
Teman perempuanku ini benar-benar bermental baja. Ia tidak memperdulikan rasa sakit di jari telunjuknya akibat tergores pisau kecil di dalam kotak tersebut. Padahal aku sudah melarangnya mati-matian untuk tidak melakukan perbuatan membahayakan tersebut karena hal itu bisa saja membuat tangannya terluka kembali. Melihat kenekatannya tersebut membuatku ingin melakukan kenekatan juga agar ia menghentikan aksinya.
"Kamu mau ngapain, Im?" tanya Indah.
"Aku mau membuka paksa gemboknya, Ndah!" jawabku sambil mencari batu di sekitar tempat tersebut.
"Stop! Kamu jangan merusak benda ini. Hal itu akan membuat Pak Marzuki curiga bahwa tempatnya sudah dimasuki orang. Dan itu tentunya akan menghambat investigasi kita selanjutnya," tegur Indah.
"Tapi, Ndah. Tanganmu bisa terluka lagi kalau kubiarkan?" protesku.
"Tidak, Im. Aku sudah berhasil mengendalikan pisau tersebut. Sekarang aku sedang mencari benda-benda lain di dalam sini yang sekiranya bisa aku tarik ke luar," jawab Indah.
"Dasar kepala batu! Bikin orang kepikiran saja, kamu! Awas kalau sampai kamu kenapa-kenapa lagi!" omelku sambil duduk kembali memperhatikan tangan kecil Indah yang memutar-mutar di lubang kecil itu.
"Emang kamu kepikiran sama aku, Im?" tanya Indah sambil menatap ke wajahku yang terlihat mencemaskan keadaannya dengan tangannya yang masih terus berusaha mencari sesuatu di dalam kotak.
"Nggak usah mikir aneh-aneh, Ndah. Yang aku maksudkan bukan perasaan seperti yang kamu bayangkan," jawabku sambil melotot.
"Lah, emangnya kamu tahu apa yang aku pikirin?" Indah balik bertanya sedangkan tangannya masih sibuk bergerilya di dalam kotak itu.
"Kalau dari caramu menatapku, sih, kayakmu kayak ada sesuatu gitu sama aku," candaku pada anak perempuan di depanku ini.
"Oh, jadi tatapan kayak gini, kamu bilang tatapan suka sama kamu?" ujar Indah sambil menatap mataku lekat-lekat dengan ekspresi wajah sengaja dibuat mirip dengan ekpresi wajah seorang pramunikmat kepada lelaki hidung belang incarannya.
"Uweeeeek ... Jijik banget ngeliat muka mesummu, Ndah!" cetusku spontan.
"Ha ha ha ... Makanya jadi cowok jangan ke-GR-an!" jawab Indah sambil tertawa terpingkal-pingkal.
Kami berdua pun tertawa terpingkal-pingkal melihat aksi kami sendiri. Tentunya kami tetap menahan tawa kami agar tidak terdengar oleh orang lain.
"Kalau sudah ketawa-ketawa begini, aku jadi kangen sama teman-teman SMP-ku, Ndah," ujarku.
"Sama, Im. Padahal baru dua bulanan berpisah dengan mereka, ya?" tukas Indah.
"Iya, Ndah. Aku masih ingat momen-momen seru bareng mereka. Momen-Momen yang tidak bisa aku lupakan. Mereka itu teman yang baik dan mengerti dengan hobiku," tambah Indah.
"Iya, benar, Im. Emangnya, kamu waktu SMP sudah sering melakukan investigasi semacam ini?" tanya Indah.
"Iya, Ndah. Aku melakukannya bareng-bareng dengan mereka. Bahkan, kami pernah hampir terbunuh sewaktu menyelidiki kasus pembunuhan salah seorang siswi lama di sekolah itu," jawabku.
__ADS_1
"Kalau boleh tahu, siapa saja nama-nama temanmu itu, Im?" tanya Indah.
"Mereka semua ada empat orang, Ndah. Yang paling cerdik namanya Fajar, yang tukang penyemangat namanya Lidya, yang paling kuat namanya Gatot, dan yang paling cantik namanya Cindy," jawabku sambil mengingat-ingat keempat temanku itu.
"Ha ha ha ... Apa, Im? Yang paling cantik namanya, Cindy?" cetus Indah sambil menutup mulutnya dengan tangan satunya.
"Eh, maksudku bukan begitu, Ndah. Kamu alah menduganya," ujarku.
"Pantas saja Arini sampai cemburu sama dia. Cindy itu yang satu Angkot sama kamu kemarin, kan?" cecar Indah dengan tetap menahan tawa.
"Eh, iya. Eh, bukan ... maksudku aku tidak ada perasaan apa-apa pada anak itu, Ndah. Kita murni berteman, yakin ...," jawabku belepotan.
"Iyaaaaa ... iyaaaaaa ... emangnya kamu pikir aku mikir kamu ada perasaan khusus sama Cindy? Enggak, kok!" ujar Indah sambil tetap nyengir kuda melecehkanku.
"Kamu ini, Ndah. Nggak begitu, kok. Tadi aku hanya keceplosan saja. Maksudku tidak begitu," ujarku sambil terus berupaya mengubah kekeliruan Indah tentang pandangannya terhadap hubungan antara aku dan Cindy.
"Iya, Im. Aku paham," jawab Indah berusaha serius, tapi tetap saja ada senyum bullyan di sudut bibirnya.
"Terserah kamu, deh. Yang jelas aku tidak ada hubungan apa-apa sama gadis lamban itu," omelku kesal.
"Kamu yakin dia gadis lamban?" tanya Indah menggodaku lagi dengan wajahnya yang semakin terlihat membullyku.
"Oke ... Semenjak terungkapnya kasus penyekapan di sekolahku itu, aku tidak memiliki banyak teman. Yah, mungkin mereka takut denganku. Takut penjahatnya mengincarku, mungkin. Aku paham. Lagi pula sulit mencari teman yang satu hobi denganku. Sampai akhirnya ada siswa pindahan dari sekolah lain. Mereka sih dua jenjang di atasku, tapi mereka memiliki hobi yang sama denganku," jawab Indah.
"Oh, ya? Bagaimana kamu bisa mengenal mereka?" Aku bertanya.
"Kebetulan aku ikut Ekskul Pramuka dan mereka bertiga menjadi seniornya. Waktu acara jurig malam pernah salah satu temanku kesurupan sewaktu lewat di dekat rumpun bambu. Sewaktu kesurupan temenku ngoceh banyak hal. Katanya dia itu mati dibunuh setelah diperkosa oleh beberapa pemuda. Setelah berhasil menyadarkan temanku itu dengan doa-doa, aku kembali ke rumpun bambu karena masih penasaran dengan ocehan temanku itu. Di sanalah tanpa sengaja aku menjumpai ketiga seniorku itu," tutur Indah panjang lebar.
"Oh, ya? Terus, apakah kalian berhasil mengungkap kasus itu?" tanyaku penasaran.
"Terlambat, Im ...," jawab Indah.
"Terlambat bagaimana, Ndah?" Aku bertanya.
"Arwah perempuan itu sudah terlanjur membunuh satu persatu pemerkosa dan pembunuhnya," jawab Indah terbata-bata.
"Oh, ya? Bagaimana arwah itu bisa melakukannya?" Aku bertanya.
"Dia meminjam raga seseorang untuk melakukannya, Im. Kebetulan orang yang pinjam raganya itu memang sering bersentuhan dengan makhluk halus, jadi arwah perempuan itu masuk ke dalam tubuhnya sewaktu orang itu melakukan ritual klenik," jawab Indah.
__ADS_1
"Siapa yang dipinjam raganya oleh arwah perempuan itu, Ndah? tanyaku semakin penasaran.
"Seorang janda cantik di sekitar situ, Im. Kebetulan janda itu sering datang ke dukun untuk meminta ilmu pemikat," jawab Indah.
"Terus?" tanyaku.
"Para pemerkosa dan pembunuh itu terpesona dengan kecantikan janda yang sedang dimasuki roh itu. Mereka tewas akibat ***** badani mereka sendiri. Mereka tewas akibat menenggak obat kuat melebihi dosisnya. Mereka berharap bisa menghabiskan malam bersama janda cantik itu. Tapi, mereka justeru tewas karenanya," ujar Indah.
"Ya Tuhan ... miris, ya? Terus bagaimana nasib arwah dan janda itu?" tanyaku penasaran.
"Arwah itu sudah damai, Im. Kami berempat membawa ibu dari perempuan itu ke sana untuk menyadarkan arwah tersebut. Sedangkan janda itu lepas dari jeratan hukum. Konon, janda itu sudah bertobat dari ilmu klenik dan sudah menikah kembali dengan seorang ustad," jawab Indah.
"Alhamdulillah ...," tukasku.
"Im ... aku menemukan sesuatu!" cetus Indah.
"Apa, Ndah?" tanyaku penasaran.
Indah menarik tangannya secara perlahan-lahan dari lubang itu. Aku menunggu tangannya ke luar dengan tidak sabar. Beberapa detik kemudian aku melihat tangan Indah keluar dengan memegang selembar kertas.
"Foto????" pekikku dan Indah secara bersamaan.
BERSAMBUNG
Hai, Sobat Junan .... Gimana ceritanya?
Semoga Kakak suka, ya?
Kira-Kira itu foto apaan, ya?
Siapa bisa menebak?
Silakan menebak di komentar.
Jangan lupa like, komentar, dan vote-nya, ya?
Oh, ya ... saya membaca komentar, katanya ada yang mau share cerita ini ke teman-temannya. Monggo, silakan share di sosmed kalian. Aku senang sekali kalau Kakak melakukannya.
Sampai jumpa di episode berikutnya, ya?
__ADS_1