
Memiliki orang tua yang sederhana seperti bapak dan ibu adalah kebahagiaan tersendiri untukku. Aku jarang sekali melihat kedua orang tuaku ribut karena masalah rumit, apalagi karena hal sepele. Paling sering ibu godain bapak kalau lagi cemburu kepada seseorang. Bapak biasanya tidak begitu menggubris tingkah kekanak-kanakan ibu. Biasanya ibu makin menjadi-jadi menyindir bapak, entah dengan nyanyian atau tindakan-tindakan yang menyudutkan bapak. Seperti kejadian beberapa waktu yang lalu, saat ada seorang perempuan sedang kebingungan di pinggir jalan. Bapak menawarkan bantuan kepada perempuan itu dengan berkata, "Nyari rumah siapa, Mbak?" Kebetulan waktu itu ibu melihat apa yang dilakukan bapak. Entah mungkin lagi PMS atau apa, seharian ibu meledek bapak dengan mengucapkan, "Nyari rumah siapa, Mbak?" berkali-kali sambil menirukan logat bicara bapak yang super sopan kepada perempuan itu. Kalau sudah seperti itu, ibu tidak malu menunjukkan sindirannya kepada bapak di hadapanku. Bapak yang sabar tidak pernah menanggapi tingkah ibu dengan emosi. Biasanya bapak sengaja memperlama waktu di sawah atau di masjid kalau ibu sedang merajuk seperti itu. Tapi, hal seperti itu tidak pernah berlangsung lama, besoknya biasanya tingkah ibu kembali normal seperti sedia kala. Seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa sebelumnya.
Aku pernah menanyakan hal itu kepada bapak. "Pak, ibu kenapa, sih?" tanyaku. "Biasa, Im. Nanti kamu kalau sudah dewasa dan menikah. Harus sabar menghadapi istrimu. Perempuan itu terkadang aneh. Tak ada angin tak ada hujan, kadang mereka marah. Api jangan dilawan dengan api. Harus dilawan dengan air biar apinya padam," jawab bapak.
"Tapi, sebenarnya yang aneh bukan hanya perempuan loh! Laki-Laki juga. Laki-Laki kadang terlalu sibuk dengan hewan peliharaannya atau teman-temannya. Padahal anak istrinya membutuhkan kasih sayang dan perhatian dari kepala rumah tangga. Uangnya sering banyak dihabiskan untuk hobinya, tapi giliran ngasih nafkah untuk keluarga malah seret. Belum lagi, pekerjaan rumah sering dibebankan kepada istrinya semuanya dengan dalih kewajibannya hanya mencari nafkah saja. Padahal, pekerjaan di rumah itu banyak sekali dan berat-berat. Kamu jangan gitu ya, Im?" ujar bapak lagi.
"Iya, Pak. Terima kasih atas nasihatnya," jawabku.
Bapak adalah sosok yang sangat aku kagumi dan banggakan. Beliau adalah seorang ayah yang sangat memperhatikan kebahagiaan anaknya. Ada beberapa kenangan masa kecil yang aku ingat bersama bapak. Meskipun rumahku jauh dari pusat kota. Kalau sedang ada acara karnaval di pusat kota, biasanya bapak memboncengku naik sepeda bajong menyusuri jalan berbatu menuju pusat kota. Selama pertunjukan berlangsung, biasanya penonton berjubel dan berdesakan. Bapak menaikkan aku ke atas pundaknya agar aku dapat melihat aksi para peserta karnaval di jalan. Ibu kemana? Ibu tidak pernah ikut kalau bapak mengajak aku nonton karnaval di kota. Tapi ibu paling semangat sekali menyiapkan bekal untuk bapak dan aku supaya tidak kelaparan dan kehausan saat menonton acara tersebut.
"Itu rombongan siswa dan guru SMA 14, Im!" pekik bapak saat melihat aku terpukau dengan penampilan peserta karnaval.
"Bagus banget ya, Pak?" tanyaku.
"Iya dong. Itu sekolah favorit," jawab bapak.
"Aku ingin sekolah di situ, Pak, kalau sudah besar," pekikku.
"Aamiiin ... Tapi mahal, Im, biayanya," jawab bapak.
__ADS_1
"Nggak jadi deh, Pak. Cari sekolah yang murah saja," jawabku.
Itulah salah satu kenangan yang aku ingat semasa kecil ketika diajak bapak menonton acara karnaval tersebut. Biasanya, kami berangkat sebelum salat Zuhur dan pulang selepas salat Magrib.
"Im, jangan tidur, ya? Ntar kamu jatuh kalau tidur di jalan!" ujar bapak.
"Iya, Pak. Aku nggak akan tidur meskipun ngantuk," jawabku sambil menguap.
"Ah, kamu ini sudah ngantuk. Makanya, kalau bapak bilang jangan malam-malam tidurnya, kamunharus nurut. Biar bapak ikat kaki dan tanganmu supaya nggak jatuh," ujar bapak.
"Iya, deh ...," jawabku.
Pelajaran berharga yang aku dapat dari setiap perjalanan nonton karnaval di kota adalah disiplin dalam beribadah. Bapak selalu mengajakku beribadah di masjid jika sudah sampai waktu salat. Bahkan, bapak rela merogoh koceknya untuk membayar biaya berwudlu, saat waktu salat sudah tiba saat kami berdua ada di pasar yang jauh dari mesjid. Di pasar kota ada musala yang bergandengan dengan tempat berwudlu. Wudlunya yang bayar, kalau salatnya sih gratis.
*
Pagi hari aku berangkat sendirian menuju sekolah. Seperti biasa aku berjalan kaki dari rumah menuju jalan raya. Tidak seperti biasanya, ketika aku akan sampai di rel kereta api, ada perasaan was-was yang tiba-tiba menghantui pikiranku. Terlebih, saat ini tidak ada orang sama sekali di daerah tersebut. Pak Ran yang biasanya mangkal di gapura dengan becak kesayangannya menunggu warga perumahan yang akan menggunakan jasanya, saat itu tidak kelihatan batang hidungnya.
"Kok sepi amat, sih? Tumben ...," pikirku di dalam hati.
__ADS_1
Belum lima menit aku memikirkan hal itu. Tiba-Tiba aku mendengar suara seseorang berjalan di belakangku. Aku menoleh ke belakang, ternyata tidak ada siapa-siapa. Aku kembali melangkahkan kakiku mendekati rel kereta api. Suara langkah di belakangku kembali terdengar. Sambil melangkah aku menoleh lagi ke belakang. Dan ternyata di belakangku tidak ada siapa-siapa. Jantungku berdegup dengan kencang berpacu dengan napasku yang makin ngos-ngosan. Hidungku tiba-tiba mencium aroma bunga yang sangat wangi. Pikiranku menjadi tidak tenang. Keringat di tubuhku membanjir seketika. Aku kembali memutar kepalaku ke depan untuk melanjutkan langkahku. Namun, aku menjadi sangat terkejut karena tepat di depanku sudah berdiri seorang perempuan cantik sedang membawa payung. Aku tidak dapat menghindar untuk tidak menabrak perempuan tersebut karena jarak kami berdua terlalu dekat dan saat iku aku sedang berjalan dengan cukup cepat. Pikirku aku pasti akan menabrak perempuan tersebut. Tapi, ternyata perkiraanku salah. Saat aku sudah menabrak tubuh perempuan itu ternyata tubuhku malah menembus tubuh perempuan berpayung itu.
"Astagfirullah!!!!!" pekikku kaget.
"Aaaah ....," suara yang keluar dari mulutku akibat menahan napas. Aku spontan mengerem laju jalanku kemudian. Aku kembali menoleh ke belakang untuk melihat perempuan yang baru kutembus badannya itu. Tapi, ia sudah tidak ada di sana lagi.
BERSAMBUNG
Like dan komentar kakak, selalu Junan tungguin, loh!
Oh, ya jangan lupa untuk membaca karya hororku yang lain.
NOVEL KAMPUNG HANTU
NOVEL MARANTI
CHAT STORY "TOKO YU RIPEN"
Terima kasih
__ADS_1