SEKOLAH HANTU

SEKOLAH HANTU
BAB 51 GUBUK


__ADS_3

Setelah membayar es teh dan kue yang kami makan, kami pun mohon pamit kepada Kakek Sugik dan Nenek Inggrid untuk melanjutkan perjalanan. Tentunya kami tidak berkata jujur kepada mereka berdua mengenai tujuan kami selanjutnya agar tidak membuat mereka berdua curiga.


Tujuan perjalanan kami saat ini adalah memeriksa gubuk Pak Marzuki. Kedatangan kami ke gubuknya tak lain dan tak bukan adalah untuk mengumpulkan bukti-bukti lain di sana. Karena jarak yang tidak begitu jauh antara warung Kakek Sugik dan gubuk Pak Marzuki di jalan Mawar nomor 13, maka kami hanya membutuhkan waktu beberapa menit saja untuk sampai di tempat yang kami maksudkan.


"Ternyata lahan kosong ini dulunya adalah rumah impian keluarga Pak Misnatun bersama istri dan kedua anaknya," ucap Indah lirih.


"Rumah yang dibangun dengan penuh cinta dan perjuangan telah raib dalam sekejap dan menyisakan dua bersaudara yang harus terpisah karena keegoisan semata," tambahku.


"Im ... Aku masih berharap, Pak Marzuki bukanlah penyebab terbunuhnya adik angkatnya. Kasihan Pak Misnatun dan Bu Misnatun jika hal itu sampai terjadi. Betapa kecewanya mereka di sana karena telah membesarkan seorang anak yang bukan darah dagingnya yang diharapkan bisa berhubungan baik dengan anak kandungnya, malah justeru menghancurkan masa depan adik angkatnya itu," ujar Indah.


"Iya, Ndah. Aku juga berharap begitu, Ndah. Tapi dari bukti-bukti yang kita miliki dan kesaksian orang-orang yang mengenal mereka berdua, sepertinya Pak Marzukilah yang ada di balik semua kejadian ini," jawabku.


"Ayo, kita bergerak saja! Mumpung keadaan sedang sepi. Semoga nanti kita menemukan bukti tambahan di sana," ujar Bondan.


Setelah tertegun selama beberapa detik, kami bertiga pun memulai penyelidikan di tempat tersebut. Bondan sengaja kami beri tugas untuk berjaga di jalan agar ia dapat memberi kode kepada kami berdua jika ada orang lain yang sedang melintas di sana. Sedangkan aku dan Indah bertugas untuk memeriksa barang-barang di sekitar lokasi.


"Awas, Ndan. Kalau ada orang lewat, kamu buruan kasih kode kepada kami, ya?" ucapku pada temanku itu.


"Oke, sip, Bos!" jawabnya enteng.


Setelah menoleh ke kiri dan ke kanan dirasa aman, aku dan Indah pun masuk ke pekarangan kosong itu dengan perasaan was-was. Kami berdua melangkah melalui sisa-sisa pondasi yang sebagian sudah rata dengan tanah.


"Hati-Hati kena paku atau beling, Ndah!" ucapku.


"Iya, Im. Terima kasih," jawabnya.


Setelah berjalan kurang lebih dua puluh langkah, akhirnya kami berdua sampai di pohon yang agak rindang. Aku dan Indah kembali menoleh ke belakang untuk memastikan kondisi benar-benar aman. Setelah yakin dengan situasinya kami pun melangkah ke balik pohon itu.


"Ya Tuhan ...." Aku memekik kaget.


"Ternyata di balik pohon ini ada tempat yang cukup luas ya, Im? Aku nggak nyangka banget. Kirain nggak ada apa-apa di sini," ujar Indah spontan.


"Iya, Im. Pinter juga Pak Marzuki menata barag-barang ini, ya? Semuanya ditutup dengan terpal jadinya meskipun hujan, barang-barangnya tidak akan rusak," tambahku.


"Ini juga ada kayu-kayu yang ditata rapi. Mungkin Pak Marzuki menggunakannya sebagai tempat duduk," ujar Indah.


"Kalau dari modelnya, kayaknya beberapa tempat duduk ini bisa digabung menjadi satu dan bisa dijadikan tempat tidur," tambahku.


"Iya, benar, Im. Kreatif juga orang itu!" imbuhnya.


"Ndah, tapi semua kotak-kotak ini digembok rapat kayaknya. Ini buktinya!" ujarku sambil menunjukkan laci yang digembok dengan kuat.

__ADS_1


"Iya, Im. Mungkin kalau tidak digembok, barangnya bisa dicuri oleh pemulung," ujar Indah.


"Terus, apa yang harus kita lakukan sekarang? Mau membobol gembok-gembok ini?" tanyaku.


"Emang kamu bisa, Im?" tanya Indah.


"Mau dibobol pakai apa? Pakai batu? Ntar mengundang suara bising didengar tetangganya Pak Marzuki, bagaimana? Kita bisa dihajar massa," jawabku.


"Iya juga, Im. Jangan, dah! Tapi, sekarang kita ngapain di sini kalau nggak bisa dapat apa-apa?" tanya Indah.


"Tunggu, Ndah. Ayo, kita cari-cari saja benda di sekitar tempat ini yang mungkin berguna tanpa harus membuat kerusakan," ujarku.


"Oke, Im!" jawab Indah.


Kami berdua terus mengedarkan pandangan ke sekeliling tempat itu untuk mencari barang bukti yang mungkin berkaitan dengan kasus pembunuhan yang menimpa adik angkat Pak Marzuki. Saat kami berdua berkonsentrasi untuk mencari-cari sesuatu di sana, tiba-tiba kami mendengar suara tepukan tangan dari Bondan.


"Ndah, sembunyi dulu. Situasi tidak aman," teriakku pada Indah.


Kami.berdua pun bersembunyi di balik kotak-kotak penyimpanan barang milik Pak Marzuki sambil mengintip ke arah jalan. Dari kejauhan kami melihat Bondan sedang berbicara dengan seorang laki-laki. Kemudian laki-laki itu memandang ke arah persembunyian kami. Kami sempat ketakutan laki-laki itu akan datang ke sini dan mengetahui keberadaan kami berdua. Tapi, dugaanku kami keliru. Setelah berbincang sejenak dengan Bondan, laki-laki itu pun pergi. Bondan kembali menoleh dan tersenyum ke arah kami pertanda situasi kembali aman terkendali.


"Ayo, Im. Kita kembali beraksi!" ujar Indah.


"Ada apa, Im?" tanya Indah.


"Coba kamu perhatikan sudut kotak di belakangmu!" jawabku.


Indah pun menoleh ke belakang ke arah sudut kotak tempat ia bersembunyi.


"Loh, kotak ini berlubang, Im," pekik Indah.


"Iya, Ndah. Sepertinya kita bisa memeriksa isi di dalam kotak itu melalui lubang tersebut," jawabku.


"Iya, Im. Ayo, kita coba mumpung ada kesempatan," jawab Indah.


Indah pun mundur untuk memberikan kesempatan kepadaku memasukkan tangan ke dalam lubang tersebut. Indah memperhatikan pergerakanku dengan penuh tanda tanya.


"Aduh, lubangnya terlalu sempit, Ndah. Tanganku nggak bisa masuk ke dalam," ujarku.


"Coba aku, Im!" jawab Indah menawarkan diri.


"Kamu berani, Ndah?" tanyaku tidak percaya.

__ADS_1


"Berani lah. Nggak mungkin isinya ular, kan?" tanya Indah.


"Oke ... Hati-Hati, ya!" jawabku sambil beringsut mundur dan memberikan kesempatan kepada Indah untuk memasukkan tangannya ke lubang yang berukuran cukup kecil itu.


Aku memperhatikan Indah yang memasukkan tangannya ke dalam lubang itu dengan perasaan was-was. Indah tidak sedikitpun menunjukkan ekspresi takut. Ternyata mental anak perempuan di depanku ini benar-benar sudah terlatih.


"Aduh!!!" pekik Indah tiba-tiba sesaat ketika ia baru memasukkan tangannya ke dalam lubang itu.


"Kenapa, Ndah?" tanyaku dengan cemas.


Indah menarik tangannya keluar dari lubang sempit itu. Ternyata jari telunjuk Indah berdarah.


"Ya Tuhan, apa yang terjadi dengan tanganmu, Ndah?" tanyaku panik begitu melihat ada darah di telunjuk temanku ini.


"Cepat ambilkan sapu tangan dan sarung tangan di tasku bagian depan, Im!" ujar Indah sambil menahan rasa sakit di tangannya yang terluka.


Aku pun buru-buru mengambil barang yang diminta oleh teman perempuanku tersebut. Luka di telunjuk Indah kubalut dengan sapu tangan. Awalnya darahnya mengucur deras, tapi setelah dibalut dengan sapu tangan darah di telunjuk Indah pun berhenti keluar.


"Tanganmu kena benda apa, Ndah?" tanyaku lagi sambil meringis membayangkan sakit yang dirasakan oleh Indah.


"Di dalam sana ternyata ada pisau kecil yang tanpa sengaja melukai telunjukku, Im," jawab Indah.


"Pulang yuk, Ndah!" ajakku pada temanku itu dengan wajah tak tega melihatnya terluka.


"Tidak, Im. Aku mau memasukkan tanganku lagi ke kotak itu," jawab Indah dengan yakin.


"Apa???" pekikku kaget.


BERSAMBUNG


Hai, Sobat Junan ...


Kira-Kira apa alasan Indah kekeuh mau memasukkan tangannya lagi ke dalam kotak tersebut?


Ada benda apa di dalam sana, ya?


Apakah mereka akan ketahuan?


Ayo berikan like, komen, dan vote untuk episode kali ini.


Makasih atas atensinya, ya, Kak ....

__ADS_1


__ADS_2