
Benar kata pepatah, serahkan segala sesuatu pada ahlinya. Ternyata tukang kunci di depan kami ini benar-benar cekatan dan sudah berpengalaman dalam hal perkuncian. Dengan hanya berbekal sebuah alat kikir dan penggaris mini, ia dapat membuat anak kunci yang benar-benar presisi. Seandainya saja orang ini mau direkrut oleh kelompok perampok atau pembobol rumah, pasti mereka akan mudah sekali membobol rumah calon korbannya.
"Bapak membuka usaha ini sudah lama, ya?" tanyaku.
"Sudah lama, Dik. Bahkan boleh dibilang sejak kecil. Lah wong saya ini meneruskan usaha orang tua," jawabnya kalem.
"Oooo begitu. Berarti tempat usaha ini sudah ada sejak lama, ya?" tanyaku lagi.
"Tempat ini sudah berusia puluhan tahun sejak bapak saya masih bujang sampai sekarang usianya sudah enam puluh tahun lebih," jawab bapak itu
"Bapak sekarang ada di mana, Pak?" tanya Indah.
"Hm ... Ada. Tapi sedang sakit," jawabnya.
"Sudah selesai," ujar pria itu.
"Alhamdulillah ... Berapa ongkosnya, Pak?" tanya Arini.
"Sesuai tulisan itu, Dik!" jawab pria itu sambil menunjuk tulisan di papan yang berisi daftar tarif penggunaan jasa di tempat tersebut. Arini pun membayar ongkos pembuatannya ke bapak itu.
"Terima kasih banyak, Pak, atas semua bantuannya. Kami mohon pamit," ujar Bondan.
"Sama-Sama, Dik," jawab pria itu.
Baru saja kami akan melangkah meninggalkan tempat itu, tiba-tiba ada sebuah mobil berhenti di dekat pintu masuk gang di sebelah jembatan. Kami berempat beserta tukang kunci itu memperhatikan ke arah mobil yang berhenti itu. Ada seorang pria turun dari mobil dan memeriksa keempat rodanya. Kemudian pria itu berkata kepada sopirnya.
"Tidak ada yang kempes, Bos!" teriak pria itu terdengar oleh kami berlima.
Aku tidak mendengar jawaban dari sopirnya karena jarak antara mobil itu berhenti ke bengkel ini sekitar lima puluh meter. Tapi, kami melihat pria itu kembali masuk ke dalam mobil dan mobil itu pun kembali melaju melewati kami dengan kecepatan cukup tinggi.
"Ooo ... cuma mau ngecek bannya ternyata. Kirain bannya kempos atau bensinnya habis," ujar Bondan.
"Iya. Aku nyangkanya juga begitu," jawab Arini.
Kami pun bersiap untuk berpisah untuk pulang ke rumah masing-masing. Tapi, tiba-tiba kami mendengar sayup-sayup suara seseorang bersamaan dengan terciumnya bau busuk sama seperti bau yang kami pernah cium beberapa hari yang lalu ketika Angkot yang kami naiki menurunkan tukang kunci ini di mulut gang dekat jembatan itu.
Tidak hanya itu, tiba-tiba tukang kunci itu berjalan dengan sedikit berlari meninggalkan bengkelnya.
__ADS_1
"Loh, Pak, mau ke mana? bengkelnya, kok, ditinggal? Kami sudah mau pulang, loh! Nanti barang-barang sampea ada yang ngambil, bagaimana?" tanyaku spontan kepada tukang kunci itu yang seperti terburu-buru.
"Oh, nggak apa-apa ditinggal, Dik. Insyaallah aman. Saya sudah biasa seperti itu," jawab pra itu sambil tetap berlalu meninggalkan kami dengan langkah tergesa-gesa.
"ooo .. ya sudah, Pak. Kami pulang!" teriakku kepada tukang kunci itu yang sudah semakin jauh dan tidak lagi mendengar ucapanku.
"Kalian mencium bau busuknya, kan?" tanyaku pada ketiga temanku.
"Iya, Im, aku menciumnya," jawab Bondan.
"Kalian berdua bagaimana? Apa kalian juga mencium bau busuknya?" tanyaku pada Arini dan Indah.
"Iya, Im. Baunya busuk sekali. Persis dengan bau busuk waktu itu," jawab Indah.
"Ooo ... jadi bau busuknya seperti ini, toh, yang kalian cium waktu itu?" tanya Arini.
"Iya, Rin. Apa kamu sudah bisa menciumnya sekarang? tanyaku pada Arini.
" Uek ... Iya, Im. Baunya sangit banget di hidung. Pantesan waktu itu kalian merasa mual. Ternyata baunya sangat luar biasa," jawab Arini.
Mereka semuanya membisu.
"Apa kalian tidak merasa aneh dengan hal ini?" tanyaku lagi pada ketiga temanku. Lagi-Lagi mereka membisu.
"Nah, itu suara siapa?" tanyaku pada mereka bertiga saat aku mendengar suara orang memanggil-manggil.
"Leeeeee ... Leeee ...," suara yang kami dengar secara sayup-sayup.
"Im ... aku, kok, jadi penasaran, ya?" celetuk Bondan.
"Penasaran gimana, Ndan?" tanya Indah kebingungan.
"Kita sudah tiga kali mencium bau busuk ini. Masa kita akan diam saja?" jawab Bondan.
"Maksudmu, kita akan menyelidiki penyebabnya?" tanyaku.
"Iya, Im. Mumpung kita lagi di sini. Biar nggak penasaran lagi. Terlebih kali ini kita juga mendengar suara seseorang dari gang itu. Sangat disayangkan kalau kita tidak memeriksanya sekarang," jawab Bondan serius.
__ADS_1
"Kamu serius, Ndan?" tanya Indah.
"Iya, Ndah. Aku nggak mau kita akan merasa penasaran seumur hidup," jawab Bondan.
"Tapi, bagaimana kalau kita nanti ketahuan oleh tukang kunci itu?" tanya Arini.
"Itu namanya risiko, Rin. Untuk meminimalisirnya, kita harus melakukannya dengan berhati-hati," jawab Bondan.
"Gimana, Rin?" tanya Indah.
"Entahlah, aku takut ketahuan oleh tukang kunci tadi," jawab Arini.
"Gimana, Im?" tanya Indah kepadaku.
"Bismillah sudah, Ndah. Benar kata Bondan barusan, Ndah. Kalau tidak dicoba maka kita akan penasaran selamanya," jawabku.
Setelah berunding akhirnya kita sepakat untuk mengintip kondisi di dalam gang tadi. Kami pun berjalan mengendap-ngendap memasuki pintu gang. Di dalam gang itu bau busuknya semakin menyengat. Kami berempat sampai menutup hidung saking tak tangan dengan baunya.
"Leee, kamu wes pulang?" sebuah suara terdengar dari sebuah rumah yang berada di dekat pintu masuk gang.
Rumah tua sederhana hanya ada satu di gang kecil itu. Tidak ada rumah lagi di sekitarnya. Sepertinya itu adalah rumah liar yang dibangun di atas bantaran sungai. Surat kepemilikannya pasti tidak ada, tapi rumahnya sudah berdiri puluhan tahun dan sudah diwariskan secara turun temurun.
"Bapak ini kok tetep saja, sih, tiap ada mobil berhenti di pintu gang pasti ngesot ke luar rumah. Lihat borok di kaki bapak itu baunya ke mana-mana. Nanti kalau ada orang datang ke sini, bagaimana?" suara tukang kunci itu dari dalam rumah dengan nada agak meninggi.
"Nggak apa-apa, Le. Memang itu tujuan bapak ke luar rumah. Siapa tahu itu suara polisi yang datang untuk menangkap bapak. Bapak sudah capek begini terus, Jamal! Bukankah kamu sudah janji kepada bapak untuk melaporkan kejahatan yang telah bapak lakukan kepada polisi?" protes orang misterius itu.
"Bapak nggak usah aneh-aneh. Borok Bapak ini pasti sembuh. Nanti Jamal akan belikan obat yang bagus kalau punya uang," jawab tukang kunci yang ternyata bernama Jamal itu.
"Tidak, Jamal. Borok di kaki bapak ini bukan borok biasa. Ini borok kualat. Ini balasan dari Tuhan karena bapak telah mencelakai orang. Borok ini tidak akan sembuh, Jamal. Cepat bawa polisi kemari, Jamal! Biarkan bapak menebus kesalahan bapak di masa lalu dengan mendekam di penjara," jawab bapaknya Jamal.
"Cukup, Bapak! Bapak tidak perlu menyesal telah melakukan itu. Bukankah posisi Bapak saat itu sedang kepepet uang? Kalau Bapak menolak melakukannya, dari mana Bapak akan mendapatkan uang untuk membiayai operasi almarhum ibu?" ujar Pak Jamal.
"Iya, Jamal. Tapi, bapak tidak tahu kalau pemilik mobil itu adalah Pak Misnatun dan Bu Misnatun yang sering membantu kesulitan ekonomi keluarga kita," jawab bapaknya Jamal sambil menangis tersedu-sedu.
"Maafkan saya Mas Tun .... Yu Tun ...," Bapaknya Jamal menagis tersedu-sesu.
"Ya Allah ..." Aku.menghela napas. Aku benar-benar tidak menyangka ternyata bapaknya tukang kunci ini adalah orang yang mencelakai kedua orang tua Pak Marzuki.
__ADS_1