
Kami pun akhirnya bisa tertawa menyaksikan kekonyolan Roni. Kami memang tidak sepenuhnya aman dari bahaya, tapi setidaknya saat ini kami masih bisa bernapas lega untuk beberapa waktu setelah lolos dari tantangan mematikan di kolam renang Nyi Sukma.
Kami benar-benar lelah saat itu karena energi kami telah terkuras habis untuk menaklukkan kedua tantangan dari Nyi Sukma. Tubuh kami begitu letih dan mengalami nyeri di beberapa bagian tertentu.
"Apa yang kamu lihat tadi, Dinda, saat kehilangan keseimbangan di tengah kolam?" tanyaku memastikan.
"Air kolamnya tiba-tiba menjadi berwarna merah dan berbau anyir seperti darah," jawab Dinda lemah.
Yah, itu semua akibat sihir Nyi Sukma. Untunglah kalian berdua bisa melewatinya. Jujur, kami semua di sini sangat mencemaskan kalian berdua," timpalku.
"Iya. Jangankan kalian, kami berdua pun sama tidak percaya dengan keajaiban ini. Kami sudah pasrah kepada Allah SWT atas nasib yang akan menimpa kami. Ternyata Allah SWT masih memberikan kesempatan untuk hidup bagi kami berdua. Terima kasih atas doa dan dukungan kalian semuanya," jawab Roni yang sudah selesai memasang celana panjangnya.
"Semoga kita semua bisa lolos dengan selamat dari tempat ini," jawab Dinda.
"Aamiiin ...," jawab kami semuanya.
"Aku lapar, teman-teman," ucap Dinda kemudian.
"Iya. Aku juga lapar. Bagaimana kalau kita minta makanan kepada penjaga-penjaga itu?" tanya Ikbal.
"Ide yang bagus. Bukankah kita butuh tenaga untuk bisa melanjutkan tantangan ini," jawab Dinda.
"Baiklah, aku yang akan meminta makanan kepada penjaga-penjaga itu. Kalian beristirahatlah dulu di sini," ujar Faisal sambil bangkit berdiri dan berjalan ke arah penjaga-penjaga tadi.
Kami memperhatikan dari jauh apa yang sedang dilakukan oleh Faisal. Nampak ia sedang berbicara dengan kedua petugas berbadan gempal itu. Setelah berbicara selama beberapa menit, Faisal pun balik lagi ke tempat kami melepas lelah. Ia datang dengan gurat senyum lebar di bibirnya. Sepertinya ia membawa kabar baik.
"Gimana, Sal?" berondong Roni tidak sabar.
"Alhamdulillah, sukses, Ron. Mereka bilang sebentar lagi mereka akan datang membawa makanan untuk kita semuanya.
"Syukurlah, kalau begitu," jawab kami kompak.
Setelah itu kami pun melanjutkan istirahat di tempat tersebut sambil menunggu makanan dari oara penjaga. Kalau dipikir-pikir, baik juga Nyi Sukma ini. Saat kami semua asik bercengkrama, aku mengamati Dinda sepertinya sedang melempar senyum kepada seseorang. Dan betapa terkejutnya aku saat menoleh ke arah orang yang ia berikan senyuman dari jarak jauh. Ternyata orang tersebut adalah Jatmiko. Dan yang lebih mengejutkan lagi, aku melihat Jatmiko sepertinya membalas senyuman Dinda dan ia pun melangkah ke tempat ini.
'Ya Tuhan ... Apakah Dinda sudah terkena ajian sihir dari Jatmiko? Apakah hal itu menandakan bahwa Dinda akan menjadi abdi dalem di tempat ini,'
"Din ... Din ... Dinda ...," panggilku pada anak perempuan itu.
"Eh ... Iya, Im ... Kenapa?" Dinda balik bertanya.
"Kamu lagi ngapain?" Aku bertanya lagi untuk memastikan kecurigaanku.
__ADS_1
"Aku lagi nggak ngapa-ngapain. Aku cuma kecapekan saja," jawabnya berlagak polos.
Aku menanggapi ucapannya dengan tatapan curiga.
"Sambil menunggu makanan kita datang dan menunggu perintah dari algojo-algojo itu, bagaimana kalau kita beristirahat dulu?" ucap Faisal.
"Ide yang bagus, Sal," jawab Ikbal.
"Ya sudah, kita tidur-tiduran saja di sini. Mumpung di sini agak adem karena dekat dengan kolam renang," sahut Andre.
"Baiklah. Silakan kalian semua tidur saja. Biar aku yang berjaga di sini," sela Dinda.
"Kamu tidak ikut tidur saja, Din?" tanya Roni.
"Enggak, Ron. Aku masih trauma dengan air kolam ini. Kalian saja yang tidur, biar aku menunggu petugas itu datang membawa makanan," jawab Dinda.
"Kamu yakin tidak mau tidur juga, Din?" tanyaku.
"Iya, Im. Aku lebih nyaman untuk tetap terjaga," jawabnya.
"Baiklah. Ayo, teman-teman. Kita manfaatkan waktu yang berharga ini untuk beristirahat saja," teriak Faisal.
Entah mengapa, beberapa waktu kemudian aku sudah tidak ingat apa-apa lagi. Mungkin karena fisikku sudah benar-benar capek. Sepertinya teman-temanku yang lain juga terlelap sama sepertiku, kecuali Dinda. Sebelum terlelap aku masih sempat menatap anak perempuan itu seperti sedang memandang ke arah Jatmiko yang berjaga di tempat yang agak jauh dari tempat kita beristirahat sekarang.
"Dinda!!!!" pekikku saat aku terbangun dari lelapku.
Entah berapa lama aku terlelap di tempat ini. Yang jelas saat aku terbangun, semua temanku masih lelap dalam tidurnya. Sedangkan Dinda pergi entah ke mana.
"Kenapa, Im?" tanya Faisal yang bangun setelahnya.
"Dinda ke mana, Sal?" tanyaku pada anak laki-laki itu.
"Entahlah, Im. Aku juga baru bangun. Aku tidak tahu ia pergi ke mana. Aku terlalu lelap dalam tidurku. Sudah berhari-hari aku tidak bisa tidur, Im," jawab Faisal.
"Ada apa, teman-teman?" tanya Ikbal kemudian.
"Dinda tidak ada, Bal," jawab Faisal.
"Apaaaa? Jangan-Jangan ...," pekik Ikbal.
"Mungkin anak itu sedang bersama Jatmiko," sela Roni.
__ADS_1
"Tahu dari mana kamu, Ron?" tanya Faisal.
"Tadi, aku sempat melihat ia berkomunikasi dari kejauhan dengan Jatmiko menggunakan bahasa isyarat sebelum aku terlelap," jawab Roni sambil menatap ke arah posisi Jatmiko tadi berdiri.
Kami bertiga menoleh ke arah pandangan Roni. Tapi, di sana tidak ada siapa-siapa lagi. Jatmiko tidak ada, Dinda tidak ads, bahkan kedua penjaga tadi juga tidak ada.
"Aaaaah ... Ada apa, teman-teman, kok kalian seperti kebingungan begini?" ujar Andre sambil mengkretek-kretek pinggangnya sendiri dengan cara memutar ke kiri dan ke kanan.
"Akhirnya bangun juga kamu, Ndre. Dasar, kayak kebo saja tidurmu sampai tidak tahu kalau Dinda hilang," tegur Roni.
"Oh ya? Ke mana perginya anak itu?" tanya Andre kebingungan.
"Lah, mana kita tahu? Kalau kita tahu itu namanya bukan hilang tapi pergi," omel Roni.
"Lah, kalau hilang, kenapa kalian masih diam-diam saja? Ayo, kita cari anak itu sekarang!" jawab Andre.
"Iya, habis ini kita cari Dinda. Tapi, kita diskusi dulu, siapa tahu dengan bertukar pendapat, kita bisa mengetahui ke mana perginya teman perempuan satu-satunya kita itu," jawab Faisal.
"Kira-Kira ke mana perginya Dinda, Sal?" tanya Andre.
"Kami curiga, Dinda pergi bersama Jatmiko," jawab Faisal.
"Jat-mi-ko?" gumam Andre.
"Iya, Ndre. Roni sempat melihat gelagat aneh dari Jatmiko dan Dinda sebelum kita semua terlelap," jawab Faisal.
"Duh, bagaimana kalau Dinda sudah jatuh dalam sihir Jatmiko? Bukankah hal itu berarti ia akan selamanya menetap di tempat ini sama seperti Yoyok?" ucap Ikbal sedih.
"Kita harus segera menyelamatkan Dinda. Ayo, buruan kita cari anak itu sebelum semuanya terlambat!" ujar Andre.
Kami semua pun saling bertatapan dan setuju dengan ajakan Andre.
"Ayo, kita tanyakan keberadaan Dinda pada pengawal-pengawal Nyi Sukma yang kita temui nanti!" ucap Faisal.
"Ayooo!!!!" jawab kami kompak.
Kami pun segera bangkit dan berjalan bersama memeriksa keadaan di tempat tersebut.
BERSAMBUNG
Jangan sampai ketinggalan kisah SINTA melindungi keluarganya dsri kekuatan jahat dalam Novel berjudul MARANTI (Makanan Orang Mati).
__ADS_1