SEKOLAH HANTU

SEKOLAH HANTU
BAB 29 GAGAL?


__ADS_3

Aku melihat sebuah papan kayu berbentuk persegi panjang dengan ukuran sekitar 20 cm x 10 cm tergantung di pintu gerbang. Di tengahnya ada tulisan nomor 12. Hal itu menandakan bahwa rumah dengan nomor 13 tidak ada di sini.


"Loh, kok nomer 12 sih?" pekik Bondan setelah melihat juga nomor yang dipajang di pagar tersebut.


"Loh, dimana nomer 13 nya berarti?" tanya Indah kebingungan.


"Nah itu dia. Padahal deretan rumah yang ada di sebelah kiri semuanya nomer 50 ke atas. D, kok bisa jadi begini sih?" ucapku.


"Apa mungkin nomer rumah di sini sengaja tidak menggunakan angka 13 seperti perumahan pada umumnya?" ucap Arini.


"Maksud kamu gimana, Rin?" tanya Bondan.


"Begini, Ndan. Perumahan biasanya tidak pernah menggunakan angka 13 karena dianggap angka sial. Pihak pengembang perumahan biasanya mengganti angka 13 dengan angka 12A. Seperti di perumahan dekat rumahku," selaku membantu menjawab pertanyaan Bondan.


"Oo begitu ..., tapi lantas bagaimana dengan pesan misterius yang datang kepada kita?" tanya Bondan kebingungan.


"Nah, itu dia aku juga bingung dengan hal itu, Ndan. Aku yakin kita sudah dekat dengan pesan misterius tersebut. Bukankah kita sudah menemukan petunjuk 'ALUN-ALUN' dan 'MAWAR'? Kita tinggal mengungkap satu petunjuk lagi yaitu angka 13. Tapi, sampai di sini, kita tidak menemukan rumah dengan nomor 13 di sini," jawabku.


"Terus bagaimana ini?" tanya Bondan gelisah.


"Gimana ini, Ndah?" Aku bertanya kepada Indah.


"Kita cari sekali lagi yuk, urut mulai ujung sana sampai ujung sana?" ujar Indah.


"Gimana, teman-teman?" tanyaku pada kedua temanku yang lain.


"Baiklah," jawab mereka berdua lesu.


Kami pun segera menyisir semua rumah di sepanjang jalan atau gang Mawar itu dengan sangat teliti dan hati-hati. Namun, sayangnya di antara kami berempat tidak jua menemukan rumah dengan nomor 13. Karena kecapekan, kami pun duduk-duduk di atas paving jalan.


"Capek, Im. Pulang yuk!" rengek Arini.


"Iya. Ternyata tidak semudah itu ya, memecahkan misteri pesan rahasia itu," jawabku.


" Apa tidak sebaiknya kita pulang dulu sekarang? Kita rundingkan lagi segala sesuatunya besok di sekolah?" ujar Bondan menambahkan.


"Kita istirahat dulu sebentar. Habis itu kita cabut saja sebelum magrib," jawabku.


Kami berempat pun beristirahat dan mengatur napas. Setelah rasa capek sedikit mereda kami pun bangkit dan bersiap untuk pulang. Arah pulang adalah berjalan kaki ke alun-alun kembali untuk menunggu Angkot yang akan mengantar ie rumah kami masing-masing.


"Kamu merasa ada yang nggak beres, nggak, dengan jalan ini?" tanya Indah tiba-tiba memecah suasana.


"Kenapa memangnya, Ndah?" tanya Bondan.

__ADS_1


"Ini loh, masa tidak ada orang yang seliwar-seliwer di jalan ini? Atau paling tidak duduk-duduk di depan rumahnya, masa sepi sekali kayak di kuburan saja," lanjut Indah.


"Iya juga, sih. Apa begitu ya, karakter orang kota? Malas bersosialisasi dengan tetangga?" tanya Bondan.


"Entahlah, Ndan. Tapi benar kata Indah. Tempat ini aneh. Terlalu lama di sini kita bisa gendeng. Ayo dah buruan kita pulang saja!" ucapku.


Kami pun terus berjalan meninggalkan jalan Mawar menuju ke alun-alun melalui rute semula. Setelah sampai di alun-alun, aku tiba-tiba ingin membeli sesuatu.


"Rin, anterin beli mie ayam ke Pak Kumis, yuk!" ucapku.


"Kamu laper, ya? Suruh siapa tadi nggak mau makan mie ayam bareng aku," protes Arini.


"Enggak. Aku pingin belikan buat bapakku. Beliau suka banget sama mie ayam. Dulu, waktu aku masih kecil, bapak kadang-kadang ngajakin aku beli mie ayam bareng sebelum pulang," jawabku.


"Terus, gimana dengan Indah dan Bondan. Mereka disuruh nungguin kita, tah?" tanya Arini.


"Indah ... Bondan ... aku mau beli mie ayam sama Arini. Kalian mau nungguin kami atau gimana?" teriakku pada Indah dan Bondan.


Indah dan Bondan saling menoleh. Kemudian salah satu dari mereka berdua bersuara.


"Im, aku pulang duluan, ya, soalnya aku mau bantu ibu kos," ucap Bondan.


"Aku juga, Im. Aku harus pulang dulu soalnya kalau terlalu sore, susah nyari Angkot yang rutenya ke rumahku," jawab Indah.


Kami berempat pun saling melambaikan tangan sebagai salam perpisahan. Selanjutnya Bondan dan Indah langsung menuju ke halte, sedangkan aku dan Arini berjalan menuju gerobak mie ayak Pak Kumis.


"Assalamualaikum ...,"


"Waalaikumsalam ...,"


"Loh, kalian lagi?" sapa Pak Kumis.


"Iya, Pak. Kami mau beli mie ayam untuk dibungkus," jawabku.


"Berapa bungkus?" tanya Pak Kumis.


"Satu saja, Pak!" jawabku.


"Dua, Pak!" jawab Arini.


"Kamu pesan juga, Rin?" tanyaku pada perempuan itu.


"Enggak. Aku pesan buat ibumu," jawab Arini.

__ADS_1


"Loh, enggak usah repot-repot, Rin!" cegahku.


"Enggak kok. Aku ingin membelikan buat ibumu saja. Masa bapakmu saja yang dibelikan?" ucapnya.


"Nggak gitunya, Rin. Paking-Paling satu bungkus itu sudah cukup untuk mereka berdua. Mereka biasa makan sepiring berdua," jawabku.


"Sudahlah. Tidak baik menolak rejeki," jawab Arini.


"Makasih, kalau begitu," jawabku.


Pak Kumis melanjutkan pekerjaannya menyiapkan dua porsi mie ayam sambil menguping perbincangan kami berdua.


"Kalian dari mana tadi? Apa dari jalan Mawar?" tanya Pak Kumis tiba-tiba mengagetkan kami berdua.


"E-e-enggak kok, Pak! Kami dari jalan Anggrek," jawab Arini spontan.


"Oooo ... kirain ke jalan Mawar?" sahut Pak Kumis.


"Enggak. Emang kenapa kalau ke jalan Mawar, Pak?" tanyaku penasaran.


"Oh, enggak. Nggak apa-apa. Cuma nanya saja," jawab Pak Kumis sambil merunduk.


Selanjutnya Pak Kumis berkonsentrasi untuk melanjutkan pekerjaannya memasak mie ayam yang kami pesan.


"Duduk dulu, Dik! Biar tidak capek berdiri terus-terusan," ucap Pak Kumis.


"Terima kasih, Pak" jawabku sambil melangkah ke satu set meja yang kududuki bersama ketiga temanku tadi.


"Kira-Kira jam berapa ini, ya?" tanyaku pada Arini.


"Sekitar jam setengah lima, Im," jawab Arini.


"Semoga aku nggak kemaleman saja," jawabku.


"Enggak lah, Im. Palingan sebelum magrib kita sudah sampai di rumah," jawab Arini.


Suasana sore itu begitu sepi di depan masjid jami'. Aku dan Arini berbincang-bincang tentang banyak hal sambil menunggu pesanan mie ayamku selesai. Pak Kumis sibuk memasak mie ayam pesanan kami tanpa berbicara sedikitpun. Ada hal yang membuat bulu kudukku tiba-tiba berdiri saat Pak Kumis tiba-tiba menutup sebuah laci yang ia gunakan untuk menyimpan mie ayam yang masih mentah. Pintu laci itu terbuat dari logam yang sangat keras. Yang membuatku bergidik ngeri adalah tulisan pada logam tersebut yang berbunyi 'MAWAR 13'.


BERSAMBUNG


Kue Tar beli di toko Nyonya


Yang rajin komentar, semoga lancar rejekinya

__ADS_1


__ADS_2