
Aku menekan kuat-kuat bilah kayu kedelapan puluh tiga, yaitu bilah kayu terakhir di jembatan ini. Suara tekanan kakiku ke bilah kayu itu terdengar sangat keras ke telinga teman-temanku, sehingga mereka semua melotot karena terkejut. Lebih-Lebih mereka juga melihat tali pengait kesepuluh juga telah dipenggal dengan menggunakan kapak yang sangat tajam oleh anak buah Nyi Sukma.
WUSSSSS!!!!
suara kayu bilah kedelapan puluh tiga yang terjatuh ke jurang sebagai konsekuensi bunyi yang aku buat.
SWIIING!!!
suara yang dihasilkan oleh tali pengait terakhir yang putus.
BRUAAAAAAAAAK!!!!
Jembatan yang aku seberangi tiba-tiba terputus di satu sisi sehingga keseluruhan bilah kayu yang tersisa menghantam tebing sungai. Setelah itu sisi jembatan yang satunya pun ikut terputus secara ajaib meskipun tanpa disentuh. Mungkin ini memang sudah dirancang oleh Nyi Sukma sebagai aturan permainan yang ia buat untuk orang-orang yang tersesat di daerah kekuasaannya.
"Imraaaaaaaaaaan!!!" teriak teman-temanku secara bersamaan begitu melihat jembatan itu sudah runtuh dan jatuh ke bawah.
Mereka adalah teman-teman baru yang aku temui di tempat misterius ini. Tapi, perkenalan singkat kami ternyata cukup membuat ikatan batin di antara kami cukup kuat untuk saling berempati dan saling membantu.
Tubuhku melayang di udara bebas dengan penuh ketakutan dan kehampaan. Aku memang terlihat tegar ketika memberi semangat kepada mereka supaya tidak takut menyeberang dan melawan rasa ketakutan mereka sendiri. Tapi, jujur pada saat yang sama aku sebenarnya juga merasa takut. Bahkan mungkin aku lebih takut dari mereka. Aku takut untuk mati, karena aku merasa masih belum banyak berbakti kepada kedua orang tuaku. Terlebih, seandainya aku mati di tempat ini. Hal itu sama saja dengan aku akan menjadi budak dari Nyi Sukma seperti Jatmiko dan para anak buahnya.
Tidak! Agamaku melarang perbudakan dalam bentuk apapun. Demi Allah, aku tidak ikhlas kalau aku harus menjadi budak Nyi Sukma. Siapa dia? Tidak ada haknya untuk menjadikan ku sebagai budaknya. Mungkin seandainya Nyi Sukma adalah guruku, seperti yang diucapkan oleh Sayyidina Ali ra, bahwa "Aku adalah budak bagi orang yang mengajariku walaupun satu huruf". Jika memang perbudakan itu diperbolehkan, bukan Nyi Sukma yang berhak menjadi tuanku, melainkan bapak dan ibuku karena mereka sudah mengajariku banyak hal sejak aku kecil. Atau Mbah Nur dan guru-guru SD, SMP, maupun SMA yang telah mengajariku banyak hal, dari aku tidak tahu menjadi aku yang seperti sekarang ini.
Ya. Aku memang orang yang paling sentimentil dalam hal hubungan antara guru dan murid. Aku paling marah kalau melihat atau mendengar ada seorang murid yang melaporkan gurunya ke polisi karena mencubit atau pun memukul. Aku bukan ingin membela mereka, tapi menurutku tidak mungkin seorang guru mencubit atau memukul muridnya jika tidak ada sebab. Kemungkinan mereka sudah melakukan segala macam pendekatan untuk merubah muridnya, tapi semuanya gagal, bahkan mungkin murid tersebut melawan sehingga memancing emosi gurunya.
__ADS_1
Sepanjang yang aku lihat, cubitan maupun pukulan guru itu tidaklah keras. Masih lebih keras perlakuan tidak sopan murid kepada gurunya. Bayangkan, anak yang senantiasa ada dalam doa seorang guru, ada dalam tiap rencana pembelajaran dan bimbingan guru, malah berbuat tidak sopan dan menyakiti hati gurunya. Mungkin, mereka memanglah seorang anak yang sedang berproses, tapi jika mereka sampai melaporkan gurunya ke polisi, saya rasa mereka sudah dewasa di satu sisi, tapi kekanakan di sisi yang lain. Dan mereka suatu saat akan menyesal atas apa yang telah mereka lakukan terhadap gurunya. Karena gurunya melakukan hal itu karena saking sayangnya kepada mereka. Mungkin caranya saja yang salah.
Guru adalah manusia biasa yang tak luput dari kesalahan. Ketika mereka terbawa emosi sampai mencubit atau memukul murid. Janganlah mereka tiba-tiba dilaporkan ke polisi. Kasihan anak istri mereka yang selama ini menggantungkan biaya hidup kepada guru tersebut dengan penghasilan yang kebanyakan jauh dari rata-rata. Aku teringat sebuah surat kabar bekas yang kubaca di salah satu rumah tetanggaku. Waktu itu seorang guru dilaporkan oleh ayah dari seorang murid karena anaknya dicubit oleh gurunya. Begitu melihat gurunya digelandang oleh polisi, si anak kecil tersebut menangis dan bersujud di kaki ibu gurunya sembari berkata.
"Jangan dibawa, Pak Polisi. Beliau ini bukan hanya guru saya. Beliau ini sudah seperti ibu saya sendiri. Beliau sudah banyak mengajarkan banyak hal kepada saya. Ibu guru tidak pernah mencubit saya sebelumnya. Kemarin itu hanya sekali dan cubitannya sangatlah tidak sakit. Bahkan lebih sakit cubitan ibuku sendiri di rumah. Jangan bawa Bu Guru, Pak Polisi!" teriak anak itu sambil meraung-raung.
Bu guru yang sedang diapit oleh polisi pun memeluk anak tersebut.
"Tidak, Nak. Ibu salah telah mencubitmu. Ibu seharusnya tidak berbuat demikian. Ibu khilaf, Nak. Seperti yang pernah ibu ajarkan kepada kalian semuanya bahwa kita harus berani bertanggung jawab atas kesalahan yang kita perbuat. Maka kali ini ibu akan bertanggung jawab atas kesalahan ibu. Maafkan ibu, ya, Nak sudah menyakitimu," jawab Bu Guru itu sambil menangis sesegukan dan memeluk muridnya.
Untunglah, kasus tersebut dapat diselesaikan secara damai oleh pihak-pihak terkait.
Tubuhku yang sedang terbang, mengarah ke pinggiran sungai. Jembatan itu sudah jatuh ke sungai dan hancur.
BREK!!!
"Aaaaaargh!!!" pekikku sambil berusaha menahan tubuhku yang menggantung di pinggiran sungai.
"Cepat pegangi, Imran!!" teriak Faisal.
Ikbal dengan cekatan menangkap tanganku dan menahanku agar tidak jatuh.
"Aaaaaaargh!!!" teriakku karena aku makin merosot.
__ADS_1
Ikbal kesulitan untuk memegang kedua tanganku dna menariknya ke atas karena posisinya tidak seimbang. Justru karena membantuku, Ikbal malah ikutan oleng ke samping.
HEP!!
Roni buru-buru memegangi badan Ikbal agr tidak kehilangan keseimbangan.
Sreeet...
Tububku makin merosot ke bawah. Sedangkan tangan Ikbal masih erat memegangiku.
"Tanganku sudah tak kuat lagi, Imran!" teriak Ikbal
"Cepat tarik badanku!" teriak Roni.
"Tahan, Ikbal!!" teriak Faisal.
Dinda, Andre, dan Faisal pun menarik badan Roni ke belakang dengan sekuat tenaga. Hingga akhirnya Roni pun berhasil menarik tubuh Ikbal dan tangan Ikbal berhasil menarik tubuhku ke atas.
"Aku tidak kuat lagi!" teriak Ikbal.
"Tahan, Baaaal!!" teriak Dinda.
Mereka terus menarik badan Roni, sehingga Ikbal sudah dalam kondisi aman dan tangannya sudah tidak kuat lagi menopang bobot tubuhku dan pegangan tangan Ikbal pun lepas pada kedua tanganku. Untunglah saat itu aku sudah berhasil mencapai bagian atas bantaran sungai dan jatuh di atas bantaran sungai.
__ADS_1
BERSAMBUNG
Masih mau?