SEKOLAH HANTU

SEKOLAH HANTU
BAB 75 NYI HANUM


__ADS_3

Aku mengetok-ngetok kursi di dalam pedati itu dengan menggunakan punggung tangan kananku.


TOK TOK TOK!


"Kenapa, Cah Bagus? Itu emas asli, loh!" cetus Nyi Hanum ketika melihatku memeriksa kursi tersebut.


"Beneran, Nyi?" Aku bertanya karena tidak percaya dengan perkataan perempuan asing itu.


"Beneran, Cah Bagus. Bahkan seluruh bagian logam di pedati ini memang dilapisi emas. Hanya bagian kayunya saja yang menggunakan jati tua," ujar Nyi Hanum dengan sedikit jumawa.


"Subhanallah!!! Mohon maaf, Nyi Hanum, kalau saya sampai merusak atau mengotori pedatinya," ujarku dengan nada sangat sopan karena merasa tidak enak.


"Tidak apa-apa, Cah Bagus. Pedati ini memang dibuat khusus untuk menjemput para Cah Bagus sepertimu," jawab Nyi Hanum kalem.


"Maksudnya apa, Nyi Hanum? Saya kurang paham dengan kalimat yang Anda ucapkan barusan," ujarku.


"Nanti kamu akan tahu sendiri, Cah Bagus," jawab Nyi Hanum sembari melempar senyuman.


Aku merasa heran dengan perempuan satu ini. Setiap ia melempar senyuman, auranya berbeda, tapi sama-sama menawan hati.


"Sekarang kita langsung ke pintu keluarnya kan, Nyi Hanum?" tanyaku sedikit memaksa.


"Oh, tidak, Cah Bagus-" jawab Nyi Hanum.


"Panggil saja Imran, Nyi. Biar lebih akrab," potongku.


"Oooo ... jadi namamu Imran. Hm ... bagus namanya, sebagus orangnya ...," ujarnya.


"Iya, Nyi Hanum. Nama saya Imran. Kenapa kita tidak langsung pergi ke jalan keluarnya saja, Nyi?" tanyaku kembali.


"Hm ... Tidak, Imran. Sudah menjadi peraturan di tempat ini, setiap orang asing yang datang harus mampir dulu ke kediaman Nyi Sukma," jawab Nyi Kembang kalem.


"Loh, siapa itu Nyi Sukma?" tanyaku.


"Nyi Sukma itu atasan saya, Im," jawab Nyi Hanum.


"Loh, tadi katanya Nyi Hanum ini pemegang kekuasaan di sini. Lah, kok masih ada Nyi Sukma sebagai atasan Nyi Hanum?" tanyaku bingung.

__ADS_1


"Kamu pikir tempat ini sempit, Im? Saya hanya bertugas mengawasi are hutan jati. Sedangkan bagian lain saya tidak berhak. Nyi Sukma lah pemilik kekuasaan terbesar di daerah ini," jawab Nyi Hanum.


"Oalah ... jadi pedati ini juga milik Nyi Sukma?" tanyaku usil.


"Termasuk pedati ini," jawab Nyi Hanum singkat.


"Apa tidak bisa kalau kita langsung pergi menuju pintu keluar saja.? Saya berani membayar kalau Nyi Hanum mau mengantarkanku," ujarku.


"Saya tidak butuh uangmu, Imran. Di sini semuanya sudah tersedia. Tapi, kalau kamu membayarnya dengan sesuatu yang lain, mungkin akan saya pertimbangkan," jawab Nyi Hanum sambil ia menoleh ke arahku dan melempar senyuman mautnya.


"Awas , Nyi Hanum!" teriakku ketika kuda yang menarik pedati tiba-tiba berlari tidak lurus.


Nyi Hanum buru-buru mengendalikan arah lari kudanya lagi. Tangannya sangat lihai mengendalikan laju pedati yang kami naiki. Setelah Nyi Hanum kembali menguasai laju pedati, aku pun memberanikan diri untuk bertanya.


"Maksud Nyi Hanum apa dengan meminta bayaran yang lain kepada saya?"


"Hiaaaaa ... hiaaaaa ...," teriak Nyi Hanum.


"Mendekatlah ke sini, Imran! Baru, saya akan menjawab pertanyaanmu itu," jawab Nyi Hanum tegas namun tetap merdu.


Karena penasaran aku pun menggeser dudukku ke depan agak dekat dengan Nyi Hanum. Wangi parfum Nyi Hanum kentara tercium olehku.


Tiba-Tiba Nyi Hanum menghentikan laju pedati. Setelahnya ia pun menoleh dan berusaha mendaratkan ciuman di pipi kananku. Untunglah aku sempat membuat gerakan refleks sehingga Nyi Hanum tidak berhasil mendaratkan ciuman di pipi kananku.


"Astagfirullah!! Apa yang sedang Nyi Hanum lakukan? Kita ini bukan muhrim. Tidak sepatutnya Nyi Hanum berbuat seperti itu!" Aku terkejut dengan gerakan Nyi Hanum yang tiba-tiba saja mau mencium pipiku tanpa permisi.


Nyi Hanum nampak kesal dan sedikit marah.


"Jangan munafik kamu, Im! Sebagai laki-laki muda yang normal tentunya kamu juga ingin merasakan ciuman perempuan cantik seperti saya. Ayolah, jangan terlalu sok dalam menghadapi perempuan! Dengan penolakanmu itu berarti kamu telah menyakiti perasaan wanita di hadapanmu ini," ujar Nyi Hanum sambil berusaha meraih tanganku.


Aku kembali mundur ke belakang.


"Tidak, Nyi Hanum! Saya tidak bermaksud seperti itu. Justeru saya sedang menjaga harkat dan martabat Nyi Hanum sebagai seorang wanita. Di dalam agama, haram hukumnya seorang laki-laki bersentuhan dengan seorang perempuan tanpa ikatan.pernikahan," jawabku.


"Kalau begitu, ayo kita menikah sekarang supaya kita bisa bercumbu secara halal!" cetus Nyi Hanum sambil melompat ke arahku dan berusaha menciumku kembali.


"Tidak semudah itu, Nyi Hanum. Ikatan pernikahan itu ikatan suci. Menikah bukan hanya untuk memenuhi ***** sesaat saja, tapi untuk membina rumah tangga sakinah, mawaddah, warohmah," jawabku sambil berusaha menghindari serangan Nyi Hanum yang bertubi-tubi ingin menciumku.

__ADS_1


"Kelamaan, Im. Aku sudah sangat ingin bercumbu denganmu sekarang!" protes Nyi Hanum.


"Tidak, Nyi Hanum. Berarti perasaanmu kepada saya ini hanyalah ***** sesaat saja," jawabku sambil mendorong tubuh Nyi Hanum sehingga ia terlempar dan terantuk pada kursi berlapis emas itu.


"Ma-maafkan saya, Nyi. Saya tidak sengaja!" ucapku sambil berusaha membantu Nyi Hanum untuk duduk kembali.


"Kenapa kamu ini berbeda dengan pria-pria yang pernah tersesat di kebun jagung sebelumnya? Mereka semua tidak dapat mengendalikan dirinya ketika melihat saya. Apa kamu ini memiliki kelainan, Imran?" ujar Nyi Hanum setelah berhasil duduk.


"Naudzubillah ... Saya ini laki-laki normal, Nyi. Tapi, saya tidak mau menggadaikan iman saya hanya untuk keinginan sesaat. Saya juga ingin menjaga amanat kedua orang tua untuk tidak berbuat yang melanggar syariat agama," jawabku kalem.


"Ayo, kita ketemu orang tuamu, Imran! Ayo, kita minta restu kepada mereka berdua untuk dapat menikahkan kita!" tutur Nyi Hanum dengan polosnya.


"Apa??? Tidak, Nyi. Saya ini masih terlalu muda untuk mengarungi bahtera rumah tangga. Saya ini masih harus banyak menuntut ilmu agar nantinya saya bisa menjadi suami yang salih dan dapat mendidik istri dan anak-anak saya kelak," jawabku.


"Baiklah, Im. Sekarang saatnya kamu menemui Nyi Sukma. Saya tidak mungkin menahanmu lama-lama di sini karena itu akan membuat Nyi Sukma marah," ujar Nyi Hanum tiba-tiba.


"Nyi Sukma atasanmu?" tanyaku.


"Iya. Kita sudah sampai di rumah Nyi Sukma sekarang. Saatnya kamu menemuinya. Semoga kamu beruntung, Imran!" ujar Nyi Hanum.


"Benarkah? Nyi Sukma akan mengantar saya keluar tempat ini, kan?" tanyaku.


"Semua tergantung padamu, Imran. Nyi Sukma bisa mengantarmu pulang atau memilikimu selamanya," ujar Nyi Hanum seolah-olah cemburu.


"Apa maksud perkataan Nyi Hanum tentang memiliki saya selamanya?" tanyaku penasaran.


"Saya tidak bisa menjawabnya sekarang. Nanti kamu akan tahu sendiri, Imran!" ujar Nyi Hanum.


"Baiklah, saya turun sekarang!" ujarku sambil turun dari atas pedati.


"Im ... semoga kamu bisa pulang dengan selamat, ya!"


"Terima kasih banyak, Nyi Hanum atas tumpangan kendaraannya dan atas doanya. Hanya Allah SWT yang bisa membalasnya. Aamiiin ...," jawabku.


"Sampai jumpa.lagi, Im ...," ucap perpisahan yang diucapkan Nyi Hanum sambil meninggalkan aku sendirian di depan pintu gerbang berwarna hitam. Ada rasa yang tertinggal ketika Nyi Hanum berlalu pergi.


BERSAMBUNG

__ADS_1


Continued


__ADS_2