SEKOLAH HANTU

SEKOLAH HANTU
BAB 76 : RUMAH NYI SUKMA


__ADS_3

Di depanku berdiri sebuah gerbang besi yang sangat lebar dan kokoh berwarna hitam. Aku bisa pastikan bahwa gerbang ini terbuat dari logam yang sangat kuat. Melihat gerbang yang kokoh ini, aku jadi teringat dengan rumah-rumah orang kaya di kota yang kadang kala aku jumpai sewaktu bapak mengajakku menonton karnaval semasa aku kecil.


"Pak, ini rumah siapa kok tutupan terus? Kita jauh-jauh bersepeda ke kota untuk menonton karnaval, kenapa mereka yang rumahnya di sini dan tinggal jalan ke depan rumahnya malah tidak menonton?" tanyaku waktu itu.


"Hm ... Ini rumahnya orang kaya, Im. Kemungkinan orangnya sedang di tempat usahanya. Jadi, ia menonton di tempat usahanya," jawab bapak sedikit ragu.


"Oh ... gitu, Pak? Atau jangan-jangan mereka tidak suka nonyon karnaval?" tanyaku lagi.


"Suka kok! Sudah-Sudah, ayo kita nikmati saja tontonan gratis yang ada di depan kita. Kalau ngomong terus, ntar karnavalnya keburu habis," jawab bapak sambil menarik lenganku untuk berdesakan dengan penonton yang lain.


Pintu gerbang dengan ukuran besar dan kuat memang tidak ada di dusunku. Rata-Rata penduduk di dusunku menggunakan bambu atau pagar hidup sebagai pembatas dengan lahan tetangga. Malah, kebanyakan rumah kami tidak dipagari. Namun, gerbang yang kulihat sekarang ini, tiga kali lebih besar dari gerbang yang pernah kulihat. Ketebalannya pun sepertinya juga beberapa kali lebih tebal dari gerbang rumah orang-orang kaya itu.


Aku berniat untuk memegang gerbang yang ada di depanku saat itu. Namun, sebelum aku menyentuhnya, bagian kiri dan kanan gerbang itu tiba-tiba ada yang menarik ke dalam, sehingga aku yang berada tepat di tengah-tengah gerbang tersebut menjadi terperangah saat mengetahui pemandangan yang ada di balik gerbang yang saat ini terbuka dengan luasnya di hadapanku.


"Subhanallah ...," pekikku.


Di depanku terlihat sebuah pemandangan yang sangat indah. Ada sebuah rumah yang sangat besar seperti istana dengan background langit berwarna biru. Di depan rumah itu terdapat taman yang sangat luas. Di taman itu ada sebuah kolam renang yang cukup besar dengan air berwarna kebiruan. Sedangkan antara pintu gerbang dan taman itu dipisahkan oleh sebuah sungai yang melintang di depanku. Ada sebuah jembatan gantung yang menghubungkan antara gerbang ini dengan taman. Suara gemericik air sungai terdengar agak menggema sebagai pertanda bahwa jarak antara permukaan tanah dan sungai tersebut agak dalam.


Baru saja aku merasakan takjub dengan pemandangan yang kulihat, tiba-tiba muncul dua orang pria dari balik gerbang bagian dalam yang mereka tarik.


"Selamat datang di rumah Nyi Sukma. Silakan duduk dan menunggu antrian di sana!" ujar salah satu dari pria itu.


"Antri?" tanyaku.


" Iya, antri. Bukankah kamu ingin kembali berkumpul bersama teman-temanmu, kan?" ujar salah pria dengan pakaian bawah berupa jarik dan bertelanjang dada.


"Lima orang yang duduk di sana itu juga tersesat sama sepertimu!" ucap pria satunya yang juga berpakaian sejenis.


Aku pun menoleh ke arah samping kiri dan memastikan apa yang dikatakan oleh pria tersebut. Benar kata pria asing ini, di deretan kursi bercorak ukiran itu sudah ada lima orang remaja seusiaku yang sedang duduk kebingungan dan menatap ke arahku.


"Kita antri apa di sini?" tanyaku lagi pada mereka.


"Kamu ke sana dulu. Nanti akan ada petugas yang akan menjelaskan kepada kalian semua tentang aturan yang berlaku di sini!" jawab pria yang badannya lebih tinggi.


"Baiklah!" jawabku sambil melangkah ke tempat yang dimaksudkan oleh mereka berdua.

__ADS_1


Kedua pria itu menutup pintu gerbang dan mengantarku ke deretan kursi di dekat gajebo di pinggir sungai.


"Assalamualaikum ...," ucapku pada kelima remaja yang sudah ada di sana lebih dahulu dari aku.


"Waalaikumsalam," jawab sebagian dari mereka.


Aku berkeliling untuk menyalami mereka berlima sambil memperhatikan wajah dan pakaian mereka satu persatu barangkali ada yang kukenal. Ternyata mereka semua terlihat asing di mataku.


"Imran ...," ucapku saat bersalaman dengan mereka.


"Faisal ...," jawab anak yang berbadan kurus.


"Roni ...," jawab anak berbadan bongsor.


"Ikbal ...," jawab anak berbadan tegap.


"Dinda ..." jawab satu-satunya anak perempuan di sana.


Ada salah satu anak yang tidak mau memperkenalkan namanya kepadaku. Bahkan untuk sekedar bersalaman saja ia enggan.


"Sini, Im! Duduk di sebelahku!" panggil anak yang bernama Faisal.


"Siapa nama anak itu, Sal?" tanyaku masih penasaran dengan anak yang berkulit gelap dan tidak mau diajak berkenalan.


"Sudahlah, jangan terlalu dipikir. Dia memang kayak gitu. Aku juga tidak tahu namanya," jawab Faisal.


"Kalian sudah lama di sini?" tanyaku pada Faisal.


"Entahlah ... aku yang paling awal datang ke sini, disusul Roni, anak itu, Ikbal, dan Dinda, kemudian kamu yang datang paling belakangan," jawab Faisal lugas.


"Kenapa kamu bisa ada di sini?" tanyaku lagi.


"Sama denganmu. Kami semua yang datang ke sini inj karena tersesat. Aku tersesat di kebun kopi, Ikbal itu tersesat waktu berenang di sungai, Roni itu tersesat waktu magrib-magrib buang air di daerah rumah neneknya, Dinda tersesat waktu mencari adiknya yang main petak umpet malam-malam. Kamu sendiri tersesat di mana?" Faisal bertanya balik.


"Aku tersesat di kebun jagung waktu penjelajahan," jawabku dengan terperangah setelah mendengar jawaban Faisal.

__ADS_1


"Kamu sekolah di SMA 14, ya?" tanya Faisal sambil membaca lokasi di lengan seragam Pramukaku.


"Iya, Sal. Kamu sekolah di mana?" tanyaku.


"Aku nggak sekolah, Im. Aku kerja di kebun kopi," jawabnya.


"Bagaimana kamu sampai ke tempat ini?" tanyaku.


"Aku diantar Nyi Retno," jawabnya sambil tersenyum.


"Kenapa kamu tersenyum, Sal?" tanyaku.


"Aku ingat sama Nyi Retno, Im. Ia sangat cantik. Kalau saja aku tidak ingat janjiku pada kekasihku di kampung, aku pasti sudah bersama gadis cantik itu," jawab Faisal enteng.


"Loh, ceritamu kok sama denganku, Sal. Aku juga diantar ke sini oleh seorang wanita cantik, tapi namanya Nyi Hanum, bukan Nyi Retno seperti ceritamu," jawabku.


"Iya, Im. Kita berenam yang ada di sini ini sudah lulus ujian pertama maka kita bisa sampai di sini," seloroh Faisal.


"Oh, ya? Dari mana kamu tahu hal itu?" tanyaku pada Faisal.


Seseorang tiba-tiba berjalan ke arah kami berdua. Ternyata dia adalah Ikbal.


"Benar kata Faisal, Im. Waktu itu aku tidak tersesat sendirian di sungai. Aku berenang bersama teman sekolahku di SMA Pejuang, namanya Yoyok. Saat kami berlomba tahan napas di dalam air, pas kepala kami muncul ke permukaan ternyata kami tidak berada di tempat semula melainkan di tempat yang asing bagi kami. Saat itulah Nyi Asih datang menawarkan pertolongan kepada kami. Sama seperti cerita kalian berdua, Nyi Asih merayu aku dan Yoyok. Yoyok tergoda oleh kecantikan Nyi Asih dan tinggallah aku sendirian yang datang ke rumah Nyi Sukma ini," terang Ikbal.


"Di mana Yoyok sekarang, Bal?" tanyaku penasaran.


"Sebelum aku masuk ke gerbang ini, aku sempat melihat Ikbal sedang menuntun kuda yang dikendarai oleh Nyi Asih. Saat itu aku melihat tatapan mata temanku itu kosong. Sepertinya ia sudah menjadi budak dari Nyi Asih," jawab Ikbal sedih.


"Ya Tuhan!!!" pekikku.


Dinda dan remaja tanpa nama itu menoleh ke arahku karena mendengar keterkejutanku.


"Terus kita ngapain di sini sekarang? Kita mau antri apa di sini?" tanyaku pada Ikbal dan Faisal.


Kedua teman baruku itu saling memandang. Kemudian mereka menatap mataku. Sepertinya mereka akan mengatakan sesuatu kepadaku.

__ADS_1


BERSAMBUNG


Tulis komentar, ya, Kak?


__ADS_2