
Untunglah Roni masih berada di tiang itu, sehingga Roni menahan tubuh Dinda untuk tidak tergelincir ke bawah. Kami yang menyaksikan semua itu menjadi lega seketika setelah Roni berhasil membantu Dinda untuk turun secara perlahan dari tiang itu dan kurang lebih beberapa meter dari bagian bawah tiang, mereka harus mengerem untuk melompat ke samping karena jika terus turun ke bawah maka ujung tajam tombak dan beberapa buaya sudah siap mencincang tubuh mereka berdua.
Aku senang sekali melihat kelima temanku berhasil melalui tantangan ini. Meskipun sekarang masih tersisa aku yang berada di jungkat-jungkit ini dengan putaran yang kali ini lebih besar lagi semenjak Dinda melompat ke tiang itu.
"Imraaan ... Semangat! Kamu pasti bisa!" Sayup-Sayup kudengar suara teman-teman dari bawah sana.
KRIEEEEET!!!
Terdengar suara benda seperti sedang bergerak di bawahku. Secara refleks aku melihat ke arah kakiku.
"Ya Tuhan! Apakah itu suara logam tajam yang akan menusukku dari arah bawah? Bukankah sudah tidak ada lagi orang yang duduk di kursi itu? Dan itu artinya lampu tidak akan menyala lagi, sehingga aku harus segera melompat ke tiang itu? Kalau tidak, aku akan mati tertusuk logam tajam di sini. Aku harus segera melompat. Tapi, bagaimana aku bisa melakukannya? Tidak ada beban penyeimbang bagiku lagi. Pasti, balok yang aku injak nanti akan miring ke bawah. Ya Tuhan .... Aku tidak punya banyak waktu lagi ... aku harus segera bertindak," ucapku pada diri sendiri.
Otakku berpikir keras untuk bisa segera membuat keputusan yang tepat. Sementara itu dari arah bawah kakiku aku mendengar suara derit gesekan dua logam yang aku sendiri tidak dapat melihatnya, tapi aku yakin itu adalah suara tombak yang akan mencuat keluar dari pijakan kakiku untuk menusuk tubuhku. Dan dengan penuh kepasrahan serta mengandalkan instingku, aku pun segera berlari dengan cepat meniti salah satu sisi balok dan melakukan lompatan sekuat tenaga menuju tiang itu dan bersamaan dengan melayangnya tubuhku di udara, mencuatlah logam tajam dari balok tempat aku berdiri. Terlambat setengah detik saja pasti aku sudah menjadi daging sate manusia.
Lolos dari tusukan benda tajam itu bukan berarti aku selamat. Sesuai dengan perkiraanku, ketika aku menginjak papan dengan mengandalkan sedikit teknik untuk meringankan diri, papan yang semula akan bergerak naik itu justru bergerak turun. Teknik meringankan tubuhku sia-sia saja menghadapi sistem jungkat-jungkit milik Nyi Sukma ini. Hampir saja aku tergelincir karenanya, tapi karena aku masih sempat melakukan tolakan, tubuhku pun terdorong ke depan melayang di udara selama sekian detik dan aku pun berhasil meraih tiang itu meskipun posisinya agak ke bawah dibanding posisi mendarat teman-temanku yang lain. Teman-Temanku yang sedang menungguku di bawah segera naik ke tiang itu lagi untuk berjaga-jaga takut aku mengalami seperti yang dialami oleh Dinda tadi.
"Alhamdulillahirobbbil aaalamiiiin ...." Kami semua menangis haru saat sudah berkumpul tepat di depan rumah mewah Nyi Sukma.
"Kita sudah berhasil melalui semua tantangan ini, teman-teman," pekik Andre.
"Kita akan segera berkumpul dengan keluarga kita lagi," pekik Ikbal.
Kami benar-benar bahagia saat itu karena sudah melalui semua tantangan yang diberikan oleh Nyi Sukma. Aku sempat melirik ke arah Sang Penjaga, nampaknya ia kesal melihat keberhasilan kami.
Saat kami sedang berangkulan, tiba-tiba terdengar suara Nyi Sukma dari pintu rumahnya.
__ADS_1
"Ternyata kalian benar-benar hebat. Tak kusangka kalian bisa melalui semua tantangan yang saya berikan," ucap Nyi Sukma dengan suara tegas.
"Apakah kami boleh pulang sekarang, Nyi Sukma? Di mana jalan keluarnya?" tanyaku memberanikan diri.
"Sabar dulu, Imran. Bukankah kalian baru saja menyelesaikan tantangan-tantangan itu. Pasti sekarang kalian sudah kecapekan dan lapar? Beristirahatlah dulu sebentar," ucap Nyi Sukma lagi.
"Tidak, Nyi Sukma. Kami sudah terlalu lama meninggalkan rumah. Kami ingin segera berkumpul dengan keluarga dan teman-teman kami. Ijinkan kami pulang sekarang. Tunjukkan jalan keluar dari tempat ini sesuai dengan janji Nyi Sukma kepada kami," balas Faisal.
"Tenanglah, Faisal. Saya tidak mungkin melanggar aturan yang saya buat sendiri. Mau ditaruh di mana muka saya nantinya di hadapan penguasa-penguasa daerah yang lain. Tapi, taukah kalian bahwa pintu keluarnya ada di dalam rumah saya dan sungguh sangat tidak sopan jika kalian masuk ke rumah saya tanpa duduk dulu barang sebentar," jawab Nyi Sukma enteng.
Kami pun saling berpandangan dan kami tidak punya pilihan lain selain menerima tawaran siluman wanita itu.
"Baiklah, Nyi Sukma. Kami akan masuk dan duduk sebentar," ucap Faisal kepada Nyi Sukma.
"Masuklah ...," ucap Nyi Sukma sambil melangkah masuk ke dalam rumahnya terlebih dahulu diikuti oleh kami berenam.
"Duduklah! Saya akan mengambilkan sedikit minuman untuk kalian," ucap Nyi Sukma sambil berjalan menuju ruangan lain.
"Tidak usah, Nyi!" teriak kami hampir bersamaan.
Nyi Sukma menoleh sejenak.
"Apa guru kalian tidak mengajari adab bertamu ke rumah orang?" ucap Nyi Sukma.
Kami pun tidak bisa menjawab. Kami biarkan Nyi Sukma mengambil minuman. Sementara kami mengatur strategi.
__ADS_1
"Teman-Teman. Nanti minumannya jangan samoai kalian telan, ya? Kita tidak tahu Nyi Sukma menaruh apa di minumannya itu," ucap Faisal dengan suara sengaja dipelankan.
"Kalau terdesak, minumlah sedikit saja," jawab Dinda dengan ekspresi wajah datar.
Kami semua menatap wajah Dinda yang terlihat aneh. Namun, idenya ada benarnya juga.
"Din, bagaimana kamu bisa lolos dari Jatmiko?" tanyaku penasaran.
"Kita itu derajatnya lebih tinggi dari mereka. Kita tidak boleh kalah melawan mereka, Im," jawab Dinda lugas.
Sebenarnya aku masih ingin menanyakan banyak hal kepada Dinda, tapi keburu Nyi Sukma kembali membawa tujuh gelas minuman.
"Ini kopi hangat untuk kalian yang laki-laki dan ini teh hangat khusus untukmu, Dinda. Saya temani kalian dengan minum air putih ini saja," ucap Nyi Sukma sambil membagikan minuman kepada kami semua.
"Ayo, segera diminum!" ucap Nyi Sukma sambil menenggak air putihnya seolah-olah memberi contoh.
Kami semua saling berpandangan.
"Ayo!!" ucap Nyi Sukma lagi.
Kami pun segera mengangkat gelas-gelas kami dan mendekatkan bibir gelas masing-masing ke mulut kami.
"Aku akan tersinggung kalau kalian hanya berpura-pura minum," ucap Nyi Sukma seperti mengerti pikiran kami.
Kami pun lagi-lagi tak punya pilihan. Kami menenggak minuman kami masing-masing meskipun hanya sedikit. Dan Nyi Sukma pun tersenyum senang. Air kopi hangat sudah masuk ketenggorokanku dan benar-benar menghangatkan tubuhku. Entah mengapa setelah meminumnya aku merasa tenagaku kembali pulih setelah melewati tantangan-tantangan tadi. Dan yang lebih aneh, aku merasa Nyi Sukma terlihat begitu cantik saat itu. Jauh lebih cantik dari sebelumnya.
__ADS_1
BERSAMBUNG