
Bapak dan aku terperangah saat mendengar cerita ibu barusan. Bahkan bapak yang saat itu sedang menyantap mie ayam, tanpa beliau sadari mie yang ia makan tidak sempat ditelan dan menggantung dari mulut ke piring dalam keadaan mulut menganga.
"Astagfirullah ...," pekikku.
Aku benar-benar terkejut dengan cerita ibuku tersebut. Awalnya kupikir beliau hanya melihat perkelahian biasa, ternyata sebuha penganiayaan yang berujung maut.
"Ibu dan Bu Menik tidak berteriak saat itu?" tanyaku spontan.
"Jangan ditanya lagi, Im. Ibu dan Bu Menik berteriak histeris saat itu sehingga mengundang pekerja lain yang baru saja selesai menghabiskan waktu istirahat siangnya untuk datang ke tempa ibu dan Bu Menik berada.
"Berarti mereka semua melihat mayat itu?" cecarku.
"Sayangnya, Tidak, Im," jawab ibu kecewa.
"Maksud ibu, bagaimana?" tanyaku lagi dengan semakin penasaran.
"Mereka bergantian naik ke atas belandar tembakau untuk mengintip melalui lubang angin itu, tapi mereka tidak melihat pemandangan yang seperti ibu lihat. Beberapa dari mereka malah menghujat ibu dan Bu Menik telah membuat kegaduhan dan mengganggu waktu istirahat mereka," jawab ibu lesu.
"Setelah itu ibu dan Bu Menik apa tidak melihat lagi ke lubang angin itu untuk memastikan hal itu?" tanyaku.
"Sudah! Ibu dan Bu Menik kembali melihat melalui lubang angin itu lagi," jawab ibu lagi.
"Terus, hasilnya bagaimana?" tanyaku penasaran.
"Nihil, Im. Mayat itu sudah tidak ada lagi di sana. Bahkan, perabotan yang sebelumnya acak-cakan di dalam ruangan itu sudah kembali posisinya seperti semula. Malahan saat ibu melihat ada seseorang sedang duduk di balik meja sambil menulis sesuatu di sebuah buku, seolah-olah tidak pernah terjadi penyiksaan di tempat itu sebelumnya," jawab ibuku.
"Apaaaaa?" teriakku kaget.
"Iya, Im. Ibu dan Bu Menik juga syok sekali melihat hal itu. Bayangkan, hampir seluruh pekerja di gudang tembakau mengerubungi ibu seakan-akan minta pertanggungjawaban ibu karena telah mengusik waktu santai mereka," lanjut ibu.
"Terus, apa yang ibu lakukan saat itu?" tanyaku lagi.
"Ibu dan Bu Menik nangis waktu itu, Im. Ibu malu karena seumur-umur, ibu tidak pernah membohongi orang lain," jawab ibuku.
"Maaf, Bu. Apa saat itu ibu dan Bu Menik tidak sedang salah lihat?" tanyaku perlahan-lahan takut menyakiti hati perempuan yang telah melahirkanku tersebut.
__ADS_1
"Teman-Teman ibu di gudang banyak yang bioang begitu. Bahkan bilang kepada ibu kalau ruangan penyimpanan itu memang angker. Bisa jadi ibu dan Bu Menik telah diganggu oleh makhluk halus di sekitar tempat itu," jawab ibuku.
"Apa ibu percaya dengan perkataan mereka?" tanyaku.
"Entahlah, Im. Karena saat itu ibu benar-benar yakin telah melihatnya dengan mata kepala ibu sendiri. Lagipula, Bu Menik sahabat ibu juga yakin melihatnya," jawab ibuku.
"Iya juga, sih. Tapi-" potongku.
"Ibu tidak tinggal diam, Im. Saat itu juga ibu langsung turun dari atas tumpukan belandar. Ibu meninggalkan Bu Menik yang masih menangis karena syok dan malu. Ibu berjalan menuju pintu keluar gudang tembakau itu," lontar ibuku.
"Ibu mau ke mana?" tanyaku.
"Ibu berjalan menuju pintu gerbang sekolahmu. Di pintu masuk ada seorang guru menghadang langkah ibu untuk masuk ke dalam. Pria itu bertanya, 'Ibu siapa? Ada perlu apa?' kemudian ibu menjawab bahwa ibu melihat ada penganiayaan di lantai dua sekolah tersebut. Ada mayat di sana," ujar ibuku.
"Oh, ya? Lantas bagaimana tanggapan mereka?" tanyaku.
"Mereka terheran-heran dengan laporan ibu. Banyak guru mengerumuni ibu. Sebagian besar tidak percaya dengan perkataan ibu, tapi ibu ngotot meminta mereka untuk mengecek lantai atas gedung tersebut," jawab ibu.
"Terus, Bu?" tanyaku makin penasaran.
"Terus, Bu?" tanyaku.
"Setelah menunggu sekitar lima belas menit, akhirnya datanglah tiga orang guru yang tadi memeriksa lantai dua sekolah tersebut," jawab ibu.
"Terus ... Terus ... Apa yang mereka katakan, Bu?" tanyaku semakin penasaran.
"Mereka bertiga mengatakan bahwa di lantai dua tidak ada apa-apa. Malah di sana sedang ada kegiatan bersih-bersih dan ada yang sedang melakukan inventarisasi barang-barang. Saat itu juga ibu diusir keluar oleh mereka. Bahkan tidak hanya itu, ada salah satu dari mereka melaporkan tindakan ibu yang telah membuat kegaduhan di sekolah tersebut pada saat kegiatan belajar mengajar sedang berlangsung," jawab ibuku lemas.
"Ya Tuhan!!!" pekikku.
"Ibu dan Bu Menik diliburkan selama tiga bulan sejak kejadian itu, Im. Padahal waktu itu sedang paceklik. Bapakmu gagal panen dan kamu saat itu sedang butuh banyak nutrisi karena baru saja sembuh dari sakit. Untunglah ada almarhum Mbah Arni yang meminjamkan cadangan sembakonya kepada bapak dan ibu sehingga kita tidak sampai kelaparan saat itu," lanjut cerita ibuku yang ditutup dengan derai air mata.
Selama beberapa detik suasana menjadi sunyi dan senyap.
"Mie ayamnya enak, Pak?" tanyaku pada bapak.
__ADS_1
"Kalau rasanya sih sebenarnya biasa, Im. Tapi, karena kamu sudah jauh-jauh membelinya, ya bapak enak-enakin," jawab bapak sambil melanjutkan menyantap mie ayamnya.
Di sebelah bapak, ibu juga mulai menyantap mie ayam yang ada di hadapannya.
"Imran boleh nyicipin, Pak?" tanyaku.
"Loh, emangnya kamu belum tahu rasanya?" tanya bapak.
"Sudah, sih. Tapi, sekarang aku pingin lagi. Boleh ya minta dikit?" rayuku.
"Boleh, kok. Silakan!" jawab bapak sambil menyodorkan piring yang berisi mie ayam ke hadapanku.
Aku mencomot sedikit mie ayam itu dengan tanganku, kemudian aku memasukkannya ke dalam mulutku.
"Ihhh!!!" Aku bersuara.
"Kenapa, Im?" tanya bapak.
"Mienya nggak enak. Sudah basi!!!" pekikku.
"Lah, kamu tadi makannya gimana waktu di alun-alun?" tanya bapak.
"Waktu di alun-alun tadi, enak banget, Pak. Gurih, sedap, maknyus pokoknya. Lah ini, nggak enak sama sekali. Basi! Nggak usah dimakan, Pak, Bu!" ujarku.
"Ah, kamu ini. Namanya juga dibungkus dan perjalanan jauh dari alun-alun ke sini. Pasti agak basi, lah! Biar, tetap bapak habiskan. Eman-Eman uangnya kalau harus dibuang. Ya kan, Bu?" ujar bapak.
"Iya, Im. Nggak apa-apa kok meskipun agak basi. Bapak dan ibu sudah biasa. Dulu, bapak dan ibu sering kok makan nasi agak basi. Eman-Eman kalau harus dibuang. Nyarinya susah soalnya. Yang penting baca bismillah, insyaallah nggak akan sakit perut." Sahut ibuku.
Aku merenung sesaat dengan ucapan mereka berdua. Benar saja apa yang mereka katakan barusan. Aku tidak percaya ibuku tidak pernah berbohong. Beberapa waktu yang lalu saat aku akan berangkat ujian nasional, di meja makan tidak biasanya hanya ada satu piring nasi dan lauk tempe. Aku bertanya pada ibuku, kok nasinya cuma satu piring? Ibu dan bapak makan apa? Ibu bilang bahwa bapak sudah bontot ke sawah. Ibu bilang sudah makan. Tinggal jatah untukku saja. Pulang sekolah juga ada satu piring di meja makan. Ibu bilang tinggal aku saja yang belum makan. Hingga akhirnya aku tanpa sengaja mendengar percakapan antara ibu dan ibunya Parto. Ibunya Parto yang memberikan nasi untukku. Sedangkan ibu dan bapak hanya makan nasi pohong alias jeringkeng. Ibunya Parto tidak bisa memberikan lebih karena saat itu beliau juga tidak punya persediaan pangan juga.
"Ya Allah ... Sukseskanlah aku agar aku bisa membalas kebaikan kedua orang tuaku nanti. Tempatkanlah kedua orang tuaku di surga-Mu kelak jika mereka telah menghadapmu. Aamiiiin ...,"
BERSAMBUNG
Asli mewek menulis bab ini. Semoga Ortu pembaca setia SEKOLAH HANTU selalu sehat sentosa. Aamiiin
__ADS_1