
Aku menarik napas dalam-dalam tatkala disodorkan sesuatu yang membuat mulutku tercekat seketika. Ya, plat logam yang digunakan sebagai penutup laci itu pasti dulunya adalah plat rumah yang dialihfungsikan oleh Pak Kumis menjadi penutup laci gerobaknya agar lebih awet. Tulisan 'MAWAR 13' itu menandakan bahwa itu adalah bekas plat nomor rumah yang beralamat di jalan Mawar nomor 13.
"Lantas, di manakah posisi rumah nomer 13 itu berada? Apakah rumah itu sudah rusak? Kneapa Pak Kumis bisa memiliki plat nomer rumah itu? Kenapa arwah Pak Satpam mengarahkan kita kepada Pak Kumis? Apa hubungan Pak Kumis dengan arwah Satpam di sekolahku?" Aku bertanya-tanya pada diriku sendiri.
"Im ... Im ...," panggil Arini sambil menepuk bahuku.
"Iya, Rin. Ada apa?" tanyaku kaget.
"Mie ayamnya sudah selesai. Kamu kok bengong sih? Pak Kumis mulai tadi menyodorkan mie ayamnya, kamu malah nggak ngerespons," tegur Arini.
"M-m-maaf ya, Pak!" ucapku pada Pak Kumis sambil merapatkan kedua telapak tanganku di depan dada sebagai bentuk permohonan maafku pada laki-laki itu.
Pak Kumis hanya menganggungkan kepalanya sehingga kepalanya yang terbiasa menunduk menjadi semakin menunduk lagi.
Setelah membayar, kami berdua pun berpamitan kepada Pak Kumis untuk pulang.
"Hati-Hati, Im!" teriak Pak Kumis.
"Bapak kok tahu nama saya?" tanyaku.
"E ... e ... temanmu kan memanggilmu dengan nama itu?" ujar Pak Kumis.
"Ooo ...," jawabku.
Kami berdua pun berjalan menuju halte di sebelah selatan alun-alun. Di sekitar alun-alun ini memang ada dua halte. Yang pertama di depan kantor pos, sedangkan yang kedua di sebelah bank swasta di sebelah timur alun-alun.
Aku masih tidak habis pikir dengan plat logam di laci Pak Kumis tadi. Arini pun masih penasaran dengan sikapku yang seperti orang linglung.
"Kamu kenapa sih, Im, kok mendadak bersikap aneh?" protes Arini.
"A-anu, Rin. Barusan aku melihat sesuatu di gerobak Pak Kumis," jawabku.
__ADS_1
"Kamu ngeliat apa?" tanya Arini mendesakku.
"Aku melihat plat nomor rumah di gerobak Pak Kumis tadi," jawabku.
"Plat nomor rumah apa, Im?" desak Arini.
TIN TIN
Sebuah mobil Angkot berhenti di halte tempat kami berada.
"Terminal, Pak?" tanyaku pada sang sopir.
"Iya. Ayo naik!" jawab Pak Sopir Angkot.
Kami berdua pun naik ke mobil Carry berwarna kuning itu. Kebetulan di dalamnya hanya ada dua penumpang lain selain kami berdua. Yang satu seorang ibu setengah tua berdarah Tionghoa dan satunya mbak-mbak kantoran. Keduanya duduk di dekat pintu, jadi kami berdua harus permisi dulu untuk bisa lewat dan duduk di belakang.
Di kotaku ini, para sopir Angkot kalau pagi hari biasanya enggan membawa penumpang pelajar karena tarif pelajar seperempat dari tarif penumpang umum. Akibatnya banyak siswa terlambat kalau berangkat mepet jam tujuh pagi. Berbeda halnya kalau mereka berangkat jam setengah enam atau jam enam pagi, biasanya Angkot masih mau membawa mereka karena pada jam segitu masih jarang juga penumpang umum.
"Plat nomor apa yang kamu maksudkan tadi, Im?" tanya Arini lagi dengan suara berbisik takut didengar penumpang yang lain.
"Plat yang bertuliskan 'MAWAR 13', Rin," jawabku pelan-pelan.
"APAAAAA?? Kamu tidak salah lihat kan, Im?" tanya Arini seolah tidak percaya.
"Tidak, Rin. Aku benar-benar melihatnya di laci tempat mie mentah pada gerobak Pak Kumis," jawabku lagi.
"Harusnya kamu bilang tadi, Im, supaya aku bisa ngelabrak Pak Kumis," ucap Arini.
"Tidak, Rin. Jangan gegabah. Kita tidak punya alasan dan bukti yang kuat untuk meringkus beliau," jawabku.
"Lantas, apa yang akan kita lakukan, Im?" tanya Arini.
__ADS_1
"Kita harus memantau Pak Kumis dulu. Aku penasaran mengapa ia bisa memiliki plat rumah dengan nomor 13 itu," jawabku.
"Oke, kalau begitu," jawab Arini.
"Berarti maksud dari pesan misterius itu sudah kita ketahui yaitu kita disuruh mencari Pak Kumis. Tapi, kita belum tahu segala sesuatu tentang Pak Kumis dan apa hubungannya dengan arwah Satpam itu," ucapku.
"Iya, Im. Kita harus dapat melacak keterlibatan Pak Kumis dengan kemunculan arwah Satpam itu," jawab Arini.
"Aamiiin," jawabku.
Beberapa menit kemudian, oma-oma Tionghoa itu pun turun dari Angkot dan beberapa waktu kemudian, Mbak-mbak kantoran itu pun ikutan turun.
Angkot pun melaju kembali menyisakan aku dan Arini yang masih beberapa kilometer lagi akan turun. Tak terasa akhirnya Angkot yang kami naiki pun telah sampai di depan SMA 14. Dan tiba-tiba Pak Sopir mengerem kendaraannya dan mobil pun berhenti tepat di depan gerbang sekolah. Kemudian ia membuka jendela mobil dan turun ke luar.
"Mau kemana, Pak?" tanyaku kaget.
"Ini, Le. Saya mau kencing dulu, sudah kebelet,' jawab Pak Sopir sambil berjalan dengan sedikit berlari menuju salah satu pohon di pinggir jalan.
" Duh, untung nggak ada guru di sekolah. Kalau ada, pasti sopir tersebut dimarahi habis-habisan,"kataku pelan.
"Sambil menunggu Pak Sopir kembali dari balik pohon, aku berniat berbincang dengan Arini. Tapi, kami belum memulai pembicaraan, tiba-tiba ada suara langkah kaki sedang menuju ke tempat kami duduk.
Kami berdua memperhatikan bahwa orang tersebut berjenis kelamin laki-laki karena ia memakai celana khas seorang Satpam. Laki-Laki tersebut kemudian mengambil tempat duduk di kursi khusus yang terbuat dari kayu dan diletakkan di dekat pintu. Pandangan kami berjalan mulai dari kaki, semakin ke atas hingga sampai ke wajah pria itu.
Saat pandangan mata kami berdua beradu pandang dengan pria tersebut, kami terkejut sekali. Kami benar-benar syok. Terlebih setelah tahu bahwa Pak Sopir belum juga kembali dari balik pohon tempat ia buang air.
BERSAMBUNG
Beli Pop It harganya empat puluh ribu
Jangan cuma di-read, tapi harus komen yang seru
__ADS_1