
Aku memejamkan mata karena tak kuasa melihat salah satu temanku akan meregang nyawa. Aku mengatur napasku untuk menenangkan diri agar tetap dapat berkonsentrasi melanjutkan tantangan ini meskipun tanpa Roni. Namun, sebuah teriakan mengagetkanku.
"Terima kasih, Dinda!!!!" teriak seseorang dengan keras dari arah bawah kemudian bergerak ke atas.
Aku baru menyadari bahwa orang yang barusan berteriak adalah Roni.
"Roni ....," gumamku menyebut nama temanku.
Aku pun membelalakkan mataku lebar-lebar memperhatikan Roni yang ternyata saat ini masih hidup dan sedang berada di kursinya.
"Bagaimana ini bisa terjadi? Jangan-Jangan ..
Barusan Roni berteriak memanggil nama Dinda. Apa mungkin?" Aku berpikir dengan keras.
Tiba-Tiba seseorang memanggilku dengan suara keras.
"Imran ... aku datang," teriak orang tersebut.
Sejenak aku mencerna dan mengira-ngira siapakah orang yang memanggil namaku. Namun, sedetik kemudian aku sudah paham bahwa Dinda lah orangnya dan ia juga lah yang telah menyelamatkan nyawa Roni. Iya, anak perempuan itu datang di saat yang tepat. Ia melompat ke kursi yang ditinggalkan oleh Ikbal sebelum Roni menjadi sate hidup-hidup.
"Terima kasih, ya, kamu sudah menyelamatkanku," teriak Roni.
"Sama-Sama, Ron," jawab Dinda.
"Bagaimana kamu bisa lepas dari Jatmiko, Din? Dan bagaimana kamu dengan beraninya melompat ke kursi itu?" cerocosku.
"Nanti kamu akan tahu sendiri perihal Jatmiko. Itu pun kalau kita semua bisa selamat. Mengenai alasan aku berani melompat, jujur aku tidak tega melihat Roni harus mati," jawab Dinda serius.
"Apa yang kamu lakukan sungguh luar biasa, Din," timpalku.
Dinda membalas ucapanku dengan senyumannya yang manis.
Kini kami kembali berempat berada di atas jungkat-jungkit yang siap memangsa kami. Kami berayun-ayun secara bergantian sambil menunggu lampu kursi kami kembali menyala.
"Faisal, kursimu saat ini yang sedang menyala," teriakku pada Faisal.
"Hati-Hati, Sal!" teriak Dinda.
"Oke, Din. Kamu siap-siap, Im!" jawab Faisal.
__ADS_1
"Baiklah!" jawabku.
Selanjutnya Faisal dan aku memasang ancang-ancang untuk melompat. Dinda dan Roni nampak sangat mencemaskan kami berdua.
"Siap-Siap, ya, Im! Aku akan melompat pada hitungan ketiga," teriak Faisal sambil.menoleh ke arahku.
"Oke, Sal. Hati-Hati, ya!" jawabku.
Keringat di tubuhku banjir saat itu karena aku benar-benar harus mempertaruhkan nyawaku saat ini.
Satu ...
Dua ...
Tiga ...
Pada hitungan ketiga Faisal pun melompat bersamaan denganku yang berlari menuju bagian tengah sistem jungkat-jungkit itu. Faisal berhasil mendarat dengan sempurna di tiang itu. Syukurlah, kami semua masih bisa selamat, setidaknya sampai detik ini. Namun, kebahagiaan kami tidak bertahan lama karena putaran jungkat-jungkit yang kami naiki sekarang menjadi semakin cepat dari sebelumnya. Aku, Roni, dan Dinda yang masih berada di atasnya pun menjadi panik karenanya.
"Ya Tuhan ... putarannya semakin cepat, Im," teriak Dinda.
"Iya, Im. Sepertinya hal ini akan menyulitkan bagi kita untuk bisa melompat ke tiang itu," sahut Roni.
Dinda dan Roni hanya bisa mengangguk mendengar perkataanku.
"Ron ... lampu kursimu menyala. Kamu bersiaplah untuk melompat. Aku akan berlari ke posisimu begitu kamu melompat ke tiang itu," teriakku.
"Iya, Im," jawab Roni sembari mengambil posisi duduk setengah berdiri di kursinya menghadap ke bagian luar jungkat-jungkit ini.
Pada saat itu kami benar-benar merasakan betapa cepatnya putaran jungkat-jungkit yang sedang kami naiki. Aku bisa merasakan bahwa Roni kesulitan menentukan ke sudut mana ia akan melompat supaya dapat mendarat tepat pada tiang itu. Saking lamanya berpikir akhirnya ia sudah kehilangan satu putaran.
"Ron, ikutilah kata hatimu saat kamu melompat!" teriakku pada temanku itu.
Roni menoleh sejenak ke arahku dan ia pun menganggukkan kepalanya.
"Allahuakbar ...," teriaknya sambil melompat fan diikuti oleh berpindahnya aku ke kursi yang ia tinggalkan.
"Alhamdulillah ...," pekik aku dan Dinda tatkala melihat Roni berhasil memeluk tiang itu.
Aku melihat Roni sempat menoleh dan menitikkan air mata. Mungkin ia tak menyangka bisa selamat dari tantangan ketiga ini, tapi ia juga sedih karena masih ada aku dan Dinda yang harus mempertaruhkan nyawa di atas jungkat-jungkit.
__ADS_1
Kali ini tinggal aku dan Dinda yang berdiri saling bersebrangan di atas jungkat-jungkit yang putarannya sudah begitu keras.
"Im ... Aku takuuuut ...," teriak Dinda sambil meneteskan air mata.
Aku yang melihat kesedihan Dinda juga tak tega.
"Din ... tenang ... kita pasti bisa melalui ini. Ada Allah SWT yang akan melindungi kita semua. Kamu ingat, ya, nanti kalau aku yang harus melompat. Kamu tidak boleh panik berada sendirian di tempat ini. Kamu harus menyelesaikan tantangan ini dengan berani dan pasrah kepada Allah SWT. Begitu pula kalau kamu yang harus melompat duluan, kamu juga harus melompat dengan penuh keyakinan," ucapku berapi-api dan dengan nada emosional.
"Tapi, Im ... putarannya semakin kencang. Rasanya, aku tidak akan mampu melakukannya," jawab Dinda dengan penuh ketakutan.
"Tidak, Din. Kamu harus kuat! Kamu harus berani melawan ini semuanya," teriakku.
Dinda pun terdiam.
CLING!!
Lampu di kursi Dinda menyala. Dinda terkejut.
"Ayo, Din. Buruan kamu melompat!" teriakku.
"Im ... aku takut ...," jawab Dinda.
"Jangan takut, Din. Kamu ingin tetap di sini atau kamu ingin pulang? Hanya inilah caranya kamu bisa pulang," teriakku lagi.
Dinda pun membalikkan badannya membelakangiku. Dengan penuh kehati-hatian ia pun memasang kuda-kuda untuk melompat ke arah tiang. Hal itu telah memakan waktu satu putaran.
"Ayo, Din ... melompatlah!" teriakku lagi.
Dinda menoleh sesaat ke arahku, kemudian ia kembali membelakangiku dan bersiap untuk melompat. Kali ini sudah tersisa satu putaran saja. Dinda pun melakukan lompatannya di detik-detik terakhir.
"Allahuakbar ...," pekik Dinda saat melompat.
Ketika kaki Dinda meninggalkan balok kursi, aku buru-buru berlari ke tengah jungkat-jungkit supaya tidak terjatuh ke bawah dan.
"Aaaaaaaaaaarhhhh ...." Teriakan Dinda menggema. Dari pusat jungkat-jungkit ini aku melihat Dinda awalnya tepat mendarat di tiang itu. Namun, tangannya tidak cukup kuat menahan beban tubuhnya sehingga ia pun merosot ke bawah dengan kecepatan yang cukup tinggi.
"Ya Tuhan ... Dindaaaaaaaa ...." Aku berteriak memanggil nama temanku itu dengan nada ketakutan.
Aku terus menatap tubuh kecil Dinda yang terus merosot ke bawah. Anak gadis itu memang berusaha untuk menopang tubuhnya sendiri dengan sekuat tenaganya, tapi tangan kecilnya tidak mampu menopang tubuhnya sendiri. Dinda menahan sakit di tangan dan dadanya akibat bergesekan dengan tiang itu. Di bawah sana tombak yang tajam dan beberapa ekor buaya sudah siap menunggunya.
__ADS_1
BERSAMBUNG