
Beberapa detik kemudian Bu Iis mengatakan sesuatu.
"Kenapa kamu menanyakan hal itu kepada saya, Im?" tanya guruku itu.
"Eh, anu, Bu. Sayaaaa-," Aku berkata dengan terbata-bata.
"Apa kamu pernah mengalami hal aneh di sini, Im?" Bu Iis balik bertanya.
Aku tercekat mendapat pertanyaan balik dari guruku itu, tapi sudah kepalang tanggung, lebih baik aku jujur saja pada guruku itu.
"I-i-iya, Bu. Saya merasa ada yang aneh di sini, suasana di sekitar perpustakaan ini kadang membikin bulu kuduk merinding. Waktu itu saya pernah terkunci di dalam ruangan sana itu, Bu. Padahal tidak ada yang sengaja menguncinya," tuturku pada perempuan sepantaran bapakku ini.
Bu Iis menoleh ke arah ruangan yang barusan kutunjuk. Ia seperti terhentak dengan perkataanku barusan.
"Im, cerita kamu bikin ibu jadi ngerasa takut," cetus Bu Iis dengan suara pelan.
"Maksud Bu Iis apa?" Aku bertanya karena tidak mengerti dengan ucapan guruku itu.
"S-saya p-pernah t-terkunci juga di ruangan itu, Im. P-padahal s-saya y-yakin tidak ada yang berusaha menguncinya. Waktu itu saya lagi nata buku-buku fiksi yang ada di sana sendirian. Kejadiannya kurang lebih dua hari ketika saya baru dipindahtugaskan ke sini. Saya sudah berusaha membuka kuncinya dengan semua anak kunci yang saya pegang, tapi tak ada satu pun anak kunci yang cocok. Sementara di dalam ruangan itu saya mendengar suara rintihan dari balik rak buku. Suara rintihannya semakin lama semakin keras dan bikin saya semakin ketakutan. Saking bingungnya saya sampai teriak-teriak dengan keras. Sayangnya, tak ada yang mendengar suara teriakan saya karena waktu itu semua siswa sudah pulang. Untunglah beberapa menit kemudian datanglah Pak Satpam menyelamatkanku. Meskipun agak terlambat, kehadiran Satpam itu sangat berharga karena telah menyelamatkannku dari rasa ketakutan yang amat sangat. Anehnya, Pak Satpam tidak menggunakan alat apapun saat membuka pintu itu. Jadi dia enak saja gitu membukanya. Padahal, di dalam sana saya sudah berusaha mati-matian untuk membukanya, tapi gagal-gagal terus," tutur Bu Iis panjang lebar.
"Hm ... mungkin waktu itu selot pintunya mengalami sedikit kerusakan, Bu?" selaku.
"Enggak, Im. Setelah itu Pak Satpam memeriksa pintu tersebut. Selot pintunya masih baik dan berfungsi normal. Pertanyaanmu kok aneh-aneh begitu, Im. Ibu kan penakut banget. Nih liat, bulu kuduk Bu Iis jadi merinding semua, kan?" keluh perempuan paruh baya di depanku ini.
"Maafkan saya ya, Bu. Oh, ya. Saya mau tanya lagi perihal lantai atas, Bu," cetusku.
"Waduh, mau tanya apalagi kamu, Im? Jangan bikin saya tambah merinding, ya?" protes guruku itu.
"Enggak kok, Bu. Bu Iis nggak perlu takut. Kan ada saya di sini?" kataku berusaha menenangkan guruku itu.
__ADS_1
"Kamu mau tanya apa tentang lantai atas?" tanya Bu Iis kemudian.
"Saya mau tanya, kenapa ada larangan untuk menaiki tangga menuju lantai atas, Bu? Apa larangan itu ada kaitannya dengan kerusakan bangunan atau struktur bangunannya yang kurang kokoh?" tanyaku dengan suara sedikit dipelankan takut ada orang lain yang tiba-tiba datang dan menguping pembicaraan kami berdua.
"Tidak, Im. Bangunan ini kuat kok. Dan setau saya lantai atas itu isinya gudang-gudang berkas. Hanya orang-orang tertentu yang boleh naik ke sana. Saya sendiri nggak boleh. Andai dibolehin, saya pun enggan mau naik ke atas. Sereeeeem ...," jawab Bu Iis dengan ekspresi menggigil.
"Gudang-Gudang berkas?" pekikku.
"Iya. Dulu waktu saya masih kerja di bagian tata usaha. Ruangan atas itu dijadikan sebagai gudang penyimpanan berkas-berkas sekolah yang masih penting tapi sudah lama. Ada satu orang yang bertanggungjawab menyortir berkas-berkas sekolah yang mau diloakkan atau disimpan di gudang. Namanya Mang Dirin. Mang Dirin orangnya teliti sekali, makanya dipilih oleh kepala sekolah untuk bertugas memisahkan berkas-berkas lama. Kalau orang lain mah nggak mungkin telaten menyortir kertas-kertas usang itu. Sayangnya, beberapa tahun yang lalu beliau mengundurkan diri karena harus merawat istrinya yang sakit parah. Semenjak itu kepala sekolah belum menugaskan orang lain untuk menggantikan tugas Mang Dirin. Dan beberapa waktu setelahnya, akses ke lantai atas kemudian ditutup oleh kepala sekolah. Tak satu pun warga sekolah yang boleh naik ke lantai dua gedung ini hingga sekarang," ujar Bu Iis panjang lebar.
"Berarti hanya kepala sekolah yang tahu alasan ditutupnya akses ke lantai atas ya, Bu?" tanyaku.
"Iya, begitulah," jawab Bu Iis dengan mengangkat kedua jarinya sejajar dada, bagian telapak tangan mengahadap ke atas dan dibuka jari-jarinya. Bibirnya sengaja dicibirkan.
"Kalau Mang Dirin kira-kira tahu nggak, Bu?" tanyaku penuh selidik.
"Hm ... entahlah," gumamnya.
"Saya juga mengucapkan terima kasih kamu sudah membantu bekerjaan saya. Tapi, kamu jangan pulang dulu, ya? Saya jadi takut sekarang. Habisnya, kamu pake nanya aneh-aneh. Kita barengan saja pulangnya, ya?" rengek guruku itu.
"Oke. Bu Iis masih lama nggak?" tanyaku.
"Enggak. Saya tinggal merapikan meja saya saja terus pulang," jawab Bu Iis.
"Baiklah, saya tunggu Bu Iis selesai merapikan meja," ucapku.
Bu Iis pun segera merapikan meja kerjanya. Saya hanya menunggu sambil duduk di salah satu kursi baca. Saat Bu Iis hampir selesai membersihkan meja kerjanya, tiba-tiba ...
BRAAAK!!!
__ADS_1
"Astagfirullah!! Ada apa, Im?" pekik Bu Iis.
"Entahlah, Bu. Sepertinya ada buku terjatuh," jawabku.
"Biarin sudah, Im. Sudah sore nih. Saya tata besok saja lagi," ujar Bu Iis.
BRAAAK!!!
Terdengar sura benda jatuh di antara rak buku. Kali ini suaranya lebih keras dan lebih lama. Pertanda benda yang jatuh lebih banyak dari yang barusan.
Aku dan Bu Iis saling menatap.
"Biar saya cek ke sana ya, Bu?" tanyaku.
"Oke, tapi hati-hati, ya?" jawab Bu Iis sambil melanjutkan pekerjaannya merapikan meja kerja.
Aku pun berjalan sendirian menuju deretan rak buku di dalam ruang Perpus tersebut. Setiap rak kuperiksa satu persatu. Aneh, tidak ada satu pun buku yang tercecer di lantai.
"Gimana, Im? Apa sudah ketemu buku yang terjatuh?" teriak Bu Iis dari meja kerjanya.
"Tidak ada buku yang jatuh, Bu. Saya sudah memeriksanya semua rak buku," jawabku dengan sedikit berteriak juga agar suaraku bisa didengar oleh Bu Iis.
"Yang di dalam ruangan kecil sudah kamu periksa juga?" tanya Bu Iis dengan berteriak lagi.
"Be-be-belum, Bu," jawabku sambil berjalan perlahan menuju ruangan kecil di ujung karena bagiku pertanyaan Bu Iis barusan seperti perintah untuk mengecek keadaan di dalam ruang kecil tersebut. Akhirnya, aku sekarang sudah berdiri di pintu ruangan kecil itu dan aku terperangah dengan sesuatu yang kulihat di dalam ruangan tersebut.
BERSAMBUNG
No Pantun
__ADS_1
Lagi nunguin crazy comment kalian