SEKOLAH HANTU

SEKOLAH HANTU
BAB 93 : TERLALU SAYANG


__ADS_3

Aku dan Indah meronta agar bisa lepas dari cengkeraman kuat hantu itu. Tapi, semakin kami berusaha melepaskan, cengkeraman tangan hantu itu semakin kuat saja menarik rambut kami. Sehingga kami merasa kesakitan. Yang bisa kami lakukan saat itu hanyalah berdoa.


"Bismillahirrohmanirrohiiim ....,"


Aku dan Indah terus saja berdoa dan meronta untuk bisa lepas dari deraan hantu Satpam, sementara Bondan terus saja gemetaran dan memaksakan untuk mencungkil tembok yang ada di balik lukisan. Pada saat itu, aku dan Indah betul-betul dapat merasakan betapa energi yang dimiliki oleh hantu Satpam ini begitu kuat, sulit sekali bagi aku dan Indah untuk melawannya dengan kekuatan fisik. Bau busuk betul-betul tercium di hidung kami bertiga sehingga membuat kami beberapa kali muntah karena tak tahan dengan aromanya. Untunglah, aku memiliki teman-teman yang hebat. Mereka bukanlah orang yang gampang menyerah. Merwka sama sepertiku. Dalam keadaan terdesak seperti ini , mereka terus berupaya melakukan apapun yang masih bisa dilakukan. Hingga akhirnya, pada detik ke sekian, aku mendengar teriakan Bondan yang sangat keras.


"Waaaaaaaaaaa!!!!!"


Teriakan Bondan itu bersamaan dengan ambrolnya tembok di balik lukisan itu dan juga lepasnya cengkraman hantu Satpam dari leher kami berdua. Bondan menangis sesenggukan.


Setelah menarik napas panjang, aku pun mengarahkan senter ke puing-puing tembok yang ambrol.


"Astagfirullah!!!" pekikku.


Saat itu kami bertiga betul-betul terkejut karena melihat ada sebuah tengkorak di antara reruntuhan tembok tersebut. Saking terkejutnya, aku dan Indah pun juga menangis sesegukan.


"Alhamdulillah ... its over ...," pekikku.


"Kita sudah menemukan jenazah Satpam itu, teman-teman," pekik Indah.


Kami bertiga saling berpelukan dengan erat saat itu.


"Terima kasih, Tuhan. Berkat pertolongamu, akhirnya kami dapat menemukan mayat Pak Misnanto," pekikku.


BLEP


Tiba-Tiba lampu di ruangan tersebut menyala. Kami bertiga terkejut.Setelahnya, terdengar derap langkah menuju ke tempat kami berada. Kami belum sempat untuk bersembunyi, orang tersebut sudah sampai di ruangan ini. Kami pun menahan napas saat menoleh ke arah orang yang baru datang tersebut.


"PAK RUDI????" pekik kami bertiga secara bersamaan.


Pak Rudi menatap kami dengan tatapan mata yang dingin. Kami tidak berani bergerak sedikitpun


Kami masih syok karena Pak Rudi sudah mengetahui apa yang baru saja kami lakukan. Kami menunggu apa yang akan dilakukan oleh kepala sekolah. Mata kami melotot ke arah Pak Rudi. Ternyata, beliau mengeluarkan sesuatu dari sakunya. Sebuah benda kecil yang kemudian ia taruh di telinganya.

__ADS_1


"Benar ini nomornya Pak Prapto? Saya tunggu Anda di SMP 14 sekarang juga. Ada murid kami yang menemukan mayat. Sepertinya ini adalah korban pembunuhan yang baru saja kami ketahui," ucap Pak Rudi di benda yang saat itu hanya dimiliki oleh orang-orang kaya itu.


Aku benar-benar terkejut dengan apa yang dilakukan Pak Rudi saat itu. Aku tidak menyangka, ia memiliki nomor telpon Pak Prapto.


"Kalian tidak apa-apa?" tanya Pak Rudi kemudian.


"Ti-ti-tidak! Kami tidak apa-apa, Pak," jawab kami bertiga.


"Syukurlah!!!" jawab Pak Rudi.


"Pak, mohon maaf atas kelancangan kami," ucap Bondan.


"Tidak apa-apa. Kalau tidak begini, mana mungkin mayat Misnanto kalian temukan," jawab Pak Rudi.


"Misnanto? Dari mana Pak Rudi tahu kalau ini mayat Pak Misnanto?" tanyaku.


"Eh ... Maksudku, aku yakin itu mayat Misnanto. Salah satu Mantan Satpam di sekolah ini. Aku tidak percaya kalau ia benar-benar pergi ke luar jawa," ujarnya kemudian.


"Kalian kok sepertinya familiar dengan nama Misnanto?" tanya Pak Rudi lagi.


"Oooo ...," gumam Pak Rudi.


"Sebentar lagi polisi akan datang ke sini. Kalian berilah keterangan yang sesuai dengan apa kalian lihat. Tidak usah takut," ujar Pak Rudi.


"Baik, Pak," jawab kami bertiga.


Tak lama kemudian, Pak Prapto pun datang dengan beberapa anggota polisi yang lain. Setelah pihak polisi datang, anak-anak yang sedang melaksanakan kegiatan pun akhirnya berkerumun di tempat kejadian untuk mengetahui apa yang sedang terjadi. Tidak hanya anak-anak, warga di sekitar tempat kejadian pun ikut berkerumun. Tapi, mereka semua tidak diperkenankan masuk ke lokasi. Mereka hanya menonton petugas yang lalu lalang di tempat itu.


Petugas terus memeriksa tempat kejadian perkara dengan saksama. Dari hasil pemeriksaan diketahui bahwa tengkorak tersebut memang milik Pak Misnanto yang dikabarkan sedang pergi ke luar jawa. Pak Marzuki yang dijemput oleh polisi pun menangis meraung-raung setelah mengetahui bahwa adiknya ternyata tidak pergi ke luar jawa, melainkan sudah tewas di tangan pembunuh.


"Tidaaaaaakk!!!!! Siapa yang membunuh adikku??? Siapaaaaa?" teriak Pak Marzuki di sana.


"Sabar, Bro" Pak Rudi menghibur Pak Marzuki yang kesetanan.

__ADS_1


Polisi terus mengumpulkan barang bukti yang ada di sana. Aku, Indah, Bondan, dan Pak Rudi juga dimintai keterangan di kantor polisi sebagai orang yang pertama kali menemukan tengkorak tersebut.


Setelah kejadian tersebut, sekolah ramai dikunjungi oleh wartawan dan orang-orang yang ingin mengetahui kejadian tersebut. Anak-Anak diliburkan sekolah untuk sementara waktu karena kondisi di sekolah tidak memungkinkan untuk diadakan kegiatan belajar mengajar.


Setelah tiga hari dilakukan penyelidikan dan pemeriksaan, polisi menetapkan seseorang untuk menjadi tersangka pelaku penganiayaan dan pembunuhan terhadap Pak Misnanto. Dan orang itu adalah Mang Dirin.


"Saya tidak menyangka Mang Dirin tega melakukan ini semua. Memang sebelum ia pensiun, ia sempat menghadap ke saya untuk tetap diperkerjakan, tapi saya tolak karena usianya sudah sepuh," bunyi pernyataan Pak Rudi yang dimuat di sebuah media massa.


"Bu Iis benar-benar tidak menyangka, Im. Mang Dirin tega melakukan ini. Dia terlalu baik," ucap Bu Iis padaku.


"Kami terus melacak ke mana perginya pria tua itu, Im. Untuk mempertanggungjawabkan semua perbuatannya," ucap Pak Prapto kepadaku.


Hari itu, aku, Indah, dan Bondan diundang oleh Kapolres untuk mendapatkan penghargaan di alun-alun. Kami mengajak semua keluarga untuk ikut menghadiri kegiatan itu. Selain mendapat hadiah dari Bapak Kapolres, kami juga mendapat hadiah dan ucapan terima kasih dari Pak Rudi. Beliau sempat berkata sesuatu saat memberikan hadiah kepada kita.


"Meskipun apa yang kalian lakukan telah membuat saya kecewa karena harus kehilangan kenangan baik tentang Mang Dirin, tapi saya sangat berterima kasih kepada kalian karena telah melakukan ini semua,"


"Sama-Sama, Pak," jawabku.


Di sana juga hadir Paklik dan Bulik yang juga ikut menyaksikan momen berharga itu.


"Selamat, kalian bertiga memang anak-anak yang hebat," puji Paklik.


"Bukan hanya kami bertiga, Paklik. Tapi ada satu lagi yang membantu kami," jawabku.


" oh ya? Siapa?" tanya Paklik.


"Arini ...," jawabku sambil menarik Arini di tengah-tengah kami.


"Arini???" pekik Bulik sambil menatap tajam ke arah Arini. Arini tersenyum ke arah Bulik.


TAMAT


Terima kasih atas kesetiaan para SOBAT JUNAN untuk terus membaca novel SEKOLAH HANTU sampai tamat. Semoga cerita ini berkesan untuk kalian semuanya.

__ADS_1


Setelah ini saya akan fokus ke cerita MARANTI season ketiga dan DARAH INDIGO.


Tetap ikuti novelku, ya, Kak......


__ADS_2