
Kami berenam rebahan di atas bantaran sungai sambil menghadap ke langit untuk menghilangkan rasa capek dan ketegangan yang mendera kami sebelumnya. Kami berbaring secara berjejer. Aku paking timur, di sebelahku ada Ikbal, di sebelahnya lagi Dinda, Andre, Roni, dan terakhir Faisal.
Kami pun berbincang-bincang sembari rebahan untuk mengembalikan energi yang banyak terbuang barusan.
"Alhamdulillah ... akhirnya kita semua berhasil melewati tantangan yang pertama," ujar Faisal.
"Iya, Sal. Aku benar-benar tidak menyangka bahwa kota semua dapat melewati ini secara bersama-sama," ucap Dinda.
"Tadi, di atas jembatan itu, tiba-tiba aku teringat dengan calon istriku di rumah. Ia adalah perempuan yang baik. Ia sangat sayang pada ibuku. Ia lebih memprioritaskan aku dan ibuku dibanding dirinya sendiri. Pernah ia rela menjual cincinnya untuk membiayai ibuku yang mendadak sakit," ucap Faisal.
"Kalau aku ingat sama ibuku yang sudah tua, Sal, sewaktu aku menghitung jumlah bilah kayu. Jadi, waktu aku masih kecil itu, aku paling suka sama kue apem yang dijual oleh salah satu tetanggaku. Tetanggaku itu biasanya lewat di depan rumah untuk menjajakan kue apem. Tapi, aku sering ggak sabaran. Jadi, aku sering nangis duluan kalau tetangga itu nggak datang-datang. Untuk menghiburku, biasanya ibu mengambil kursi dan naik ke atasnya untuk mengintip kedatangan tetangga itu di kejauhan. 'Itu, Le bakulnya audah datang!' Kalau ibu sudah ngomong kayak gitu, aku berhenti nangisnya," ujar Roni.
"Kalau aku inget sama ayahku. Aku ingat sekali waktu itu aku baru lulus dari SMP. Aku berniat untuk tidak melanjutkan sekolah karena aku tahu kondisi ekonomi ayahku sedang tidak baik. Tapi, ayah tetap memaksaku untuk sekolah. Soal biaya, itu urusan ayahku katanya. Dan aku pun melanjutkan sekolah. Benar saja, tanpa sepengetahuanku ayah terjerat hutang rentenir hingga saat ini. Dan ayahku sudah sakit-sakitan, sementara sisa hutangnya di rentenir masih banyak," ujar Andre.
"Sabar, ya, Ndre," jawab Roni yang ada di sebelahnya.
Beberapa detik kemudian Dinda bersuara.
"Kalau aku ingat dengan adikku. Dia itu anak yang pintar dan lucu. Duku, kami berdua hidup bahagia ketika bapak dan ibu masih ada. Kemudian datang seorang perempuan yang merusak kebahagiaan kami. Bapak menikah lagi dan tinggal bersama perempuan itu. Kami benar-benar syok saat itu. Sejak saat itu ibuku sakit-sakitan dan akhirnya meninggal tak lama kemudian. Hancur luluh hati dan perasaanku saat itu karena sudah tidak punya orang tua yang dapat mengayomi aku dan adikku. Tapi, saat melihat aku menangis, tib-tiba adikku yang masih kecil itu mengelus rambutku dan berkata, 'Sabar, Kak. Jangan berputus asa. Masih ada aku, kok!' kata adikku yang masih kecil itu," titur Dinda dengan berderai air mata.
"Sabar, ya, Din. Adikmu luar biasa. Semoga kelak kamu dan adikmu dapat menemukan kebahagiaan yang sesungguhnya," ujar Faisal.
"Makasih, Sal," jawab Dinda sambil menghapus air matanya.
__ADS_1
"Kalau aku ingat dengan Yoyok. Yoyok itu adalah sahabat terbaikku. Setiap ada aku pasti ada dia, dan sebaliknya. Dia itu selalu sedia membantuku serepot apapun dia. Aku pernah hampir berhenti sekolah karena kehabisan biaya. Untunglah Yoyok membantuku dengan menjual ayam BK-nya. Aku jadi merasa bersalah karena tidak dapat meneyelamatkan Yoyok," ujar Ikbal dengan raut wajah sedih.
"Sabar, Bal. Doakan saja temanmu itu. Semoga ia bisa terlepas dari jeratan jin dan beristirahat dengan tenang," ujarku.
"Makasih, Im," jawabnya.
"Kamu tadi nggak ingat apa-apa, Im sewaktu di jembatan gantung?" tanya Dinda.
Aku tercenung sesaat.
"Aku ingat sahabatku, Din. Namanya Parto. Di adalah sahabat sekaligus tetanggaku. Rumahnya tepat di depan rumahku. Sejak kecil kita tumbuh besar bersama. Sekolah di tempat yang sama, ngaji pun di tempat yang sama. Yang aku ingat sewaktu aku berdiri di urutan terakhir adalah Parto ini selalu mengalah kepadaku. Kalau berselisih paham denganku, dia selalu memilih untuk mengalah. Apabila di memiliki sesuatu, akulah yang ia ambilkan dulu sebelum bagiannya. Bahkan, kalau kita bermain atau apa, dia selalu setim denganku dan selalu menjadi pelindungku. Pokoknya dia the best. Jadi, sewaktu tadi aku di belakang, aku bisa merasakan betapa besar pengorbanan sahabatku itu selama ini," jawabku.
Setelah sama-sama bercerita tentang kehidupannya, kami pun sama-sama terdiam selama beberapa waktu hingga akhirnya kami semua mendengar suara seseorang.
"Bangunlah kalian sekarang? Tantangan kedua sudah menunggu kalian. Silakan kalian berjalan menuju kolam di depan kalian itu!" ucap seseorang yang sepertinya adalah petugas suruhan Nyi Sukma untuk berjaga di tantangan kedua ini.
"Apa yang harus kami lakukan di tantangan kedua ini?" tanyaku.
"Silakan kalian pilih satu orang dari kalian untuk dijadikan pasangan!" ucap pria tegap itu.
"Kita akan memainkan apa di kolam ini?" tanya Faisal.
"Silakan kalian pilih pasangan dulu! Nanti kalau sudah punya pasangan masing-masing, baru akan saya umumkan permainannya. Dengan syarat tidak boleh ada yang bertukar pasangan," jawab pria mengesalkan itu.
__ADS_1
"Apa salahnya kami mengetahui jenis permainannya dulu?" desak Faisal.
"Di sini kalian hanya cukup untuk mematuhi kami," jawab pria itu.
Akhirnya kami pun berunding berenam.
"Bagaimana ini? Kita tidak boleh serampangan memilih karena itu akan sangat berbahaya bagi kita. Kita harus benar-benar memilih pasangan yang tepat," ujar Roni.
"Gimana kalau kita pasangkan yang kuat dengan yang lemah?" tanya Ikbal.
"Kenapa begitu, Bal?" tanya Roni.
"Sepertinya kita kan diminta untuk bekerja sama. Jadi kalau yang kuat dipasangkan dengan yang lemah, maka yang kuat bisa membantu yang lemah," jawab Ikbal.
"Meskipun ini berat buat kita. Kita harus membaginya secara adil. Roni akan berpasangan dengan Dinda , Faisal denganku dan Andre dengan Imran" jawab Ikbal.
"Bagaimana teman-teman? Setuju?" tanya Ikbal lagi.
"Setuju!!!" jawab kami berlima.
"Oke, karena timnya sudah terbentuk, maka saya akan mengumumkan jenis permainannya. Permainannya yaitu begini. Setiap satu pasang akan saling bergantian menggendong pasangannya sambil berenang dari satu ujung ke ujung yang lain. Jika ada yang tidak kuat maka dinyatakan kalah dan keduanya akan menjadi petugas di sini selamanya," ujar pria itu.
"Ya Tuhan!!!!" pekik Dinda dan aku.
__ADS_1
Bagaimana tidak, Dinda yang tubuhnya kecil mungil harus menggendong tubuh Roni yang berukuran bongsor. Sedangkan aku harus menggendong tubuh Andre yang ukurannya juga jumbo, tak jauh beda dengan Roni.
BERSAMBUNG