
Demikianlah, dengan kerjasama dan ketulusan hati akhirnya kami bisa melalui semua tantangan yang diberikan oleh Nyi Sukma untuk bisa lolos dari rumahnya itu. Ternyata setelah lolos dari tantangan berenang dan jungkat-jungkit itu, Nyi Sukma tidak serta merta melepaskan kami. Perempuan jadi-jadian itu hampir saja memperdaya aku dan teman-teman. Dengan menggunakan kecantikan semunya, ia hampir menjerumuskan kami pada dosa yang begitu besar. Untunglah di ambang batas ketahananku menahan nafsu duniawi yang mulai tak terbendung, Nyi Hanum datang menyelamatkanmu. Ia membuat keributan di depan rumah Nyi Sukma, pada saat Nyi Sukma lengah, aku dan teman-temanku pun berlari menuju ruang rahasia di kamar Nyi Sukma yang ternyata merupakan pintu gerbang bagi kami untuk kembali ke tempat kami semula. Aku kembali ke kebun jagung, sedangkan kelima temanku yang lain kembali ke tempat mereka masing-masing. Aku mengetahui hal itu setelah aku menelusuri identitas mereka semua selama aku bersekolah di SMAN 14.
Aku menengok jam di tanganku, ternyata jam menunjukkan tepat jam 12 malam. Aku ingat dengan janjiku dengan Bondan dan Indah untuk naik ke lantai dua gedung perpustakaan itu. Aku memilih untuk langsung berangkat saja menuju ke tempat itu, tanpa memikirkan keadaan teman-temanku di belakang. Aku sempat mendengar hiruk pikuk suara mereka, sepertinya mereka tidak sedang kebingungan dan sebagainya. Ah, sudahlah. Misalnya nanti mereka marah kepadaku karena aku kabur duluan, itu urusan belakangan.
Aku berjalan menyusuri pematang sawah. Mengendap-endap melalui berbagai tanaman padi dan palawija hingga akhirnya aku pun sampai di baratnya gudang tembakau tempat kerja ibuku. Setelah melewati jalan setapak, akhirnya aku pun sampai di jalan raya. Karena aku tidak mau dianggap melanggar janji, aku pun segera berjalan menyusuri jalan raya dan aku pun sampai di depan sekolah. Kalau melihat dari pintu gerbang yang masih tertutup rapat, sepertinya masih belum ada kelompok penjelajahan yang sudah kembali ke sekolah. Aku lihat Pak Satpam tertidur pulas di posnya.
Setelah menoleh ke kiri dan ke kanan untuk melihat situasi apakah aman, aku pun memberanikan diri untuk memanjat pagar. Syukurlah, Pak Satpam masih tertidur pulas dan tidak menyadari apa yang sudah aku lakukan. Akhirnya setelah melewati masa -masa menegangkan karena takut ketahuan Pak Satpam, aku pun berhasil sampai di depan gedung perpustakaan.
Baru saja aku akan naik ke lantai kedua, jantungku hampir copot karena tiba-tiba dikagetkan dengan kemunculan Bondan dan Indah yang ternyata sudah sampai di sana lebih awal dari aku.
"Kamu bikin kaget saja, Ndan ... Ndah ...," tegurku sambil mengelus dada.
"Kukira kamu tak akan datang, soalnya tadi waktu habis dari pos dua, kamu nggak menyahut waktu kuajak ke sini," sahut Bondan.
"Apa? Aku di pos kedua?" tanyaku tak percaya.
"Iya. Kenapa? Kamu tidak ingat?" tanya Bondan.
"Ah, sudahlah ... Kita buruan naik saja ke atas sebelum teman-teman ke sini semua," ucap Indah.
"Oke!!!" jawab kami.
Kami pun bersama-sama naik ke atas, menapaki lantai demi lantai dengan jantung berdebar-debar.
"Teman-Teman, ingat. Kalau nanti kita bertemu sesuatu, kita tidak boleh kabur sebelum kita menemukan apa yang kita cari," ucapku.
"Iya, Im. Tapi ingat, kita harus saling melindungi karena kita tidak tahu seberapa kuatnya sesuatu yang akan kita hadapi," ucap Indah.
"Harus itu," jawab Bondan.
__ADS_1
Saat ini kami sudah berada di depan pintu ruangan gelap itu. Dengan tangan gemetar aku memasukkan anak kunci ke dalam lubang kunci pintu itu dan pintu pun dapat kubuka. Kami bertiga pun masuk ke dalam.
"Lampunya tidak perlu dihidupkan. Kita menggunakan senter saja sebagai penerangan," ucap Bondan saat aku bersiap memencet saklar lampu ruangan itu.
"Iya, benar, Im. Takutnya kalau lampunya dinyalakan malah akan terlihat dari luar kalau ada yang lancang masuk ke ruangan ini," ucap Indah.
"Oke," jawabku.
"Ke mana kita sekarang?" tanya Indah.
"Ayo, ikut aku. Kita periksa ke dalam saja!" jawabku.
Bondan dan Indah pun mengikutiku melangkah lurus ke dalam, hingga kami pun sampai di ruangan kecil yang terdapat sebuah meja kerja di dalamya.
"Kok, ruangannya kayak bersih, ya, Im?" tanya Bondan.
"Itulah, kenapa aku mencurigai ada sesuatu yang disembunyikan di tempat ini," jawabku.
"Ayo, kita periksa semua barang di sekitar tempat ini, Ndan!" ucapku.
"Oke," jawab Bondan.
Kami bertiga memeriksa semua sudut di ruangan itu. Kami mencari kemungkinan adanya tempat rahasia atau segala sesuatu yang mungkin saja disembunyikan di tempat tersebut. Setelah beberapa lama mencari, kami bertiga tidak menemukan apapun. Hingga akhirnya aku teringat dengan lukisan yang ada di ruangan tersebut. Aku pun menghampiri lukisan itu, aku memperhatikannya dengan saksama. Aku menarik lukisan tersebut untuk memeriksa bagian yang ada di belakang lukisan itu. Aku melihat ada perbedaan antara bagian yang berada di belakang lukisan dengan yang ada di sekitarnya.
"Ndan, tolong bantuin!" panggilku pada Bondan.
"Apa, Im?" tanya Bondan.
"Sepertinya ada sesuatu yang disembunyikan di balik tembok ini," jawabku.
__ADS_1
"Baik, Im!" jawab Bondan sambil mencungkil tembok dengan menggunakan pisau kecil yang ia bawa.
Baru saja Bondan dan aku mencungkil tembok itu, tiba-tiba bulu kudukku merinding.
"Ya Allah ...," pekikku.
"Ada apa, Im?" tanya Bondan.
"Sepertinya dia datang, Ndan!" jawabku.
"Siapa?" tanya Bondan.
"Kamu teruskan mencungkil tembok itu, Ndan. Jangan pernah terpengaruh apapun. Biar aku dan Indah yang akan menghadapinya," jawabku.
"Baik, Im!" jawab Bondan dengan tangan bergetar.
"Im ... i-i-itu!" teriak Indah tiba-tiba sambil tangannya menunjuk pada sosok menyeramkan yang berada di balik meja. Dia adalah hantu Satpam yang selama ini sering menggangguku.
"Waaaaaa!!!" teriak Bondan ketika mengetahui sosok yang berada tidak jauh darinya.
Baru saja membuat kami bertiga terkejut, tiba-tiba sosok menyeramkan yang disenter oleh Indah itu tiba-tiba lenyap. Kami bertiga pun merapatkan diri. Bondan tetap mencungkil-cungkil tembok meskipun badannya gemetaran karena takut.
"Ke mana perginya hantu barusan, Im?" bisik Indah.
Aku tidak menyahut karena aku merasakan bulu kudukku semakin merinding menandakan bahwa sosok menyeramkan itu masih berada di sana. Tiba-Tiba ...
"Iiiiiiimmmmm .... Diiiia ada diiiii belakang kitaaaa," teriak Indah sambil bersamaan denganku menoleh ke belakang. Senter yang aku pegang kuarahkan tepat ke wajah sosok hantu Satpam itu.
"Allahuakbaaaaaaar!!!!!!" teriakku sambil berusaha menghindar dari hantu itu. Tapi ternyata rambutku dan rambut Indah dicengkeram dengan kuat oleh kedua tangannya sehingga aku tidak bisa bergerak untuk lari.
__ADS_1
BERSAMBUNG