SEKOLAH HANTU

SEKOLAH HANTU
BAB 24 MENCARI PETUNJUK


__ADS_3

Angkot yang kami naiki pun berjalan dengan kecepatan sedang menuju alun-alun. Penumpang di dalam mobil cukup penuh, sehingga kami bertiga tidak dapat bercengkrama dengan bebas. Tapo, bukanlah kami kalau tidak bisa bercuap-cuap dalam kondisi apapun. Aku dan Bondan masih sempat-sempatnya saling meledek meskipun dengan berbisik takut kedengaran penumpang yang lain.


"Ndan. Tanganmu jangan tinggi-tinggi kalau ngangkat. Kasian ibu-ibu di sebelahmu, bisa pingsan dia akibat tercium ketekmu yang bau," godaku.


"Eit, jangan salah. Aku pake deodoran yang mahal nih. Kamu yang seharusnya jangan mepet-mepet duduknya sama bapak-bapak di sebelahmu. Kasian dia harus mengendus mintak nyong-nyongmu sampai tegang begitu mukanya. He he he ...," balas Bondan.


"Tok tok tok ...." Tiba-Tiba bapak-bapak di sebelahku menyentil bagian atap interior mobil sebagai kode bagi Pak Sopir untuk menghentikan laju mobilnya.


"Iya, Pak ...," sahut Pak Sopir buru-buru.


Mobilpun menepi di depan gang sebuah jembatan. Bapak-Bapak di sebelahku menyodorkan ongkos menggunakan tangannya yang dijulurkan melewati badanku. Pak Sopir menerima pemberian dari bapak-bapak di sebelahku. Setelah membayar ongkosnya, bapak-bapak itu pun bangkit dari duduknya dan dengan merunduk-runduk, ia pun turun dari Angkot dan berjalan lurus memasuki gang di sebelah jembatan.


"Astagfirullah!" Aku memekik tertahan.


"Kenapa, Im?" tanya Bondan dengan berbisik.


"Ba-bapak itu!" jawabku.


"Kenapa dengan bapak-bapak itu? Apa dia mengambil barangmu?" tanya Bondan penasaran.


Aku tidak langsung menjawab pertanyaan Bondan. Aku dan Bondan mengamati bapak-bapak yang sedang berjalan masuk ke dalam gang. Tiba-Tiba bapak-bapak itu menghentikan langkahnya seolah tahu bahwa ia sedang kami perbincangkan.


"Buruan, Pak Sopir!" teriak seorang penumpang dari arah belakang. Akibat teriakan salah satu penumpang tersebut, kami berdua gagal bertatapan langsung dengan bapak-bapak tadi.


"Ueeek!!" Aku merasa mual karena bau busuk yang tercium dari area di sekitar jembatan itu.


"Kamu masuk angin, Im?" tanya Bondan.

__ADS_1


"Tidak, Ndan! Akuuu ... kita bahas nanti saja," ucapku sambil menahan tangan Bondan yang berusaha memijat leher bagian belakangku.


"Ueeeek!!" terdengar suara seperti orang mau muntah dari sebelah kami. Ternyata itu Indah.


"Kamu juga masuk angin, Ndah?" tanya Bondan kepada teman perempuan kami itu.


Indah menggeleng.


"Kalian berdua ini aneh," gerutu Bondan.


Aku menoleh dna menatap heran ke arah Indah. Kemudian aku berbisik pelan di telinganya, "Kamu juga mencium bau busuk, kan, Ndah?"


Indah sibuk menutup mulut dengan kedua tangannya. Matanya sesekali mengerjap menahan mual.


"Iya, Ndan. Bau busuk banget barusan. Aku benar-benar nggak tahan," jawab Indah.


"Nanti kita bahas pas di alun-alun saja. Nggak enak kalau dibahas di sini, Ndan. Nanti kalau ad ayang dengar nggak enak," jawabku juga dengan berbisik.


Beberapa menit kemudian sampailah kami di alun-alun kota. Kami meminta Pak Sopir untuk menepikan kendaraan di sebelah utara alun-alun, tepatnya di halte yang berada di depan kantor pos. Kami bertiga turun dari Angkot dan berjalan menuju alun-alun setelah membayar ongkos dengan tarif pelajar.


Sore itu suasana di alun-alun cukup sepi. Kalau dihitung, mungkin tidak sampai dua puluh orang yang berada di sana. Dengan lokasi seluas itu, tentunya saat itu alun-alun terlihat lengang. Kami bertiga mengambil posisi di bawah pohon tua yang berada di sisi sebelah utara alun-alun.


"Kita sudah sampai di tempat yang diisyaratkan kepada Indah. Lantas, apa yang akan kita lakukan di sini, teman-teman?" tanya Bondan memecah keheningan.


Aku dan Indah mengedarkan pandangan ke sekeliling dengan maksud mencari hal-hal yang aneh di sekitar alun-alun ini.


"Im, apa mungkin di sekitar alun-alun ini ada pohon bunga mawarnya? Mungkin Satpam itu dibunuh dan dikuburkan di bawah pohon bunga mawar itu," ucap Indah tiba-tiba.

__ADS_1


"Sepertinya kita harus berpencar untuk mencari pohon bunga mawar di sekitar sini," jawabku.


"Sebaiknya kita memang harus berpencar untuk mencari keberadaan pohon bunga mawar itu, Im!" jawab Bondan.


"Kamu berani kan, Ndah?" tanyaku pada cewek mungil pemberani itu.


"Kamu masih meragukanku, Im?" Indah menantang.


"Baiklah! Ayo kita berpencar mencari pohon bunga mawar di sekitar sini. Indah berputar ke kiri, Bondna berputar ke kanan. Biar aku yang memeriksa di depan setiap gedung yang mengelilingi alun-alun ini," tegasku.


"Oke, berangkat!" jawab Bondan


"Nanti, kita ketemu lagi di tempat ini. Ingat, kalau salah satu dari kita menemukan sesuatu, jangan lupa untuk mengabari yang lain," tegasku.


"Oke. Ayo segera kita berangkat, sebelum hari semakin sore," jawab Indah.


Tanpa mengulur waktu, kami bertiga pun berjalan sesuai dengan rute masing-masing. Aku langsung menyeberang jalan untuk memeriksa tanaman yang berada di depan gedung-gedung yang mengelilingi alun-alun ini. Aku memulai dari gedung kantor pos tempat kami bertiga turun dari Angkot tadi. Dengan penuh ketelitian dan kewaspadaan tinggi, aku memeriksa tanaman-tanaman di sekitar gedung kantor pos itu. Sesekali aku menoleh ke arah alun-alun untuk melihat kedua temanku. Siapa tahu salah satu dari mereka berhasil menemukan yang sedang kita cari.


Aku memeriksa halaman gedung kantor pos kurnag lebih lima menit. Untuk menghindari kecurigaan tukang parkir yang sedang berjaga di depan gedung tersebut, aku berpura-pura sedang mencari tempat sampah untuk membuang bulatan kertas yang sedang kugenggam. Aku sengaja mengambil kertas bersih dari dalam tasku untuk kuremas-remas, dua menit sebelum aku sampai di depan gedung kantor pos. Alhasil, trikku berhasil mengelabui penjaga parkir itu. Sayangnya, aku tidak menemukan pohon bunga mawar di sekitar gedung kantor pos.


Aku pun berpindah ke gedung di sebelah kantor pos yaitu gedung sebuah bank swasta. Di depan gedung tersebut minim sekali tanaman yang ditanam. Hanya kudapati pot-pot besar berisi bunga-bunga hias, tetapi bukan bunga mawar.


Angin semilir berhembus ketika aku sampai di gedung tua yang audah lama terbengkalai. Letaknya tepat di sebelah gedung bank swasta. Gedung tua ini diapit oleh gedung bank swasta dan penjara. Gedung tua ini sudah lama mangkrak. Konon pembangunannya tidak dilanjutkan karena ada konflik politik. Miris memang, di tengah-tengah kota, ada bangunan yang merusak keindahan pemandangan. Aku melangkah masuk ke pelataran gedung tua tersebut. Di sini aku merasa agak was-was karena rumput-rumputnya cukup tinggi. Khawatir ada ular yang bisa saha menyerangku secara tiba-tiba. Sejauh mata memandang, aku tidak dapat melihat pohon bunga mawar di sekitar gedung tua ini. Aku sudah bermaksud meninggalkan gedung tua ini karena sulitnya medan. Namun, tiba-tiba mataku menangkap sesuatu yang tergeletak di tanah.


B**ERSAMBUNG**


Terima kasih yang audah menyempatkan menulis komentar, apalagi yang membuat analisa cerita.

__ADS_1


Semoga betah membaca sampai tamat.


__ADS_2