kakak supaya mau ngasih like buat cerita ini, ya? he he he ...


__ADS_2