SEKOLAH HANTU

SEKOLAH HANTU
BAB 25 KEJUTAN


__ADS_3

Kupungut sebuah tongkat kayu yang ukurannya agak panjang dan kedua ujungnya mulai lapuk. Kugunakan kayu panjang itu untuk menyingkap rimbunan semak dan rumput yang mungkin menutupi pohon bunga mawar yang sedang kucari. Kurang lebih lima belas menit aku berada di tempat itu, namun aku tidak menemukan yang kucari. Tiba-Tiba aku.mendengar suara mencurigakan dari rerimbunan semak di sekitar gedung tua itu. Aku mundir dengan perlahan karena suara itu semakin dekat ke arahku. Aku sangat terkejut ketika mengetahui itu adalah suara desisan ular cobra yang ukurannya agak besar.


"Astagfirullah!!" pekikku kaget. Aku mundur ke belakang untuk menjauhi ular yang sedang merayap menuju ke tempatku. Aku dan ular berjarak kurang lebih empat meteran. Aku masih terus mundur masih terus mundur ke belakang sampai ular itu berhenti mengejarku dan bergerak mondar-mandor di tempat seolah memberi tahuku bahwa itu adalah daerah kekuasaannya. Beberapa detik kemudian ular itu berbalik dan berjalan menjauh memasuki gedung tua tersebut. Aku bernapas lega karena bisa selamat dari bisa racun hewan berbahaya itu. Aku pun memutuskan untuk meninggalkan tempat tersebut untuk memeriksa gedung-gedung yang lain.


Di sebelah gedung tua ini ada sebuah gedung penjara. Aku tidak bisa masuk ke dalam karena dijaga ketat oleh sipir penjara. Tapi aku bisa melihat semua jenis tanaman yang ada di bagian depan gedung tersebut. Tak ada satu pun mawar di sana. Yang ada bunga jenis anturium dan kaktus. Aku pun melanjutkan ke gedung yang lain. Kali ini aku harus menyebrangi jalan terlebih dahulu untuk sampai ke bank swasta yang lain. Kendaraan yang mulai ramai membuatku agak kesulitan untuk menyeberang. Setelah sampai di seberang, aku pun mulai memeriksa deretan bank swasta di sana. Lagi-Lagi aku harus kecewa karena di depan gedung-gedung itu minim sekali tanaman. Semua halamannya sudah dipaving atau diplester.


Aku pun menyebrangi jalan raya lagi untuk memeriksa gedung Pemda. Di depan gedung Pemda ini ada banyak sekali tanaman sehingga kelihatan asri. Ada sedikit rasa keraguan untuk.memeriksanya, takutnya nanti aku malah dicurigai sebagai penyusup atau *******. Tapi, aku tetap memberanikan diri untuk memeriksa halaman gedung tersebut. Aku pun memberanikan diri memasuki area gedung Pemda. Kuperiksa satu persatu tanaman yang ada di sana. Hampir saja aku merasa putus asa karena tidak menemukan sebuah petunjuk. Namun, saat aku akan menuju pintu keluar, aku melihat ada sebuah pot kecil berisi bunga mawar. Pot itu terletak di atas bak semen yang difungsikan sebagai tempat duduk. Aku pun bersorak gembira karena menemukannya. Dengan tergesa-gesa aku pun mendekati pot tersebut. Aku menghitung jumlah bunganya, ternyata ada 13 bunga mawar yang sudah mekar dan masih kuncup.


"Ya Tuhan ... ternyata inilah jawaban dari petunjuk-petunjuk itu. Lantas, apa yang harus aku lakukan dengan bunga mawar ini? Di sini tidak ada sesuatu yang ganjil," ucapku di dalam hati sambio memeriksa bunga mawar tersebut.


Aku sedikit mengorek-orek tanah tempat bunga itu tumbuh, tapi aku tidak menemukan keganjilan sedikitpun. Aku memeriksa bagian bawah pot tersebut, juga tidak ada yang aneh selain cetakan nama pabrik yang memproduksinya. Aku memeriksa bunga dan pot itu selama beberapa menit dan aku tidak menemukan keanehan sedikitpun, hingga akhirnya.


"Mas ... Mas ...," suara seseorang dari belakangku.


Aku refleks menoleh.


"Astagfirullah ...," ucapku dengan suara gemetar. Laki-Laki berpakaian Satpam itu menatapku dengan tatapan mata yang tajam. Ada kemarahan yang terpancar dari tatapan matanya yang memerah.


"Ma-maaf, Pak. S-s-saya ...," gumamku.


"Apa yang kamu lakukan di sini? Taruh pot itu di tempat semula!" bentak pria berpakaian Satpam itu.


"I-i-iya ...," jawabku sambil meletakkan pot yang kupegang ke tempat semula.


"Segera pergi dari sini sebelum saya telponkan polisi. Ini kantor penting bukan untuk tempat main apalagi kalau kamu sampai merusak fasilitas yang ada di sini," bentak pria itu lagi.


"I-i-iya, Pak!" jawabku sambil berjalan meninggalkan Satpam penjaga gedung Pemda tersebut.


Dari arah kejauhan aku melihat Bondan dan Ondah sedang berlari ke arahku. Nampaknya mereka berdua mendengar suara bentakan dari Satpam barusan.

__ADS_1


"Ada apa, Im?" tanya Bondan setelah sampai di depanku.


"Kamu kenapa, Im?" tanya Indah kemudian.


"Tidak ... aku tidak apa-apa," jawabku sambil terus berjalan diikuti oleh kedua temanku itu.


Sampailah kami bertiga di bawah pohon beringin di pojok alun-alun sebelah barat laut. Kami bertiga duduk berjejer sambil menatap ke arah gedung Pemda tadi.


"Oooo ... jadi kamu dimarahi oleh Satpam karena kamu dicurigai mau merusak pot yang berisi bunga mawar?" tanya Indah setelah mendengar sedikit ceritaku.


"Iya, Ndah. Untung saja aku tidak dicurigai sebagai penjahat yang akan menaruh bom di sana," jawabku.


"Emangnya keamanan di gedung Pemda bisa dibobol semudah itu?" tanya Bondan.


"Ya enggak mungkin semudah itu lah. Tapi, siapa juga yang nggak takut tiba-tiba disamperi Satpam seperti tadi," jawabku.


"Kamu tidak diapa-apain kan sama Satpam tadi?" tanya Indah.


"Enggak, Ndah. Aku cuma dimarahi saja," jawabku.


"Syukurlah kalau begitu. Kamu jawab apa waktu ditanya-tanyain sama Satpam tadi?" tanya Indah.


"Saya belum sempat jawab apa-apa sudah disuruh buru-buru pergi oleh Satpam itu," jawabku.


"Untung saja ya. Aku yakin kamu tidak akan bisa berbohong kalau disuruh menjawab apa yang kamu lakukan di sana,"


"Benar, Ndah. Aku sudah terlalu takut tadi," jawabku.


"Im, kamu yakin tidak ada sesuatu yang aneh di pot tadi?" tanya Bondan tiba-tiba.

__ADS_1


"Aku yakin, Ndan. Tadi itu hanya pot biasa. Aku bahkan sudah memeriksa tanahnya juga, tapi juga tidak ada yang aneh," jawabku tegas.


"Ya sudah kalau begitu. Kita sudah memeriksa keseluruhan alun-alun ini, tapi kita tidak menemukan apa-apa. Ya sudah ...," ujar Bondan kemudian.


Kami berdua terdiam tidak menyahut. Lelah kami rasakan saat itu. Tiba-Tiba ...


"Im, kok tiba-tiba ada angin, ya?" tanya Indah.


"Iya ... anginnya sejuk tapi ...," jawabku.


"Im ... Kamu dengar suara itu?" tanya Bondan.


"Tidak. Aku tidak dengar apa-apa," jawabku.


"Coba kamu dengarkan lebih teliti. Suaranya dari arah belakang kita, Im" ujar Bondan ngotot.


Kami bertiga saling memandang kemudian kami pun menoleh secara bersama-sama ke arah belakang. Pandangan kami tertuju pada batang pohon beringin tua yang ada di belakang kami.


"Tidak ada suara yang memanggilku, kan?" tanyaku lagi.


Kedua temanku tidak menyahut. Tiba-Tiba dari balik pohon beringin itu terdengar suara.


"Iiiiiiim ... Iiiiim ...,"


BERSAMBUNG


Beli pepaya beli sepatu


Suara siapakah itu?

__ADS_1


__ADS_2