SEKOLAH HANTU

SEKOLAH HANTU
BAB 54 WAWANCARA


__ADS_3

Sosok yang berdiri di depan kami saat ini adalah Arini, siswi SMP di sekolah sebelah. Tatapan matanya menyiratkan bahwa ia ingin menyampaikan sesuatu kepada kami.


"Rupanya kalian di sini. Aku cari-cari kalian tak kunjung ketemu," tegur perempuan yang memiliki sifat moody tersebut.


"Iya, Rin. Kami di sini sejak tadi. Kamu ke mana saja?" Aku balik bertanya.


"Setelah mencari kalian, tapi nggak ketemu-ketemu. Akhirnya aku memutuskan untuk mengorek informasi dari Pak Kumis," jawab Arini dengan nada serius.


"Oh, ya? Kamu mendapatkan informasi apa dari Pak Marzuki?" Aku bertanya untuk kedua kalinya.


"Pak Marzuki?" Arini kebingungan dengan nama yang kusebutkan barusan.


"Iya, Im. Nama asli Pak Kumis itu Pak Marzuki," jawabku.


"Oalah ... dari mana kamu mengetahui bahwa nama asli Pak Kumis adalah Pak Marzuki?" tanya Arini.


"Hm ... gimana kalau kita lanjutin obrolannya di tempat lain agar lebih leluasa?" Indah menyela.


"Iya juga, sih. Kalian bertiga mau ke mana sekarang? Sepertinya kalian terburu-buru?" tanya Indah.


"Ini, tangan Indah terkena pisau, Rin. Kami mau membeli obat merah dulu di apotik supaya lukanya tidak infeksi," jawabku.


"Oke. Aku ikut kalian," jawab Arini.


Selanjutnya kami berempat pun berjalan bersama mencari apotik di sekitar tempat itu.


Matahari sudah agak condong ke arah barat. Pertanda sebentar lagi akan dikumandangkan azan Asar. Kami masih mencari lokasi apotek untuk membeli obat merah bagi teman kami Indah. Kami bertanya kepada penduduk di sekitar tempat itu di mana lokasi apotek terdekat. Setelah berjalan sekitar dua puluh menit, akhirnya kami pun sampai di sebuah apotek yang menjual obat merah. Kami sekalian membeli perban di apotek tersebut.


"Tahan perihnya ya, Ndah!" ucap Bondan.


"Iya, Ndan. Aku nggak apa-apa, kok. Uhf!!!! Perih juga ternyata, ya?" ucap Indah.


"Lukanya agak dalam ternyata, Ndah. Tapi, nggak apa-apa. Asal rutin diobati pake obat merah ini, insyaallah akan cepat sembuh. Oh, ya ... lukamu ini jangan sampai terkena air dulu, ya? Biar cepat kering. Dan jangan lupa untuk mengganti perbannya minimal sehari sekali," ujar Bondan.


"Iya, Dok! Makasih, ya!" jawab Indah sambil mengerlingkan mata kepada Bondan.


"Sudah, nggak usah berlaga kayak aktris Bollywood di depanku. Ntar kelilipen baru tahu tahu rasa kamu," ujar Bondan serius.


"Duh, serius banget kamu, Ndan. Masa kamu nggak meu ngehargai cewek yang ngasih perhatian sama kamu?" ucapku.


"Giliran diobati saja lagaknya kayak gini. Lah wong tadi aku lihat cewek ini ganjen-ganjenan sama kamu di gubuk Pak Marzuki. Iya, kan? Pake adegan pegang-pegang tangan segala. Emangnya aku nggak liat?" gerutu Bondan.

__ADS_1


"Sialan kamu, Ndan. Itu tadi kami berdua pegangan tangan bukan karena apa? Kamu tahu nggak, Indah ini syok kayak mau pingsan begitu pas lihat sesuatu di sana?" protesku.


"Apa, Ndan? Kamu manggil aku cewek ganjen? Tak pites ntar kamu, ya? Aduh!" ujar Indah.


"Sudah-Sudah ... ini juga. Baru diobati sudah mau pites-pites orang. Pikiri dulu lukamu itu. Ayo, dah! Katanya mau ngobrol? Lebih baik kita cari tempat yang enak untuk mengobrol," ujar Bondan mengakhiri candaan kami.


Arini tak banyak bicara saat itu. Ia hanya melirik ke arah Indah dan aku ketika Bondan mengatakan bahwa kami berdua pegang-pegangan tangan di gubuk Pak Marzuki. Wajar, mungkin dia tidak suka model candaan yang seperti itu.


"Apa tidak sebaiknya kita pergi ke masjid saja sekarang, sekalian persiapan salat Asar di sana?" tanya Arini kemudian.


"Berarti, kita akan melewati warung Pak Marzuki ...maksudku Pak Kumis?" tanyaku.


"Ya iyalah, Im. Pak Kumis kan emang jualannya di sana setiap hari?" jawab Arini.


"Hm ... gimana kalau untuk saat ini, kita ngobrol dan salatnya di tempat lain dulu?" Aku bertanya sambil melirik ke arah Bondan dan Indah.


"Kenapa emangnya, Im? Aku, tadi juga beli mie ayam di sana?" tanya Arini kebingungan.


"Gini, Rin. Khusus hari ini, kami kurang sreg kalau harus bertemu dengan Pak Kumis," jawabku.


"Ada apa dengan Pak Kumis, Im? Apa kalian menyembunyikan sesuatu dariku?" Arini bertanya lagi.


"Okelah kalau begitu," jawab Arini.


Kami berempat pun berjalan lagi untuk mencari musala di sekitar tempat itu.


"Ndan, kamu tahu letak musala di sekitar sini, nggak?" tanyaku pada Bondan setelah kami berjalan beberapa langkah.


"Enggak, Im. Kita tanya sama orang saja, sama seperti tadi sewaktu kita mencari letak apotek?" ucap Bondan.


"Iya, Ndan," jawabku.


Kami pun melanjutkan langkah mencari letak musala. Bondan dan Arini berjalan di depan, sedangkan aku dan Arini berjalan di belakangnya.


Tak lama kemudian, kami bertemu dengan seorang pengemis yang duduk di pinggir jalan. Arini menyodorkan uang receh yang ia ambil dari sakunya kepada pengemis tua itu.


"Terima kasih, ya, Nduk! Semoga kamu segera dipertemukan dengan seseorang yang sangat merindukanmu," suara pengemis tua itu mengagetkan kami berempat. Arini mematung sesaat begitu mendengar perkataan pengemis tua itu.


"Dipertemukan dengan orang yang merindukan saya? Maksud Bapak apa?" tanya Arini.


"Oh, tidak, Nak. Saya tidak bermaksud apa-apa. Saya biasa berdoa seperti itu kalau diberi sedekah oleh orang. Ya, kan sekarang banyak orang yang sulit bertemu jodohnya, Nak," jawab pengemis tua itu.

__ADS_1


"Tapi, saya kan masih SMP kelas dua, Pak? Saya belum berpikir ke arah sana?" ujar Arinj lagi.


"Oh, ya, maaf, Nak. Saya sudah berkata yang tidak-tidak," jawab pria tua itu.


"Nggak apa-apa, Pak. Terima kasih atas doanya," jawab Arini.


"Terima kasih juga atas sedekahnya, Nak," jawab pengemis kurus itu.


"Pak, apakah Bapak tahu lokasi musala di dekat sini, selain masjid jami' maksudnya," ujarku.


"Oh, jalanlah lurus sampai ketemu gang kedua dari sini! Kalau sudah ada gang di kanan jalan, masuklah! Kurang lebih tiga rumah dari sana ada musala kecil. Airnya melimpah di sana untuk berwudlu. Sekalian tempatnya aman untuk kalian mengobrol nanti," jawab Pak Tua.


"Iya, Pak. Terima kasih," jawab kami.


Kami pun berjalan mengikuti arahan pengemisbtua tersebut. Sembari melangkah menuju gang keduanyang dimaksudkan oleh Pak Tua barusan, aku dan Arini sama-sama memikirkan tentang ucapan aneh Pak Tua barusan.


"Apa maksud Pak Tua mengatakan bahwa Arini akan bertemu orang yang sudah lama merindukannya?"


"Dari mana Pak Tua itu tahu bahwa kami berempat tidak hanya mencari tempat untuk salat, tetapi juga tempat untuk mengobrol?"


"Aneh sekali ucapan Pak Tua ini?"


Karena merasa aneh dengan ucapan pengemis itu, aku dan Arini secara bersamaan menoleh ke belakang untuk melihat pengemis tua itu lagi.


"Loh! Kemana perginya pengemis itu?" pekik aku dan Arini secara bersamaan.


BERSAMBUNG


Hai, Sobat Junan!


Masih setia untuk mengikuti novel ini, kan?


Aamiiiin ...


Oh, ya, nih ... Supaya Kakak lebih enak ngikuti kelanjutan novel ini, Kakak bisa sambil baca-baca uoang novel KAMPUNG HANTU, supaya lebih dapet feelnya.... Karena novel ini adalah kelanjutan dari novel KAMPUNG HANTU.


Bagi Kakak yang belum membaca novel hororku yang lain, ada novel berjudul MARANTI yang tidak.kalah serunya dari novel ini.


Like, komentar, vite, dan share Kakak selalu ku tunggu-tunggu ...


Wassalam

__ADS_1


__ADS_2