
Bu Iis manggut-manggut pertanda ia juga mendengar suara kaki diseret. Dari sorot matanya, terlihat bahwa Bu Iis merasa ketakutan.
"Bu, suara langkahnya sudah tidak terdengar lagi," Aku berbisik kepada guruku itu.
"Iya, Im. Tapi, saya kok jadi takut, ya? Apa sebaiknya kita urungkan saja, ya?" ujar Bu Iis kemudian.
"Apa Bu Iis nggak takut ntar malah dimarahi kepala sekolah?" Aku berkata.
"Iya juga, sih. Tapi-" ujar Bu Iis.
"Tenanglah, Bu! Ada saya di samping Bu Iis. Saya yakin barusan itu bukan suara langkah kaki manusia. Mana mungkin di dalam ruangan ini ada manusia. Iya, kan?" ujarku berusaha menenangkan perasaan guruku itu.
"Iya juga, sih. Berarti barusan itu suara-" ujar Bu Iis.
"Bu Iis nggak usah takut. Yang penting Bu Iis jangan jauh-jauh dari saya. Ingat, Bu. Kita ini kedudukannya lebih mulia dari mereka. Yang kita butuhkan hanya keyakinan kepada Sang Maha Pencipta saja," jawabku.
"Iya, Im. Bismillah, wes. Toh, kita nggak niat mengganggu mereka. Bu Iis hanya menjalankan tugas saja," jawab Bu Iis sambil berusaha menenangkan dirinya.
KLETEK ... KRIIIIIEEEEEEEET ...
Aku memutar anak kunci dan mendorong daun pintunya ke dalam. Saat pintu itu terbuka, kami berdua mencium aroma khas kertas yang tentunya bersumber dari dokumen-dokumen di rak-rak yang tertata dengan rapi di hadapan kami. Sinar lampu lima watt sebagian masuk ke dalam ruangan itu. Cukup bagi mata kami berdua untuk melihat rak-rak yang berjejer dengan rapi di dalam ruangan tersebut. Tapi, cahaya yang terbatas itu tidak cukup bagi kami untuk melihat dengan jelas jenis-jenis dokumen yang ada di atas rak-rak yang ditata secara memanjang tersebut.
"Assalamualaikum ...," Aku mengucap salam.
Tidak ada jawaban.
"Kamu mengucap salam sama siapa, Im? Wong nggak ada orang?" tanya Bu Iis.
"Ya, sama yang ada di dalam sini, Bu. Bukankah salam adalah doa?" jawabku santai.
"Ah, kamu ini ada-ada saja, Im. Ntar kalau ada yang jawab salammu bagaimana?" protes Bu Iis.
"Yah, nggak apa-apa, Bu. Berarti saling mendoakan. Iya, kan?" jawabku sambil tersenyum pada guruku itu.
"Dasar kamu ini. Nggak tahu saya lagi takut begini," jawab Bu Iis.
__ADS_1
Kami berdua pun masuk ke dalam ruangan tersebut secara perlahan. Kubuka pintunya lebar-lebar agar intensitas cahaya yang masuk ke dalam ruangan tersebut menjadi lebih besar.
"Bu Iis tahu, kira-kira di mana letak saklar lampu di ruangan ini? Tidak mungkin kita meletakkan dokumen ini dalam keadaan pencahayaan kurang seperti ini, kan?" Aku bertanya pada guruku itu.
"Saya nggak tahu, Im. Saya tidak pernah masuk ke dalam sini," jawab Bu Iis sambil menggelengkan kepalanya.
"Oke, kalau begitu kita periksa bareng-bareng bagian dindingnya, Bu!" Bu Iis memeriksa di bagian kiri, saya memeriksa di bagian kanan," jawabku.
"Enggak, Im. Kita cari bareng-bareng saja. Bu Iis takut kalau harus berpencar," jawab Bu Iis.
"Okelah kalau begitu. Bu Iis ikuti saya, ya!" ucapku.
"Iya, Im," jawab Bu Iis.
Aku pun melangkah semakin ke dalam sambil menoleh ke kiri dan ke kanan untuk mencari saklar di dinding yang tidak kami ketahui posisi pastinya.
"Bu Iis, sepertinya itu saklarnya." Aku berkata kepada guruku.
"Mana, Im?" tanya Bu Iis.
"Itu, Bu. Di samping rak," jawabku sambil menunjuk ke dinding.
"Yakin, Bu. Ayo, kita ke sana!" Aku menjawab sambil melangkah menuju dinding yang kutunjuk dengan jari telunjukku. Bu Iis mengekor di belakangku.
SREEEEET ...
"Sttttttt!!!" Aku memberi tanda kepada Bu Iis untuk diam karena tiba-tiba terdengar langkah kaki diseret.
"Suara itu lagi, Im," bisik Bu Iis.
"Iya, Bu. Kita harus waspada!" Aku menjawab.
Setelah beberapa detik kami terdiam dan menunggu dan tidak terjadi apa-apa, aku pun melanjutkan langkahku kembali. Kutarik tangan Bu Iis supaya tetap mengikuti langkahku. Tiba-Tiba suara derap langkah kaki itu terdengar lebih cepat dan keras seolah-olah sedang melangkah menuju tempat kami berdiri. Bu Iis membenamkan wajahnya di punggungku karena saking takutnya.
Tap!!!
__ADS_1
Lampu ruangan tersebut pun menyala dengan cukup terang. Pada saat yang bersamaan suara langkah kaki yang semula terdengar sangat keras, tiba-tiba terhenti tepat saat lampu di ruangan tersebut menyala dengan terang.
"Bu Iis ... Bu Iis ...," panggilku pada guruku yang masih terlihat takut untuk membuka matanya.
"Im, nggak ada hantu, kan?" tanya Bu Iis masih dengan menyembunyikan wajahnya di punggungku.
"Nggak ada kok, Bu. Lampunya sudah menyala dengan terangnya," jawabku bermaksud meyakinkan guruku itu.
Bu Iis pun memberanikan diri membuka kedua matanya.
"Alhamdulillah ...,' ujarnya sambil mengedarkan pandangan ke sekeliling.
" Ayo, buruan kita letakkan dokumen ini di rak!" ucap Bu Iis dengan girangnya.
"Sabar, Bu. Sudah aman kok sekarang. Kita harus berhati-hati dalam meletakkan dokumen ini karena ruangan ini sepertinya sangat tertata dengan rapi. Coba Bu Iis perhatikan dokumen di rak-rak itu. Semuanya benar-benar tertata rapi dan terstruktur. Kalau kita asal meletakkannya, bisa-bisa kepala sekolah akan kecewa sama Bu Iis," ujarku.
"Iya, Im. Ibu juga tidak menyangka kalau ruangan ini ternyata sangat rapi. Tapi, meskipun rapi, saya tetap tidak nyaman berada berlama-lama di ruangan ini," jawab Bu Iis.
"Baiklah, Bu. Ayo, kita letakkan dokumen itu sekarang! Di rak nomer berapa kita akan meletakkannya?" tanyaku.
"Hm ... kalau tidak salah di rak nomer tiga," jawab Bu Iis.
"Satu ... dua ... tiga ... berarti rak yang itu, ya?" tanyaku pada Bu Iis.
"Kalau dari hitungannya sih, iya, Im," jawab Bu Iis.
"Kayaknya iya, Bu. Terus, posisinya paling dalam juga. Dan juga, dibanding rak-rak yang lain, rak itu masih terisi sedikit dokumen. Ayo, kita ke sana, Bu, sambil memeriksa dokumen yang berada di sana!" ujarku.
"Ayo, Im," jawab Bu Iis.
Kami pun berjalan bersama menuju rak yang kami maksud tersebut. Letak raknya memang agak ke dalam. Di dekat rak itu ada sebuah meja kerja dan sebuah kursi di balik meja tersebut. Aku agak heran kenapa meja dan kursi itu terlihat bersih padahal ruangan ini jarang dipakai. Yang masuk ke sini paling-paling hanya kepala sekolah saja. Ada sebuah jendela berukuran besar lurus di depan meja tersebut, tapi jendela itu dipalang dengan kayu.
"Benarkah ini raknya, Bu? Coba Bu Iis periksa dokumen-dokumen yang ada. Kalau sesuai, berarti memang ini rak yang dimaksud oleh kepala sekolah," ujarku sambil menyerahkan dokumen yang kubawa kepada Bu Iis. Aku lebih memilih untuk mengamati meja dan kursi yang ada di ruangan tersebut. Meja dan kursinya terbuat dari kayu jati. Aku menyentuh meja tersebut ternyata benar-benar bersih, tak ada satu debu pun yang menempel di permukaannya. Pandanganku tiba-tiba menumbuk pada sebuah lukisan di belakang kursi jati itu. Secara perlahan aku mendekati lukisan tersebut. Aku melihat sepertinya ada yang aneh dengan benda tersebut. Aku mendekati lukisan itu. Ketika sudah dekat, aku pun menyentuh bagian piguranya. Tiba-tiba pundakku disentuh oleh seseorang. Aku pun menoleh ke belakang dan ...
"Astagfirullah!!!"
__ADS_1
BERSAMBUNG
Terima kasih atas atensi Teman-Teman yang selalu memberikan like dan komentar untuk novel SEKOLAH HANTU ini.