SEKOLAH HANTU

SEKOLAH HANTU
BAB 78 : PERMAINAN PERTAMA


__ADS_3

Jatmiko kelihatan sangat marah sekali dengan tingkah temanku, Roni. Tapi, kali ini ia tidak bisa berbuat kasar lagi karena diancam oleh pemilik tempat ini, yaitu Nyi Sukma.


"Peraturan-Peraturan dalam permainan ini :


Satu : Setiap peserta boleh memilih untuk tidak memainkan permainan ini dengan risiko akan dikembalikan ke hutan dan selamanya akan tersesat di hutan dan tidak bisa masuk ke tempat ini lagi.


Dua : Permainan ini terdiri atas empat babak. Babak pertama adalah menyeberangi sungai. Babak kedua adalah berenang di kolam. Babak ketiga adalah main jungkat-jungkit. Dan yang terakhir adalah pesta kebun." Jatmiko membacakan peraturan.


"Ha ha ha ... Permainan kayak gitu mah cocoknya buat anak kecil. Bukan buat kami!" teriak Roni.


Jatmiko kali ini tidak menggubris ucapan anak itu. Ia lebih memilih untuk melanjutkan membaca peraturan permainannya.


"Tiga : Setiap peserta yang gagal di babak satu, dua, dan tiga, akan menjadi penjaga di sini selamanya.


Empat : Setiap peserta yang mundur sebelum menyelesaikan semua babak, akan dikembalikan ke tempat semula sebelum tersesat, tapi dalam keadaan bisu dan tuli untuk selamanya.


Lima : Setiap peserta yang gagal di babak akhir, akan mendapatkan hadiah istimewa.


Enam : Setiap peserta yang mampu menyelesaikan semua babak, maka akan dikembalikan ke tempat semula dalam keadaan utuh tanpa kekurangan satu apapun.


Itulah aturan-aturan umum dalam permainan ini. Apakah ada pertanyaan?" tanya Jatmiko.


"Oke. Kami sudah paham dengan aturan-aturan yang kamu bacakan barusan. Kapan kita akan memulai permainannya?" tanya Faisal.


"Segera. Setelah saya meninggalkan tempat ini, petugas dari permainan pertama akan datang untuk membimbing kalian menghadapi permainan babak pertama, yaitu menyeberangi sungai," jawab Jatmiko.


"Oke. Buruan kamu pergi sana! Aku sudah muak melihat wajahmu!" ledek Roni lagi.


Nampak sekali Jatmiko kesal dengan ledekan Roni. Tapi, kali ini ia harus menahan kemarahannya karena takut ditegur lagi oleh Nyi Sukma.


"Tunggu saat kekalahanmu, Ron. Jangan sampai kamu gagal sebelum babak akhir karena kalau sampai hal itu terjadi, maka kamu akan menjadi kacungku selamanya. Ha ha ha ...," tawa Jatmiko sambil berlalu meninggalkan kami berenam.


"Ron, kamu kok kebangetan, sih?" bisikku pada Roni setelah Jatmiko pergi.


"Biarin, Im. Aku paling benci pada orang sombong seperti Jatmiko. Baru jadi asistennya Nyi Sukma saja sudah berlagak seperti itu," jawab Roni.


"Takutnya Jatmiko malah dendam sama kita dan berencana mencelakai kita di belakang," terangku.


Tap Tep Tap Tep


Suara langkah kaki seseorang sedang berjalan mendekati kami.


"Saya adalah petugas yang berjaga di babak pertama yaitu permainan menyeberangi sungai. Saya akan membacakan aturan-aturan permainan ini.

__ADS_1


Pertama : Kalian akan menyeberangi sungai di depan kalian ini dengan menggunakan jembatan itu. Jembatan itu ditopang oleh pengait di masing-masing sisinya.


Kedua : Kalian akan menyeberangi jembatan itu secara bersamaan. Dengan urutan sesuai dengan urutan kedatangan kalian di sini.


Ketiga : Jembatan itu dibangun dari bilah-bilah kayu yang hanya mampu menopang satu orang untuk satu bilah. Bisa dipastikan kalau satu bilah kayu diisi dua orang maka akan jebol dan kalian akan jatuh ke bawah dan mati.


Keempat : Kalian hanya diberi waktu lima menit untuk bisa sampai di seberang. Lebih dari itu maka jembatan ini akan ambruk.


Kelima : Setiap setengah menit, tali pengait jembatan akan diputus satu. Total keseluruhan ada 10 tali pengikat. Jadi kalau lima menit kalian belum berhasil sampai di seberang, maka jembatan ini akan ambruk.


Keenam : Ketika kalian menginjak bilah kayu atau berpindah dari satu bilah kayu ke bilah kayu yang lain, kalian harus melakukannya secara perlahan-lahan, tidak boleh menimbulkan suara. Karena kalau menimbulkan suara maka satu bilah di seberang sana akan jatuh ke tanah secara otomatis. Jika sampai banyak bilah yang jatuh ke bawah, otomatis ketika kalian akan sampai di seberang, maka posisi kalian akan jauh dari ujung jembatan dan kalian harus melompat nantinya.


Ketujuh : Jika ada satu orang yang jatuh, maka satu bilah kayu di seberang akan kembali utuh dan satu ikatan tali akan tersambung lagi.


Ada yang mau ditanyakan?" tutur pria itu.


"Aku rasa semuanya sudah jelas, kok!" jawabku.


"Baiklah, kalau begitu. Sebelum kita mulai permainan ini, saya ingin menanyakan kepada kalian, apakah ada yang tidak bersedia mengikuti permainan ini?" tanya pria itu.


Kami berenam saling menoleh. Aku yakin, semua teman-temanku berpikir. Kalau mereka tidak mau mengikuti permainan ini, maka mereka harus siap hidup selamanya di hutan.


"Tidak! Saya siap mengikuti permainan ini," jawab Faisal.


"Saya siap!" jawabku.


"Saya siap!" jawab Ikbal.


"Saya siap!" jawab Roni.


"Saya siap!" jawan Andre.


"Kamu gimana, Mbak?" tanya pria itu kepada Dinda.


"Saya siap juga, Kak!" jawab Dinda.


"Baiklah, karena semua sudah siap. Silakan kalian berdiri di depan jembatan dengan urutan sesuai kedatangan kalian!" teriak pria itu.


Kami berenam pun melaksanakan perintah pria tersebut untuk berdiri berjajar di depan jembatan. Kami berbaris sesuai dengan urutan kedatangan. Pertama Faisal, kemudian Roni, kemudian Andre, diikuti Ikbal, Dinda, dan aku paling belakang.


"Ya Tuhan! Ternyata jurangnya jangat dalam sekali. Mustahil, manusia yang jatuh ke bawah akan tetap hidup," gumam Faisal.


"Iya, benar, Sal!" sahut yang lain.

__ADS_1


"Aku sampai gemetaran, Sal, saking takutnya," ujar Dinda.


"Tahan, ya, Din! Jangan sampai kamu menyeberang dalam keadaan gemetaran. Bisa-Bisa itu mengakibatkan satu persatu bilah kayu di sebrang ambruk," pesanku.


"Iya. Beri aku waktu beberapa menit untuk menenangkan diri!" ujar Dinda.


"Gimana, apa sudah siap?" tanya pria itu lagi.


"Jangan dulu! Tunggu dua menit lagi. Aku masih gemetaran," jawab Dinda.


"Baiklah, aku beri kalian 5 menit untuk mempersiapkan diri," ujar pria itu.


Akhirnya, kami memanfaatkan waktu lima menit tersebut untuk menenangkan diri. Setelah la menit, pria itu kembali berbicara.


"Kita tidak punya waktu lebih. Sekarang saatnya kita memulai permainan ini," teriak pria itu.


"Baiklah," jawab kami semua.


"Silakan kalian kembali mengatur posisi siaga seperti tadi!" ujar pria yang juga tampan itu.


Kami pun kembali ke posisi seperti tadi.


"Satu ... Dua ... Tiga ...," teriak aba-aba dari pria itu.


Mendengar aba-aba itu, Faisal langsung berjalan di atas bilah kayu. Ia sudah berhasil berjalan tiga bilah, tapi ia kurang menjaga suara yang diakibatkan oleh gesekan kakinya dan bilah kayu itu sehingga berakibat fatal.


Wuuussss ...


Salah satu bilah di ujung seberang jatuh ke bawah.


"Jangan cepat-cepat, Sal. Bilah kayu yang di ujung sana ada yang lepas satu akibat kamu bergerak terlalu cepat. Kalau sampai ada banyak bilah yang lepas di unung sana, kita akan kesulitan untuk melompat dari jembatan ini ke bantaran sungainya," terang Dinda.


"Oke. Maafkan aku, Teman-Teman!" ujar Faisal.


Kami pun bergerak secara perlahan untuk menginjak bilah kayu di belakang Faisal secara berurutan. Faisal, Roni, dan Andre sudah berada di atas jembatan, sedangkan Dinda, Ikbal, dan Aku masih menunggu mereka bertiga melangkah lagi.


"Aduh!" pekik Dinda.


BERSAMBUNG


Hayo, like dan komennya mana, nih? Katanya mau crazy up?


__ADS_1


__ADS_2