
Aku menoleh ke arah sumber suara, yaitu daun pintu yang ada di belakangku. Ternyata daun pintu yang berbentuk kuku tarung itu telah tertutup dengan sendirinya.
"Loh, pintunya tertutup sendiri, Pak!" pekikku dengan suara agak keras bermaksud memberitahukan hal itu kepada bapak petugas kamar jenazah yang berdiri di sebelahku. Namun, aku kembali dibuat terkejut karena sosok dingin di sebelahku itu sudah tidak ada lagi di tempat semula. Napasku tersengal seketika dan aku memutar pandangan untuk menelusuri kemana perginya bapak tersebut.
"Paaaaaaak ...," panggilku dengan kebingungan karena sosok laki-laki itu menghilang secara misterius.
Awalnya aku dengan polosnya masih berusaha mencari kemana perginya petugas tersebut, tapi sejurus kemudian aku pun menyadari bahwa pria yang baru saja membawaku ke tempat ini bukanlah penjaga kamar mayat yang sebenarnya, melainkan dedemit di kamar mayat ini yang sedang menggangguku. Menyadari hal itu, aku pun segera berlari dengan cepat menuju pintu ruangan yang tertutup dengan sendirinya itu, sesampai di sana aku berusaha memutar kenop dan menarik gagangnya agar terbuka. Namun, sayangnya usahaku sia-sia belaka karena pintu ruangan itu terkunci dengan rapat.
"Ya Tuhan! Tidaaaak! Aku sekarang berada di dalam ruangan dengan beberapa mayat sedang terbujur kaku, sedangkan pintunya tertutup dengan rapat. Ya Tuhaaaaan!!" pekikku di dalam hati.
Aku tidak tinggal diam. Aku terus berusaha memutar kenop pintu tersebut dengan berbagai variasi tekanan untuk dapat membuka pintunya. Sayangnya, semua itu hanya sia-sia belaka karena pintunya benar-benar terkunci dengan rapat. Tidak cukup sampai di situ, aku juga menggedor-gedor pintu ruangan itu dengan keras agar dapat didengar oleh orang yang mungkin berada di luar ruangan ini, untuk dapat menolongku yang terjebak di dalamnya. Namun, sudah berkali-kali aku menggedor-gedor pintu tersebut, orang yang diharapkan untuk menolongku tak jua muncul. Jangan dikira aku hanya menyerah begitu saja, aku juga berteriak dengan kencang untuk menarik perhatian siapapun yang mungkin berada di luar ruangan ini.
"Paaaaaaaaaak!!!!!! Tolooooooooong .... aku terkunci di dalam. Tolooooooooong, Paaaaaaaaak!!!"
Suaraku sampai serak karena berteriak dengan kencang, tapi tak satu orang pun datang menolongku.
__ADS_1
Di sela-sela upayaku untuk keluar dari ruangan ini, sayup-sayup aku mendengar suara aneh dari arah belakangku.
KRIIIIIEEEET ... KRIIIEEEEEEEET ...
"Suara apakah itu?" Aku bertanya-tanya di dalam pikiranku sendiri.
Aku pun memberanikan diri menoleh ke belakang. Aku bersandar pada tengah-tengah daun pintu dengan deru napas tersengal. Dengan mataku, aku mencari sumber suara aneh tersebut. Aku mengamati kotak-kotak di dinding ruangan tersebut satu persatu. Aku berpikir, mungkin suara itu berasal dari salah satu kotak yang bautnya kendor. Tapi, aku sudah memeriksa satu persatu kotak tersebut dengan penglihatanku, semuanya statis tidak bergeser sedikitpun. Aku pun mengalihkan perhatian pada deretan brankar yang berbaris dengan rapi di depanku. Aku memeriksa setiap brankar itu satu persatu mulai dari yang posisinya paling dekat denganju hingga yang paling ujung. Saat aku memeriksa brankar yang paling dekat denganku, aku tidak mendapatkan hal aneh. Namun, ketika ekor mataku sampai pada brankar yang letaknya paling ujung, jantungku mendadak berdegup dengan kencang dan darahku mendesir seketika karena aku melihat brankar itu bergerak maju dan mundur secara periodik. Saat itu aku merasa bumi berhenti berputar. Bulu kudukku meremang seketika.
"Ya Tuhan, kenapa brankar itu bisa bergerak maju mundur padahal tidak ada yang mendorongnya? Jangan-Jangan ...,"
Aku gemetaran begitu mengingat apa yang dikatakan hantu pengawas kamar mayat barusan.
KRIEET ... KRIEEEET ...
Brankar yang berisi jenazah sopir angkot itu kembali bergerak maju dan mundur. Aku tidak punya pilihan lain selain melihat sambil mendelik jenazah sopir angkot yang masih terbujur kaku dengan kain putih menutup penuh dari ujung kepala sampai ke ujung kaki pria yang disinyalir sebagai ayah Arini tersebut.
__ADS_1
"Paaaaak ... jangan banguuuuuun, ya!" teriakku secara spontan begitu menyadari bahwa pergerakan maju mundur brankar itu semakin kencang. Brankar itu seperti tidak mempedulikan teriakanku, susunan logam tempat mayat itu tetap saja bergerak maju mundur dan terus mempermainkan kondisi psikologisku yang sedang tidak menentu.
Sebelum terjadi hal-hal yang tidak kuinginkan, kembali aku berusaha membuka pintu ruangan itu, menggedor-gedor daun pintunya, bahkan kali ini aku juga berusaha mendobrak pintu itu dengan segenap kekuatanku. Sayangnya, sampai tubuhku banjir dengan keringat, pintu tersebut tetap berdiri kokoh mengisolasi ruangan itu dari luar. Dan aku yang berada di dalamnya semakin kebingungan dan mulai putus asa.
"Riiiiiiin ...... Ndaaaaaaaaan ...," suara teriakanku tak sekuat tadi. Rasa keputusasaan itu mulai menggerogoti hati dan perasaanku. Ada sedikit rasa penyesalan yang hinggap di pikiranku atas ketidaktegasanku untuk menolak ajakan hantu pengawas itu.
"Harusnya aku tegas menolak ajakan hantu itu tadi. Jika perlu, harusnya aku tetap saja ikut Arini dan Bondan keluar kamar mayat ini. Baiklah, kalau Tuhan masih memberikan umur yang panjang kepadaku, aku akan belajar untuk bersikap tegas mengungkapkan pendapat dan keinginanku. Bukankah, untuk menerangi sekelilingnya, aku tidak harus menjadi hancur seperti lilin? Kalau aku hancur seperti lilin demi menyinari sekelilingku, maka itu sama saja dengan aku mengorbankan diriku sendiri. Sedangkan, di masa depan masih banyak orang yang membutuhkan pertolonganku. Masih banyak misteri yang harus aku pecahkan, salah satunya adalah misteri hilangnya cucu almarhum Mbah Arni, salah satu orang yang sangat berjasa pada keluargaku. Aku tidak boleh menyerah! Aku harus melawan ketakutanku ini! Kupasrahkan hidup dan matiku pada Allah Subhanahu wata'ala," Aku berkata pada diriku sendiri untuk mengingatkan jati diriku dan juga untuk memompa keberanianku.
Aku tidak berhasil membuka pintu itu dan juga tidak berhasil mendapat pertolongan dari orang lain. Aku membalikkan badanku kembali untuk memeriksa perkembangan kondisi brankar yang berisi jenazah sopir angkot yang terletak di ujung ruangan.
SREEEET!!
Saat aku menemukan kembali keberanianku, gangguan yang datang padaku kali ini sudsh berbeda dengan sebelumnya. Kali ini brankar itu tidak hanya bergerak maju mundur dengan sendirinya, melainkan kain penutup jenazah itu sedikit demi sedikit bergeser dari atas ke bawah. Aku melihat bagian bawah kain putih itu mulai menjuntai ke lantai. Alhasil, bagian atas kain putih yang semula menutup kepala jenazah sopir angkot itu dengan sempurna, kali ini kainnya hanya dapat menutup sampai di dahinya saja. Dan kain putih itu terus bergerak ke bawah. Dan ...
BERSAMBUNG
__ADS_1
Silakan tinggalkan like dan komentar Anda. Karena like dan komentar Anda sangat berarti untuk kelanjutan cerita ini. Terima kasih.
Selamat berbuka puasa