
Mimpi semalam terasa begitu nyata dan sangat mengganggu pikiranku. Sampai sekarang aku masih bingung apa hubungan dari kemunculan arwah Satpam dan kata 'MAWAR' itu. Keesokan harinya, aku, Bondan, dan Indah pun membahas tentang hal itu.
"Bondan ... Indah ... semalam arwah Satpam itu datang ke dalam mimpiku," ujarku memulai pembicaraan.
"Sama, Im. Arwah Satpam itu juga menggangguku," jawab Indah.
"Ternyata bukan aku saja yang didatangi oleh arwah Satpam itu," jawab Bondan.
"Apa??" Aku dan Indan secara bersamaan memekik heran dengan jawaban Bondan.
"Berarti ia mendatangi kita bertiga," ujarku.
"Coba ceritakan mimpimu dulu, Im!" tegas Indah
"Aku mimpi terkurung di rumah tua. Pintunya ketutup rapet semuanya. Habis itu terdengar suara jeduk-jeduk di tembok belakangku bareng ada teriakan minta tolong dari balik tembok itu. Otomatis aku nyariin celah untuk bisa tahu ada apa di balik tembok itu. Aku cari-cari nggak ketemu pintu masuknya. Malahan temboknya berdenyut kemudian rontok menjadi lubang-lubang dan membentuk tulisan 'MAWAR'. Karena kaget aku oun mundur. Tiba-Tiba aku merasa empuk-empuk di belakangku. Nah, pas aku toleh ternyata Satpam itu sudah berdiri di sana dengan wajah dipenuhi darah segar. Aku pun terbangun dari tidurku seketika. Oh, ya, pas di perpustakaan itu juga aku ketemu tulisan yang sama di tembok perpustakaan. Sampai sekarang aku masih bingung apa makna di balik tulisan itu," tuturku panjang lebar.
"Sekarang ceritakan gangguanmu, Ndah!" ujarku pada teman cewekku itu.
"Kemarin itu pas aku naik Angkot. Aku kan kewat alun-alun kot. Tiba-Tiba pas di alun-alun itu telingaku mengalami gangguan. Aku tidak mendengar suara apa pun termasuk bunyi mesin Angkot. Aku mengucek-ngucek telingaku dengan kebingungan, tapi sia-sia saja. Aku tetap tidak dapat mendengar apapun. Hingga akhirnya, ketika Angkot yang kunaiki sudah hampir selesai memutari alun-alun, aku mendengar suara dari arah luar mobil. 'Sini, Ndah ... Tolong aku, Ndah ...,' suara itu terdengar memilukan dan bikin serem. Bulu kudukku sampai berdiri dibuatnya. Setelah melewati alun-alun, suara itu pun menghilang dan pendengaranku kembali normal," tutur Indah.
"Ndah, apa itu ada hubungannya dengan suara desahan yang kamu dengar di kamar mandi yang mengatakan 'Alun-Alun' beberapa kali?" tanyaku.
"Sepertinya begitu, Im. Aku juga masih bingung," jawab Indah.
"Sekarang giliranmu, Ndan, untuk menceritakan pengalaman serammu," ujarku.
"Iya, Im. Aku juga mengalami hal aneh mulai kemarin. Pas pulang ke kost-kostan tiba-tiba pandanganku tertuju pada nomer kamarku ternyata nomor 13. Kemudian aku membaca majalah misteri di kamar. Karena ada yang ketok-ketok pintu, aku pun membuka pintu kamarku, tapi di luar tidak ada siapa-siapa. Aku pun kembali ke kasur untuk melanjutkan bacaanku. Anehnya, halaman yang terbuka di majalah adalah halaman 13," ujar Bondan.
"Mungkin itu hanya kebetulan, Im!" tegurku.
"Tidak, Im. tidak cukup hanya di situ saja. pas malamnya aku beli makanan di warung depan. Aku hitung kecambahnya ada 13 potong. Nasi yang kumakan ada 13 sendok dan jumlah pengunjung di ruangan itu ada 13 orang," lanjut cerita Bondan.
__ADS_1
"Ah, itu efek parno saja paling, Ndan," sela Indah.
"Tidak, Ndah. Sepertinya semuanya ini bukan kebetulan semata. Pasti ada sesuatu dengan angka 13 itu. Bayangkan, tadi malam aku tiba-tiba terbangun tengah malam dan mendengar bunyi jam dinding sebanyak 13 kali. Padahal jam dindingku kalau jam satu malam biasanya bunyi satu kali saja. Belum lagi, aku seperti mendengar suara seseorang berbisik dari balik pintu, seolah berkata 'tiga belas' beberapa kali. Tau nggak, tadi pas aku mau berangkat, di depan kamar kostku ada sekumpulan burung merpati jumlahnya juga 13 ekor. Aku bisa gila dengan semua ini, Im," jawab Bondan.
"Sepertinya arwah Satpam itu sedang berusaha memberi kode kepada kita bertiga," ucapku.
"Maksudmu apa, Im?" tanya Indah.
"Mungkin ia ingin menyampaikan pesan kematiannya kepada kita bertiga. Sayangnya, pesan-pesan itu terlalu abstrak buat kita bertiga," jawabku.
"Im, sepertinya di antara kita bertiga, pesan kepadaku yang lebih jelas. Bagaimana kalau kita bertiga nanti pergi ke alun-alun sesuai dengan pesan yang disampaikan kepadaku?" ujar Indah.
"Benar juga apa yang disampaikan oleh Indah barusan, Im. Kita ke alun-alun saja dulu untuk mengikuti pesan yang ditujukan kepada Indah. Nanti sesampai di sana, baru kita mencari info lain yang berhubungan dengan angka 13 atau kata 'MAWAR'!" ujar Bondan.
"Ide yang bagus itu, Ndan. Oke, nanti pulang sekolah, kita akan bersama-sama menuju ke alun-alun!" ujarku.
"Baiklah," jawab Indah.
"Ceeewek?" Aku bertanya dengan nada bingung.
"Arini, Im" jawab Bondan.
"Semprul kamu, Im!" jawabku sambil kupukul lengan temanku itu.
Seharian itu kami bertiga tidak ada yang berani menyendiri karena takut didatangi hantu Pak Satpam lagi. Pas tiba saat salat Zuhur, semua warga sekolah dikejutkan dengan suara erangan salah satu siswi yang mendadak mengalami kesurupan di gedung laboratorium bahasa yang berada di lantai dua di sebelah timur. Untunglah waktu itu ada Pak Salam, guru agama kami yang membantu menyadarkan anak bernama Suci itu. Ada desas-desus yang sempat beredar bahwa Suci naik ke lantai dua pada saat ia sedang mengalami haid.
"Si Suci sih berani-beraninya naik ke Lab bahasa dalam keadaan datang bulan," ucap seorang siswi dari kelas sebelah.
"Emang kenapa, kan itu bukan musala?" protes teman yang diajak berbicara.
"Iya. Tapi, sudah jadi mitos di Lab Bahasa kalau naik ke sana tidak boleh dalam keadaan kotor begitu," jawab anak yang pertama.
__ADS_1
"Kenapa bisa begitu?" tanya temannya.
"Aku juga tidak tahu. Aku cuma dapat info tersebut dari salah satu kakak kelas yang kebetulan sekolah di sini juga," jawabnya.
"Ooo ...,"
Itulah percakapan yang sempat kudengar siang itu. Tak banyak informasi yang kudapat dari oercakapan mereka berdua karena mereka juga siswa baru sama sepertiku.
Hari ini kegiatan MOS selesai lebih awal karena pemateri yang akan mengisi di sesi terakhir berhalangan hadir. Aku, Indah, dan Bondan menggunakan kesempatan ini untuk menjalankan rencana kami bertiga yaitu pergi ke alun-alun. Kami bertiga pun berangkat bersama-sama naik Angkot ke alun-alun.
"Im," panggil Bondan di dalam Angkot.
"Iya? Kenapa, Ndan?" sahutku.
"Tadi pas istirahat, kebetulan aku main ke belakang. Aku lihat Arini sedang main basket di lapangan sebelah," ucapnya. Memang sih, antara sekolahku dan sekolah Arini ada pintu kecil yang dipagari besi. Meskipun tidak bisa dilewati, dari pintu kecil itu masih bisa terlihat aktivitas di lapangan sebelah.
"Terus?" tanyaku.
"Aku bilang ke dia. Kita bertiga mau ke alun-alun sepulang sekolah. Aku minta dia untuk datang menyusul ke alun-alun," jawab Bondan.
"Oalah ... harusnya kamu nggak usah ajak dia, Ndan," ucapku.
"Halah ... apa kamu yakin masih bisa bersemangat kalau nggak ada dia?" ujar Bondan.
"Sialan kamu, Ndan!" jawabku kesal.
BERSAMBUNG
Ke alun-alun beli rambutan
Kamu semua masih setia, kan?
__ADS_1