
Mata Indah membulat menunjukkan rasa keterkejutannya sehingga membuat aku dan Bondan kebingungan.
"Ada apa sih, Ndah?" tanyaku sekali lagi kepada teman cewek seangkatanku itu.
Indah memajukan badannya sedikit kemudian ia pun berkata dengan suara pelan.
"I-tu di belakang kalian."
Aku pun segera menoleh ke arah belakang dan ternyata di belakang kami berdua sudah berdiri sesosok tubuh dengan perawakan sedang dan cukup gempal. Di tangannya ia membawa benda berbentuk kotak berwarna merah. Sepertinya benda tersebut agak berat untuk dibawa.
"Mereka semua teman-teman saya, Pak," cetus Arini memecahkan suasana.
"Oooo ... Apa mereka mau pesan mie ayam juga, Dik?" ucap bapak berkumis tebal dengan suara cukup menggelegar.
"Tidak, Pak!" seru Indah tiba-tiba.
"Kenapa nggak pesan, Kak? Biar aku yang bayar," sela Arini.
"Nggak usah repot-repot, Rin. Biar kamu saja yang makan mie ayam. Kami pesan es teh saja," jawabku.
"Kenapa, Im?" tanya Arini lagi dengan sedikit memaksa.
"Aku keburu ingin mengajak kalian ke suatu tempat," ujar Indah memotong.
"Kita mau kemana, Kak?" tanya Arini.
"Aku mau mengajak kalian bertiga ke rumah temanku. Dia tinggal tidak jauh dari sini," jawab Indah.
"Ngapain, Ndah? Kalau itu nggak ada hubungannya dengan misi kita, mending nggak usah. Biar kita berempat pulang saja dulu. Besok kita lanjutkan misi kita," protesku.
"Kalian ini ada misi apaan sih, aku kok nggak paham?" celetuk Arini.
"Sudah. Anak kecil nggak usah banyak tanya. Ntar kamu akan tahu-tahu sendiri nanti," sela Bondan.
"Jahat sekali kamu, Ndan. Aku disuruh ke sini ya kesini, meskipun aku tidak begitu jelas dengan misinya" protes Arini.
"Ssssst!!!," Aku memberi kode kepada Arini untuk diam sambil melirik kepada Pak Kumis yang sedang memasak mie.
Arini diam setelah mengerti maksud dari kode yang kuberikan. Tak lama kemudian, mie ayam pesanan Arini dan es teh pesananku pun siap terhidang di atas meja.
__ADS_1
"Hm ... enak sekali mienya. Rugi kalian nggak mau aku traktir. Sruuuup," ujar Arini.
"Sudah. Buruan kamu habiskan saja mie ayammu itu, Rin!" tegurku pada anak tomboy tapi sedikit manja di depanku itu.
"Oke, Bos. Srrrrrrruuuuuuup!!!" jawab Arini sambil dengan sengaja menyeruput mie ayam di depannya dengan ekspresi yang dibuat-buat.
Kami bertiga pun dengan segera menyeruput es teh yang sudah terhidang di atas meja. Dalam beberapa tegukan saja, es teh di gelas kami pun ludes hampir bersamaan dengan selesainya Arini memakan mie ayamnya. Padahal mie ayamnya lebih dahulu selesai dibandingkan es teh kami semuanya.
Pak Kumis masih saja sibuk dengan pekerjaannya di balik rombong. Kami berempat tidak banyak berinteraksi dengan bertatapan dengan beliau karena beliau seperti menghindari bertatapan langsung dengan kami. Aku juga tidak begitu hapal dengan wajahnya, kecuali kumisnya yang sepertinya sengaja dipanjangkan. Mungkin karena kumisnya sudah menjadi brand dari mie ayam jualannya.
Tibalah saatnya bagi kami untuk membayar semua yang sudah kami pesan. Aku menjulurkan uangku kepada Pak Kumis, tapi ditepis oleh Arini. Arini membayar semua makanan dan minuman yang terhidang di atas meja.
"Terima kasih, Dik!" seru Pak Kumis.
"Iya, Pak. Sama-Sama. Ngomong-Ngomong, Kenapa tadi bapak lama sekali mengambil mie ayam mentahnya? Apa rumah Bapak agak jauh dari tempat ini?" tanya Arini.
"Ooooh tidak, Dik. Rumah saya tidak begitu jauh dari sini. Cuma, tadi pas saya mau kembali ke sini, tiba-tiba ada masalah dengan grendel pagar. Ya sudah saya benerin grendelnya dulu, baru setelah selesai saya ke sini. Mohon maaf ya, Dik, karena sudah membuat kalian semua menunggu cukup lama di sini," jawab Pak Kumis dengan sangat sopan.
"Oooh begitu. Tidak kok, Pak. Tidak masalah bagi kami," jawabku dengan sopan juga.
"Oh ya, kalau boleh tahu rumah Bapak di mana sih?" tanya Arini tiba-tiba.
"Bapak lewat mana tadi?" tanya Arini lagi.
"Kamu sok ngurus saja, Rin, masa sampai tanya rumah bapak itu segala," protes Bondan.
"Aku kan penasaran, Ndan. Aku sudah lama langganan sama bapak ini, tapi belum tahu tempat tinggalnya. Siapa tahu aku nanti mau pesan banyak untuk acara kematian ayahku, kan enak kalau tahu rumahnya," jawab Arini.
"Iya, nggak apa-apa kok, Dik. Banyak kok orang-orang yang datang ke rumah untuk memesan mie ayam untuk acara keluarga mereka," sela Pak Kumis.
"Tuh kan nggak apa-apa tanya begitu. Kamu aja, Ndan, yang selalu jahat sama aku," protes Arini
"Sudah ... Sudah ... nggak usah bertengkar dengan temannya. Nggak baik, siapa tahu nanti kalian berdua ternyata berjodoh bagaimana?" ucap Pak Kumis itu dengan masih menunduk.
"He he he ...," tawaku dan Indah. Sedangkan Arini dan Bondan sama-sama sewot.
"Maaf, saya cuma bercanda. Oh ya, rumah saya berada di jalan mawar, jadi saya ke sini lewat jalan yang sebelah kiri itu. Nanti tembusnya ke belakang deretan gedung-gedung tinggi itu," jawab Pak Kumis masih dengan menahan senyum di bibirnya.
"Oalah, di situ toh, Pak," jawab Arini.
__ADS_1
"Iya, Dik," jawab Pak Kumis kalem.
Setelah itu Pak Kumis melanjutkan aktivitasnya merajang bawang di balik gerobak dorongnya. Sedangkan kami berempat siap-siap untuk pergi ke rumah teman Indah.
Tiba-Tiba ...
Bondan menghentikan aktivitasnya. Disusul kemudian Indah juga menghentikan aktivitasnya. Kemudian aku. Selanjutnya sepasang mata kami bertiga saling bertatapan. Secara bergantian aku melirik ke arah Bondan dan Indah. Mereka juga sama melirik kepada teman yang lain secara bergantian. Selanjutnya kami bertiga secara kompak melotot dan menutup mulut kami.
"JALAN MAWAR???" gumamku di dalam hati.
Aku tidak berani bersuara karena takut didengar Pak Kumis. Begitu pula dengan kedua temanku itu. Sementara Arini masih sibuk dengan aktivitasnya merapikan uangnya di dompet setelah pembayaran barusan dan memasukkannya ke dalam tas punggung yang ia bawa.
Kami bertiga bangkit dari tempat duduk secara bersamaan. Ada perasaan senang yang tiba-tiba hinggap di dada kami. Kami seolah-olah habis menemukan emas segunung.
"P-pak, terima kasih. Kami pamit dulu," ucapku dengan mengatur napas agar tidak dicurigai oleh Pak Kumis.
"Iya, sama-sama, Dik. Hati-Hati di jalan," jawab Pak Kumis dengan suara bass-nya.
Aku menarik lengan Arini supaya bangkit berdiri.
"Ayo, kita berangkat!" bisikku pada perempuan itu.
"Kita mau ke mana, Im?" tanya Arini.
"Ke rumah temannya Indah," jawabku kalem.
"Apa tidak besok saja?" protes Arini.
"Tidak! Sekarang saja," jawabku sambil menarik lengan Arini untuk melangkah bersamaku.
Sementara di belakang kami, Pak Kumis masih sibuk merajang bawang dengan menyungging senyumannya yang misterius.
BERSAMBUNG
Pergi ke pelabuhan membeli ikan Louhan
Yang baca ribuan, tapi yang komen hanya puluhan
Jangan hanya jadi silent reader, dong!
__ADS_1