SEKOLAH HANTU

SEKOLAH HANTU
BAB 59 : BERBEDA


__ADS_3

Aku dan Bondan sontak saja terkejut begitu mengetahui sosok laki-laki yang sedang berdiri di depan kami saat ini. Dia adalah bapak-bapak aneh yang dua kali membuat aku dan Bondan merasa takut dan ngeri. Lebih-Lebih saat ini pria itu sedang memegang obeng di tangan kanannya.


"Astagfirullah!!! ...," pekik aku dan Bondan.


Aku dan Bondan mundur sedikit. Sedangkan Indah dan Arini biasa saja melihat kedatangan pria tersebut. Justeru Arini dan Indah memandang aneh atas keterkejutan kami.


"Apaan, sih, kalian ini?" tegur Arini.


"Ba-ba-bapak-" Aku berkata dengan terbata-bata.


"Kenapa kalian berdua ini?" ucap pria itu dengan ekpresi wajah seolah tanpa dosa.


Pria itu melangkah semakin dekat dengan kami. Aku dan Bondan pun kembali mundur sejurus.


"Apa yang akan Bapak lakuin?" tanya Bondan spontan dengan bibir bergetar.


"Kalian kenapa, sih?" protes Indah.


Pria itu menatap lekat ke mataku. Bibirnya menyungging senyum.


"Ooooooh ... ya ... ya ... saya baru ingat. Kalian berdua ini yang pernah naik Angkot bareng dengan saya," ujar pria itu.


"I-I-Iya ... kami dua kali naik Angkot yang sama dengan Bapak. Terus kenapa? Bapak mau ngapain kami?" seloroh Bondan dengan tidak sopannya.


"Hus! Ndan, kamu kok ngomong nggak sopan dengan orang yang lebih tua!" bentak Arini.


"Riiiiiiin ... baaa-pak ini yang taaa-di diceritakan saaaa-ma Imran," jawab Bondan terbata-bata.


"APAAAAA?" pekik Arini.


"WAAAAAAAA!!!" teriak mereka berdua dengan keras sambil mundur ke belakang mendekat ke arah aku dan Bondan yang sudah mundur duluan.


"AMPUUUUUN, PAAAAAK!!!! AMPUUUUUN!!!" teriak kami berempat secara bersama-sama.


Mata pria itu melotot dan ia mengangkat tangan kanannya yang sedang memegang obeng.


"Loh, kalian kenapa takut dengan saya?" ujar pria itu sambil melangkah mendekat ke arah kami. Obeng yang ia pegang dalam posisi menghadap lurus ke arah kami.


"TIDAAAAAK!!!" teriak Arini dan Indah yang berada paling dekat dengan pria itu begitu obeng itu terarah lurus ke mereka.


"Kalian jangan takut sama saya?" teriak pria itu sambil kembali maju ke depan.


"TIDAAAAAK!!" teriakan Arini dan Indah semakin keras karena posisi ujung obeng itu semakin dekat ke badan mereka yang kecil.


"Saya ini bukan orang jahat! Kalian salah paham!" teriak pria itu lagi.


Aku melihat ada ekspresi kebingungan di wajah pria tersebut. Sorot matanya tidak menunjukkan bahwa ia sedang akan menusukkan obeng itu ke tubuh kami.

__ADS_1


"Kalian kok jadi ketakutan begini, sih?" ucap pria itu lagi.


Kali ini aku dapat mendengar dengan jelas perkataan pria itu di sela-sela teriakan Arini dan Indah.


"Diam dulu, Rin!" ucapku pada Arini.


"Apakah Bapak mau menusukkan obeng itu?" tanyaku pada pria itu dengan intonasi sengaja aku lebih perjelas.


Setelah mendengar ucapanku, pria itu nampak kaget sendiri melihat tangannya yang terlihat seperti sedang menghunus obeng.


"Ya ampun!!!" Pria itu melempar obeng yang sedang dipegangnya ke arah lantai.


KLONTANG!!!


Ia sepertinya baru menyadari bahwa sejak tadi posenya seperti sedang menghunuskan obeng itu ke perut Arini.


"Duh, maaf ya, Nduk! Nggak usah takut sama saya. Saya ini orang baik. Saya tidak berniat melakukan tindakan kriminal kepada kalian!" ucap pria itu lagi sambil berusaha membujuk kami.


"Bapak yakin?" tanya Arini masih dengan terbata-bata.


"Yakin, Nduk. Saya ini bukan orang jahat. Saya ini hanya tukang kunci dan tukang tambal ban," jawab pria itu dengan ekspresi wajah lembut, tidak semencurigakan tadi.


Selanjutnya kami berempat tidak mundur-mundur lagi, tapi kami masih belum beringsut dari posisi kami. Kami masih mengamati gerak-gerik pria tersebut.


"Ada perlu apa kalian datang ke sini?" tanya pria itu dengan nada enteng.


"Hm ... kami mau membuat duplikat kunci, Pak," jawabku berusaha tenang.


"Mana kunci yang mau digandakan?" tanya pria tersebut.


Kali ini tatapan mata tersebut audah sangat rileks. Berbeda dengan pria tersebut, kami masih belum begitu percaya dengan pria itu. Pria itu tersenyum ke arah kami. Sepertinya ia memaklumi tingkah kami yang seperti itu.


"Makanya, jangan terlalu sering baca buku horor. Pada parnoan, kan, jadinya?" seloroh pria itu yangbkami sambut dengan senyuman terpaksa.


"Ini, Pak!" jawabku sambil menyodorkan sabun dengan lubang berbentuk anak kunci yang kuambil dari dalam tas.


"Loh, kok, sabun?" tanya pria itu.


"Iya, Pak. Bapak bisa, kan, membuat anak kunci persis seperti itu?" tanyaku.


"Bisa, kok! Jangankan dari lubang sabun seperti ini. Dari ingatan saja, saya juga bisa membuatnya," seloroh pria itu dengan sombongnya.


"Wah, enak dong!" celetukku.


"Maksudmu, enak bisa untuk membobol rumah orang?" ucap pria itu dengan nada bercanda.


"He he he ...," tawa kami mulai mengembang.

__ADS_1


"Nah, gitu dong. Kan cakep kalau pada tersenyum," ujar pria itu.


"Iya, Pak. Kami mohon maaf karena tadi sempat mencurigai Bapak," ujar Bondan.


"Iya. Tidak apa-apa," jawab pria itu santai.


Pria itu mulai mengukur satu persatu bagian di dalam lubang sabun itu. Setelah mengukur, pria itu pun mengambil anak kunci dan mengikir bagian-bagiannya agar memiliki ukuran yang sama dengan lubang yang ada di sabun.


"Ini untuk kunci apa, Dik?" tanya tukang kunci itu.


"Untuk kunci ruang OSIS, Pak," jawabku berbohong.


"Oooo ... kalian ini anggota OSIS, toh? Hebat kalian. Kalau adik ini kok seragamnya lain sendiri?" tanya pria itu.


"Iya, Pak. Saya ini hanya ikut kegiatan mereka saja. Untuk mencari pengalaman," jawab Arini juga berbohong.


Indah dan Bondan saling memberikan kode dengan mengedipkan mata.


"Kunci yang lama ke mana?" tanya tukang kunci itu lagi.


"Yang lama dibawa guru. Gurunya keburu mau berangkat ke luar kota, jadinya kami memakai sabun ini untuk membuat replikanya," jawab Indah ikut-ikutan berbohong.


"Oh ya, nih! Kalian sekolah di mana?" tanya pria itu


"Di SMAN 14, Pak!" jawab Indah.


"Di mana?" tanya pria itu lagi.


"SMAN 14, Pak. Itu loh, di sebelah pabrik tembakau," jawabku.


Pria itu sejenak menghentikan pekerjaannya ketika mendengar jawabanku. Matanya sejenak menatap kosong ke atas seolah-olah sedang mengingat-ingat sesuatu. Ia nampak menarik napas dalam-dalam.


Aku mengamati adanya perubahan ekspresi pada pria tersebut saat mengetahui asal sekolah kami. Tapi itu hanya sesaat karena selanjutnya, pria itu sudah kembali melanjutkan aktivitasnya yang sempat tertunda, yaitu membuat anak kunci dari lubang di sabun yang kami bawa.


"SMAN 14" gumam pria itu di sela-sela aktivitasnya.


BERSAMBUNG


Tak bosan-bosan aku mengajakmu


Memberikan like, vote, dan komentarnya


(ups! sambil nyanyi, ya, bacanya? He he he ...)



Pembelian novel cetak KAMPUNG HANTU bisa melalui akun SHOPEE @atpress dengan subsidi ongkir.

__ADS_1


Sampai jumpa di episode mendatang.


Mau crazy up? crazy like dan komen, dong!


__ADS_2