
Pak Sopir buru-buru menginjak gas setelah mesin menyala sehingga hantu Satpam itu gagal mencengkeram bahu sopir tersebut.
"Ya Tuhan!!! Sore-sore gini kok sudah ada hantu? Jadi hantu itu yang kalian lihat tadi?" cerocos Pak Sopir tatkala kita sudah cukup jauh meninggalkan sekolahku.
"Duh, hampir copot jantungku ketika ngeliat wajah hantu berpakaian Satpam barusan. Itu beneran hantu apa orang lagi dandan hantu-hantuan?" tanya Pak Sopir kepada kami berdua.
Kami berdua saling bertatapan kemudian sama-sama menggeleng. Kupikir kalau Pak Sopir ini sampai cerita ke teman-temannya kalau ada hantu nyata di depan sekolahku, itu tentunya akan berimbas pada nama baik sekolahku. Tapi, kalau aku biarkan ia dalam keraguannya, mungkin itu akan lebih baik.
"Hantu-Hantuan tapi kok persis sekali ya? Ih, serem sekali tadi wajahnya. Aku mending ketemu sama penjahat daripada ketemu begituan," cerocosnya lagi.
"Iya, Pak. Serem amat emang hantunya," sahutku untuk menjaga perasaan sopir tersebut karena sudah ngomong banyak tentang rasa ketakutannya. Padahal di dalam hati, aku merasa agak lega karena dengan adanya insiden barusan, setidaknya ia tidak menyangka kami berdua berbuat yang tidak-tidak di dalam Angkotnya.
"Oh, ya. Saya minta maaf sudah sempat menuduh kalian berbuat mesum di Angkot saya. Saya awalnya tidak percaya dengan alasan kalian tadi. Tapi, sekarang saya percaya bahwa kalian memang diganggu hantu tadi," ucap Pak Sopir meminta maaf.
"Iya, Pak. Tidak apa-apa. Yang penting sekarang Bapak sudah tidak salah paham lagi terhadap kami," jawab Arini.
"Maafkan saya tadi telah berkata kasar kepada kalian berdua. Ya, mohon dimaklumi, mulut sopir emang kasar. Soalnya, menurut keyakinan sopir-sopir, kalau Angkotnya dipakai berbuat mesum bakalan sepi penumpang. Itulah kenapa saya sampai semarah itu tadi kepada kalian," jawab Pak Sopir.
"Iya, Bapak. Kami juga mohon maaf karena telah membuat Bapak curiga. Kamu juga sih, Rin, takut pake meluk-meluk segala," jawabku.
"Namanya juga lagi panik, Im. Di depanku adsnya kamu, ya, aku meluk kamu. Ya, kalau aku boleh milih, aku nyari yang gantengan dikit lah," sahut Arini sewot.
"Maksud kamu aku kurang ganteng?" tanyaku dengan nada tinggi.
"Sudah tahu nanya," sahut Arini sewot.
"Stop ... stop ... stop ... kok malah bertengkar. Tuh di belakangmu ada apa, Dik," teriak Pak Sopir sambil menatap kaca dashboard.
"Aaaaaaaaaa ....," Arini kontan berteriak dan kembali memelukku.
"Ha ha ha ... maaf, Dik. Saya cuma bercanda," ujar Pak Sopir sambil tertawa.
"Hus sana ... sana ... jangan peluk-peluk aku. Katanya aku nggak ganteng," ucapku kesal pada Arini.
"Hm ... maaf ya, Im. Aku tidak bermaksud begitu. Kamu nggak begitu ganteng, tapi manis, kok," ucap Arini dengan nada merajuk.
"Ah ... basi ... ngomong gitu pasti ada maunya," jawabku.
Sementara Pak Sopir di depan masih ketawa-ketawa karena candaannya berhasil menakuti Arini.
__ADS_1
"Aku boleh duduk di sebelahmu ya, Im?" tanya Arini.
"Nggak usah!" jawabku keras.
"Plis ya, Im. Aku takut duduk di sini. Takut tiba-tiba Satpam itu datang lagi," rengek Arini.
"Ya sudah, tapi nggak usah terlalu deket. Bukan muhrim!" jawabku ketus.
"Makasih ya, Im. Kamu baik deh," cetus Arini sambil menggeser bokongnya agak mendekat ke arahku.
Setelah itu kami semua berkonsentrasi pada laju kendaraan yang kami naiki. Entah mengapa sore itu jalanan agak sepi tidak seperti biasanya.
"Pak, pertigaan depan berhenti, ya?" teriak Arini.
Aku dan Pak Sopir sejenak menoleh ke arah Arini. Ada perasaan yang menggelayut di dalam hati membayangkan anak perempuan di depanku ini akan berjalan sendirian menuju rumah ayah angkatnya, sedangkan beberapa menit yang lalu ia baru saja mengalami ketakutan akibat diganggu hantu Satpam yang sangat mengerikan.
"Maaf ya, Rin. Aku belum bisa ikutan tahlilan," ujarku dengan nada datar.
"Iya, nggak apa-apa, kok," jawab Arini.
"Dik, kamu berani jalan sendirian ke utara?" tanya Pak Sopir.
"Be-berani kok, Pak!" jawab Arini ragu.
"Nggak usah, Pak. Saya berani kok jalan sendiri," jawab Arini berusaha meyakinkan Pak Sopir.
"Nggak apa-apa. Toh, jalan masuk ke sana paling sebentar saja," ujar Pak Sopir sambil membelokkan kendaraan ke utara menuju rumah ayah angkat Arini. Arini pun tidak bisa menolak lagi. Nampak sekali gurat kebahagiaan terpancar dari wajahnya. Tak sampai lima menit, sampailah kami di rumah Arini. Di depan rumah Arini nampak anak-anak kecil sedang bermain. Pasti ibu-ibu mereka sibuk membantu mempersiapkan makanan untuk acara tahlilan setelah magrib.
"Terima kasih, Bapak, atas kebaikannya. Nggak mau mampir dulu?" ujar Arini dari luar kendaraan.
"Sudah, Dik. Saya keburu pulang nih. Sudah ditunggu anak istri di rumah," jawab Pak Sopir sambil memutar haluan.
Arini pun dada-dada ke arahku. Aku membalasnya dengan dada-dada sekedarnya saja. Jujur, aku masih kesal dengan omongannya tadi. Kulirik kaca dashboard sambil memperhatikan wajah dan model rambutku seraya berkata di dalam hati.
"Apa benar di mata Arini aku tidak ganteng, hanya manis saja?"
"Kamu ganteng kok, Dik. Perempuan emang sering begitu. Mana mau mereka mengakui kegantengan laki-laki. Apalagi yang ditaksirnya," cetus suara Pak Sopir sambil senyum-senyum menghadap kaca dashboard juga.
"Eh, Pak Sopir ...," sahutku malu-malu.
__ADS_1
Angkot pun melaju terus hingga akhirnya sampai di seberang pintu gapura perumahan dekat rumahku.
"Nggak mau ngantar saya juga, Pak?" tanyaku menggoda Pak Sopir.
"Rumahmu di perumahan ini?" tanya balik Pak Sopir.
"Bukan, rumahku di perkampungan setelah perumahan ini. Habisnya persawahan," jawabku enteng.
"Dusun Jatisari?" tanya Pak Sopir dengan mata terbelalak.
"Iya, Pak. Kenapa Bapak terkejut?" tanyaku.
"Enggak dah. Ampun kalau ke sana, saya kapok," jawab Pak Sopir.
"Emangnya kenapa dengan dusun Jatisari, sampai bapak ketakutan seperti ini?" tanyaku sambil menyodorkan ongkos.
"Dulu saya pernah ke sana ikut teman. Mau nyari panglaris ke ...," ujar Pak Sopir sambil mikir.
"Mbah Kardi?" tebakku.
"Iya ke Mbah Kardi. Saya berangkat sore, pulangnya hampir magrib. Gelap sekali jalannya saat itu karena belum ada listrik. Kami lewat jalan yang di pinggirnya banyak pohon bambunya. Kalau tidak salah di baratnya kuburan. Ealah, tiba-tiba ada yang cekikikan dan bergelantungan di atas pohon bambu. Ternyata itu kuntilanak. Kontan saja kami berdua lari tunggang langgang sampai terkencing-kencing di celana. Ih serem pokoknya," tutur Pak Sopir.
"Dulu daerah saya emang kayak gitu, Pak. Tapi sekarang sudah aman kok. Sudah dengar belum, Mbah Kardi sudah ditahan di penjara?" ujarku.
"Iya, saya sudah mendengar kabar itu. Kalau tidak salah di rimbunan bambu itu juga ditemukan tengkorak seorang penari tandak yang cukup terkenal pada jaman dulu, ya?" tanya Pak Sopir.
"Iya, benar. Sejak terungkapnya kasus kejahatan Mbah Kardi. Dusun Jatisari sekarang aman dari gangguan makhluk halus," imbuhku.
"Iya. Tapi saya masih trauma yang mau ke sana," jawab Pak Sopir.
"Ya sudah, Pak. Makasih banyak sudah mau mengantar saya sampai di sini. Saya turun dulu. Sebentar lagi magrib soalnya," jawabku.
"Iya, Dik. Sama-Sama," jawab Pak Sopir.
Kami pun berpisah di tempat itu. Aku menyeberang jalan, sedangkan Pak Sopir melaju ke barat menuju terminal. Dari kejauhan terlihat seseorang sedang berdiri di pintu gapura perumahan. Sepertinya ia sedang menunggu seseorang.
"Siapakah perempuan itu?"
BERSAMBUNG
__ADS_1
Sayur lodeh dicampur dengan kue tar
Kalian keren deh, yang mau nulis komentar