
Aku syok begitu melihat pemandangan tak lazim di depan mataku.
"Buuuuuu ... buuuuu ...," Aku memanggil Bu Iis dengan terbata-bata. Bu Iis yang mendengar suaraku menjadi kebingungan dan ia pun berlari ke arahku.
"Ada apa, Im?" Bu Iis bertanya kepadaku begitu ia sudah berada di dekatku.
"Iiii-tu, Bu ...," ucapku sambil menunjuk ke arah dalam ruangan kecil itu.
"Apa yang kamu tunjuk, Im. Tidak ada apa-apa di sana," jawab Bu Iis sambil menatapku kebingungan. Dahinya tampak mengernyit.
Aku pun menajamkan penglihatanku untuk melihat kembali keanehan itu agar aku bisa menjelaskan secara detil kepada Bu Iis perihal ...
"Tidak! Kemana perginya-," ucapku.
"Apa yang kamu lihat, Im? Ibu tidak melihat hal aneh apapun di ruangan itu," ucap Bu Iis sambil melangkah masuk ke dalam ruangan kecil itu.
Aku melangkah mendekati ke arah ruangan kecil itu. Kuperiksa sekali lagi kondisi di dalam ruangan. Hal ganjil yang aku lihat sebelumnya benar-benar sudah lenyap.
"Kamu lihat apa barusan, Im?" tanya Bu Iis lagi.
"Eee ... b-barusan a-aku melihat sesuatu di tembok itu, Bu," jawabku sedikit terbata-bata.
"Kamu lihat apa, Im? Tidak ada apa-apa di sini," jawab Bu Iis sambil mendekati tembok yang kumaksud, menyentuhnya, dan bersandar pada tembok itu.
"B-b-u, j-j-jangan ke situ!" cegahku pada Bu Iis tapi tidak dihiraukannoleh perempuan paruh baya tersebut.
"Nggak ada apa-apa kok, Im. Kamu tadi salah lihat saja," jawab Bu Iis berusaha meyakinkanku.
Aku masih terheran-heran mengapa tulisan di tembok yang berwarna merah darah tadi tiba-tiba menghilang dalam sekejap. Padahal, aku jelas-jelas melihatnya dengan mata kepalaku sendiri, tulisan itu muncul secara perlahan dari dalam tembok, awalnya menggelembung kemudian mengalir seperti darah dan membentuk tulisan 'MAWAR'. Dan kali ini tulisan misterius itu pun menghilang begitu saja ketika Bu Iis datang untuk menghampiriku. Bahkan, ketika Bu Iis dengan beraninya masuk ke ruangan kecil itu, tulisan aneh itu tidak muncul lagi.
Aku memandang kebingungan ke arah Bu Iis. Mengapa perempuan di depanku ini tiba-tiba menjadi sosok yang pemberani?
"Ah, sudahlah. Daripada aku bingung sendiri di tempat itu, lebih baik aku keluar saja dari tempat ini menemui kedua temanku," pikirku dalam hati.
"Bu, saya pulang dulu, ya?" pamitku pada Bu Iis sambil melangkah meninggalkan ruangan kecil itu dan berjalan dengan cepat di antara rak-rak buku menuju pintu di sebelah luar.
__ADS_1
"Iya, Im. Bu Iis juga mau pulang," sahut Bu Iis dari arah ...
"Tidak! Cepat sekali guruku itu berpindah dari dalam ruangan kecil itu menuju meja kerjanya. Apakah Bu Iis memiliki ilmu meringankan tubuh, sehingga ia bisa bergerak secepat itu? Tidak mungkin! Dengan tubuh jauh lebih tua dariku, tidak mungkin ia dapat bergerak lebih cepat dariku. Atau jangan-jangan, satu di antara dua orang yang menyerupai Bu Iis itu adalah makhluk jadi-jadian?" Aku berpikir di dalam hati.
"B-b-bu I-iis!!!!" pekikku dengan terbata-bata sambil menatap kaget ke arah guruku yang berdiri di balik meja kerjanya.
"Kamu kenapa, Im? Kayak ngelihat setan saja?" tanya Bu Iis keheranan.
"S-s-saya pulang dulu, Bu!" teriakku sambil berlari keluar ruangan tersebut dengan perasaan tidak karuan.
Sesampai di luar ruangan, ternyata dua temanku Bondan dan Indah sudah menungguku. Mereka berdua mengejarku hingga ke depan koridor kelas.
"Ada apa Im, kamu kok lari-lari?" tanya Indah dengan tidak sabar.
"Kamu kenapa, Im?" tanya Bondan
Aku tidak buru-buru menjawab pertanyaan kedua temanku itu. Aku masih terus berjalan dengan cepat, hingga akhirnya kami bertiga sudah sampai di depan pintu gerbang yang dalam keadaan tertutup. Kami bertiga terdiam dengan seketika, bukan karena pintu gerbang yang tertutup, melainkan karena seseorang yang berdiri tepat di tengah-tengah pintu gerbang itu dan membelakangi kami.
"P-p-pak S-s-satpaaam!!!" pekik kami bertiga dengan rasa ketakutan karena kehadiran sosok misterius itu yang secara tiba-tiba menghadang kami.
"Kenapa kalian ini, kayak ngeliat setan saja?" bentak Pak Satpam itu tiba-tiba mengagetkan kami bertiga.
"K-k-kami m-mau p-pulang, Paaak!" jawabku dengan gugup.
"Ngapain kalian di dalam? Kok, baru mau pulang sekarang?" bentak pria itu lagi.
Kami diam saja sambil mengamati perubahan ekspresi Pak Satpam tersebut. Awalnya wajahnya agak kaku, tapi makin lama makin ramah dan terkesan lucu.
"B-b-bapak o-o-orang, ya?" tanya Indah keceplosan.
"Memangnya kalian lihat saya kayak hantu tah? Cakep-Cakep gini dikira hantu? Awas saya kunci kalian di sini baru tahu rasa!" jawab Pak Satpam dengan ekspresi wajah marah tapi dibuat-buat.
"M-m-maaf, Pak. Teman kami ini memang hobi bercanda," sela Bondan merasa tak enak dengan omongan Indah.
"I-iya, Maaf, Pak. Bapak cakep kok, beda sama teman Bapak yang satunya. Nyeremin ...," imbuh Bondan.
__ADS_1
"Teman siapa? Saya di sini kerja sendirian. Sekolah ini hanya mampu membayar satu orang Satpam," jawab Pak Satpam itu.
"Apa??" pekik kami bertiga sambil saling menoleh.
"Tunggu!!" ucapku sambil melangkah ke arah Pak Satpam itu. Kedua temanku dan Pak Satpam membisu dan mengamati apa yang akan kulakukan.
Aku memegangi pundak Pak Satpam, kemudian kuputar badan Pak Satpam itu.
"Eh, kamu mau ngapain? Pakai putar-putar badan saya? Emang badan saya ini komidi putar?" protes Pak Satpam.
Aku meneruskan aksiku memutar badan Pak Satpam. Hingga Pak Satpam itu membelakangi kami bertiga. Aku pun berkata.
"Teman-Teman, kalian perhatikan. Punggung bapak ini tidak selebar punggung Satpam yang pernah kita lihat, kan?" tanyaku pada kedua temanku.
"Iya, Im beda. Be-be-berarti ...," gumam Bondan.
Aku membalikkan badan Pak Satpam itu lagi. Kemudian kutatap mata pria lucu itu.
"Apakah di sekolah ini sering kedatangan Satpam dari luar?" tanyaku pada laki-laki itu.
"Maksud kamu, laki-laki berbadan kekar berpakaian Satpam?" Pria itu balik bertanya.
"I-i-iya. Berarti Bapak mengenal pria itu?" cetusku dengan penuh rasa ketidaksabaran ingin segera mendapat informasi berharga dari Satpam itu.
"Saya pernah mendengar desas-desus tentang hal itu dari beberapa siswa dan guru yang pernah bertemu dengannya. Tapi, saya tidak pernah melihatnya secara langsung sejak saya bekerja di sini," jawab Pak Satpam serius.
"Maksud Bapak, pria itu-" selaku.
"Iya. Dia itu antara ada dan tiada ...," sambungnya dengan suara berat.
BERSAMBUNG
Selamat Idul Fitri 1442 Hijriyah
Mohon maaf lahir dan batin
__ADS_1